
Hawa dingin menerpa tengkuk Aldi. Cowok itu masih berdiri mematung dengan tatapan tajam dari orang-orang di dalam kamar rawat Kendrict.
"Hah, lega. Kenapa nih? Tiba-tiba kok sepi?" tanya Angga yang baru keluar dari kamar mandi.
Matanya neneliti seluruh ruangan ini. Lalu tatapannya terhenti pada pintu masuk. Raut wajah Angga berubah. Dia langsung menghampiri Aldi.
"Mau ngapain lo ke sini? Lo yang sebabin Ken masuk rumah sakit 'kan?" tanya Angga menunjuk wajah Aldi.
Sementara Aldi mengernyitkan dahi. Bagaimana bisa dia tiba-tiba difitnah seperti ini? Aldi menatap Kendrict untuk meminta penjelasan. Namun, cowok itu malah melengos. Pura-pura tidak peduli.
"Bangs*t lo, Ken!" bentak Aldi.
Angga terkejut dan langsung menarik Aldi masuk ke dalam kamar rawat Kendrict. Dia meminta salah seorang untuk menutup pintu rapat-rapat.
"Beraninya lo bentak bos gue!" ucap Angga marah.
Angga hendak melayangkan pukulannya pada wajah Aldi. Tentu Aldi tidak tinggal diam, dia bersiap menepis pukulan itu. Melihat hal tersebut, Putra bangkit dari duduknya dan menghampiri Angga.
"Udah, Ngga. Ini di rumah sakit," ucap Putra menarik mundur Angga.
"Ckck, lagian dia mau apa datang ke sini?" tanya seorang dari mereka.
"Gue mau anter ini," jawab Aldi menumpahkan isi paper bag yang sejak tadi dibawanya.
Seorang teman Kendrict memungut salah satu benda yang tercecer di lantai dan memperlihatkannya pada semua yang ada di sana.
"Kenapa lo bawa semp*k buat Ken?" tanyanya mengernyitkan dahi.
Kendrict yang sejak tadi memang tidak ingin mengurusi pertikaian antara gengnya dan Aldi spontan menoleh. Matanya membulat sempurna ketika temannya itu menenteng celana dal*mnya.
"Letakkin barang itu. Se.ka.rang!" kata Kendrict tajam. "Al, lo masukin lagi ke dalem!" perintah Kendrict pada Aldi.
Nita yang melihat hal itu hanya melongo, dia diam menatap beberapa pakaian dalam milik Kendrict di lantai. Lalu pandangannya beralih pada cowok disebelahnya.
"Apa?" tanya Kendrict datar.
Nita menggeleng dan menutup mulutnya. Namun, pikirannya sudah melayang entah kemana. Membayangkan hal-hal halu membuat Kendrict bergidik ngeri.
"Balik kalian semua! Bubar sekarang!" usir Kendrict mengamuk.
"Oke," kata Aldi.
"Lo tetep di sini, Al."
"Gue nggak berniat jagain lo. Lagian udah ada anggota geng lo," ucap Aldi.
__ADS_1
"Jangan banyak bac*t lo! Gue aduin nyokap lo tau rasa."
Suasana mendadak hening kembali setelah Kendrict berkata seperti itu. Mereka belum paham situasi di sini kecuali Putra. Cowok itu menepuk dahinya dan menggeleng merasa ikut malu dengan tingkah Kendrict.
Aldi tertawa mendengar jika Kendrict mau mengadukannya pada sang mama. Tawa menggelegar Aldi membuat Kendrict tambah mengamuk.
"Berani lo ngetawain gue, hah?"
Aldi berusaha mengontrol tawanya, dia mengusap air mata yang keluar dari sudut mata.
"Oke, oke. Denger bos kalian 'kan? Pada balik sana dari pada tambah ngamuk tuh makhluk," kata Aldi mempersilakan mereka keluar.
"Gue mau temenin Ken di sini," ucap Nita menolak untuk pulang.
"Gue nggak butuh lo," kata Kendrict kejam.
Mendengar hal tersebut membuat Nita mulai mereog. Namun, dengan cepat Devi segera menarik perempuan itu keluar dari sana. Begitu juga dengan teman-teman Kendrict keluar dari kamar rawat ini.
"Put, cariin HP gue!" perintah Kendrict.
Putra hanya mengangguk sebagai jawaban dan keluar tanpa memedulikan Aldi di sana. Suasana kembali hening.
"Beresin semp*k gue!" perintah Kendrict.
