
"Huh,kematian tak memandang umur.Mungkin,Tuhan lebih menyayangimu.Kau seseorang yang pernah hadir dalam hidupku,kau pernah melukis dan mewarnai hidup ini.Aku sangat berterimakasih untuk itu."
"Aya!!"Panggil seseorang dari arah pintu.
Aya menoleh ke belakang"ada apa?"Seseorang itu berjalan ke arah Aya.
"Cepat makan."Ujarnya datar,melangkah pergi.
"Tidak ku sangka ternyata kau memperdulikan ku."Tersenyum.Dia berhenti dan kembalikan badan.
"Mama yang menyuruhku."Lanjut melangkah.
Aya diam,menatap punggung Rey yang semakin menjauh.
"Dia sangat lucu."Tertawa kecil,berdiri lalu berjalan masuk ke rumah.
"Aya,ayo sini makan."
Semua orang sudah berada di kursi masing masing.Saat Aya duduk,Aya menoleh ke kiri,yang tak lain adalah kursi Lucifer.
"Aya,kau baik baik saja?"Tanya Bibi Alya.
"Hm,iya."Tersenyum paksa.
"Cepat,makan."Kata Rey,tanpa melihat siapapun.Fokus pada makanannya.
"Makan yang banyak nak,kesehatan itu penting."Memberikan lauk dan nasi.
"Makasih,bibi."
"Kau boleh panggil mama dan papa."Kata Paman Yunus.
"Makasih."
Aya melirik Rey,dan ternyata Rey juga sedang melihat ke arah Aya.Dengan segera Rey mengalihkan pandangan nya.
Seperti nya Rey,tak suka dengan ku.Mungkin,dia benci.Aku lah penyebab semua ini.* Kembali makan.
***
Pagi hari Aya bangun,melakukan aktivitas nya seperti biasa.Dan tak luput dari cibiran para tetangga yang mengusik pikiran Aya.Ingin pergi,tapi kemana?Ingin menghilang,tapi mana mungkin?Ingin rasanya tak mendengar,tapi punya telinga.Ingin rasanya tak perduli,tapi punya hati.Sabar,sabar adalah kata yang paling tepat untuk hidup Aya sekarang.Lebih baik lagi ikhlas,tapi sayang,Aya belum sanggup melakukannya.
***
Kini Aya berada di rooftop,duduk sendirian.Ditemani oleh hembusan angin dan hangatnya sinar matahari.Cuaca cerah,tapi tak seperti hati Aya.
Aya membuka buku dan menggenggam pensil di tangan kanan nya.Menatap langit langit seperti sedang memikirkan sesuatu.
Tak beberapa lama,Aya mulai menuliskan kalimat sesuai apa yang ada di hatinya.
(Detik berganti menit,hari demi hari telah berganti.Tapi tidak dengan hati ini,rasanya masih sama seperti beberapa hari yang lalu.Tak ada matahari yang bersinar setelah malam.Seperti malam yang selalu malam tak pernah pagi.Rasanya seperti mimpi,ingin rasanya bangun saat ini juga.Aku hanya bisa berharap dan berdoa jika ini bukan kenyataan.
Gelap,gelap adalah warna hidup ku sekarang.Hujan datang begitu deras,tanpa tanda.Tak ada pelangi setelah hujan,hanya ada awan hitam menyelimuti langit.)
"Huh! Bisakah aku melalui hari hari gelap seperti ini?"
"Tentu saja bisa."
Aya menoleh"kau? Hal apa yang membuatmu kemari?"Kembali menghadap depan.
"Boleh aku duduk?"
"Ini tempat umum."Seseorang itu duduk di samping kanan Aya
"Hm,kau marah dengan ku?"Menoleh ke arah Aya.
"Tidak,bukankah kau?"Tanpa menoleh.
__ADS_1
"Aku hanya sedikit kesal,aku baru sadar,jika ini bukan salah mu."
Aya diam tak menjawab.
"Aku minta maaf."
"Untuk apa?"
"Aku sadar,jika aku sudah membuatmu lebih terluka."
Aya menoleh"kau mau memaafkan ku?"
"Apa yang harus ku maafkan,semau sudah terjadi." Menghadap depan.
"Jadi,kau tak mau?"
"Aku tidak akan pernah memaafkan mu."
"Sudah ku dug-"Aya menoleh.
"Karena kau tak mempunyai salah apapun kepada ku."Tersenyum.
Intan tertegun dengan kalimat Aya,dia tersenyum bahagia.Dengan segera memeluk Aya,Aya pun juga memeluk nya.
