LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Memberanikan Diri


__ADS_3

 


Rintik\-rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Semakin lama hujan pun turun dengan derasnya.


Pikirku, apakah yang kulakukan benar atau tidak. Semoga saja dengan pertemuan ini akan bisa memperbaiki semuanya.


Aku tidak ingin terbebani dengan hal seperti ini. Aku sungguh lelah jika harus memikirkannya. Sebisa mungkin aku berusaha untuk tidak memikirkannya.


 


Namun, tetap saja pikiranku terbayang dengan gangguan yang tidak pernah kuinginkan sama sekali.


Dan akhirnya, orang yang kutunggu pun datang. Ia melangkah pelan. Dengan hujan yang lumayan deras ketika turun dari mobil bajunya sedikit basah.


 


Aku merasa kasihan melihatnya. Betapa inginnya aku mengelap wajahnya yang agak sedikit basah. Ia seperti tidak nyaman.


 


Tanpa sadar aku hanya bengong melihat ustaz Aris yang sudah duduk di depanku. Aku terkejut, ketika ia mengucapkan salam. "Assalamu'alaikum"


"Hah. Wa'alaikumsalam," jawabku sedikit terkejut. Aku mencoba tersenyum melihat ustaz Aris.


"Anti sudah lama nunggunya?"


"Mm. Tidak terlalu lama, Ustaz." Aku berusaha mengatur nafasku. Setiap bertemu dengan ustaz Aris nafasku selalu saja tidak teratur. Aku kadang bingung, dengan jantungku yang selalu berdegup kencang juga jika harus berhadapan dengannya.


"Jadi, apa yang ingin anti bicarakan?" Ia bertanya langsung keintinya. Apa mungkin ia tidak ingin berlama-lama di sini. Ya sudah, aku juga maklum. Sebenarnya ini tidak baik, apalagi berdua dengan suami orang. Ya Allah ... maafkan jika hamba bersalah.


"Ustaz. Ana ingin membahas ustazah Nisa yang menyuruh ana untuk mau menikah dengan antum." Aku menarik nafas dalam. "Apakah benar, jika antum setuju. Maksud ana, bagaimana bisa antum menyetujui apa yang diinginkan oleh istri antum sendiri. Antum ..."


"Sebenarnya, ana tidak mau melakukan semua ini. Cuman, ustazah Nisa memohon. Bahkan, ia mau sama anti. Makanya ana mau ajak anti menikah."


 


Perkataan ustaz Aris membuatku sakit kepala mendengarnya. Ia seperti bertele\-tele mengatakan semuanya kepadaku. Apakah tidak bisa ia berbicara langsung keintinya saja.


 


"Antum tau tidak. Istri antum tidak akan pernah menyuruh antum menikahi ana kalau tidak ada sebabnya."


"Maksud anti apa?"


 

__ADS_1


Ia pura\-pura tidak tau. Ia tidak pernah berfikir kenapa istrinya memaksanya untuk menikahiku. Padahal nyata\-nyatanya ia masih mempunyai rasa spesial itu kepadaku. Bukannya terlalu bangga. Cuman 'kan, ustazah Nisa sendiri yang bilang begitu. Bahkan, saking cintanya. Makanya ia sering kali mengigo menyebut namaku di saat oa tidur. Begitu kata istrinya.


Aku tidak tau pasti. Apakah semua itu benar atau tidak.


 


"Manda," tegur ustaz Aris lagi ketika aky terdiam belum menjawabnya.


"Yaaa. Maksud ana, ustazah Nisa tidak akan mungkin maksa antum menikah dengan ana. Jika kalau tidak ada sebab. Kalau antum tidak mengerti, tidak usah dijawab." Aku yakin ustaz Aris tau maksudku. Hanya saja, ia seperti pura-pura tidak tau. "Boleh ana minta satu permintaan?"


"Apa?"


"Jaga perasaan ustazah Nisa. Kalau bisa, bahagiakan ia selalu, Ustaz. Tetaplah bersikap baik kepadanya. Jangan pernah antum menyakiti hatinya."


"Itu pasti," balas ustaz Aris tersenyum tipis saat mendengar segala ucapanku.


"Antum mau tidak kalau ustazah Nisa merasakan sakit hati yang teramat sakit?"


"Maksud anti apa?" tanya ustaz Aris mulai bingung. Dan aku bisa melihatnya jelas dari raut wajahnya.


"Antum mau tidak nyakitin ustazah Nisa?"


"Tidak. Ana ..."


