
Di saat duduk sendiri. Handphone yang berada didekatku berbunyi. Menandakan adanya telponan masuk. Tertulis Salsa memanggil.
"Hallo. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawabku yang sedang duduk sendiri di kamar.
"Manda. Bagaimana kabar kamu?" tanya Salsa kepadaku lagi.
"Alhamdulillah, baik, Sa."
"Oh, ya, Da. Aku mau kasih tau kamu. Tapi, aku nanya dulu. Kamu udah di telpon apa belum untuk panggilan kerja?"
"Panggilan kerja? Nggak ada, Sa. Belum ada kabar."
"Berarti benar."
"Bener apanya?" tanyaku lagi.
"Temen Kak Riko nyuruh kita kasih tau kamu. Katanya nomer handphonemu hilang. Kamu udah diterima, Da. Jadi, tinggal kerja aja."
Perasaan ini, entah senang atau tidak. Ada keraguan di dalam hati yang paling dalam. Apakah aku memang harus bekerja atau tidak. Sementara Ibu tidak mengizinkan. Di sisi lain, ingin rasanya mengikuti ego sendiri.
Namun, di sisi lain. Aku akan merasa melakukan hal yang sangat salah jika melanggar perkataan Ibu sendiri.
"Hallo. Manda. Manda ..."
"Eehhh, iii ... iya, Sa." Melamun. Dan ini untuk kesekian kalinya diri ini melamun.
"Kamu lagi ngapain? kok dari tadi aku ajak ngomong kamu kebanyakan diem terus."
"Nggak ada, Sa. Cuman ...?"
"Cuman apa?"
"Mmmm ... udah dulu, ya. Nanti kalau ada apa-apa aku telpon kamu. Assalamu'alaikum."
__ADS_1
Dengan cepat aku langsung menutup telpon dari Salsa. Tanpa harus mendenger ia menjawab salamku. Harus dengan apa lagi aku meminta izin kepada Ibu. Aku bingung harus mengambil keputusan apa.
******
"Manda. Ana ingin menikahimu?"
"Ustaz Aris. Kenapa bisa ia berada di depanku? Untuk apalagi ia menemuiku." Batinku terus saja bertanya-tanya. Dan siapa yang berada di depanku sekarang. Hanya diam yang bisa kulakukan.
"Ana mencintai anti," ucap Ustaz Aris lagi menatapku dalam.
Ku tatap netra itu lekat. Laki-laki yang pernah menjanjikan untuk menikahiku sekarang berada di depanku. "Untuk apa, Ustaz. Untuk apa antum mau menikahi ana? Antum sudah mempunyai istri dan tidak mungkin kita akan bersatu."
"Ana tidak mencintai dia. Ana mencintai anti. Ana akan berusaha agar bisa bersatu sama anti. Ana janji!"
Derasnya hujan tidak bisa mengalahkan derasnya air mata yang membasahi pipi ini. Harus berkata apa aku kepadanya. "Aa ... ana. Ana ... juga sangat sayang sama antum, Ustaz. Kita tidak mungkin akan bersatu. Tidak akan pernah bisa, Ustaz."
"Tapi ... ana sayang sama anti. Ana ingat janji ana sama anti."
"Tidak, Ustaz. Kehidupan antum dan ana sudah berbeda. Lupakan ana!" Aku mundur. Dan berpaling dari Ustaz Aris. Aku berlari sekencang mungkin agar bisa menghindarinya. Menangis yang bisa kulakukan.
"Tuhan ..." Aku berteriak sekeras mungkin. Hingga, tiba-tiba saja terlihat langit-langit kamarku. Dalam keadaan berbaring. Aku mencoba untuk duduk. Ternyata. Semuanya hanya mimpi.
Yang terjadi seperti bukan mimpi. Yang terjadi, seperti nyata. Aku kira semua itu nyata. Ternyata tidak. Aku harus menangis lagi, ketika harus mengingat tentang dia.
Jika seandainya saja. Tuhan mempersatukan kami. Aku tidak akan seperti ini. Tersiksa dengan batin yang tidak menentu. Ini menyakitkan. Sudah berbulan-bulan, rasa sakit, kecewa, masih terus membekas dalam hati ini. Sesakit inikah di khianati. Sepedih inikah, yang namanya cinta.
Kata orang. Cinta itu indah, bahagia saat dirasakan. Bahkan. Kata orang cinta itu bisa mengalahkan semuanya.
