
Setelah menerima rapor, kini libur tiba. Kebetulan liburan ini Samsul juga mendapat jatah libur. Walau begitu, nyatanya beliau sibuk mengurus Glen yang tahun ini akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Glen yang sudah belajar mati-matian memantapkan diri memilih jurusan teknik elektro di sebuah perguruan tinggi negeri ternama. Walau tidak lolos Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri, Glen masih bisa mengikuti program beasiswa yang diadakan oleh universitas itu.
Jadi, beberapa hari ini Hana bersama keluarganya pergi ke Kota Y untuk mengantar Glen. Nantinya selama masa perkuliahan, cowok itu akan menetap di sana. Glen akan tinggal di asrama.
"Jangan lupa makan, jaga kesehatan, sering-sering telpon Bunda," kata Mira memberi pesan pada Glen sebelum mereka kembali.
Ada rasa sedih karena harus berpisah hari ini. Namun, hal itu sudah menjadi keputusan Glen. Cowok itu terlihat menahan air yang bisa keluar dari matanya kapan saja.
Baru kali ini Glen tinggal jauh dengan sang bunda. Sebelumnya dia memang anak yang manja. Jadi, terasa berat jika tiba-tiba berpisah seperti ini.
"Iya, Bun," jawab Glen.
Mira tersenyun walau air matanya sudah mengalir keluar. Beliau memeluk Glen sebelum berpisah. Mira tidak menyangka jika putranya itu kini sudah dewasa.
"Ingat kata Bunda, ya?"
Glen mengangguk dan kini matanya beralih pada Samsul yang berdiri tidak jauh dari sana. Pria itu ganti memeluk Glen dan menepuk punggung cowok itu untuk memberinya kekuatan.
Kini Samsul sudah sepenuhnya berubah, beliau sudah bisa bertindak adil pada kedua anaknya. Sekarang, keluarganya terasa sangat harmonis. Samsul tersenyum menatap Glen, lalu beliau menepuk kedua bahu cowok itu.
Walau tidak mengucapkan sepatah kata pun, Glen tahu betapa sayang sang ayah tirinya. Bahkan, rasa sayang Samsul melebihi statusnya yang bukan ayah kandung. Glen merasa sangat bersyukur memiliki keluarga baru yang bisa mengobati lukanya.
Hana yang sejak tadi diam kini menatap Glen yang ternyata juga menatapnya. Ada senyum lembut dari cowok itu yang ditujukan untuknya. Glen merentangkan kedua tangannya dan Hana menyambut hal tersebut.
"Maaf, selama ini gue banyak salah sama lo. Suka nyakitin lo. Gue janji akan tebus semua kesalahan gue dulu," ucap Glen memeluk Hana erat.
Hana menggeleng dalam pelukan cowok itu. "Hana udah maafin semuanya. Yang lalu biar berlalu, Hana udah lupain semuanya."
"Makasih, Dek."
"Inget pesen bunda, Kak," ucap Hana.
__ADS_1
Glen mengangguk dengan senyum cerahnya. Mereka melepas pelukan dan tangan Glen menepuk puncak kepala Hana.
"Inget juga pesen gue. Kalo sampai Ken nyakitin, lo harus lapor gue! Juga jangan aneh-aneh sama dia," peringat Glen.
"Siapa Ken?" tanya Samsul menginterupsi.
Suasana mendadak hening. Momen haru dan sedih itu seketika tergantikan dengan rasa tegang juga gugup. Hana melotot pada Glen, sementara cowok itu menggaruk kepalanya. Ia memberikan tatapan rasa bersalah.
"Kendrict, Yah," jawab Hana takut-takut.
Benar, Samsul hingga saat ini masih belum tahu hubungan Hana dan Kendrict. Mira juga merasa bersalah karena tidak bercerita pada sang suami.
"Nanti bunda ceritakan semua. Glen, kalau gitu kita pamit dulu. Baik-baik di sini, ya?"
Mira mengakhiri ketegangan itu, Glen mengangguk dan segera masuk ke dalam. Sedangkan, ketiga orang itu masuk ke dalam mobil.
