Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Panik


__ADS_3

Hana segera mendapat pertolongan begitu sampai di rumah sakit. Sedangkan, Kendrict harus menunggu di luar bersama dengan Putra. Cowok itu terlihat sangat tidak tenang, dia berjalan mondar-mandir. Putra duduk tidak jauh dari sana dan hanya bisa memperhatikan tingkah sahabatnya tanpa berkomentar apa-apa. Namun, tiba-tiba dia teringat sesuatu.


“Anak-anak gimana, Ken?” tanya Putra.


Pertanyaan dari Putra menghentikan langkah Kendrict. Cowok itu terdiam, memikirkan solusi yang tepat. Dia tidak ingin pergi meninggalkan Hana, tapi juga tidak bisa meninggalkan teman-temannya yang telah menunggu.


“Lo duluan aja, Put. Nanti gue nyusul. Kalian mulai duluan nggak apa-apa. Gue mau urus yang di sini dulu.”


Ganti Putra yang kini terdiam. Mencerna jawaban dari Kendrict atas pertanyaannya tadi. Dia juga maklum dengan keadaan Kendrict saat ini. Pasti sahabatnya itu juga sedang sangat kebingungan saat ini. Putra menghembuskan napasnya dan mengangguk samar.


“Oke, gue balik duluan. Lo kabarin aja kalo udah beres, nanti gue jemput.”


“Thanks, Put. Sampein maaf gue sama yang lain.”


Putra bangkit dari duduknya, menepuk bahu Kendrict untuk memberi cowok itu semangat. Namun, langkah Putra terhenti ketika teringat sesuatu.


“Jangan lupa kabarin orang rumahnya ketua OSIS.”


“Oh Iya.”


Kendrict segera mengeluarkan ponselnya dan Putra pamit dari sana. Kendrict duduk di salah satu kursi dan tangannya mulai menggulir layar ponsel. Setelah menemukan nomor yang ditujunya, dia segera mendial nomor tersebut. Tidak membutuhkan waktu lama panggilan dari Kendrict dijawab.


“Halo, Ken?”


“Halo, Tan.”


Suara di seberang sana tidak terlalu jelas. Entah sedang ada dimana si penerima telepon yang tak lain adalah Mira. Di seberang sana terdengar suara ribut orang-orang sedang berbicara.


“Maaf, Ken. Suasananya lagi ribut. Hana hilang, dia nggak ada kabar sejak sore tadi. kita lagi cari dia sekarang.”


Kendrict sudah menduganya, cowok itu memejamkan matanya sebelum menjawab.


“Hana ada sama Ken, Tan. Nanti Ken kirim alamatnya.”


Tentu Mira sangat terkejut mendengar ucapan dari Kendrict. Wanita itu segera menutup sambungan telepon begitu Kendrict mengirim lokasinya saat ini.

__ADS_1


Cowok itu sebenarnya sudah tahu jika Hana juga berlibur ke daerah Puncak. Beberapa hari yang lalu dia mengirim pesan pada Mira. Tujuan awalnya hendak mengajak Hana keluar untuk berlibur. Namun, ternyata keluarga Hana telah merencanakan liburan bersama.


Kendrict sedikit kecewa mendengar hal tersebut, dia juga tidak berani jika harus melawan Samsul yang wajahnya garang. Kini malah takdir mempertemukan mereka. Entah bagaimana bisa Hana pergi sejauh itu. Juga apa yang ada dipikiran gadis itu hingga nekat menceburkan diri ke danau. Pertanyaan-pertanyaan itu belum terjawab hingga saat ini.


Kendrict spontan berdiri dari duduknya ketika melihat Samsul, Mira, dan Glen berjalan ke arahnya. Melihat ekspresi Samsul, mendadak Kendrict menjadi ciut. Mira berdiri di depan cowok itu.


“Mana Hana?”


“Masih di dalam, Tan,” jawab Kendrict takut-takut.


Samsul yang pertama langsung masuk ke dalam UGD untuk melihat keadaan putrinya. Lalu disusul oleh Mira dan Glen. Sementara Kendrict masih tinggal di luar. Kendrict menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa bingung juga karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Cowok itu terkejut saat ponselnya berdering. Kendrict segera mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelpon.


“Halo?”


“Lo di mana, Ken?” tanya Nita dari seberang sana.


“Gue lagi ada urusan. Kalian mulai dulu aja, nanti gue nyusul setelah urusan di sini selesai.”


