Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Menjadi Rebutan


__ADS_3

Pagi ini Hana berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Dia terpaksa karena tidak terbiasa menggunakan transoprtasi umum. Lagipula jarak rumah menuju sekolahnya juga tidak terlalu jauh. Hana masih memikirkan bagaimana nasib sepedanya saat ini. Ternyata Ken yang telah membawa sepeda kesayangannya itu.


“Buat apa sih dia bawa sepeda gue? Memangnya kalau dijual laku?” tanya Hana pada dirinya sendiri.


Tidak terasa setelah berjalan cukup lama, Hana sampai di sekolah. Suasana sekolah sudah cukup ramai oleh anak- anak yang baru saja berangkat. Gadis itu segera menuju ke kelasnya. Sebenarnya dia merasa sangat tidak nyaman dengan seragamnya yang basah oleh keringat.


“Han, tumben lo baru berangkat?” tanya Adrian.


“Iya, soalnya gue jalan kaki berangkatnya,” jawab Hana meletakkan tasnya.


“Lho? Sepeda lo kemana?” tanya Adrian lagi. “Tunggu! Itu jidat lo kenapa?”


Hana menyentuh dahinya yang tertutup plester. “Oh ini? Kemarin gue nggak sengaja kena lemparan batu.”


“Kok bisa?”


“Gue nggak sengaja terjebak di tengah tawuran.”


Adrian membulatkan matanya. “Jangan- jangan tawuran di Jalan Cenderawasih itu, ya?”


Hana hanya mengangguk sebagai jawaban. Adrian yang hendak bertanya lebih lanjut, mengurungkan niatnya. Bel masuk berbunyi dan seorang guru sudah masuk ke dalam kelas untuk memulai pembelajaran.


Pelajaran bahasa Indonesia kali ini, anak- anak IPA 1 diminta untuk mereview sebuah buku. Alhasil mereka diminta untuk datang ke perpustakaan, meminjam buku dan mereviewnya. Hana berjalan bersama dengan Adrian dan yang lain menuju perpustakaan. Sesampainya di sana, anak- anak itu mulai berpencar mencari buku untuk di review. Hana menuju sebuah rak paling ujung dan dia mulai mencari buku yang menurutnya cocok untuk tugas kali ini.


“Udah ketemu bukunya, Han?” tanya salah seorang temannya.


“Belum. Lo udah nemu?”


“Udah, kalo gitu gue balik ke kelas duluan.”


“Eh iya, tugasnya dikumpulin pertemuan selanjutnya, kan?”


“Iya. Paling sekarang Bu Eny juga udah balik ke ruang guru.”


Hana hanya mengangguk dan dia kembali mencari- cari buku di dalam perpustakaan ini. Sebuah buku menarik perhatiannya. Hana memutuskan menggunakan buku itu sebagai tugasnya. Gadis itu masih tinggal di perpustakaan untuk membaca buku itu. Sebentar lagi juga jam istirahat akan tiba.


“Lo nggak balik ke kelas, Han?” tanya Adrian.


“Nggak, gue mau baca buku ini di sini aja.”

__ADS_1


Adrian hanya mengangguk dan pamit terlebih dulu ke kelas bersama dengan teman- teman cowok yang lain.


Bel istirahat berbunyi, mengalihkan Hana dari buku yang sedang dibacanya. Gadis itu merentangkan tangannya yang terasa pegal. Hana pun memutuskan menuju ke kantin untuk mengisi perutnya. Namun, sebelumnya Hana menulis di meja penjaga perpustakaan untuk buku yang dipinjamnya. Lalu dia pun menuju kantin yang sudah sangat ramai oleh anak- anak kelaparan.


“Han! Sini!” panggil seseorang melambaikan tangannya pada Hana yang baru saja masuk kantin.


Hana membawa tungkainya melangkah menuju gerombolan anak- anak perempuan, salah satu di antara mereka yang tadi memanggilnya.


“Nitip, ya? Gue mau beli makanan dulu,” ucap Hana meletakkan bukunya di atas meja.


“Gue ikut, Han,” kata salah satu di antara mereka.


Hana dan temannya itu pun menuju stand penjual makanan yang ramai diserbu para penghuni sekolah. Hana mengantre di stand yang menjual nasi soto. Sebuah tepukan di kepala Hana, membuat gadis itu kaget. Dia spontan menoleh dan mendongak untuk melihat wajah seseorang yang berdiri menjulang di depannya.


