LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Rencana


__ADS_3

"Kapan kamu akan siap?" tanya ibu kepadaku saat membantunya membersihkan piring kotor di dapur.


Aku menoleh melihat ibu. "Maksud, Ibu?"


"Kapan kamu siapnya menikah?"


 


Aku terdiam dan mulutku terasa kaku untuk menjawab ibu. Aku ingin menjawab "ya" tapi melihat ibu seperti berat memberikan restu membuatku semakin tidak yakin untuk menjawab.


 


"Kenapa diam?"


Aku mengernyitkan dahi melihat ibu. Setelah semua piring bersih aku lalu mengelap tanganku. Agar bisa menetralkan nafas, aku lalu meminum segelas air putih.


 


Ibu lalu duduk di dekatku yang masih berdiri. Dan sepertinya ia menunggu jawaban dariku. Melihat beliau duduk, aku pun ikut duduk juga. Harapku semoga Salsa tidak menguping pembicaraanku dengan ibu nantinya.


 


"Mmm. Ibu. Ibu beneran setuju kalau aku menikah sama ustaz Aris?" tanyaku dengan berat hati. Semoga kami tidak berdebat lagi gara-gara hal kayak gini.


"Kalau Ibu tidak setuju. Tidak mungkin Ibu bertanya terus sama kamu. Kapan kamu akan siapnya."


"Mmm. Man-Manda siap kok, Buk." Sungguh, aku takut jika melihat ibu meneteskan air mata nantinya.


"Ya sudah. Kalo kamu setuju, Ibu tinggal memberitahu mereka," kata ibu kepadaku.


 


Aku menatap ibu lekat. "Bagaimana cara Ibu memberitahu mereka?" tanyaku penasaran.


 


"Ya di telpon," jawab ibu singkat lagi.


"Memangnya Ibu tau nomer yang bisa menghubungi mereka?"


"Iya. Waktu ke sini mereka memberikan nomer handphone kepada Ibu. Jadi, kapan kamu siap Ibu akan memberitahu mereka."


Entah perasaan apa yang kurasakan ini. Senang bercampur gugup dan khawatir juga. "Kalo bisa Manda ingin nyebar undangan untuk teman-teman juga ya, Buk."


"Undangan? buat apa?"

__ADS_1


"Ya biar mereka tau, Buk."


"Kalo kamu siap besok. Mereka akan langsung ke sini untuk jemput kamu. Dan nggak perlu pake undangan juga. Langsung nikah!" ucap ibu sedikit meninggikan suaranya kepadaku.


 


Lantas aku langsung membelalakkan mata melihat Ibu. "Maksud Ibu bagaimana?


 


"Manda Manda. Kamu itu langsung nikah. Nggak usah pake acara-acara segala, makanya Ibu nanya kapan kamu siapnya. Kalo siap besok, besok kamu langsung nikah."


"Jadi, nggak usah ada acara gitu, Buk?" tanyaku semakin bingung.


"Iya. Kamu juga nggak perlu di rias. Cukup ustaz Aris, hakim, dan beberapa tetangga untuk menjadi saksi pernikahan kamu."


 


Aku semakin kaget dengan ucapan ibu ketika aku tidak usah di rias juga. "Aku semakin bingung, Buk. Kenapa harus pakai hakim."


 


"Terus ... kalau nggak pake hakim pakai siapa lagi. Bapakmu kan sudah nggak ada. Saudara Bapakmu yang laki juga tidak ada, Manda. Kamu juga tidak punya saudara laki-laki. Jelas kamu dinikahkan oleh hakim."


 


******


"Sepertinya kamu nggak usah balik dulu, Sa," ucapku mendekati Salsa yang sedang membaca sebuah buku. Biasa, palingan novel yang ia baca.


"Kenapa emang?" tanya Salsa masih fokus menghadap novel tersebut dan enggan untuk melihatku.


"Kan aku mau nikah," kataku yang masih tetap duduk di tepi tempat tidur.


Salsa seperti kaget mendengarku berkata seperti itu. Liat aja dia langsung tutup bacaannya. "Emang kapan kamu mau nikah? sekarang? atau ... besok?" tanya Salsa seraya menyenderkan kembali punggungnya.


"Kata Ibu. Aku nggak usah pake acara segala menikahnya. Langsung nikah aja kalo aku udah siap. Terus ..."


"What?!"


