LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Perasaan Hampa


__ADS_3

Dadaku terasa bergemuruh. Hatiku terasa sesak. Bagaimana bisa aku harus mengingat yang dulu lagi.


Aku tidak bisa. Dan tidak akan pernah bisa. Sejak pertemuan dengan ustazah Nisa. Pikiranku hanya bisa tertuju dengan permohonannya.


Apa yang harus kukatakan. Aku hanya bisa bilang tidak bisa. Dan sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa.


Pagi ini, aku memutuskan untuk tidak bekerja. Ponsel pun kumatikan. Badanku terasa panas, nafsu makan ku terasa tidak ada.


Sejak tadi malam ustazah Nisa selalu saja menelpon. Ia berusaha keras untuk menghubungiku, tapi kuabaikan.


 


Pertemuan kemarin membuatku bersikap tidak sopan. Meninggalkan zah Nisa begitu saja tanpa mau menjawab pertanyaan. Jawaban yang kulontarkan hanya aku tidak bisa. Itu saja. Lalu pergi meninggalkan beliau.


 


******


 


Tok ... Tok ... Tok


 


"Assalamu'alaikum. Manda ... Manda ..."


 


Aku terbangun dengan perasaan tidak menentu. Kepalaku terasa pening luar biasa. Entah siapa yang datang mengganggu tidurku.


 


Aku mencoba menutup mataku lagi. Tetap berbaring tanpa ingin membuka pintu. Harapku semoga saja sakit kepala ini cepat hilang.


"Assalamu'alaikum. Manda. Manda ... oo Manda!"


 


Karena terus dipanggil, dengan keadaan oleng. Aku bangung lalu menuju pintu seraya memijat kepalaku yang terasa pening.


 


Cklek.


"Manda."


"Hm."


 


Ternyata, yang datang adalah Salsa. Untung saja Salsa. Tidak Febi. Aku bersyukur sahabatku yang datang. Setidaknya nanti aku bisa bercerita tentang masalahku saat ini.


"Kamu kenapa?" tanya Salsa masuk dan duduk di tepi tempat tidurku. "Kamu sakit?"


Dan diriku masih bergeming hanya anggukan untuk memberikan jawaban kepada sahabatku itu.

__ADS_1


"Tadi, aku ke toko nyari kamu. Tapi kamunya nggak ada. Aku tanya teman kamu, nggak ada yang tau kenapa kamu nggak masuk kerja?"


Bagaimana mereka bisa tau. Untuk memberitahu kalau diriku sakit saja, aku merasa malas. Gara\-gara menghindar dari ustazah Nisa, bahkan, aku sampe mematikan handphone.


"Da. Kok kamu diam aja dari tadi. Kenapa?"


"Hm." Aku hanya menggeleng saja.


"Kita ke rumah sakit, ya, aku anterin kamu. Muka kamu pucet banget," Salsa mengelus lenganku.


Kutatap sahabatku itu dengan mata sayu. Aku ingin bercerita kepadanya. Namun, hati ini terasa berat untuk bercerita. Aku takut reaksinya akan semakin kaget jika tau kalau ustazah Nisa menyuruhku untuk menikah dengan usraz Aris.


 


"Kamu udah makan?" tanya Salsa penuh peduli.


"Hm. Be-belum," balasku lemas.


"Ya Allah, Manda. Ini udah siang kamu belum makan? Kamu tunggu aku dulu, aku keluar beli makanan, ya."


Salsa beranjak bangun dari tempat duduknya. Aku mencegahnya cepat supaya ia tidak repot\-repot membelikan makanan untukku.


"Kamu 'kan belum makan? Aku beliin makanan dulu, Da."


"Aku nggak laper, Sa. Tadi pagi aku udah makan roti sedikit."


"Hm. Ya udah kalau gitu, kamu istirahat aja, ya."


Aku mengangguk lagi dihadapan sahabatku itu. "Salsa."


"Aku. A-aku mau cerita sama kamu."


"Cerita apa? Kamu ada masalah, cerita aja. Aku akan selalu mau dengerin cerita kamu," jawab Salsa tersenyum lebar dihadapanku.


Menarik nafas dalam, mungkin bisa membuatku untuk tidak merasa gugup bercerita kepada Salsa. Semoga saja ia tidak marah dengan mendengar cerita ini.


"Ke-kemarin aku ketemu sama ustazah Ni-nisa," ucapku ragu lalu menunduk.


