Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Mengunjungi Camer


__ADS_3

Hari yang sudah ditunggu datang. Sejak semalam Kendrict terus overthinking tentang Samsul yang memintanya datang. Kantong mata samar terlihat ketika cowok itu mematut dirinya di depan cermin.


"Baru bangun tidur aja masih ganteng," gumam Kendrict tertawa seperti orang bodoh.


Setelah puas memuji wajah hingga anggota tubuh yang lain, Kendrict pun segera masuk kamar mandi. Suara siulan beserta shower yang menyala menjadi irama membisingkan di pagi hari ini.


Cukup lama cowok itu berada di dalam kamar mandi. Entah ritual apa saja yang dia lakukan di dalam sana. Namun ketika keluar, aroma sabun semerbak memenuhi kamarnya.


Kendrict kembali berdiri di depan kaca. Memperhatikan tubuh bertelanjang dadanya. Lagi, mulut Kendrict melontarkan segala pujian. Sudah menjadi rahasia umum sikap narsisme cowok itu.


"Gue harus tampil lebih ganteng dari biasanya."


Cowok itu membuka lemarinya dan memilih pakaian apa yang hendak dipakainya nanti. Tentu pakaian terbaik yang harus dikenakannya karena hari ini sangat spesial.


"Nggak, yang ini kayak cupu."


Kendrict melempar baju yang baru diambilnya dari lemari karena merasa tidak cocok. Dalam beberapa menit saja kamar ini sudah seperti baru dihantam tsunami. Hampir seluruh isi lemari Kendrict berhamburan di lantai.


"Apa gue beli dulu, ya? Tapi, mana ada mall yang buka jam segini?" gumam Kendrict mulai bingung.


"Tapi, gue 'kan pake apa aja tetep ganteng."


Akhirnya cowok itu memilih beberapa barang di dalam lemarinya dan segera memakainya. Setelah berganti pakaian, kini Kendrict beralih dengan menata rambutnya.


"Udah ganteng maksimal gue," gumam Kendrict bersiul melihat pantulan dirinya dari cermin.


Namun, rasa percaya diri yang sudah hadir sejak pagi tadi mendadak hilang entah ke mana setelah Kendrict bertemu dengan Samsul.


Kendrict sudah berada di rumah Hana sejak kurang lebih 15 menit yang lalu. Namun, hingga sekarang suasana ruang tamu ini terasa dingin. Cowok itu masih duduk dengan tegang dan kepala menunduk tidak berani menatap Samsul yang sejak tadi intens menatapnya.


"Ken, diminum dulu," kata Mira yang datang dengan membawa minuman untuk Kendrict.


Kendrict benapas lega dengan kedatangan Mira. Beliau duduk di sebelah Samsul. Rasa tegang yang menyelimuti Kendrict berkurang sedikit. Dia pun segera meraih cangkir itu dan menyeruput isinya sedikit, hanya untuk membasahi tenggorokannya.


"Maaf, ya lama," ucap seseorang yang juga ikut bergabung.


Ekspresi Kendrict berseri melihat Hana ikut bergabung. Tadi memang Hana izin untuk mandi terlebih dulu. Sekarang dia sudah selesai mandi dan bisa ikut bergabung bersama Kendrict.


Namun, rupanya tidak hanya Kendrict yang merasa tegang. Hana juga merasakan hal yang sama, sejak sampai rumah semalam Samsul belum mengucapkan sepatah kata pun padanya. Hana pikir sang ayah akan marah dan meminta ia memutuskan hubungannya dengan Kendrict.


"Apa hubungan kamu dengan anak saya?" tanya Samsul membuka obrolan.


"Ken ...."

__ADS_1


"Bukan kamu, ayah tanya dia!" tunjuk Samsul pada Kendrict.


Hana menundukkan kepalanya mendengar penuturan Samsul. Sementara Mira memilih untuk tetap diam dan menyimak saja.


"Saya pacarnya Hana, Yah eh Om," jawab Kendrict gugup.


"Sejak kapan kalian pacaran?" tanya Samsul lagi.


"Tiga setengah bulan yang lalu."


"Apa kelebihan kamu hingga berani pacarin anak saya?"


Hana hendak protes mendengar pertanyaan Samsul yang seperti sedang menginterogasi narapidana.


"Kelebihan saya setia, Om," jawab Kendrict percaya diri.


