LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Teringat Kembali


__ADS_3

 


Hari ini sepi, tidak terlalu banyak pelanggan yang berdatangan. Yah, namanya juga usaha. Kadang ramai, kadang juga sepi. Semuanya proses.


Menyenderkan punggung dikursi kasir membuatku sedikit nyaman. Tidak untuk mengkhayal, melainkan memikirkan tes bagaimana supaya langsung bisa masuk Universitas.


 


"Manda," tegur seseorang dari belakangku. Siapa lagi kalau bukan Febi. Hanya ia yang suka menggangguku atau pun kepo tentang kehidupan pribadiku.


"Hm," jawabku malas. Mau apalagi ia, sepertinya bakalan ada yang ingin ia bisikin. Sudah ada bau-baunya.


"Kamu mau ikut nggak besok?" Febi mulai mendekat berbisik kepadaku.


"Ikut ke mana?" tanyaku menolehnya.


"Besok 'kan hari sabtu sama minggu libur. Jadi, dua hari libur. Nah ... gimana kalau kamu ikut aku liburan aja."


"Liburan ke mana? Nggak bisa apa kamu jelas ngomongnya. Langsung ke intinya saja," balasku dengan wajah tidak suka. "Aku tau kali orang libur dua hari, nggak usah dikasih tau."


"Kamu kenapa, sih. Lagi dapet, ya. Bawaannya pengin marah aja dari tadi." Febi bangun dari tempat duduknya. Berdiri di hadapanku lalu melipatkan kedua tangan di depan dadanya.


"Liburan ke mana makanya?"


"Liburan ke pesantrenan. Dan, di sana ..."


"Pesantrenan?" aku memutuskan perkataan Febi. Entah kenapa, aku merasa kaget saat mendengar pesantrenan. "Mau ngapain ke pesantrenan. Masak di pesantrenan liburan?"


"Aku belum selesai ngomong. Aku aja yang kamu bilang nyerocos. Padahal, kamu juga nyerocos banget orangnya."


 


Aku lalu terdiam mendengar perkataan Febi. Duduk manis mendengar segala perkataannya mungkin lebih baik.


 


"Di sana, ada saudara nyokap. Jadi, aku di suruh ke sana. Suasana pesantrenan di sana cukup sejuk. Yakin deh, kamu bakalan betah kalau aku ajak ke sana. Pesantrenan itu luas banget, Da."


"Emang kamu pernah ke sana?" tanyaku mengernyitkan alis.


"Ya iyalah, pernah. Dulu tapi waktu masih kecil. Ibu ngajak aku ke sana."


"Berarti, di sana ada bibik kamu?"


"Iya. Mau ikut kagak?"


"Hmm. Nggak deh, kayaknya. Aku diem di kos aja," ujarku masih berfikir-fikir.


"Hadehh. Udah jelasin ini itu, ujung-ujungnya tetep nggak mau ikut. Ya dah kalau gitu. Aku ke belakang dulu."


Ketika Febi hendak pergi meninggalkanku. Aku menarik pergelangan tangannya, seperti aku berubah fikiran. "Entar dulu, Feb."


"Apa lagi?" Febi menolehku malas.


"Kamu pergi kapan?"

__ADS_1


"Nanti pulang kerja kita siap-siap terus berangkat." Febi begitu sangat sumringah memberi tahuku. "Kamu mau ikut?"


"Hm. Kita ngapain aja di sana?" tanyaku ragu.


"Macem-macem, banyak kegiatan juga di pesantrenan sana. Kamu bakalan betah, Da."


"Jauh, ya."


"Lumayan. Kalau pelan, bisa sampe sejam dijalan. Tapi, kalau cepet bisa nyampe kurang dari sejam."


"Hm. Aku ikut deh."


"Oke. oke. Siap-siap aja, ya."


Sebenarnya, aku agak ragu untuk ikut. Tapi, pikirku mungkin aja bisa menenangkan perasaanku makanya mau ikut bersama Febi.


 


Dari pada di kos. Kepalaku terasa semakin sumpek. Mending ikut Febi saja, semoga saja aku bisa liburan di sana seperti kata teman kerjaku ini.


Walau sudah bertemu dan mengambil keputusan agar ustaz Aris menjauhiku. Hatiku semakin terasa sakit dengan keputusan yang kuambil. Sering sekali aku istigfar dengan perasaanku yang tak menentu. Namun, entah kenapa tetap saja aku tidak merasa tenang. Mungkin, aku kurang khusuk istigfarnya.


Apa mungkin, aku harus mengaji. Astaga! Ngomong-ngomong ngaji, selama ini aku jarang ngaji. Menyebut ngaji, aku teringat pernah dikasih al-qur'an kecil oleh seseorang. Sampe sekarang, aku belum pernah membacanya. Apa iya, perasaanku gelisah seperti ini gara-gara nggak pernah ngaji.


"Ya Allah. Maafkan, hamba."