Jelas aja aku langsung mengernyitkan dahi melihat Salsa. Kaget sih kaget. Tapi nggak usah sampai segitunya apah. "Aku belum selesai ngomong tauk."


"Makanya kamu yang jelas dong ngomongnya. Masak iya nggak usah pake acara, Da. Nggak ada sekarang yang nggak pake acara. Mau pakai cara dahulu kala lu!"


"Ya Allah, Sa. Biasa aja dong, nggak usah kayak gitu ekspresinya. Bukan gitu maksudnya. Cuman, lebih cepat lebih baik. Jadi, cuman ada hakim sama calon mempelai pria dan saksi ... itu udah cukup."

__ADS_1


"Eh. Apaan kayak gitu. Nggak ah," jawab Salsa sewot kepadaku.


"Yang nikah siapa, sih?"


"Kamu lah."


"Terus ... kenapa kamu keluarin asep lewat kepalamu, Sa. Biasa aja. Dan kamu juga harus terima!" ucapku lagi lalu memilih berdiri dan duduk di kursi belajarku menghadap Salsa yang menjengkelkan itu.


"Yeh. Hahahaa. Asep? Masak iya keluar asep dari kepalaku?"


Aku hanya diam lalu memanyunkan mulut melihat sahabatku itu. Sungguh, dia itu semakin bikin orang kesal. Kalau dulu, dia itu nggak terlalu bikin orang kesel. Tapi, kalau sekarang. Aduhh parah banget si Salsa.


Ini aja ngomong aku paksa\-paksain. Kalo orang lain, mungkin aku males ajak dia ngomong. Dia itu ... lama\-lama mirip kayak Febi sifatnya. Nyebelin minta ampun!


"Udah. Gini aja. Kamu nggak usah banyak nanyak deh sekarang. Mungkin, aja kan. Besok atau lusa aku tiba-tiba menikah. Biar kamu bisa saksiin," ucapku penuh harap.


"Emang aku harus berapa hari di rumah kamu. Ya ampunn ... berapa mata pelajaran yang aku lewatin gara-gara kamu, Da." Salsa melipat tangan di dadanya. Ia sepertinya kesal juga.


"Yaa ... itu kalau kamu mau. Kalau nggak mau, ya, udah. Biasa aja."


"Hmmmm ... aku nggak habis pikir, deh. Kayak gimana keliatannya besok kalau kamu nikah. Terus ... kamu nggak usah di rias juga gitu."


Aku mengangguk mengiyakan sahabatku itu. Ya. Aku mau bagaimana lagi, semuanya juga sudah diatur. sebenarnya, aku rada nggak setuju dengan semua ini. Tapi, karena nggak mau bedebat panjang lebar lagi sama ibu ataupun keluarga ustaz Aris. Aku pun setuju\-setuju aja walau setuju agak terpaksa gitu.



Setelah berbincang cukup lama dengan Salsa. Aku lebih baik memilih untuk tidur. "Kamu sanaan dong, Sa. Aku udah ngantuk ni, mau tidur."



Salsa pun bergeser memberikan tempat untukku tidur. Aku berusaha untuk memejamkan mata yang sudah mulai ingin ditutup.


"Manda. Kamu jangan kayak gitu dong besok. Masak iya, nggak usah pake acara? hmmm nggak seru."


Yang tadinya aku ingin memejamkan mata jadi tidak jadi. Hanya gara\-gara mendengar keluhan Salsa lagi. Aku menoleh sahabatku itu yang menghadap ke atas melihat langit\-langit kamar.


"Sa. Sederhana kayak gitu lebih bagus dari pada mewah. Nggak baik."


"Nggak usah mewah, Manda. Cuman kan ..."


"Sudah. Kamu tidur aja. Kalau seandainya Ibu langsung kasih tau keluarga Ustaz Aris. Besok aku bakalan langsung nikah," ucapku lagi. Lalu aku pun menaruh tanganku di atas perut Salsa. Tumben banget bisa meluk sahabat aku ini lagi.


"Kalau kamu udah nikah. Kita nggak bakalan bisa kayak gini lagi, Da."


Aku hanya tersenyum mendengar ucapan sahabatku itu. Aku tau akan bagaimana resikonya nanti kalau sudah menikah. Pastinya udah lain cerita, kuliah aja nggak tau. Apakah jadi atau nggak.

__ADS_1


 


__ADS_2