Bagiku, cinta itu menyakitkan. Sangat sakit untuk dirasakan.
******
"Buk." Aku mencoba mendekati Ibu yang sedang sibuk membuat jajanan yang akan dijual.
"Ada, apa?"
"Manda ... mau bilang sesuatu sama, Ibu," ucapku ragu menundukkan kepala.
"Mau bilang apa lagi? Mau bahas apa?"
"Mau bahas ..."
__ADS_1
"Mau bahas kerja lagi? atau ... mau bahas Pesantrenan lagi?"
Aku diam sejenak memikirkan perkataan Ibu. Beliau menjawab seakan tidak mau mendengar penjelasanku lagi. Beliau tetap saja fokus membuat kue. Tanpa ingin melihatku.
"Buk ... tapi Manda udah ada panggilan buat kerja. Nggak mungkin 'kan kalau nggak ke sana."
"Ya sudah. Pergi saja, tapi kalau ada apa-apa lagi sama kamu jangan pernah kasih tau Ibu. Atau ... bila perlu, tidak usah pulang."
"Ibuk."
Ucapan beliau sangat jelas menandakan kalau ia tidak setuju jika aku bekerja. Aku tidak ingin menangis, tetapi ... aku bingung dengan semua ini. Merasa jika hidupku tidak punya pilihan lagi. Ibu terlalu egois, selalu menuntutku untuk menuruti perkataannya. Jika, aku kuliah seperti yang diinginkan maka itu akan membuat ia terbebani.
Bagaimana caranya agar hati beliau bisa luluh. Dan mengerti dengan keputusanku ini.
"Ibu mau kamu kuliah. Setidaknya, sudah membuat Ibu bangga jika kamu mau menuruti perkataan Ibu."
"Tapi, Buk. Manda nggak mau buat Ibu susah. Ibu tau 'kan keadaan kita seperti apa. Selama ini, Ibu harus banting tulang mengerjakan ini itu untuk biaya hidup kita."
"Sudah. Selama di pesantrenan apa saja yang diajarkan oleh Ustaz dan Ustazah ke kamu. Jika kamu berkata seperti itu. Berarti, kamu sudah menghendaki keputusan Allah yang belum tentu terjadi." Ibu berdiri menatapku. Setelah ia melepas adonan kue yang akan di buat.
"Maksud Ibu apa? Manda nggak pernah bermaksud untuk menghendaki. Nggak ngerti, Buk."
"Tu 'kan ... makanya Allah belum mau mempertemukan kamu dengan jodoh. Makanya Ibu juga tidak mau melihat kamu bekerja dulu. Cara berpikir kamu belum cukup dewasa. Perkataan Ibu saja kamu tidak mengerti. Kamu paham apa maksud Ibu menghendaki kehendak Allah."
Aku terdiam. Menatap Ibu, ada rasa mulai jenuh jika harus berdebat lagi dengan beliau. "Nggak."
"Sudah berulang kali kita membahas masalah kerja dan kuliah. Tapi Ibu tetap bersi keras ingin melihat kamu melanjutkan sekolah. Dan setiap Ibu menjawab tetap ingin melihat kamu sekolah. Kamu selalu bilang, biaya dari mana, Buk? kehidupan kita sudah seperti ini-ini saja. Semuanya harus Ibu kerjakan? Manda nggak mau lihat Ibu terbebani. Itu. Itu saja alasan kamu, iya, 'kan."
"Yaa memang benar, Buk. Manda sudah cukup dewasa memahami semuanya. Makanya Manda mau tetap kerja. Kasian Ibu jika Manda harus kuliah."
"Ini terakhir kalinya Ibu akan tetap bilang. Kamu harus melanjutkan sekolah. Tidak usah pikirkan biaya. Ibu yang akan pikirkan semua itu. Bagaimana pun caranya, Ibu akan tetap bersi keras ingin melihat kamu jadi orang yang berpendidikan. Tidak seperti Ibumu ini."
"Tapi, Buk ..."
Ibu pergi begitu saja meninggalkanku. Setiap kali beliau bersikap seperti itu. Ujung\-ujungnya ia pergi dan tidak mau mendengar penjelasan dari anaknya.
Mungkin, aku harus melakukan salat di tengah malam. Meminta petunjuk atas masalah yang membebaniku. Karena tidak mungkin. Jika harus seperti ini terus menerus berdebat dengan Ibu. Aku sungguh lelah dengan semua ini. Dan tidak tau harus memilih yang mana.
__ADS_1