"Ehm!"Mereka menoleh.
"Bagus,peluk pelukan di sini tanpa mengajak ku."
"Eh,kau saja baru datang."Melepas pelukan.
"Hahah!!"Tertawa tak jelas,Aya dan Intan hanya menatap heran.
"Iya juga."Menggaruk garuk kepalanya yang tak gatal.
"Ya begini jadinya,kalo lahir dari rahim kodok jantan."Kata Aya.
"Kau tadi menulis apa?"Tanya Intan.
"Tidak,itu tidak penting."
"Apa yang kau tulis?"Merebut buku harian Aya.
"Eh,Ragil.Kembalikan!"Ingin mengambil.
"Ets,tak semudah itu baby."
"Baby,baby.Jijik aku denger nya!"Merebut secepat kilat.
"Eh!"
"Sial !"
"Sabar,broo.Suatu saat pasti kita akan tahu."Intan menepuk pundak Ragil.
FLASHBACK OFF
Tak terasa air mata,sudah mengalir deras dan jatuh untuk ke seribu kali nya.
"Huh,aku harus menyebut apa? Kenangan buruk ataukah baik?"
"Aya!"
Aya menoleh"Ini sudah senja nak,kau tidak masuk? Banyak nyamuk di sini." Ujar ayah,duduk di kursi sebelah kanan ayunan Aya.
"Memang nya kenapa? Bahkan aku sudah pernah merasakan berbagai rasa dalam hidup ini."
"Ayah ada di samping mu nak."
__ADS_1
"Aku tahu,ayah sekarang memang duduk di samping ku."
"Eh,bukan itu maksud ayah."Aya menoleh.
"Mata mu bengkak,kau menangis?"
"Jangan memikirkan masa lalu mu lagi nak,arahkan mata mu ke depan.Bukan kebelakang.Meski kau pikirkan setiap hari pun,waktu tak akan bisa terulang kembali."
"Aku tahu,aku berusaha tak memikirkan nya.Tapi hati dan pikiran ku,menolak untuk itu."
"Seberapa besar aku menolak nya untuk mengingat,semua itu akan datang dengan sendiri nya."
"Aku lelah dengan ini semua,rasanya berat.Kehilangan kedua orang yang ku sayangi,secara bersamaan.Seharusnya waktu itu,Lucifer tak menyelamatkan ku,ini tak akan terjadi."
"Sudah hampir satu tahun,kau seperti ini Aya."
"Tapi aku menikmati hidup yang seperti neraka ini,aku akan berusaha."Tersenyum.
"Baiklah,itu baru anak ayah.Sekarang kita masuk."Menggandeng tangan Aya.
***
Aya kini berbaring di atas kasur sederhananya.Menatap langit langit kamar,sambil memikirkan sesuatu yang belum terselesaikan.
"Kenapa tak ada satu orang pun yang memberi tahuku tentang ini,apa aku harus datang ke rumah sakit itu?"
"Iya baiklah,besok aku akan datang,setelah pulang sekolah."
Tak lama kemudian Aya sudah terlelap dalam alam mimpi.
***
Subuh,Aya mulai bangun.Mulai melakukan aktifkan nya.
Setelah selesai Aya siap siap untuk berangkat sekolah,karena sekolah Aya jaraknya lumayan jauh,Aya berangkat lebih awal.
"Ayah,kunci motor nya di mana?"Selesai makan.
"Ini,hati hati yah?"
"Iya,assalamualaikum."Mencium punggung tangan ayah dan ibu nya.
"Wa'alaikumsalam."
Aya mulai menyalakan mesin motornya,dan melajukan dengan kecepatan sedang.
Sedangkan Kak Nana,dia sudah berangkat,karena ada materi tambahan katanya.
Di sisi lain,Ray dan teman temannya sedang berlatih keras agar menang pertandingan basket minggu depan.
Keadaan ramai,banyak anak anak yang menonton nya.Para kaum hawa bersorak sorak menyemangati Rey.
"Ayo Rey,semangat!! Kau pasti bisa!!"
Dan masih banyak teriakan yang tak jelas.
"Rey,para fans mu sangat berisik,seperti anak bebek."Kata Tomi.
"Iri bilang boss."
"Apa kau sedang melawak? Mana ada bos iri pada bawahan."Tertawa kecil.
"Berisik,diam lah.Fokus saja pada bolanya."Meninggalkan Tomi yang banyak bicara.
**BERSAMBUNG....
Oke guys,yg nggak paham silahkan baca ulang bab (Kucing Sialan**)
__ADS_1