"Gue bukan babu lo, Nyet!"
Aldi mendengus dan segera memungut benda-benda itu. Lalu, dia melemparkannya pada Kendrict.
"Maap, sengaja," kata Aldi merebahkan tubuhnya di sofa.
Cowok itu kini sibuk dengan ponselnya. Ekspresinya terlihat bahagia sambil menatap layar ponsel. Hal tersebut membuat Kendrict curiga.
"Gila lo?" tanya Kendrict.
Namun, Aldi mengabaikan pertanyaan Kendrict yang memang mengejeknya. Saat ini Aldi sedang bertukar pesan dengan Hana. Gadis itu menanyakan kabar Kendrict. Walau sedikit kesal dengan Hana yang hanya memperhatikan Kendrict, tapi Aldi masih sabar.
PLETAK!
"Nice shoot," gumam Kendrict tersenyum penuh kemenangan.
Tisu kotak yang baru saja Kendrict lempar tepat mengenai kepala Aldi. Namun, Aldi tidak terprovokasi. Dia masih khusyuk dengan ponselnya. Sesekali ada tawa kecil keluar dari mulut Aldi.
"Eh?" kaget Aldi ketika tiba-tiba Hana menelpon. "Iya, Han?" tanyanya begitu panggilan itu ia jawab.
Mendengar nama Hana disebut membuat telinga Kendrict terbuka. Cowok itu menjadi tenang dan berusaha menguping.
__ADS_1
"Dia baik-baik aja kok. Tenang aja, udah sembuh," ucap Aldi melirik pada Kendrict.
"Aduh! Argh! Aldi brengs*k! Kenapa lo mukul kepala gue?" teriak Kendrict berusaha menarik perhatian Hana di seberang sana.
"Ken kenapa, Al?" tanya Hana.
"Lo denger suara berisiknya dia 'kan? Tandanya udah sehat dia," jawab Aldi.
"Baguslah kalo dia udah sembuh. Bunda gue khawatir kemarin."
"Bilang sama bunda lo nggak perlu khawatir," kata Aldi kalem.
Kendrict mendengus mendengar percakapan Aldi dan Hana itu. Cowok itu benar-benar ingin memukul kepala sepupunya.
"Cuih, nggak pantes gue sepupuan sama dia," gumam Kendrict melirik pada Aldi yang sedang tertawa riang.
Rasanya Kendrict ingin cepat-cepat keluar dari sini dan langsung menemui Hana. Sudah dua hari ini dia tidak bertemu gadis itu. Rasa rindunya tidak dapat dipendam lagi.
"Ckck, si Putra lama banget ambil HP gue," kata Kendrict ketar-ketir.
"Bye, Han. Sampai ketemu lusa," ucap Aldi mengakhiri obrolan mereka.
Aldi melirik pada Kendrict yang sedang menatapnya tajam. Cowok itu terkekeh melihat ekspresi Kendrict saat ini.
"Sorry, Ken. Gue nggak mau nyerah. Jadi, mari kita bersaing," kata Aldi.
"Kenapa? Lo nyesel udah putus dari Hana?" tebak Kendrict.
Aldi menggelengkan kepalanya. "Nggak ada untungnya gue jawab pertanyaan lo."
"Oke! Sekarang kita saingan. Gue nggak akan biarin kalo ternyata lo cuma permainin Hana," ucap Kendrict menatap tajam pada Aldi.
"Gue nggak pernah main-main sama perasaan orang. Nggak kayak lo."
"Apa lo bilang?" tanya Kendrict bersiap mengamuk.
Cowok itu bangkit dari duduknya dan hendak menyerang Aldi. Namun, baru beberapa langkah Kendrict menghentikan langkahnya.
"Lo bener-bener nyusahin, ya?" bentak Aldi.
Aldi segera memanggil perawat untuk membenarkan infus Kendrict yang tertarik. Darah merembes keluar dari punggung tangan Kendrict. Aldi memijit pelipisnya, batinnya sangat tertekan memiliki sepupu bodoh seperti Kendrict.
"Gue lupa kalo lagi di infus!" teriak Kendrict tidak mau kalah.
Tidak lama perawat itu datang dan segera membenarkan infus di tengan Kendrict. Sebenarnya perawat tersebut sudah sangat sabar dengan pasien ini. Kamar pasien ini yang paling ramai di antara kamar lain.
__ADS_1
"Selesai. Tolong, Dek. Jangan ribut terus! Ini di rumah sakit," peringat perawat itu untuk yang kesekian kalinya.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...