Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Merawat Kendrict


__ADS_3

Mata Kendrict masih terpejam. Keringat membasahi seluruh tubuh cowok itu. Bahkan, kaos yang dikenakannya basah kuyup. Hana bingung harus bagaimana, dia masih menunggu kedatangan Glen.


"Bentar, Ken. Kak Glen lagi beli kompresan buat lo," kata Hana, tangannya membantu menyeka peluh di dahi Kendrict.


Merasakan tangan Hana yang dingin, membuat Kendrict membuka matanya. Terasa berat memang untuk membuka mata itu, tapi Kendrict berusaha untuk mencari tahu siapa yang sedang bersamanya sekarang.


"Eh?" kaget Hana ketika tangannya diraih oleh Kendrict dan ditempelkan ke pipi cowok itu.


Kendrict tersenyum samar merasakan nyaman menggenggam tangan dingin ini. Sementara Hana merasakan detak jantung yang berdegub kencang. Namun, akhirnya Hana hanya diam membiarkan tangannya berada dalam genggaman cowok itu.


"Dek, ini kompresnya," kata Glen yang tiba-tiba datang.


Mendengar suara Glen yang datang, spontan Hana menarik tangannya. Sedangkan Kendrict kembali membuka matanya yang terlihat sayu.


"Ngapain lo di sini? Tau dari mana tempat ini?" tanya Kendrict lemah.


"Putra tadi yang minta tolong," jawab Hana.


"Minggir, Dek! Biar gue yang pasang. Lo jangan deket-deket dia nanti ketularan," serobot Glen meminta Hana menjauh dari sana.


Hana hanya bisa menurut, dia memperhatikan Glen yang memasangkan kompres di dahi Kendrict. Namun, refleks cowok itu menepis tangan Glen.


"Nggak usah. Kalian balik aja, nggak usah peduliin gue," kata Kendrict tajam berusaha untuk bangun.


"Ngajak berantem lo? Kita udah baik mau urus lo ini," ucap Glen emosi.


Kendrict tidak mendengarkan perkataan Glen, cowok itu berdiri dan berjalan menuju pintu keluar dengan sempoyongan. Ternyata bangun secara tiba-tiba sangat berefek pada kepalanya. Benda disekitarnya seakan berputar.


BRUKK!


Kendrict ambruk menimpa Hana yang berdiri tidak jauh darinya. Gadis itu memekik ketika pinggangnya terantuk meja di belakang. Hana meringis merasakan sakit dipinggangnya dan tambah dengan menopang tubuh besar Kendrict.


"Ckck, mau modus lo, ya?" geram Glen segera menyingkirkan tubuh Kendrict dari Hana.


Hana mencoba bangkit dan membantu Glen untuk mengembalikan Kendrict di tempat tidur.


"Lo nggak papa?" tanya Glen.

__ADS_1


Hana hanya menggelengkan kepala. "Kak, kayaknya Ken kedinginan. Kaosnya basah, Kak Glen bisa bantu gantiin bajunya?"


Glen terperangah mendengar permintaan Hana. Tentu saja dia menolak mentah-mentah. Namun, Hana mengancam jika Glen tidak mau dia sendiri yang akan mengganti baju Kendrict.


"Oke-oke, biar gue aja. Lo tunggu di luar."


Hana menurut dan menunggu di luar. Duduk di teras depan kamar itu. Suasana kos ini sepi, entah kamar-kamar sebelah ada penghuni atau tidak. Pintu-pintu itu tertutup rapat, tidak ada tanda-tanda kehidupan.


"Astaga!" suara pekikan Glen membuat Hana bangkit dari duduknya.


"Kenapa, Kak?" tanya Hana.


Mata Hana membulat seketika melihat kondisi tubuh Kendrict. Banyak luka di tubuh cowok itu. Hana menutup mulutnya melihat luka-luka itu. Ada luka baru dan bekas luka yang sudah mengering.


Sementara Glen masih terpaku, dia sudah pernah melihat tubuh Kendrict yang penuh luka sebelumnya. Namun, dia tidak mengira jika luka-luka itu bertambah.


"Apa bawa ke rumah sakit aja, Kak?" tanya Hana.


"Dia bener-bener tinggal sendiri di sini, ya?"


