
Kendrict terkekeh ketika kembali teringat percakapannya dengan Hana semalam. Tadi malam, keduanya mengobrol hingga larut malam. Walau suara Hana terdengar sudah sangat malas meladeninya, gadis itu tidak memutus sambungan telepon secara sepihak.
Melihat Kendrict yang mesem-mesem seorang diri membuat Putra mengernyitkan dahinya, merasa aneh dengan tingkah sohibnya itu. Kini mereka berada di depan gudang sekolah yang letaknya berada di atap gedung. Membolos seperti biasa, tentu suatu hal yang tidak patut ditiru oleh seorang pelajar.
“Si Ken kenapa tuh?” tanya Angga melihat aneh pada Kendrict.
“Tau, dari tadi gue lihat juga begitu mulu.”
“Nih, gue bawa makanan buat kalian,” ucap Nita yang baru tiba bersama dengan temannya. Di kedua tangannya terdapat kantong plastik berisi makanan ringan.
“Rokok nggak ada?” tanya Angga berjalan mendekat pada Nita.
“Ada dong. Kayak biasa,” jawab Nita.
Nita beralih pada Kendrict yang masih asyik dengan dunianya sendiri, benar-benar tidak mempedulikan sekitarnya. Mulutnya sibuk mengunyah sedotan bekas es teh yang tadi dibelinya di kantin sebelum membolos ke tempat ini.
“Ken, ini buat lo,” ucap Nita mengulurkan beberapa makanan ringan beserta air minum di dalam botol.
“Thank’s,” jawab Kendrict menerima pemberian dari Nita.
Suara bel tanda istirahat membuyarkan obrolan anak-anak yang sedang membolos ini. Kendrict berdiri dari duduknya, membuat teman-teman yang lain kompak menatap dirinya.
“Mau ke mana?” tanya Nita yang sejak tadi duduk paling dekat dengan cowok itu.
“Cabut sebentar, nanti gue balik lagi ke sini,” jawab Kendrict dan berlalu dari sana.
“Kalian ngerasa ada yang aneh sama Ken nggak sih?” tanya Nita pada teman-temannya setelah kepergian Kendrict.
Angga dan Putra mengangguk setuju. “Tadi aja dia mesem-mesem sendiri nggak jelas. Jangan-jangan kepalanya kepentok kemarin.”
PLAK!
Sebuah tamparan terdengar nyaring di kepala Angga, pelakunya adalah Putra. “Sembarangan lo ngomong. Tapi emang sejak tadi gue perhatiin tuh anak aneh.”
Nita terdiam mendengar ucapan kedua teman Kendrict. Merasa penasaran dengan perubahan yang terjadi pada cowok yang dicintainya itu.
__ADS_1
Sementara anak yang sedang dibicarakan kini sedang berjalan menyusuri koridor dengan langkah santainya. Tujuannya adalah kantin sekolah, tadi Kendrict mendapat informasi bahwa seseorang yang dicarinya sedang berada di kantin saat ini.
“Lo udah lihat si anak baru? Senior kita yang pindahan dari luar kota itu,” ucap seorang anak yang suaranya tidak sengaja terdengar sampai di telinga Kendrict.
“Iya gue tau, udah lihat tadi gue. Tapi, berita anak baru itu udah basi. Ada berita yang lebih baru lagi.”
“Apa?”
“Gue denger si ketua OSIS kita jadi rebutan kemaren.”
“Rebutan gimana? Direbutin sama siapa?”
“Direbutin sama dua cowok. Si Ken sama anak sekolah sebelah yang beberapa hari kemarin ke sekolah kita yang di pintu gerbang depan itu. Lo juga lihat ‘kan waktu itu, dia sempet ngobrol sama si ketua OSIS.”
Anak itu mengangguk-anggukkan kepala, membenarkan apa yang diucapkan temannya. Sementara Kendrict asyik menyimak obrolan dua cewek yang tidak dikenalnya itu. Lalu datang beberapa anak ikut bergabung dengan dua cewek itu. Kendrict berjalan perlahan mendekat pada gerombolan anak-anak cewek itu, pasalnya dia tidak lagi mendengar suara mereka. Suara mereka terlalu samar untuk ditangkap indera pendengarannya.
Kendrict berhasil mempersempit jarak, beruntung anak-anak cewek itu belum menyadari keberadaannya. Cowok itu bersandar pada dinding di belakangnya dan asyik menyimak ghibahan para cewek itu.