Hana masih memikirkan nasibnya. Pasti Samsul akan marah besar padanya. Berbagai kekhawatiran bersileweran memenuhi pikirannya. Bahkan, satu pertanyaan yang membuatnya sangat takut saat ini. Bagaimana jika Samsul menyuruhnya dan Kendrict berpisah?
Hana tidak mau hal itu terjadi. Gadis itu mengeluarkan ponselnya dan hendak mengirim chat pada Kendrict. Mereka belum bertemu semenjak penerimaan rapor hingga sekarang. Apalagi saat ini Samsul sedang berada di rumah, jadi Hana melarang Kendrict ke rumahnya untuk sementara waktu.
Cukup lama Hana menunggu balasan dari Kendrict. Mobil yang dikendarai Samsul melaju lancar di jalan tol. Perjalanan mereka masih panjang.
Menunggu balasan Kendrict yang terlalu lama membuat Hana akhirnya tertidur. Suasana mobil hening dengan obrolan ringan antara Samsul dan Mira, membuat gadis itu mengantuk. Sebenarnya Hana juga merasa bosan selama perjalanan ini.
Entah saat ini sudah sampai mana. Tiba-tiba Mira membangunkan Hana yang masih terlelap. Perlahan gadis itu membuka matanya dan memperhatikan sekitar.
"Ini di mana?" tanya Hana masih linglung.
"Di rest area. Kita makan siang dulu di sini. Ayah udah masuk duluan," jawab Mira.
Hana pun menurut dan segera keluar dari mobil. Mereka masuk ke food court di rest area itu dan makan siang bersama. Selama beberapa menit lamanya mereka makan siang dan mengobrol ringan. Beruntung Samsul sudah tidak membahas perihal Kendrict lagi. Hal tersebut membuat Hana sedikit lega.
Setelah makan, Hana ke toilet untuk buang air kecil sebelum mereka melanjutkan perjalanan. Ketika baru keluar dari toilet, ponselnya berdering. Hana pun segera mengambil ponselnya di dalam tas selempang. Wajah gadis itu seketika menjadi cerah sumringah.
__ADS_1
"Halo?" sapa Hana semangat.
"Maaf, Han. Aku baru bangun," jawab suara dari seberang sana.
"Nggak papa. Kamu udah baca chatku?"
"Udah, terus gimana? Besok aku ke rumah kamu aja, ya?"
"Jangan! Ayah udah nggak bahas lagi. Tadi reaksinya agak nggak enak. Aku takut kalo nanti Ayah nggak suka sama kamu terus nyuruh kita putus," jelas Hana sedih dan khawatir.
"Gitu? Tapi emang nggak papa kita kayak gini? Nanti kalo ayah kamu malah tambah marah gimana?"
Hana terdiam mendengar pertanyaan Kendrict. Gadis itu menundukkan kepalanya menatap ujung sepatu. Dia juga bingung harus bagaimana sekarang.
"Han! Ayo, ayah udah nunggu!" panggil Mira.
"Iya, Bun," jawab Hana. "Ken, nanti kita lanjutin obrolannya. Aku mau jalan lagi."
"Oke, hati-hati di jalan."
Hana kembali masuk ke dalam mobil dan mobil melaju menjauh dari rest area. Gadis itu menatap pemandangan keluar jendela. Sementara tanpa sepengetahuan Hana, Samsul sesekali memperhatikan.
Sebenarnya tadi Mira sudah menceritakan perihal Kendrict pada Samsul. Mereka mengobrol ketika tidak ada Hana. Samsul menghembuskan napas pasrahnya.
"Han," panggil Samsul setelah sekian lama hening.
Hana sedikit tersentak dan mengalihkan pandangannya pada sang ayah. Tidak hanya Hana, Mira juga ikut menoleh.
"Besok ajak si Endrik-Endrik itu main ke rumah. Ayah mau ketemu sama dia," kata Samsul.
"Kendrict, Yah," kata Mira membenarkan.
"Iya dia pokoknya. Besok suruh main ke rumah. Bisa?"
__ADS_1
Samsul menatap melalui kaca spion tengah. Hana sudah tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Namun, dia hanya bisa mengangguk menuruti permintaan Samsul.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...