
Hari ini Hana sudah berencana untuk bertemu dengan Aldi. Gadis itu hendak mengunjungi rumah cowok itu. Kurang lebih pukul sembilan pagi Hana telah siap berangkat, sebelumnya dia sudah mengkonfirmasi apakah Aldi berada di rumah atau tidak.
Setelah mendapat konfirmasi jika Aldi berada di rumah, Hana pun segera berangkat. Beruntung dia mendapat izin dari kedua orang tuanya. Hana menunggu angkutan umum yang akan mengantarnya ke rumah Aldi di pinggir jalan raya.
Sementara itu, Aldi si pemilik rumah yang tadinya masih nyenyak tidur di kasur nyamannya mendadak membuka matanya terbuka sempurna saat menerima telepon dari Hana. Rasa kantuknya lenyap begitu saja.
"Tumben kamu pagi-pagi udah bangun?" tanya sang mama yang sibuk bersama dengan tanaman-tanamannya.
"Emm, iya. Lagi pengen bangun pagi," jawab Aldi mengelak.
Sang mama hanya mengangguk, tidak merasa curiga sedikit pun. Beliau kembali fokus pada 'anak-anaknya'. Aldi kembali masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap menyambut kedatangan sang mantan.
Beberapa menit cowok itu berada di dalam kamar mandi dan akhirnya keluar dengan handuk terlilit di pinggang. Aldi membuka lemarinya untuk melihat koleksi bajunya. Ia melipat tangannya di depan dada, ekspresinya terlihat serius, dan matanya menelisik seluruh isi lemari.
"Pake baju apa, ya?" gumam Aldi.
Di antara dilema yang Aldi rasakan, ada sebuah ketukan di pintu kamarnya. Tidak lama pintu itu terbuka dan menampilkan wanita cantik yang tak lain adalah mama Aldi. Beliau menggelengkan kepalanya melihat penampilan putranya.
"Cepet pake baju, ada tamu cari kamu," ucap Sarah -Mama Aldi-.
"Aldi bingung mau pakai baju apa," kata Aldi menggaruk rambutnya.
"Pake apa aja juga tetep ganteng anak mama. Pantes kamu bangun pagi, ternyata oh ternyata."
"Mama keluar, Aldi mau ganti baju," kata Aldi mendorong punggung Sarah yang baru saja melayangkan ledekan untuknya.
Tidak ingin Hana menunggu lama, akhirnya cowok itu mengambil sebuah kaos dan celana selutut. Beberapa saat kemudian dia turun ke bawah untuk menemui Hana. Di ujung tangga terlihat Hana sedang duduk di sofa ruang tamu.
Aldi sempat terpana beberapa detik lamanya. Hari ini gadis yang pernah singgah di hatinya itu terlihat manis. Sayup-sayup Aldi mendengar obrolan antara Hana dan Sarah.
"Sebenarnya Hana juga suka tanaman hias, tapi belum ada waktu merawatnya," kata Hana.
"Kamu nanti mau lihat koleksi tanaman tante?" tanya Sarah antusias.
"Boleh, Tan," jawab Hana tersenyum senang.
Suara deheman menghentikan obrolan mereka. Sarah dan Hana serempak menoleh. Aldi memberi kode pada Sarah untuk meninggalkan mereka berdua di ruang tamu. Tentu Sarah wanita yang peka, beliau langsung paham kode yang ditujukan untuknya.
"Kalau gitu Tante tinggal dulu, ya? Nanti kamu langsung ke depan aja kalau mau lihat koleksi Tante."
Hana mengangguk sebagai jawaban dan menatap kepergian Sarah. Aldi duduk di seberang Hana dan mempersilakan gadis itu meminum minuman yang telah disuguhkan oleh Sarah tadi.
__ADS_1
"Sorry, pasti lo nunggu lama," kata Aldi.
"Nggak kok, gue juga baru dateng. Oh ya, sepatu lo."
"Makasih, Han. Padahal lo nggak perlu repot beliin sepatu ini."
Hana menggeleng, "Nggak sama sekali, kebetulan waktu gue di Puncak nemu sepatu yang lo pengen. Jadi gue beli."
"Gue ganti, ya?"
"Nggak usah, gue beli buat lo kok. Sekalian oleh-oleh dari gue."