"Hah. Ketemu ustazah Nisa? maksud kamu?" Tatapan Salsa mulai membuatku takut. Belum saja selesai bercerita ia sudah menatap seperti itu. Apalagi kalau ia mendengar yang sebenarnya. Bagaimana lagi reaksinya.


"I-iya."


"Ngapain kamu ketemu sama dia?"


"Hmm ... dia yang ngajak buat ketemu."


"Terus, kalian bicarain apa. Pasti ada maksud kalau ia ngajak ketemu, nggak mungkin nggak 'kan?" tanya Salsa mukai dengan nada suara yang tidak suka.


"Iya. Di-dia nyuruh aku ..."


"Nyuruh kamu apa, Da."


"Menikah dengan ustaz Aris."


"Apa!" Salsa merapikan duduknya yang berada didekatku. Ekspresinya begitu sangat kaget. "Maksud kamu apa? Menikah?"

__ADS_1


"Iya, Sa. Ustazah Nisa memohon sama aku agar mau nikah sama ustaz Aris," jawaku ragu.


"Dia mungkin becanda, Da."


"Nggak, Sa. Dia nggak becanda. Dia serius."


"Gila. Dasar gila! Bagaimana bisa dia nyuruh kamu nikahin suaminya? Dikira kamu perempuan apa!" Salsa dengan suara kesalnya.


"Aku nggak tau, Sa. Aku bingung?" keluhku lemas.


Tiba\-tiba saja, Salsa memelukku erat. Mungkin, ia tahu jika hatiku merasa sedih saat\-saat ini.


"Jadi, mereka sering ganggu kamu?" tanya Salsa mengelus tanganku.


Aku mengangguk pelan menjawab Salsa. "Ia, Sa. Dari tadi malem aku juga berusaha untuk nggak aktipin handphone. Capek dihubungi terus sama mereka."


"Dia tau nomer kamu dari mana, sih."


"Dari teman kerja, Sa." Aku pun mencoba untuk menceritakan semuanya kepada sahabatku itu.


Ia bahkan kaget mendengar segala ceritaku. Ia tidak menyangka, jika ustaz Aris sering juga mencariku dan memberikan bunga dan makanan kepadaku.


Sebenarnya, berat menceritakan semua ini kepada orang lain. Tapi, karena Salsa sahabat dan aku yakin bisa bercerita ini itu sama dia.


"Kamu denger aku, Da." Salsa menatapku lekat seraya memegang kedua tanganku. "Jangan pernah mau seandainya ustazah Nisa bujuk kamu lagi. Jangan pernah katakan ia. Aku takut, rasa sakit yang dulu pernah kamu rasakan. Akan kamu rasakan kembali, dan sakitnya lebih dari yang dulu."


"Iya, Sa. Aku tau, nggak mungkin juga aku harus menikah dengan laki-laki yang sudah mempunyai istri."


"Aku tau, Da. Sebenarnya, kamu masih ada perasaan sama ustaz Aris."


"Dari mana kamu tau?" tanyaku mengernyitkan kening.


"Dari cara bicara kamu. Sorotan mata kamu, semua itu terlihat jelas, Manda. Aku tau kamu, karena kamu itu sahabatku."


Mulai lagi sahabatku ini. Ia seperti peramal saja tau ini itu segala.


"Manda. Kamu masih muda, masa depan kamu masih panjang. Kalau bisa singkirkan ustaz Aris dalam pikiranmu. Aku nggak mau lihat kamu kayak dulu, Da."


Entah apa yang membuatku sedih mendengar perkataan Salsa. Tidak ada yang tau, tentang hati ini yang berusaha untuk melupakan sosok seseorang yang sangat kita cintai.



Sangat sulit untuk menghilangkan namanya dihati ini. Sampe sekarang pun aku masih sangat menyayanginya. Jujur, hatiku terasa teriris saat melihat ia bergandengan tangan dengan wanita lain.


Aku berusaha menghilangkan perasaan seperti itu. Namun, ini sangat sulit bagiku. Dan semua ini tidak mudah untukku lakukan.


Terkadang aku bingung. Kenapa Allah semakin mendekatkan kami. Kenapa semua ini harus terjadi.



Sungguh, aku ingin membuka lembaran baru. Aku ingin tenang. Dan tidak ingin mengingat kenangan\-kenangan yang dulu.



Dan satu. Aku sangat ingin membahagiakan orang tuaku. Ibuku, beliau sosok orang satu\-satunya dalam hidupku. Yang inginku buat bahagia dan bangga kepadaku.

__ADS_1


Ibu ... Manda kangen, Ibu. 😢


__ADS_2