
[Assalamu'alaikum. Bagaimana anti sudah terima bunganya?]
Satu pesan masuk dari ustaz Aris ketika aku membuka handphoneku. Apa yang dikatakan Salsa ternyata benar. Bahwa buket bunga mawar yang kuterima ternyata dari ustaz Aris.
[Jika anti ada waktu. Jam istirahat nanti, kita makan siang. Ana tunggu di depan]
Satu pesan masuk lagi dari ustaz Aris. Aku tidak habis pikir bagaimana bisa ia mengajakku lagi untuk keluar makan siang. Dasar gila 'kan!
Entah ia masih punya pikiran atau tidak. Ia begitu berani mengajakku keluar untuk makan siang. Yang ada dipikiranku, kalau istrinya tau. Apa yang akan terjadi lagi kepadaku.
Tanpa aku harus pusing berkepanjang. Kubalas pesan darinya.
[Wa'alaikumsalam, Ustaz. Sebelumnya ana berterima kasih atas bunga dan cupcake-Nya tadi pagi. Dan untuk makan siang maaf, ana nggak bisa.]
Aku berharap ia mengerti dan paham. Bahwa apa yang ia lakukan sangat salah. Amit-amit kalau seandainya aku dibilang perebut laki orang nantinya.
Setelah membalas pesan, aku menaruh handphoneku lagi ke dalam saku rokku. Dan pergi melanjutkan lagi pekerjaanku.
Jika terus meladeni ustaz Aris. Maka tidak akan habis-habisnya segala perkataannya.
******
Jam satu siang sudah saatnya untuk istirahat. Saat aku mengambil tasku, Febi datang menghampiri.
"Manda," tegur Febi mendekatiku.
"Hmm."
"Itu ada yang nyari," ujar Febi memberitahuku. Jantungku langsung deg. Ustaz Aris yang kuingat.
"Siapa?"
"Nggak tau," jawab Febi lagi mengangkat bahunya. "Eeeehhh, entar dulu. Dia itu cowok yang ... itu ..."
"Cowok yang itu apa?" harapku semoga bukan ustaz Aris.
"Ituuu yang waktu kita ke pantai. Yang ganteng itu loh. Aduuuhhhh masak kamu lupa," ucap Febi lagi sambil menggaruk kepalanya dan mengernyit memikirkan laki-laki yang sudah menungguku di depan.
Aku yakin. Itu pasti ustaz Aris. Karena sebelum ke sini ia sudah memberitahu terlebih daluhul. Ternyata ia berani juga mencariku ke sini.
__ADS_1
Aku menuju keluar untuk menemuinya setelah diberitahu oleh Febi. Rasanya aku geram lama-lama kalau dicari terus.
Terlihat laki-laki yang berbadan tinggi itu sudah berdiri didekat mobilnya. Aku mencoba memperhatikan dengan siapa ia datang menemuiku. Tapi, terlihat ia hanya sendiri saja.
Dengan langkah cepat aku keluar dan melihatnya dengan wajah tidak suka. Padahal aku melihatnya sinis tanpa mau melemparkan senyuman kepadanya. Ia malah tersenyum lebar saja melihatku. Dasar tidak tau malu!
"Untuk apa ke sini? tanyaku berdiri di hadapannya.
"Mau ngajak anti keluar," jawab ustaz Aris tanpa beban.
"Ngajak keluar?" aku mengernyitkan dahi melihatnya. "Ustaz apa-apaan, sih?"
"Maksud anti apa-apaan? ana mau ngajak anti keluar. Ini waktu makan siang 'kan. Kita makan."
"Maaf, Ustaz. Ana nggak bisa. Sudah berapa kali ana bilang. Jangan temuin ana. Ingat! Antum sudah punya istri. Jadi, jangan aneh-aneh."
Aku berusaha pergi tanpa harus berkata sopan kepada guruku itu. Aku berusaha menjaga nama baikku supaya orang berfikir tidak-tidak kepadaku. Masak ia aku harus menerima terus diajak keluar. Sementara ia sudah mempunyai istri. Mau taruh di mana mukaku.
Jelaslah aku tidak mau mengambil resiko seperti dulu lagi. Aku takut jika di hina lagi oleh keluarganya.
"Ana tidak akan aneh-aneh lagi kalau anti mau menikah dengan ana," ketus ustaz Aris dan suaranya lumayan keras. Matilah aku jika ada orang yang dengar.