 


******


 


Setelah semuanya beres. Kami pun berangkat menuju pesantrenan yang di maksud oleh Febi. Dan aku hanya membawa beberapa pakaian. Kami hanya dua hari menginap di sana.


Selama perjalanan, aku hanya melihat suasana kota Mataram. Tidak ada percakapan sama sekali antara aku dan Febi. Aku juga tidak mau mengajaknya berbicara dengan keadaan ia fokus mengendarai motor. Biarkan saja ia fokus, jika diajak ngomong takutnya konsentrasinya hilang.


Saat kami sudah setengah jam lebih. Kami melewati suatu jalan. Aku merasa agak tidak enak. Jalan yang kami lewati sepertinya pernah kulewati berkali-kali. Semakin jauh, aku semakin mengingat setiap jalan yang kami lewati. Jalan yang kami lewati seperti tidak asing.


"Feb. Febi," panggilku yang masih duduk diboncengi oleh Febi.


"Iya," saut Febi. "Ada apa?"


"Sebenarnya kita mau ke mana, sih?" tanyaku dengan perasaan tidak enak.


"Mau ke pesantrenanlah. Masak mau ke sawah," jawab Febi sewot.


"Bukan gitu maksud aku. Cuman ...?" perkataanku terhenti, aku ragu untuk mengatakannya kepada Febi.


"Bentar lagi kita sampe. Kamu tenang aja, setelah sampe langsung istirahat aja nanti. Bibik juga udah nungguin kita dari tadi."


"Pesantrenan yang kita tuju ...? Sebenarnya, pesantrenan apa namanya?"


"Aku nggak inget, Da. Nanti setelah sampai kamu bisa baca plangnya."


Aku pun hanya diam mendengar penjelasan Febi. Tapi, semakin jauh aku semakin mengingat jalan ini. Jalan yang kami lewati adalah jalan menuju pesantrenan?

__ADS_1


"Kita udah sampe," ucap Febi kegirangan saat ada seseorang yang membuka gerbang untuk kami.


Deg.


Pesantrenan ar\-rahman. Dan yang membuka gerbang adalah pak samik penjaga di pesantrenan ini. Dadaku semakin berdegup kencang. Tiba\-tiba saja, keringat membasahi tubuhku. Saking gemetarnya, aku tidak menghiraukan perkataan Febi.


"Manda. Manda. Manda ...!"


"Hah," jawabku kaget. Seluruh tubuhku terasa dingin dan lemas.


"Lu ngapain bengong. Turun apa, Manda."


Dengan berat hati, aku turun dari motor Febi. Kulihat sekeliling pesantrenan ini. Masih sama seperti yang dulu. Namun, pondok santriwati sedikit berbeda. Seperti habis direnovasi.



Apa maksud semua ini? kenapa aku tiba\-tiba harus menginjakkan kaki lagi di sini.


"Febi."


Terdengar suara seseorang memanggil nama Febi.


"Bibik. Assalamu'alaikum, Bik."


Aku membalikkan badan ketika Febi memberikan salam kepada seseorang itu. Yah, seseorang itu tidak lain adalah ustazah Erin.



Aku merasa tidak menginjakkan kakiku di muka bumi ini lagi saat melihat ustazahku. Ustazah yang pernah mengajariku dulu, ustazah yang begitu baik kepadaku dulu.


"Sini istirahat dulu," ucap zah Erin kepada Febi. Aku baru tau jika Febi adalah keponakan ustazah Erin.


"Iya, Bik," jawab Febi seraya menolehku. "Manda. Ayok."


Aku mengangguk cepat mengikuti langkah Febi dari belakang. Mungkin, ustazah Erin tidak mengenaliku. Bagaimana bisa ia mengenaliku, sementara diriku memakai masker.



Kami pun di bawa ke sebuah kamar oleh zah Erin. Kamar untuk para ustazah. Dulu, aku pernah membersihkan kamar ini bersama Salsa atau pun santriwati lainnya.


"Ini teman kamu, Feb?" tanya zah Erin kepada Febi.


"Iya, Bik. Ini teman aku, perkenalkan namanya ..."


"Saya teman kerja, Febi, Bik," ucapku memotong perkataan Febi.


"Iya. Bibik tau. Febi sudah cerita sama Bibik sebelumnya." Ustazah Erin tersenyum melihatku. Dan aku pun membalas senyuman lebar itu dibalik masker yang kukenakan.


Entah bagaimana reaksi ustazah Erin jika melihat wajahku. Ia tidak tau bahwa teman keponakannya adalah santriwati yang pernah ia ajari dulu.


Jangan lupa vote, yaaa 😉 biar author semakin mangat ngetiknya. Kasih saran kalian. Apa yang perlu diperbaiki pada cerita ini.


Saran nyinyir juga nggak apa-apa. Asalkan jangan nyinyir merendahkan. Udah, gitu aja. 😊😊 Syukron untuk para pembaca setia saya.


 

__ADS_1


__ADS_2