
Hana memperhatikan penampilan Ken yang masih duduk di atas motornya. Saat ini cowok itu hanya memakai kaos dengan jaket dan celana panjang warna hitam. Lalu bukan sepatu yang Ken pakai, melainkan sepasang sandal jepit warna hitam. Hal itu menunjukkan bahwa Ken benar- benar membolos hari ini. Namun, yang membuat Hana tidak habis pikir adalah karena cowok itu tanpa rasa bersalah muncul di area sekolah.
“Lo beneran cari gue?” tanya Ken lagi karena pertanyaannya tadi belum terjawab.
“Iya,” jawab Hana yang masih menunjukkan ekspresi bingungnya. Bagaimana bisa Ken tahu jika dia mencarinya sedaritadi.
“Kalo gitu ikut gue sekarang!” perintah Ken menarik tangan Hana agar cepat naik ke atas motornya.
Namun, sebuah tangan menahan keduanya. Hana yang terkejut menoleh dan mendapati wajah Adrian yang sedang menatap tajam pada Ken.
“Lo ada urusan apa sama dia, Han?” tanya Adrian pada Hana, tapi tatapannya tidak beralih pada Ken yang masih terlihat santai.
“Hah? Itu… anu. Maaf, Dri, nanti gue ceritain.”
Mendengar hal itu membuat Ken tersenyum penuh kemenangan. Sementara Adrian terpaksa melepas tangannya yang tadi menahan mereka. Diam- diam cowok itu mengepalkan kedua tangannya menahan emosi.
“Maaf, Dri,” ucap Hana sebelum dia pergi darisana.
Entah kemana Ken akan membawanya. Hana merasa dirinya telah dibodohi oleh cowok di depannya ini. Bisa- bisanya dia mau saja dibawa entah kemana. Namun, saat motor Ken berhenti di sebuah warung bakso pikiran- pikiran negatif yang menghinggapi kepala Hana hilang entah kemana. Hana turun dari motor besar milik Ken, dia memperhatikan sekitarnya. Sebuah warung bakso yang berdiri di pinggir jalanan yang tidak terlalu ramai. Namun, warung ini cukup padat pengunjung.
“Masuk!” perintah Ken yang sudah berjalan lebih dulu.
Hana tidak membantah, dia mengekor langkah Ken dari belakang. Sebuah tubrukan tak terhindarkan terjadi pada Hana yang menubruk punggung milik Ken. Cowok itu menoleh ke belakang menatap tajam gadis mungil itu.
“Lo yang tiba- tiba berhenti,” ucap Hana lebih dulu sebelum dirinya kena semprot.
“Gue nggak ngomong apa- apa,” kata Ken tak acuh.
Hana menghembuskan napasnya, waktunya terbuang sia- sia setelah menyetujui ajakan Ken. Gadis itu meninggalkan Ken yang sedang memesan pada penjual bakso, dia duduk di depan warung bakso itu.
Aroma kuah bakso tercium dari indera penciuman Hana. Matanya melirik ke sebelahnya. Ken duduk di sebelah Hana dengan semangkok bakso. Cowok itu benar- benar cuek dan tidak sedikit pun menawarinya bakso.
__ADS_1
“Kenapa lo cari gue?” tanya Ken disela kunyahannya.
“Mana sepeda gue?”
“Ada di markas,” jawab Ken, kini dia menyeruput kuah bakso itu.
“Gue mau ambil,” ucap Hana yang berusaha tidak tergoda dengan bakso itu.
“Boleh,” ujar Ken mengangguk- anggukkan kepalanya. “Tapi jawab pertanyaan gue dulu,” lanjutnya.
“Apa?”
“Ada hubungan apa lo sama Aldi?” tanya Ken, sekarang dia sepenuhnya beralih pada Hana.
“Kenapa lo pengen tau? Nggak ada untungnya juga kalo lo tau.”
“Tentu ada untungnya buat gue. Tenang, kita bakal sama- sama untung. Lo dapet sepeda, gue dapet info dari lo,” jelas Ken dengan sebuah senyum yang terlihat seperti seringai.
“Ya udah, sepeda lo tetep sama gue.”
