
"Ayokk, Feb. Ajak temannya, ini Bibik ambilkan piring dulu," kata ustazah Erin mengambil nasi untuk kami berdua.
Sementara aku masih diam dengan memakai masker. Rasanya berat untuk melepas masker. Sebentar lagi, Febi pasti akan menegurku.
"Eh. Maskernya dicopot apa. Kita mau makan, Manda ...!" bener 'kan. Febi menyuruhku untuk membuka masker.
Aku hanya diam dan belum mau membuka masker. Kenapa sih pondok ini harus mengadakan makan bersama seperti ini. Terus semua duduk, apa nggak bisa yah. Pake prasmanan aja, 'kan lebih nyaman orang ngambilnya. Dari pada kayak gini, tapi yaa nggak mungkin juga mereka makan pakai sendok. Pasti ujung-ujungnya sunnah rasul, iya kan. Lebih baik pakai tangan dari pada sendok!
Di saat aku masih bergeming, kulihat sosok laki-laki itu lagi. Hatiku tiba-tiba berdegup kencang kembali. Iya, ketika mata ini melihat sosoknya. Maka hati ini bergetar dengan tidak biasanya. Hanya saja, mata ini melihat ia harus berjalan beriringan dengan sosok perempuan lain.
Ustaz Aris dan ustazah Nisa.
Dan kulihat sekeliling santri baru. Dan adik kelas yang dulu sering menyindir-nyindirku pun ikut juga duduk bersama kami. Mereka tidak mengenaliku sama sekali. Jujur, hatiku seketika terasa sakit terulang lagi. Sebagian mereka yang dulu pernah menghinaku harus kulihat lagi.
Deg.
Mataku tertuju lagi kearah Mudir. Setelah anaknya yaitu ustaz Aris datang. Kini giliran Mudir yang datang, wajah beliau masih sama. Sebenarnya, beliau orang yang baik.
Namun, aku memaklumi kemarahan beliau waktu itu. Anaknya melakukan kesalahan dan aku juga melakukan kesalahan menyukai ustazku sendiri. Hah. Kenapa harus mengingat kenangan dulu.
"Manda!" tegur Febi yang berada didekatku. "Kamu nggak makan? Apa perlu masker kamu aku tarik."
"Aku lagi males makan," jawabku masih tetap fokus melihat Mudir dan ustaz Aris bersama istrinya.
"Ya Allah, Manda ... kamu tau nggak. Di sini banyak orang, Da. Bibik juga udah baik sama kita, jangan bilang kamu mau ngajak makan di kamar lagi."
"Aku balik ke kamar aja," ucapku lalu beranjak bangun dari tempat dudukku. Namun, Febi dengan cepat menarik tanganku agar mau duduk kembali.
"Duduk nggak!" Febi menekan tanganku. Agar aku mau duduk kembali. "Aku nggak ngerti sama sikap kamu semenjak kita ke sini."
Dengan berat hati, aku duduk kembali. Aku ingin balik ke kos. Tidak tahan jika tetap berada di sini. Hatiku terasa tersiksa berada di sini.
"Manda. Kamu ... kamu lihat laki-laki di sana nggak?" Febi bertanya dan pandangannya terarah ke ustaz Aris. "Itu kayaknya ... orang yang pernah nyari kamu ke toko. Dia sia ..."
"Kamu terusin aja makannya, Feb. Nggak usah merhatiin orang lain." Aku berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Yeh. Kamu aja belum makan. Mau sampe kapan pake masker. Kayak muka kamu kenapa-napa aja tu masker nggak mau dicopot dari tadi. Padahal, mau makan," balas Febi dengan sewotnya.
"Baik. Aku akan buka, kamu tenang aja," ucapku sambil mengucapkan bismillah dalam hati semoga saja tidak terjadi apa-apa saat membuka maskerku.
Aku memejamkan mataku sejenak seraya melepas masker dalam keadaan menunduk.
__ADS_1
"Manda!" terdengar seseorang mengucap namaku. Beliau adalah ustazah Erin, "kamu Manda 'kan?"
Hatiku merasa sedih ketika Bibik dari teman kerjaku itu menyapa. Ia mendekatiku, dan kali ini beberapa adik kelas yang mengenaliku semua melihat kearahku.
"Ya Allah, Nak. Kamu apa kabar?" tanya Zah Erin mengelus lenganku. "Kenapa Umi tidak tau kalau kamu teman Febi?"
"Hah. Ini maksudnya apa, sih?" Terlihat jelas jika Febi begitu bingung dengan Bibiknya yang tiba-tiba menyapa dan memelukku.