Ini yang kedua kalinya ia mengajakku untuk menikah. Tidak mungkin ia bercanda dengan suara yakin seperti itu.
Aku berhenti melangkahkan kakiku sambil menoleh sedikit tanpa ingin membalikkan badan melihat laki-laki yang pernah kucintai itu.
Tidak mungkin aku harus mengikuti egoku. Aku berusaha melangkah lagi ke warung biasa tempatku untuk makan siang.
"Manda ..."
Kali ini bukan ustaz Aris lagi yang memanggil, melainkan Febi. Febi menghampiriku lalu kami pergi bersama ke warung untuk makan siang.
"Manda," tegur Febi ketika aku masih mengunyah nasi dimulutku.
"Hm."
"Laki-laki ganteng yang nyari kamu itu
sebenarnya siapa sih?"
"Laki-laki yang mana?" tanyaku balik. Jangan sampe Febi bertanya ini itu.
"Ituu yang nyari kamu tadi. Sebenarnya dia udah nikah atau bagaimana, sih?" tanya Febi lagi.
__ADS_1
Apa yang harus kujawab. Sepertinya ia mendengar apa yang dikatakan oleh ustaz Aris tadi. Detak jantungku seketika melemah rasanya. Aku ingin agar tidak menjawab pertanyaan Febi.
Ustaz Aris benar-benar tidak memikirkannya dulu. Rasanya ingin memarahinya, tapi apa dayaku. Apa yang akan terjadi kepadaku. Setelah ia membuat ulah seperti itu.
"Dia ...di-di-dia ... ud-udah nikah," jawabku terbebani.
"Terus? Ngapain dia ngajak kamu menikah?" tanya Febi mengekerutkan alisnya menatapku. Sepertinya ia begitu sangat penasaran apalagi dengan cara lihatnya yang seperti itu dihadapanku.
"Maksud kamu apa sih, Feb?"
"Iya, kan. Dia tadi kok bilang gitu sama kamu. Kalau dia udah nikah ngapain coba ia deketin kamu?"
"Hee ... dia cuman becanda, nggak usah dipikirin apa yang dibilang tadi," jawabku ragu.
"Hah. Masak iya dia becanda. Dia ngomong serius kayaknya ke kamu, Da," Febi memperjelas lagi.
Aku berusaha diam tanpa mau menjawab pertanyaan Febi lagi. Dan tentunya melanjutkan memakan nasiku. Rasa enak nasi yang kumakan rasanya hilang ketika Febi bertanya ini itu tentang ustaz Aris.
Aku bingung harus menjawab apa. Sementara Febi orangnya begitu cerewet, ia pasti akan tetap mencari jawaban atas segala pertanyaan yang dilontarkan kepadaku.
Sepertinya ustaz Aris ingin membunuhku secara perlahan. Bagaimana bisa ia mengajakku untuk menikah. Benar-benar gila!
"Nasiku udah abis. Aku duluan balik, Feb," ujarku kepada Febi yang masih makan.
"Loh. Kok cepet banget baliknya. Eh kamu belum jawab aku lo, Da?" Febi menarik sebelah tanganku saat akan beranjak pergi.
"Jawab apa?" tanyaku seperti tidak tau maksud Febi.
"Pertanyaanku yang tadilah."
"Pertanyaan kamu itu nggak penting, Feb. Kan aku udah bilang kalau dia itu sudah menikah. Dan apa yang tadi kamu denger itu. Dia cuman becanda."
"Becanda? kalau dia becanda terus ngapain kamu ninggalin orang gitu aja. Dia kan ngajak kamu makan yang aku denger tadi. Tapi kamunya yang menghindar, teruss ..."
"Terus apa? Udahlah, Feb. Jangan terlalu kepo sama urusan orang. Nggak baik kalau kamu seperti itu," ketusku denga nada tidak suka.
Yang aku pikirkan hanya bisa pergi dari hadapan Febi. Dan sekarang aku harus siap\-siap lagi dengan segala penasaran Febi. Karena ia sudah mulai menanyakan ini itu kepadaku. Aku akan bilang kepada ustaz Aris jika ia sudah berhasil di ronda pertama untuk menjebakku. Mungkin, di ronda ke dua. Dia akan mengumumkan jika ingin menikahiku lagi.
Na'uzubillah. Semoga saja tidak. Aku wanita, jika menikah dengan ustaz Aris itu pasti akan menyakitkan hati ustazah Nisa. Dan aku tidak ingin terjadi hal seperti itu.
__ADS_1