Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Penentuan Calon Ketua


__ADS_3

Setelah Hana mengatakan hendak mundur dari jabatannya dan akan bertanggung jawab terhadap tugas yang masih belum selesai, kabar itu merebak cepat ke seluruh sekolah. Tidak hanya anak-anak yang berada di sekolah, tetapi mereka yang juga masih dalam masa hukuman juga mengetahuinya.


Bahkan, tadi Hana mendapat beberapa chat dari anak-anak sekolah lain yang memang mengenalnya. Mereka serempak menanyakan kabar tersebut. Wajar jika banyak anak OSIS dari sekolah lain yang mengenal Hana. Hana dikenal sebagai ketua OSIS yang kompeten dan selalu berhasil dalam menjalankan tugasnya.


"Han? Beneran lo mau mengakhiri masa jabatan lo lebih awal?" tanya Aldi lewat chat.


Entah dari mana mereka mendengar kabar tersebut. Namun, Hana tetap menjawab dengan fakta yang ada tentunya tidak disertai detail alasan dia mengundurkan diri.


Semenjak beberapa hari yang lalu Hana mulai mencicil menyelesaikan tugas-tugasnya. Sebenarnya tidak hanya Hana yang sibuk, anggota lain juga ikut sibuk. Mereka harus mempersiapkan acara untuk pemilihan ketua OSIS berikutnya.


Tadinya Adrian yang hendak ditunjuk sebagai ketua menggantikan Hana. Namun, cowok itu menolak. Adrian berpikir jika dia belum mampu menjadi ketua. Jadi, Adrian usul jika diadakan kembali pemilihan.


"Untuk wakilnya terserah kalian gimana baiknya. Mau ganti juga atau tetap, silakan," kata Adrian kala itu.


Namun, ternyata mereka ingin jika wakil ketua tetap Adrian. Setelah mendapat kesepakatan seperti itu, Hana pun segera menjadwalkan rapat OSIS untuk membahas calon kandidat ketua OSIS.


Dan rencana rapat tersebut akan dilaksanakan sepulang sekolah ini di ruang OSIS. Para pengurus diharuskan datang ke rapat kali ini. Bel tanda berakhirnya pembelajaran sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu.


Anak-anak mulai berdatangan ke ruang OSIS. Di sini sudah ada Hana dan Adrian serta beberapa pengurus OSIS yang lain.


"Masih ada yang belum datang?" tanya Hana.


"Kayaknya udah datang semua," jawab beberapa anak.


"Oke, kalau begitu akan saya mulai rapat hari ini," ucap Hana.


Rapat pun dimulai dengan membahas siapa saja yang mau mencalonkan diri sebagai ketua OSIS. Awalnya mereka serempak bungkam, tidak berani menunjuk teman atau menunjuk diri sendiri.


"Siapa pun boleh menjadi ketua OSIS. Tentu kalian juga udah tau 'kan tugas-tugas ketua OSIS? Saya harap kalian percaya diri dan punya rasa tanggungjawab yang besar," kata Hana memperhatikan teman-temannya.


"Jangan takut, menjadi ketua nggak semenakutkan itu kok. Kalau kalian merasa mampu, kalian boleh setorkan nama ke sekretaris," lanjutnya.


Kali ini terjadi kasak-kusuk. Tentunya masih ada beberapa anak yang ragu. Namun, akhirnya ada sekitar empat anak yang mengusulkan menjadi calon kandidat.


Sekretaris pun segera mencatat nama-nama tersebut. Hal itu membuat Hana bernapas lega. Empat anak itu di antaranya berasal dari kelas satu. Hana cukup bangga dengan keberanian mereka.


"Oke, sekarang kita tentukan waktu kapan pemilihannya akan dilaksanakan," kata Hana.

__ADS_1


Hana pun memberikan kesempatan bagi mereka yang hendak mengusulkan tanggal dan waktunya. Lalu, setelah semua sepakat dipilihlah waktu di hari Senin setelah upacara bendera berlangsung.


"Karena waktu udah sore dan sebentar lagi gelap. Kita akhiri dulu rapat kali ini, untuk rapat selanjutnya nanti kita akan bahas masalah pelantikan ketua setelah melakukan pemungutan suara."


"Rapatnya kapan lagi, Han?" tanya salah seorang anggota.