“Jangan lupa nanti!” kata Ken pada Hana dan cowok itu berlalu pergi.


Hana hanya mendengus mendengar perkataan cowok itu. Tingkahnya sangat semena- mena dan Hana tidak menyukainya.


Hana menikmati makanannya bersama dengan teman- teman satu mejanya. Teman- teman yang berkumpul saat ini berbeda kelas dengan Hana. Mereka bertemu di ruang OSIS, karena merupakan para anggota organisasi itu. Ada juga beberapa anak yang tergabung dalam MPK.


“Rapat lagi kapan, Han?” tanya Vio.


“Proposalnya udah siap, ya?” tanya Anggun.


“Udah, Nggun. Tinggal nanti kita cari donator. Eh tapi sebelumnya minta acc Kepsek dulu,” jawab Hana.


Mereka semua serempak menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan dari Hana. Namun, fokus Manda teralihkan saat melihat dahi Hana.


“Dahi lo kenapa tuh?” tanya Manda yang berhasil membuat teman- temannya juga menatap ke arah Hana.


“Eh iya, gue baru sadar. Kenapa tuh jidat?”


“Kena lemparan batu kemarin. Udah nggak apa- apa, kok.”


“Kemarin gue denger sekolah kita tawuran sama sekolah tetangga,” ucap Ara yang terkenal paling lemot di antara mereka. “Ketuanya si Kendrict,” lanjutnya.


Para gadis itu serentak menatap Hana. Sepertinya dugaan mereka benar, jika luka di dahi Hana ada sangkut pautnya dengan terjadinya tawuran kemarin.


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...

__ADS_1


Pulang sekolah ini, Hana tidak menemui Ken. Gadis itu memutuskan untuk segera pulang, dia tidak mau sampai rumah kesorean. Sementara ini Hana sedang tidak ingin berurusan dengan cowok itu, dia sudah tahu apa yang akan Ken minta darinya dari pertemuan mereka sepulang sekolah. Dengan langkah yang lebar, Hana berusaha secepat mungkin keluar dari area sekolah.


“Han!” panggilan seseorang membuat Hana mengerem langkahnya.


Mata gadis itu membulat melihat siapa yang telah menunggunya di depan gerbang sekolah. Anak itu terlihat sangat mencolok dengan seragam yang berbeda dari anak- anak di sini. Hana pun menghampiri anak itu.


“Lo ngapain di sini?” tanya Hana.


Anak itu membuka helmnya, membuat siswa sekolah Hana memekik tertahan melihat pemandangan indah itu.


“Gue mau jemput lo, sepeda lo belum ketemu, kan? Dari kemarin gue sama temen- temen gue udah cari di sekitar sana, tapi nggak ketemu,” jelas anak itu.


“Lo nggak perlu jemput gue. Gue bisa pulang sendiri.”


“Jalan kaki?” tebaknya. Hana hanya meringis dan mengangguk sebagai jawaban.


“Hana! Ketua OSIS!” Suara lantang itu membuat Hana terkejut, spontan dia menoleh pada sumber suara.


CKITT!


Suara motor yang di rem mendadak membuat Hana kembali terkejut, apalagi motor itu persis berhenti di depannya. Refleks Hana mundur beberapa langkah. Ken membuka helmnya dan menatap tajam Hana.


“Kenapa lo nggak temuin gue, hah? Mau sepeda lo gue bakar?” tanya Ken dengan rahang mengeras menahan emosi.


“Jadi lo yang bawa sepeda Hana?” tanya anak itu.


“Aldi?” tanya Ken mengernyitkan dahi. “Ngapain lo ke sini?”


“Gue mau anter Hana balik,” jawab Aldi tersenyum miring.


“Ketua OSIS balik sama gue!” ucap Ken tajam.


Hana menatap kedua cowok itu, lalu pandangannya beralih pada orang- orang sekitar yang mulai memperhatikannya. Hana tidak mau menimbulkan gosip. Kedua cowok itu masih saja berebut untuk mengantar gadis itu pulang.


“Adrian! Gue pulang bareng lo, ya?” ucap Hana segera menghampiri motor Adrian. Dia meninggalkan dua cowok yang kompak menatapnya.


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...


Aldi 😳😳😳

__ADS_1



__ADS_2