"Hana nggak tau, Kak. Hana telpon bunda dulu mau kasih kabar."


"Kata bunda bawa aja ke rumah sakit. Nanti bunda nyusul katanya."


Glen hanya mengangguk dan meminta Hana untuk memesak taksi online, karena tidak mungkin mereka ke rumah sakit naik motor. Gadis itu segera menurut dan memesan taksi online.


Beberapa saat kemudian taksi itu datang dan dengan susah payah membawa Kendrict masuk ke dalam mobil tersebut. Demam cowok itu masih belum turun.


Suasana mobil ini hening, tidak ada pembicaraan sama sekali. Hanya Hana yang sesekali memeriksa keadaan Kendrict di kursi belakang. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka sampai di rumah sakit.


Kendrict segera dibawa ke UGD untuk mendapat pertolongan pertama. Sementara Hana dan Glen menunggu di luar.


"Dia punya keluarga nggak sih? Coba lo telpon temennya, Dek. Tanyain anak itu punya emak bapak nggak."


"Iya, Kak. Hana coba telpon Putra dulu."


Hana pun mencoba menelpon Putra untuk menanyakan perihal Kendrict. Namun, ternyata ponsel Putra tidak aktif. Hana sudah berkali-kali menelpon lagi, tapi hasilnya sama. Lalu, dia berinisiatif untuk mengirim chat pada Putra.

__ADS_1


"Si Putra nggak aktif," ucap Hana pada Glen.


"Gimana si Ken?" tanya Mira yang baru sampai.


"Masih dirawat di dalem, Bun," jawab Glen.


Seorang petugas medis keluar dan menanyakan wali Kendrict untuk mengurus administrasi. Mira pun masuk untuk mengurus administrasi Kendrict. Sementara cowok itu sudah bisa pindah ke ruang rawat inap.


Hana dan Glen pun mengikuti ke mana perawat membawa Kendrict. Cowok itu masih memejamkan matanya. Entah tidur atau pingsan.


"Ini kita yang rawat berarti?" bisik Glen.


"Kita belum tau keluarganya dimana, Kak," jawab Hana.


Glen menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rencana hari Minggunya harus kacau karena merawat cowok biang onar itu.


Mereka telah sampai di ruang rawat inap dan perawat tersebut pamit keluar. Tidak lama Mira datang dengan membawa beberapa lembar kertas.


"Tubuh Ken banyak lukanya, ya?" tanya Mira dengan pandangan mengarah pada sosok yang masih menejamkan matanya itu.


"Iya, Bun. Banyak banget, kayaknya baru berantem dia," jawab Glen.


Sementara Hana hanya diam, matanya tak lepas dari sosok Kendrict. Tiba-tiba banyak pertanyaan yang ditujukan untuk cowok itu. Apalagi setelah melihat tubuh penuh lukanya.


Tidak ada yang tahu apa yang terjadi sebenarnya. Akhirnya ketiga orang itu bertahan di kamar ini. Menunggu Kendrict hingga bangun. Bahkan Mira juga bingung hendak memberitahu keluarga Kendrict karena beliau tidak tahu apa-apa.


Tiba-tiba Hana mengangkat kepalanya dari posisi yang tadinya diletakkan di sandaran sofa. Melihat sikap aneh Hana yang tiba-tiba itu, membuat Mira dan Glen menoleh serempak.


"Kenapa, Dek?" tanya Glen.


"Hana baru ingat kalau kenal sepupu Ken," jawab Hana.


Benar, mengapa Hana baru ingat sekarang jika Aldi adalah sepupu Kendrict? Hana sedikit merutuki kebodohannya itu. Gadis itu segera meraih ponselnya dan mencari nomor telepon milik Aldi. Beberapa saat Hana menunggu, akhirnya panggilan itu dijawab. Ada hembusan napas lega yang keluar dari mulut Hana.


"Halo, Han?" sapa suara dari seberang sana. "Ada apa?" lanjutnya.


"Al, ini gue mau kasih kabar kalo Ken ada di rumah sakit. Lo tau nomor orang tuanya? Gue bingung harus kasih tau keluarganya," jelas Hana. Sementara di seberang sana, Aldi cukup lama terdiam.

__ADS_1


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...


__ADS_2