Hampir saja Mira tertawa mendengar jawaban yang keluar dari mulut Kendrict. Sedangkan, Hana mendongak dan spontan menatap Kendrict tak percaya.


"Cuma itu? Terus kekurangan kamu apa?"


"Kalo itu banyak, Om," jawab Kendrict meringis.


"Jadi kamu banyak kekurangan? Kenapa berani pacaran sama anak saya?"


"Wajar Om manusia banyak kekurangan dan di sini saya sedang berusaha memperbaiki kekurangan saya. Tapi, buat memperbaiki kekurangan saya, saya butuh Hana."


"Karena cuma dia yang bisa. Om tanya-tanya seperti ini pasti karena Om lupa saya siapa."


"Memangnya kita pernah kenal?" Kerutan di dahi Samsul makin bertambah.


"Kita pernah ketemu beberapa kali kok. Dulu, pas saya SD."


"Saya tidak ingat," kata Samsul menaikkan alis seraya menatap Kendrict.


"Duh, sebenernya saya malu mau ceritain pertama ketemu sama Om," ucap Kendrict menatap Mira dan Hana bergantian.


Hana mengernyit, dia juga sebenarnya penasaran dengan cerita cowok itu yang katanya sudah mengenal Samsul sebelumnya.


"Cerita agar saya bisa menilai kamu cocok atau tidak dengan anak saya."


"Tapi, saya malu Om. Kapan-kapan aja, ya?"


Samsul diam tidak menanggapi, tapi beliau menatap tajam pada Kendrict. Cowok itu menelan salivanya susah payah. Benar-benar ayah Hana ini tidak bisa diajak bercanda.

__ADS_1


"Oke, saya ceritain. Jadi dulu pas saya kelas tiga SD, waktu itu saya masih jelek. Nggak kayak sekarang udah ganteng. Saya sering diledekin temen sekelas saya. Item, dekil, panuan, gitu, Om."


Hana menatap tak percaya pada Kendrict. Namun, dalam hatinya merasa geli juga mendengar penuturan cowok itu.


"Terus?"


"Nah, waktu itu pas pulang sekolah saya dikerjain temen sekelas saya yang suka ngeledek itu. Sepatu saya disangkutin di atas pohon mangga depan sekolah. Saya udah coba ambil, tapi ternyata nggak bisa turun dari pohon."


"Tunggu!" kata Samsul menginterupsi cerita Kendrict.


"Kenapa, Om?"


"Kamu anak yang hitam, kurus, plontos itu? Yang nangis jerit-jerit di atas pohon?" tanya Samsul.


Kendrict mengangguk antusias. "Om inget sekarang?"


Mira sudah tidak bisa menahan tawanya mendengar cerita Kendrict yang entah benar atau tidak itu. Sedangkan, Hana masih berusaha mengingat kejadian tersebut.


"Hana nggak inget," gumam Hana.


Kendrict menggelengkan kepalanya. "Nggak papa, yang penting ayah kamu inget."


"Kamu cucunya Bu Sarah?" tanya Samsul memastikan.


"Iya, beliau Oma saya, Om," jawab Kendrict semangat.


Samsul berdehem. Beliau tahu jika Sarah yang merupakan nenek Kendrict telah tiada. Dulu Samsul juga sempat pergi melayat.


"Setelah kejadian Om turunin saya dari pohon, saya jadi sering main sama Hana di sekolah. Hana juga baik, dia selalu bela saya kalo saya diejek anak-anak lain."


Samsul hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini beliau ingat siapa Kendrict. Sekilas juga tahu siapa orang tua cowok itu. Memang dulu hubungan Kendrict dan Hana cukup dekat sebelum kecelakaan yang menimpa Hana.


"Kamu tau keadaan Hana sekarang?"


"Tau, Om. Saya juga berusaha bantu Hana biar bisa inget sama saya lagi."


Samsul menghembuskan napasnya mendengar jawaban Kendrict. Beliau kembali menatap cowok itu. Walau wajahnya ada beberapa bekas luka, tapi sepertinya anak itu cukup baik.


"Jadi gimana, Yah?" tanya Hana pada Samsul yang sejak tadi diam.


Lagi, Samsul menghembuskan napasnya. "Kalian boleh pacaran ...."


"Yes!" sorak Kendrict spontan membuat mereka semua terkejut.

__ADS_1


"Tapi, ada syaratnya," kata Samsul melirik tajam ke arah Kendrict.


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...


__ADS_2