
Kendrict baru keluar dari mobil yang dikendarai oleh Samsul. Cowok itu tadi sudah menawari beliau untuk mampir ke vila yang ditempatinya sekarang, tapi tawaran Kendrict langsung ditolak beliau.
Selama perjalanan tadi sama sekali tidak ada percakapan, tentu hal itu membuat Kendrict merasa tidak nyaman. Bahkan, untuk mengubah posisi duduk saja Kendrict tidak berani.
Cowok itu memasuki vilanya yang masih sepi seperti tak berpenghuni. Kaki Kendrict melangkah sampai ruang keluarga, barulah dia tahu penyebab mengapa rumah ini sangat hening dan damai. Teman-teman Kendrict masih terkapar di ruang keluarga, tidak hanya itu ruang keluarga ini sudah seperti kapal pecah.
Banyak piring berserakan dan noda saos di lantai. Ada juga botol-botol bekas minuman tergeletak di ujung ruangan. Terlihat Nita dan Devi tertidur di sofa. Perlahan Kendrict melewati tubuh teman-temannya itu dan segera menuju ke kamarnya.
"Astaga, pegel semua badan gue," gumam Kendrict melempar tubuhnya di atas kasur yang empuk.
Tubuhnya memang terasa kaku, dia juga hanya tidur sebentar semalam. Kendrict dan Hana akhirnya menghabiskan waktu di halaman belakang dengan beberapa perbincangan. Walau hanya Kendrict yang lebih banyak berbicara, sementara Hana hanya menanggapi seperlunya saja.
Namun, hal tersebut mampu membuat Kendrict merasa senang. Cowok itu mesem-mesem ketika teringat momen pagi tadi. Senyum Kendrict mendadak luntur ketika suara deheman masuk ke indera pendengarannya.
"Seneng lo?" tanya Putra yang masih dengan muka bantalnya bersandar pada pintu.
"Iya," jawab Kendrict cengengesan.
"Dasar gila lo," umpat Putra dan berjalan mendekat, "HP lo ilang apa gimana? Kenapa lo nggak kabarin kita? Si Nita semalem udah mau lapor polisi."
Kendrict mendengus kesal mendengar omelan Putra. Padahal begitu ponselnya berhasil diisi daya, Kendrict langsung membalas semua chat dari teman-temannya.
"HP gue low, nggak ada charger. Lagian pagi tadi gue udah kirim chat ke lo pada."
"Terus semalem lo ke mana aja? Kenapa nggak balik?"
"Ckck, lama-lama lo udah kayak nyokap gue. Gue semalem nginep di tempat Hana."
"Hah? Ketua OSIS? Oh ya, masih hidup dia?"
BUGG!
Kendrict memberikan tinjunya untuk Putra yang bertanya ngawur. Sementara Putra membungkuk merasakan perutnya yang terasa sangat sakit. Wajah Kendrict mendadak masam dan hal itu cepat disadari oleh Putra.
"Sorry, gue nggak maksud. Syukur kalo dia baik-baik aja."
__ADS_1
"Keluar lo! Gue mau mandi," usir Kendrict masih dengan wajah masamnya.
Cowok itu langsung masuk ke dalam kamar mandi dengan membanting pintu, membuat Putra terlonjak kaget.
"Mampus, mood si Ken jadi jelek."
Putra pun memutuskan untuk keluar dari kamar Kendrict dan kembali turun ke bawah. Ia hendak mengecek apakah teman-temannya sudah bangun. Semalam mereka pesta hingga lewat tengah malam.
"Ken udah balik?" tanya Nita yang tiba-tiba berdiri dihadapan Putra.
"Udah," jawab Putra pendek.
"Di mana dia?"
"Lagi mandi. Mending hari ini lo jangan cari masalah sama dia. Moodnya lagi jelek," peringat Putra.
"Ckck, kok bisa sih? Padahal hari ini gue mau ajak dia jalan-jalan," gerutu Nita pergi dari sana dengan menghentakkan kakinya.