“Ini tas sama sepatu punya siapa? Kenapa ada di mobil yang lo pake tadi?”


“Itu punya siapa?”


Kendrict memejamkan matanya mendengar pertanyaan Nita yang sangat kepo itu. Dari tadi cowok itu sudah berusaha untuk bersabar. Namun, dia terus didesak oleh cewek itu.


“Bukan urusan lo, Njir! Cepet bagi barang itu ke Putra!” bentak Kendrict dan langsung mematikan panggilan itu.


Tidak lama Mira keluar dari UGD bersama dengan Glen. Beliau menghampiri Kendrict yang masih duduk bengong. Ada raut rasa bersalah yang Kendrict tangkap dari wajah Mira. Sementara Glen menunjukkan raut wajah kesalnya. Cowok itu diusir oleh dokter dan perawat di dalam sana karena memang hanya satu orang yang diperbolehkan masuk ke UGD.


“Ken, maaf, ya? Pasti kamu kaget tadi, sekarang Hana sudah baik-baik saja. Dia juga sudah bangun, hanya sedikit syok. Setelah ini kita juga pulang kalau infuse Hana sudah habis,” kata Mira.


“Syukurlah kalau Hana baik-baik aja.”


“Kamu boleh pulang, maaf jadi menyita waktu kamu. Terima kasih juga sudah membantu Hana. Hana sangat beruntung ketemu kamu tadi.”


“Iya, sama-sama, Tan. Kalau begitu Kendrict pamait dulu.”

__ADS_1


Mira menganggukkan kepala. “Nanti Tante kabari lagi keadaan Hana. Kamu nggak perlu khawatir.”


Kendrict tersenyum ceria dan mengacungkan jempolnya. Lalu, cowok itu berjalan keluar dari area rumah sakit.


Namun, seketika langkah Kendrict terhenti ketika teringat sesuatu. Cepat-cepat Kendrict merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya. Nasib sial sedang melekat pada Kendrict sepertinya. Ponselnya mati karena kehabisan batteray. Cowok itu menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari taksi atau ojek yang biasanya berjejer di tempat-tempat seperti rumah sakit.


“Kok sepi, padahal belum malem banget. Anjir, terus gue gimana pulangnya?” tanya Kendrict pada dirinya sendiri sambil menoleh ke kanan dan kiri.


Bulu kuduk Kendrict merinding ketika matanya tidak sengaja melihat sosok berjalan lenggak-lenggok menuju ke arahnya. Sosok itu melambai padanya. Tentu Kendrict tidak mau terlalu percaya diri, dia segera memastikan jika ada orang lain selain dirinya di sini. Namun, nihil. Hanya ada dia seorang saja.


“Aa! Sini main sama saya,” panggil sosok itu dengan suara bass.


Tanpa pikir panjang Kendrict kembali masuk ke dalam area rumah sakit. Jantung Kendrict berdegub kencang saat matanya menangkap penampakan sosok itu. Rambut pirang, pakaian yang dipakai kekurangan bahan, sepatuh hak tinggi, tapi tangan dan kaki sosok itu berotot.


“Amit-amit gue ketemu dedemit macam dia,” ucap Kendrict masih bergidik.


Kini Kendrict kebingungan, ia berjalan mondar-mandir di halaman parkir rumah sakit. Sambil sesekali memeriksa dedemit itu, apakah sudah pergi atau masih di sana? Namun, mata cowok itu membulat karena ternyata dedemit itu duduk di dekat pintu masuk rumah sakit. cowok itu pun berjalan menghampiri satpam yang berjaga.


“Pak, itu nggak diusir?” tanya Kendrict pada satpam itu.


“Dia memang mangkal di sekitar sini, Dek. Sudah biasa,” jawab satpam itu santai.


Dalam hati Kendrict sudah mengeluarkan sumpah serapahnya. Namun, sebuah ide tiba-tiba terlintas dalam benak cowok itu.


“Pak, boleh pinjam charger?”


“Oh iya, boleh. Mana HPnya saya pasangkan.”


Kendrict memberikan ponselnya pada satpam itu dan beliau segera masuk ke dalam posnya untuk mengisi daya ponsel milik Kendrict.


“Wah, ini nggak cocok. Nggak bisa masuk.”


“Yah, terus gimana dong,” kata Kendrict kecewa.


“Loh? Ken, kok masih di sini?” tanya sebuah suara.

__ADS_1


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...


__ADS_2