
Kayuhan sepeda Hana tidak seperti biasanya. Pagi ini untuk yang pertama kalinya, dia merasa kurang bersemangat. Baru sampai sekolah, pandangannya tertuju pada sebuah mobil yang sangat dikenalnya terparkir di area sekolah.
Hari ini memang Samsul dan Glen datang ke sekolah untuk mengurus berkas kepindahan. Tadi Mira meminta agar Hana berangkat bersama kedua orang itu, tetapi karena Glen belum bangun tidur jadi Hana memutuskan untuk berangkat terlebih dulu. Namun, lihat sekarang. Ayah serta kakak barunya itu yang lebih dulu sampai.
Hana hanya menggelengkan kepalanya pelan, dia pun segera menuju kelasnya. Berjalan menyusuri koridor yang sudah ramai oleh anak-anak yang baru berangkat. Dia masuk ke dalam kelas yang sudah terisi beberapa anak. Walau begitu, suasana kelas sudah ramai.
“Kayaknya bakal ada siswa baru di sekolah kita,” ucap salah seorang teman sekelas Hana.
“Hah? Siapa? Kok lo tau?”
“Gue juga nggak tau siapa sih, tadi gue sempet denger Bu Nur ngobrol sama yang lain. bicarain tentang siswa baru.”
Hana yang tidak ingin mendengar lebih banyak lagi pun memutuskan untuk keluar dari kelas. Menuju ruang OSIS untuk meletakkan beberapa berkas di sana. Jam pembelajaran dimulai masih lumayan lama, jadi Hana tidak perlu terburu-buru.
“Han,” panggilan dari seseorang menghentikan langkah Hana.
Langkah kakinya terhenti dan menoleh, melihat siapa yang baru saja memanggilnya. Ternyata yang memanggilnya Adam. Cowok itu sepertinya baru sampai sekolah melihat ada tas tersampir di bahu kanannya.
“Makasih kemarin lo udah nonton,” ucap Adam menunggingkan senyumnya.
“Ah iya, sama-sama. Tapi, kok lo tau gue di sana?”
“Gue lihat lo semalem. Sebenernya mau antar lo pulang sekalian, ternyata pas gue cari lo udah nggak ada,” jelas Adam mengusap tengkuknya yang tak gatal. “Oh ya, lo ada hubungan apa sama Ken?” lanjutnya bertanya.
Hana tidak menyangka jika Adam juga akan menanyakan hal itu. Apakah dirinya terlihat dekat dengan Kendrict? Sedekat itukah mereka? Namun belum sempat menjawab, tiba-tiba seseorang berjalan kearahnya dan dengan sengaja menubruknya. Tentu Hana terkejut, tubuhnya membentur dinding kelas di belakangnya
“Heh! Nit! Nita! Minta maaf nggak lo!” teriak Adam melihat Nita yang berjalan pergi dari sana tanpa merasa bersalah.
“Udah nggak apa-apa. Gue nggak apa-apa,” kata Hana menahan Adam agar tidak mengejar Nita.
Bukan tanpa alasan Hana menahan cowok itu, hanya saja dia tidak mau membuat masalah melebar. Saat ini saja banyak anak yang memperhatikan mereka. Di antara mereka tidak jauh dari sana ada Glen berdiri memperhatikan Hana dari kejauhan.
__ADS_1
Namun, ternyata Hana melihat keberadaan Glen. Dia cepat-cepat pamit pada Adam dan segera berjalan untuk mengejar Glen yang tiba-tiba berjalan menjauh. Hana hanya dapat menelan pil pahit, belum sempat bertemu dengan Glen, bel masuk sudah berbunyi. Gadis itu batal menuju ruang OSIS dan memutuskan untuk masuk ke dalam kelas.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...
Desas-desus tentang siswa baru ternyata sudah menyebar sangat cepat. Tiap tempat yang Hana lalui pasti sedang membicarakan perihal siswa baru itu. Gadis itu tidak menghiraukan para obrolan itu.
Kini Hana sedang menuju ruang OSIS, pagi tadi niatnya yang hendak ke ruang itu sempat tertunda. Hari-harinya makin sibuk karena sebentar lagi acara tahunan sekolah akan diadakan. Hana juga lebih sering mengadakan rapat untuk mematangkan kembali rencana mereka.