"Alham-dulillah, Manda baik, Zah." Tiba-tiba saja air mata membasahi pipiku. "Ustazah apa kabar?"
"Alhamdulillah, baik, Nak. Ayok terusin makannya, nanti selesai makan kita ngobrol-ngobrol, ya, Nak."
Aku mengangguk pelan mengiyakan ustazahku itu. Dengan keadaan gugup dan perasaan tidak nyaman sebagian orang sudah melihat keberadaanku di pondok.
"Ukhti Manda ..."
"Iya. Nggak salah lagi. Itu beneran ukhti Manda. Ngapain dia di sini?"
"Ukhti Manda ngapain di sini. Kenapa tiba-tiba dia ada di sini?"
"Manda. Ayok, di makan dulu," kata ustazah Erin menyuruhku agar menghabiskan nasiku.
"Bik. Bentar dulu." Febi mencegah tangan zah Erin ketika ia hendak pergi. "Kenapa kalian saling kenal? Kenal di mana, Bik?"
Aku tau, akan banyak pertanyaan yang muncul di kepala Febi. Setidaknya, dari sekarang diriku harus siap-siap dengan segala pertanyaannya nanti.
"Masak Bibik nggak kenal santriwati, Bibik," kata ustazah Erin lagi menjawab keponakannya itu. Sungguh, wajah Febi semakin bingung dan terlihat ia sangat ingin menanyakan ini itu. Dasar ratu kepo!
"Santriwati?" Febi mengulang lagi perkataan ustazah Erin.
"Sudah. Kamu makan saja dulu, nanya nanti selesai makan. Nggak boleh berbicara kalau lagi makan."
Ustazah Erin lalu pergi meninggalkan kami. Ia berbaur lagi dengan ustazah lainnya.
"Ukhti Manda ...!" suara cempreng memanggil namaku. Ia adalah Pika, adik kelasku dulu. Aku menoleh. Saat menoleh, ustaz Aris pun melihat keberadaanku di pondok Abinya.
Terlihat ia terkejut. Aku pasrah untuk malam ini. Bagaimana bisa, Pika memanggilku dengan suara keras. Sampai-sampai ustaz Aris pun tau kehadiranku. Tamatlah aku.
__ADS_1
Rasanya aku ingin memarahi bocah ingusan itu. Seenaknya saja ia memanggi namaku dengan begitu keras. Sungguh, aku sangat tidak suka.
"Manda! Jadi ..."
Aku menoleh Febi yang menegurku lagi. Sepertinya, malamku akan terasa buruk. Nasiku pun tidak akan bisa habis jika ada yang memanggil dan ada yang menegurku pula.
"Kamu ... kamu dulu mondok di sini?" tanya Febi penasaran.
"Iya," jawabku singkat.
Aku melihat Pika berjalan, dan sepertinya ia akan menuju kearahku.
"Berarti penglihatan aku yang kemarin nggak salah, Manda. Nyatanya ..."
Aku beranjak bangun dari tempat dudukku. Tanpa menghabiskan nasiku terlebih dahulu. Sebelum Pika berteriak memanggilku lagi. Lebih baik balik ke kamar.
Masalah segala pertanyaan Febi urusan belakang. Setidaknya bisa pergi dulu untuk menghindari beberapa orang.
"Manda. Manda tunggu dulu," kata Febi terus membuntutiku dari belakang. Aku berusaha melangkah cepat, agar sampai di kamar.
Sesampai di kamar aku duduk di tepi tempat tidur dan manarik nafas dalam. Semua badanku terasa berkeringat. Semua orang yang melihatku tadi membuatku pusing. Mereka semua terngiang dalam pikiranku.
"Manda. Kamu kenapa, sih? tanya Febi duduk di dekatku.
"Kamu udah kunci pintunya?" tanyaku melihat pintu kamar yang kami tempati.
"Iya, udah. Kamu kenapa, sih. Kayak orang ketakutan, tapi ... kayak orang menghindar juga."
"Aku nggak kenapa-napa, Feb. Aku ngantuk pengin tidur."
"Hah. Tidur? Kamu keringetan kayak gini mau tidur?"
Aku menarik selimut di dekatku. Dan tidak mau menjawab perkataan Febi. Aku lebih baik memilih diam dari pada harus menjawabnya. Saat ini akan banyak pertanyaan yang mengelilingi pikirannya. Mungkin saja, aku perlu bersemedi agar bisa menjawab pertanyaan temanku itu nanti.
__ADS_1