Ken berdiri dari duduknya, dia berjalan pada penjual bakso itu. Menyerahkan mangkok kosong dan membayar seporsi bakso yang tadi dia makan. Sementara Hana masih memperhatikan gerak- gerik cowok itu.
Beberapa saat kemudian, Ken kembali pada Hana yang masih duduk termenung. Senyumnya terbit melihat ekspresi gadis itu yang sepertinya sedang memikirkan kata- katanya tadi. Namun, senyumnya tidak bertahan lama.
“Gue tetep nggak mau kasih tau lo,” ucap Hana final.
Ken mengangguk- angguk dramatis. “Oke.”
Cowok itu berjalan menuju motornya, meraih helm dan memakainya. Hana berdiri dari duduknya setelah merasakan firasat buruk. Matanya spontan membulat saat Ken melambaikan tangan padanya dan menstater motornya menjauh dari warung bakso ini. Hana menatap motor Ken yang sudah jauh itu dengan tatapan tidak percaya.
“Ckck, gue beneran ditipu sama dia,” gumam Hana kesal.
__ADS_1
Hana pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Beruntung gadis itu tahu daerah ini. Terpaksa Hana naik angkutan umum karena daerah ini cukup jauh dari rumahnya. Hana pun berjalan menuju jalan besar untuk mencari angkutan umum yang akan membawanya.
Setelah berjalan beberapa meter dari tempatnya tadi, Hana menemukan sebuah halte bus. Gadis itu pun duduk di halte itu untuk menunggu angkutan yang bisa membawanya pulang ke rumah. Hari sudah sore dan dia sangat lelah. Hana menghembuskan napasnya untuk mengontrol emosinya. Cukup lama Hana menunggu angkutan yang menuju daerah rumahnya lewat. Namun, sedaritadi tidak ada satu pun angkutan yang sama dengan tujuannya. Mata Hana berbinar melihat sebuah angkutan mendekat, dari warna angkutan dia tahu bahwa angkutan itu akan melewati daerah rumahnya.
“Ayo, Mbak!” pinta sang sopir.
Namun, Hana mengurungkan niatnya setelah melihat angkutan itu sudah penuh sesak. Dia tidak mau jika harus bergelantungan di pintu, sangat berbahaya.
“Maaf, Pak,” ucap Hana merasa bersalah pada sang sopir.
Angkutan itu berjalan menjauh dari halte, sementara Hana kembali duduk. Hari sudah mulai gelap dan tidak ada lagi angkutan yang lewat. Suasana halte juga sudah sangat sepi, hanya Hana seorang di halte itu.
“Nggak mungkin gue jalan dari sini,” gumam gadis itu menghembuskan napas.
Hana pun mengeluarkan ponselnya, ingin meminta tolong pada seseorang yang sekiranya dapat menolongnya. Namun, pil pahit yang harus Hana telan. Baterai ponselnya habis dan kini ponselnya mati kehabisan daya.
Akhirnya Hana melangkahkan kakinya menjauh dari halte. Dia memutuskan untuk berjalan kaki. Menyusuri trotoar bersama dengan beberapa orang yang baru pulang bekerja. Hana masih bersyukur karena dia tidak sendirian, masih banyak orang yang berjalan kaki saat ini.
Namun saat dia berbelok di sebuah jalanan yang cukup sepi, Hana menjadi lebih waspada. Tiba- tiba saja Hana teringat dengan Mbak Jum di rumah. Lagi- lagi dia pulang terlambat dan tidak memberi kabar. Pasti ART- nya itu sangat khawatir. Motor yang di rem mendadak membuat Hana terkejut. Spontan dia menoleh dan mendapati sebuah motor berhenti tepat di sebelahnya.
“Ckck, masih mau keras kepala lo?” tanya Ken membuka kaca helmnya.
Hana membulatkan matanya melihat Ken berada di sampingnya. Tunggu! Bukankah cowok itu sudah pergi daritadi? Lalu kenapa tiba- tiba bisa berada di sini sekarang?
“Terserah kalo lo mau jalan sampai rumah,” ucap Ken menutup kaca helmnya dan bersiap menggas motornya.
“Tunggu!” pekik Hana menahan jaket Ken.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...
Apakah Hana Kyut akan luluh? 🤔
__ADS_1