'Salah gue sih,' batin Putra meringis
Kendrict turun setelah tadi mandi. Cowok itu mengenakan jaketnya dan bersepatu. Entah hendak kemana cowok ini. Sampai diujung tangga, Kendrict dicegat oleh Nita yang berkacak pinggang.
"Mau ke mana, Ken?" tanya Nita.
"Bukan urusan lo," jawab Kendrict dan berlalu begitu saja.
Namun baru berjalan beberapa langkah, Kendrict berbalik. Netranya melihat beberapa temannya yang sedang membersihkan sisa-sisa makanan di meja.
"Gue udah panggil orang buat bersih-bersih. Kalian nggak perlu capek bersihin semuanya," kata Kendrict.
"Lo mau ke mana, Ken?" tanya Putra.
Kendrict tidak menjawab dan melanjutkan langkahnya keluar dari rumah. Cowok itu memacu motornya menjauh dari vila. Sementara teman-teman Kendrict kini saling pandang.
"Kita mau ngapain sekarang?" tanya Joni.
__ADS_1
"Gas cari tempat bagus deket sini. Gue denger-denger cewek di daerah sini cantik-cantik," ucap Angga bersemangat.
Putra tidak mempedulikan kehebohan teman-temannya itu, cowok berkacamata itu mengeluarkan ponselnya dan melihat tanggal yang tertera di layar ponselnya.
'Pantes tuh bocah baperan hari ini,' batin Putra dan berjalan menjauh dari teman-temannya.
Putra mengambil rokok dari saku celananya dan menyulut rokok tersebut. Cowok itu menikmati ketenangan di tempat ini. Jujur saja pemandangan di depan sana sangat indah. Suara langkah kaki sama sekali tidak Putra pedulikan, dia terlalu terhanyut. Menikmati pemandangan serta rokok di antara jarinya.
"Put, lo pasti tau Ken mau pergi ke mana 'kan?" tanya Nita yang masih berusaha mengorek informasi.
"Gue tau," jawab Putra tanpa menoleh.
"Ke mana? Kenapa lo nggak kasih tau gue dari tadi, hah?" bentak Nita kesal.
"Kalo lo tau mau apa? Bahkan, gue yang udah kenal dia dari SMP nggak berani usik Ken di tanggal dan bulan ini."
"Kenapa? Emang sekarang tanggal berapa?"
"Cek aja sendiri," jawab Putra malas.
"20 Desember? Emangnya tanggal ini penting? Ada yang ulang tahun? Tapi, hari ini bukan ulang tahun Ken," kata Nita bermonolog.
"Lo nggak perlu pusing mikirin tentang Ken, tapi yang pasti di tanggal itu sangat penting buat dia," ucap Putra mematikan rokoknya.
Putra memutuskan untuk kembali masuk. Gara-gara cewek berisik ini, dia jadi tidak dapat menikmati waktu santainya. Namun, ternyata di dalam sama saja. Anak-anak masih meributkan tempat yang hendak dituju.
"Ckck, nyesel gue ikutan ke sini," gumam Putra.
Sementara di lain tempat, Kendrict menghentikan laju motornya. Cowok itu melepas helmnya dan pandangannya memindai area sekitar. Seperti biasanya, tempat yang selalu sepi di saat ini. Kendrict memasuki tempat tersebut dengan tangan membawa sebuah buket bunga lily.
Pakaian yang dikenakan Kendrict juga cukup rapi. Begitu juga rambutnya yang sengaja ditata rapi, khusus untuk hari ini. Senyum cowok itu merekah ketika dia hampir sampai di tempat yang ditujunya.
Mata Kendrict tidak bisa berbohong jika dia sedang menahan segala kerinduan pada seseorang. Walaupun senyumnya terlihat bahagia, tapi tidak dengan sorot matanya.
Dia menghentikan langkahnya dan menatap lurus ke depan cukup lama. Sebenarnya Kendrict sedang menguasai diri agar emosinya meluruh. Setelah dapat menguasai emosinya, cowok itu bersimpuh di salah satu gundukan tanah dengan batu nisan.
__ADS_1
"Oma, Ken datang lagi," kata Kendrict dengan suara bergetar.