"Jika tidak. Maka, jangan pernah mau untuk menuruti keinginannya yang menyuruh antum untuk menikahi ana." Aku bahkan, memotong perkataan ustaz Aris. Tidak tau ia ingin melanjutkan kata-katanya kearah mana.


 


Apa yang salah dengan kata\-kataku. Sehingga, ia sampe batuk\-batuk segala. Ia mencoba minum, tapi tetap saja ia batuk. Mungkin saja ia kualat kali, ya. Membohongi perasaannya sendiri.


Jujur saja, aku juga masih ada rasa. Tapi bagaimana pun juga aku harus berfikir matang untuk mengambil keputusan.


 


"An-antum kenapa?" tanyaku ragu.


"Tidak ada," jawab ustaz Aris singkat. Ia seperti memikirkan sesuatu. Entah sesuatu apa yang ia pikirkan. Perkataanku atau hal lain. "Ana harus pulang. Dan hujannya juga sudah reda. An-anti mau ana antrin ke kos anti."


"Tidak usah, Ustaz. Ana bisa pulang sendiri."


"Baiklah. Assalamu'alaikum," ucap ustaz Aris lalu pergi meninggalkanku. Padahal ia belum menjawabku dengan jelas. Ia pergi begitu saja tanpa mau menjawabku pertanyaanku dengan jelas.


 


Di sisi lain, aku merasa pertemuan ini sia\-sia karna tidak terlalu di respon oleh ustaz Aris. Tapi, di sisi lain juga aku sedikit lega menjelaskan ini itu kepada beliau. Semoga saja, ia mengerti dengan segala ucapanku.

__ADS_1


Aku sudah mengikhlaskanmu dengan wanita lain. Aku tidak ingin hadir lagi dalam kehidupanmu hanya untuk menyakiti seorang perempuan yang sudah jelas-jelas adalah istrimu.


Semoga saja aku bisa memegang kata-kataku ini.


******


Hari ini, aku menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Salsa. Dan hari ini pula, aku dibawa ke sebuah Universitas. Di sana, aku mengisi formulir pendaftaran saja. Lalu mampir ke rumah Salsa.


"Jadi, kamu udah ketemu sama ustaz Aris?" tanya Salsa yang berbaring di dekatku.


"Iya," balasku sambil menatap langit kamar Salsa.


"Kok kamu bisa aja ustaz Aris ketemu. Nggak bisa apa dibicarain lewat handphone."


Aku menoleh Salsa dan ia juga menoleh melihatku. "Nggak bisa. Ini bukan hal yang main-main. Makanya aku maksa buat ketemu."


"Terus dia jawab apa?"


"Jawabannya kurang jelas. Ia ngjawab bertele-tele."


"Hmm. Yah aku harapnya semoga ia mengerti dan paham atas apa yang kamu jelasin ke beliau."


"Iya. Semoga," balasku malas.


"Menurutku, ya, Da. Ustaz Aris lama-lama kayak orang nggak cerdas menanggapi masalah yang selalu buat kamu kepikiran ini."


Aku memiringkan badan melihat sahabatku itu."Aku nggak tau, Sa."


"Padahal ia ustaz, Da. Tapi, kenapa dia bisa kejer kamu?"


"Udah. Aku nggak mau bahas ustaz Aris. Bisa apa kamu bahas yang lain," ujarku sedikit kesal.


Aku merasa lelah jika ujung\-ujungnya tetep bahas ustaz Aris. Telingaku rasanya nggak bisa nerima. Rasanya ingin menutup telinga.


Semoga ustaz Aris mau pun ustazah Nisa tidak lagi menemuiku. Pertemuan dengan ustaz Aris membuatku berani untuk mengatakan unek-uneku.


Semog saja, ia tidak merasakan sakit apa\-apa. Walau ustaz Aris mencoba untuk biasa\-biasa. Ia tidak akan pernah bisa menyembunyikan semuanya kepadaku. Ia ternyata masih mempunyai rasa kepadaku. Terlihat jelas juga diwajahnya.



Setelah, curhat\-curhatan. Salsa tertidur lelap di dekatku. Mungkin, ia begitu sangat menikmati cerita demi cerita yang aku lontarkan. Hingga tidur pun ia begitu menikmati.


Semogan Allah senantiasa selalu menjaganya. Membalas semua kebaikannya. Yang selama ini mau bantu aku tanpa ia merasa bosan.


"I love you, Salsa. Tetap jadi sahabat yang baik buat aku."

__ADS_1


 


__ADS_2