“Gue udah tau kalo si ketua OSIS kenal sama banyak cowok. Gue juga tau kalo si Adam mantan dia. Gue satu SMP sama dia dulu dan memang dia tenar dikalangan anak cowok.”
“Menurut gue malah cocokan Nita sama Ken, gue dukung mereka. Ternyata mereka nggak ada hubungan apa-apa, ya?”
“Gue pernah denger kalo Nita sama Ken hampir pacaran, tapi tiba-tiba si ketua OSIS dateng gitu. Jadi kayaknya sekarang si Ken jadi berpaling.”
Mendengar hal itu, Kendrict mengelus dagunya dan mengangguk-angguk paham. Dia sangat tidak menyangka jka anak-anak di sekolah tempatnya menuntut ilmu ini sangat pandai mengarang. Bahkan lebih pandai dari seorang novelis yang telah menerbitkan banyak buku.
Walau begitu, Kendrict masih asyik menyimak obrolan gerombolan anak-anak perempuan itu. Terkadang Kendrict harus benar-benar pasang telinga ketika tiba-tiba suara mereka lirih seperti sebuah bisikan makhluk halus.
“Ken, ngapain lo di sini?” tanya seseorang mengagetkan tidak hanya Kendrict, tetapi juga anak-anak cewek itu.
Gerombolan pengghibah itu kompak menampilkan ekspresi terkejutnya. Ditambah wajahnya pucat pasi saat mengetahui bahan ghibahan mereka berdiri di sampingnya sejak tadi. Serempak mereka lari pontang-panting membubarkan diri. Kendrict mendengus melihat hal itu.
“Ckck, gara-gara lo nih,” kesal Kendrict dan pergi dari sana meninggalkan anak itu yang menampilkan raut wajah bingungnya.
Kendrict pun melanjutkan langkahnya menuju tujuan awalnya tadi. Namun sayang, belum sampai tempat tujuan, bel pertanda pembelajaran dimulai berbunyi. Dengusan kesal keluar dari hidung mancung Kendrict.
__ADS_1
“Sial,” umpat Kendrict mengepalkan tangannya.
Namun, nasib sial sepertinya segera hilang darinya. Dari kejauhan Kendrict melihat sosok yang hendak ditemuinya tadi. Sosok itu tampak berjalan pelan seorang diri, sementara orang-orang disekitarnya sibuk memperhatikannya. Sepertinya memang kabar burung itu sudah tersebar dengan cepat bahkan mengalahkan kecepatan angin. Kendrict bergegas menghampiri anak itu.
“Han!” panggil Kendrict dengan suara lantang.
Seseorang yang dipanggil mendongakkan kepalanya dan menatap Kendrict dengan penuh tanda tanya.
“Gue cari lo dari tadi,” kata Kendrict.
“Lo ada perlu sama gue?” tanya Hana.
“Emang kalo mau ketemu lo harus ada maksud dan tujuannya dulu?” tanya Kendrict balik.
“Nggak, bukan itu maksud gue,” jelas Hana, cewek itu menghembuskan napas pasrahnya, “Lupain aja,” lanjutnya.
“Besok gue mau ajak lo bareng ke acara komunitas lo itu.”
Hana mengernyitkan dahinya, “Lo beneran mau ikut komunitas?”
Kendrict mengangguk da bertanya, “Kenapa emang?”
“Gue kira lo cuma iseng waktu itu.”
Kendrict mengernyitkan dahinya setelah mendengar ucapan Hana. Sebenarnya tebakan Hana benar, awalnya dia memang iseng mengikuti ke mana gadis itu pergi. Namun, setelah tahu jika Aldi juga ikut komunitas itu, tentu Kendrict tidak mau kalah. Jika dia keluar dari komunitas artinya Kendrict akan kalah saat itu juga dan rencananya akan gagal total.
“Nggak perlu bareng, kita bisa ketemu di tempat kumpul. Gue masuk kelas dulu,” pamit Hana berjalan meninggalkan Kendrict.
“Nggak! Lo harus bareng gue!” paksa Kendrict.
“Kok lo maksa?” tanya Hana tidak terima.
“Permisi, gue mau lewat,” interupsi seseorang membuat Hana dan Kendrict menoleh serempak.
Seorang anak cowok segera berjalan di antara Hana dan Kendrict, tadi memang Hana spontan menepi. Hana terdiam saat tahu siapa anak cowok yang baru saja lewat. Ada tatapan tak biasa pada mata Hana dan hal itu ditangkap oleh Kendrict.
__ADS_1
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...