“Nggak ke kantin, Han?” tanya salah seorang temannya yang baru keluar dari ruang OSIS.
“Nanti aja, masih ada yang harus gue selesaiin,” jawab Hana.
Anak itu hanya mengangguk dan pamit pergi dari sana. Hana mengambil beberapa kertas di atas meja dan mulai mengerjakan pekerjaannya. Gadis itu sudah larut dalam aktivitasnya hingga tidak sadar jika ada seseorang menyusup masuk ke dalam ruangan ini.
Suara notifikasi chat masuk membuat Hana sejenak mengalihkan fokusnya. Tangannya mengambil ponsel yang dia letakkan di atas meja. Membaca chat itu. Ternyata chat dari sebuah grup komunitas sosial yang diikutinya. Tanpa sadar Hana memijit pelipisnya, dia lupa jika sore ini akan diadakan perkumpulan komunitas itu untuk membahas sebuah kegiatan amal.
“Baru tau gue kalo ruang OSIS enak buat tidur siang,” ucap seseorang membuat Hana terkejut.
“Hmm, sejak sepuluh menit yang lalu mungkin.”
“Ada perlu apa lo ke ruang OSIS?” tanya Hana.
“Numpang tidur,” jawab anak itu dengan cengiran bodohnya.
“Ruang OSIS bukan tempat buat tidur. Keluar lo!”
Hana menghampiri anak yang tak lain adalah Kendrict. Dia menarik tangan cowok itu, berharap jika Kendrict mau menurutinya. Namun, nihil. Tubuh Kendrict bahkan tidak bergerak sedikit pun, seakan menempel pada sofa yang ada di ruang ini.
“Mau gue laporin ke BK lo?” ancam Hana.
Bunyi bel masuk terdengar nyaring. Hana kira suara bel itu dapat menjadi penyelamatnya dan dapat mengusir Kendrict dari ruang OSIS. Nyatanya, cowok itu masih nyaman tiduran di sofa. Matanya terpejam, entah tertidur atau hanya pura-pura.
__ADS_1
“Han, lo masih di si ….”
Suara itu menginterupsi Hana yang sedang berusaha mengenyahkan Kendrict, sementara cowok itu spontan membuka matanya.
“Ngapain lo di sini?” tanya Adrian pada Kendrict, ekspresinya menunjukkan ketidaksukaan pada cowok itu.
“Ngapel pacar gue,” jawab Kendrict santai.
Cowok itu bangun dari posisinya, benar-benar tidak peduli dengan reaksi dua orang di depannya. Hana mematung di tempatnya, sementara Adrian mengernyitkan dahinya. Dia menatap Kendrict dan Hana bergantian.
“Gue masuk kelas dulu,” pamit Kendrict menepuk puncak kepala Hana sebelum pergi dari sana.
Adrian menatap kepergian Kendrict hingga hilang dibalik pintu. Lalu dia beralih pada Hana yang masih diam di tempatnya.
“Han, bener apa yang dibilang Ken tadi?” tanya Adrian.
Hana mengerjap dan menatap Adrian, lalu menggelengkan kepala. Tanda jika apa yang dikatakan Kendrict tadi tidak benar. Namun, Adrian masih belum puas dengan jawaban Hana.
“Jangan percaya omongan Ken. Gue sama dia nggak ada hubungan apapun,” jelas Hana.
Hana segera mengajak Adrian untuk masuk ke kelas, karena sebentar lagi pembelajaran akan segera dimulai. Adrian hanya menurut dan berjalan bersama dengan Hana menuju kelas.
Suasana koridor sudah mulai sepi, kelas yang dilewati Hana dan Adrian pun sudah penuh dengan anak-anak yang sedang menunggu guru masuk. Tidak ada percakapan lagi setelah di ruang OSIS tadi. Hana masih syok dengan apa yang dikatakan Kendrict tadi.
“Nanti pulang sekolah lo kumpul komunitas sosial?” tanya Adrian memecah keheningan di antara mereka.
“Iya, gue hampir lupa tadi. Lusa gue ada acara amal, kayaknya nggak bisa ikut kumpul sama anak-anak,” jawab Hana menjelaskan.
“Nggak masalah, nanti gue ngomong sama anak-anak yang lain.”
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...
__ADS_1