"Jangan gitu, gue jadi nggak enak sama lo."
"Nggak papa, Al."
Hanya dengan disebut namanya saja Aldi merasakan debaran pada dadanya. Cowok itu merutuk dalam hati, ternyata rasa untuk mantannya ini belum sepenuhnya hilang. Aldi berdehem pelan untuk menguasai diri.
"Kalo gitu lain kali gue traktir lo, ya?"
"Nggak per ...."
"Jangan nolak, gue bener-bener pengen traktir lo," potong Aldi menatap serius pada Hana.
"Kalo gitu gue pamit pulang, Al," kata Hana.
"Kok pulang?" tanya Aldi terlihat sedikit kecewa.
Namun, mendadak cowok itu terdiam. Aldi menjadi salah tingkah setelah tersadar akan ucapannya barusan.
"Ehm, maksud gue tadi lo nggak mau lihat taneman nyokap dulu? Tadi gue denger lo suka bunga 'kan? Lo bisa lihat-lihat dulu sebelum pulang," kata Aldi berusaha menjelaskan.
"Oke, gue lihat-lihat dulu," jawab Hana mengangguk dan bangkit dari duduknya.
Aldi berjalan di belakang gadis itu. Cowok itu mengusap dadanya dan menghembuskan napas leganya. Hana terlihat senang melihat berbagai macam tanaman yang ada di pekarangan rumah Aldi. Ada berbagai bunga yang sedang mekar, bau harumnya berhasil masuk ke indera penciuman Hana.
"Tante tanam bunga apa?" tanya Hana berjalan mendekati Sarah.
"Oh ini Tante lagi pindahin pohon kamboja, rencana mau ditanam di belakang rumah," jawab Sarah.
Hana hanya mengangguk dan memperhatikan Sarah yang sibuk mengeluarkan pohon kamboja itu dari dalam pot. Tidak lama ada sebuah motor memasuki pekarangan rumah Aldi. Motor itu berhenti dan si pengendara turun dari motor.
__ADS_1
"Tan, ini dari mama," kata si pengendara itu.
"Ken?" panggil Hana lirih mengernyitkan dahi.
Sementara di belakang sana Aldi sudah memasang wajah masamnya melihat kedatangan Kendrict. Sarah menerima tas yang disodorkan oleh Kendrict.
"Makasih. Oh ya, tempat yang kemarin itu belum sempat Tante kembalikan. Sebentar Tante ambilkan dulu," kata Sarah dan berjalan masuk.
"Ngapain ketua OSIS di sini?" tanya Kendrict.
"Lo ngapain di sini?" tanya balik Hana.
"Oh lo belum tau, ya? Si Ken sepupu gue," kata Aldi menjelaskan.
"Hah?"
"Sebenenya gue juga males ngakuin dia. Tapi bener kata dia, gue sama dia sepupuan," kata Kendrict mendengus kesal.
"Lo nggak pernah cerita, Al," ucap Hana menatap Aldi.
"Gue males kalo ceritain tentang dia," jawab Aldi melirik Kendrict sinis.
"Ngajak berantem lo?" tantang Kendrict.
"Ayo! Sini lo maju!"
Kendrict bersiap maju hendak menyerang Aldi. Namun, buru-buru Hana menarik Aldi dan menahan Kendrict.
"Stop! Jangan berantem kalian!" pekik Hana.
"Lo nggak denger tadi? Jelas-jelas dia duluan yang mancing," kata Kendrict menujuk Aldi.
"Lo sendiri yang gampang kepancing."
Kendrict hendak kembali maju menyerang Aldi. Namun, lagi-lagi harus direm karena Sarah keluar membawa kotak makan kosong untuk Kendrict.
"Ini, Ken. Sampein ke mama kamu, ya?"
Kendrict hanya mengangguk dan cowok itu segera pamit untuk pulang. Begitu juga dengan Hana, gadis itu juga berpamitan. Tentu Aldi sudah bersemangat untuk mengantar gadis itu. Ia sudah hendak masuk rumah mengambil kunci motornya.
"Biar Ken antar pulang Hana, Tan. Kebetulan ada yang mau Ken obrolin sama Hana. Maklum, kita satu sekolah soalnya," kata Kendrict melirik pada Aldi berniat untuk meledek cowok itu.
__ADS_1
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...