"Nanti akan saya beritahukan lagi untuk hari dan waktunya," jawab Hana membuat anak itu mengangguk.


"Oke, udah nggak ada yang bertanya lagi?" tanya Hana.


Mereka serempak menggeleng. Hana pun menutup rapat di sore hari ini dan mereka satu persatu mulai meninggalkan ruang OSIS.


Setelah membereskan barang-barangnya, Hana pun keluar dari ruang OSIS bersama dengan beberapa teman yang masih tinggal.


"Lo pulang sama siapa?" tanya Adrian.


"Belum tau, naik angkutan mungkin," jawab Hana.


"Bareng gue aja," ajak Anggun.


"Rumah lo jauh, Nggun. Sama gue aja," kata Ara.


Akhirnya mereka bertiga pun beradu mulut, memperebutkan Hana. Bahkan ketiganya mengekori gadis itu yang hendak menyerahkan kunci ruang OSIS ke ruang guru.


"Lancar rapatnya?" tanya pembina OSIS.


"Lancar, Pak," jawab Hana. "Kalau begitu kami pamit pulang," lanjut Hana dan mencium tangan guru itu.


Anggun, Ara, dan Adrian juga ikut berpamitan pada pembina OSIS tersebut. Kemudian, mereka serempak keluar dari ruang guru. Suasana sekolah sudah sepi, hanya ada petugas kebersihan yang masih menyapu koridor juga beberapa menyapu pinggir lapangan.


"Udah, balik sama gue aja, Han," ajak Adrian tidak mau kalah.


"Gue kebetulan mau mampir ke rumah temen gue. Jadi bareng gue aja biar sekalian, rumahnya juga deket rumah lo," kata Ara.


Hana menggelengkan kepala mendengar tiga orang itu masih berebut hendak mengantarnya pulang. Bahkan, ketiganya tidak sadar jika mereka berjalan menuju gerbang sekolah bukannya ke tempat parkir.


Hingga tiba-tiba Hana menghentikan langkahnya, membuat mereka bertiga yang berjalan di belakang Hana tadi saling bertubrukan.

__ADS_1


"Kenapa berhenti tiba-tiba sih?" gerutu Anggun yang menubruk punggung Adrian.


"Ayo pulang!" ajak seseorang yang berdiri di depan Hana. "Dibilangin kalo udah selesai rapatnya chat gue, kenapa nggak chat?" tanyanya.


"Maaf," gumam Hana meringis.


Sebenarnya Hana sengaja tidak mengirim chat karena takut merepotkan. Sekarang malah dia yang kena omel orang tersebut.


"Kalian nggak usah antar gue pulang. Gue udah dijemput kok," kata Hana pada ketiga anak itu.


"Hmm, oke. Lain kali lo bisa bareng gue pulangnya," kata Anggun.


"Kalo gitu kita balik dulu, Han," pamit Ara.


"Gue juga balik dulu, Han," lanjut Adrian.


"Iya, hati-hati di jalan kalian."


Hana menatap kepergian ketiga orang itu yang berbalik menuju tempat parkir. Sebuah tarikan di tas yang dikenakan Hana membuat gadis itu tersadar.


"Ayo pulang. Bunda udah nungguin."


"Iya, Kak."


Glen memberikan helm milik Hana dan gadis itu segera memakainya. Hana tidak menyangka jika Glen akan menjemputnya.


"Gue mau mampir jajan dulu," kata Glen yang mulai menggas motornya.


"Oke," jawab Hana.


Glen pun mengendarai motornya menjauh dari area sekolah. Entah kemana cowok itu akan membawa Hana. Ternyata tidak jauh dari sekolah ada sebuah lapangan yang memang banyak penjual.


Hana baru tahu jika lapangan itu sangat ramai seperti alun-alun di sore hari seperti ini. Maklum karena lapangan ini berlawanan arah dengan jalan pulang Hana, jadi dia tidak pernah melewatinya ketika pulang sekolah.


"Udah izin bunda, Kak?" tanya Hana turun dari motor dan melepas helmnya.


"Belum, lagian cuma sebentar kok. Gue mau beli krepes, jajanan sejuta umat," jawab Glen dan segera berlari menuju penjual crepes.

__ADS_1


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...


__ADS_2