
Hana merasa ada yang aneh dengan Kendrict. Beberapa hari ini cowok itu terlihat tidak bersemangat. Namun, entah itu hanya dugaannya saja atau memang benar.
Memang Kendrict jika ada didepannya terlihat seperti biasanya. Maka dari itu Hana masih ragu dengan pengamatannya.
Kini mereka sudah kembali beraktivitas seperti biasa. Hana sudah duduk di kelas tiga yang artinya sebentar lagi dia akan disibukkan dengan berbagai macam tambahan pelajaran untuk membantu ujian nanti.
Semua jenis organisasi juga sudah tidak Hana ikuti. Tidak hanya Hana, melainkan semua anak-anak kelas tiga sudah benar-benar harus fokus pada pelajaran.
Namun, hingga detik ini belum ada satu pun anak yang mengetahui hubungan Hana dan Kendrict. Kedua orang itu benar-benar menjaga hubungannya. Masalah terkait dengan Nita juga sudah diselesaikan. Perempuan itu sempat meminta maaf pada Hana walau dengan paksaan.
Nita sudah tidak mengganggu Hana lagi, tapi dia masih ikut bermain bersama dengan gerombolan geng Kendrict. Tentang geng Kendrict, setelah liburan usai mereka sudah tidak terlalu berbuat onar. Walau terkadang masih ada satu dua anak yang melanggar peraturan sekolah.
Hana bersama teman-temannya baru kembali dari kantin. Gadis itu tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika melewati ruang BK. Tidak sengaja Hana melihat ada Kendrict di dalam sana.
"Kenapa, Han?" tanya Anggun.
"Eh? Kalian duluan aja, gue ada yang kelupaan," jawab Hana.
"Gitu? Ayo gue temenin."
"Nggak usah, gue bisa sendiri kok."
"Oke, kalo gitu kita duluan, ya?"
Akhirnya Anggun dan yang lain pun pergi terlebih dulu. Anggun juga belum ada kemajuan dengan Adrian. Sepertinya memang cowok itu tidak memiliki perasaan pada perempuan itu. Namun, Hana bersyukur dengan sikap Adrian pada Anggun.
Hana memutuskan untuk menunggu Kendrict hingga keluar dari ruang BK. Penasaran juga dengan cowok itu, masalah apalagi yang ditimbulkan sehingga dipanggil ke tempat ini. Hana duduk di bangku panjang, sembari memperhatikan anak-anak yang lalu lalang.
Tiba-tiba Kendrict keluar. Cowok itu terkejut melihat Hana duduk di depan ruang BK. Hana yang melihat Kendrict berdiri di ambang pintu memberi kode pada cowok itu untuk mengikutinya.
"Kok kamu belum masuk kelas?" tanya Kendrict ketika mereka telah sampai di tempat yang sepi.
"Sengaja tungguin kamu," jawab Hana menatap Kendrict.
"Kenapa, hm?" tanya Kendrict mengernyitkan dahi melihat gadis didepannya.
"Aku yang harusnya tanya. Kamu kenapa? Kok bisa kamu masuk BK?"
"Oh itu, tadi cuma bahas tentang studi aja. Aku nggak buat masalah, aku 'kan udah janji sama kamu," jawab Kendrict tersenyum.
Hana diam, memperhatikan ekspresi cowok itu. Mencari kebohongan yang bisa saja terselip di sana. Hana menghembuskan napasnya, tangannya terulur pada pipi kanan Kendrict.
__ADS_1
"Kenapa ada luka lagi?"
"Aku jatuh kemarin," jawab Kendrict menyentuh luka yang tertutup plester.
"Kamu sering jatuh akhir-akhir ini. Padahal yang di dahi baru sembuh."
"Tenang aja. Aku nggak papa kok, aku memang kurang hati-hati."
Hana masih diam, ada rasa yang mengganjal dalam hatinya. Dia merasa Kendrict sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Hingga saat ini Hana belum tahu banyak tentang Kendrict. Cowok itu masih saja menutup rapat kehidupan pribadinya.
"Semuanya baik-baik aja. Kamu nggak perlu khawatir," kata Kendrict menangkup kedua pipi Hana. "Sekarang kamu masuk kelas, ya? Udah bel."
Hana menyerah. Dia pun pamit dan segera masuk ke kelas, meninggalkan Kendrict yang masih bertahan ditempatnya. Sementara Kendrict memperhatikan punggung gadis itu hingga menghilang di balik dinding.
"Hah. Maaf," gumam Kendrict.
Cowok itu pun juga memutuskan untuk pergi dari sana, menuju atap. Ia menikmati sepoi angin yang berhembus. Ada rasa bersalah pada Hana karena telah berbohong pada gadis itu. Banyak kebohongan yang Kendrict ungkapkan pada Hana.
"Ckck, di sini ternyata," ucap seseorang mengagetkan Kendrict.
"Ngapain lo ikut ke sini, Put?"
"Mau push rank. Tanggung kalo nggak diselesaiin."
Putra memang sudah mengetahui keadaan sahabatnya itu, juga mengetahui perihal luka yang didapatkan Kendrict. Cowok itu diam-diam melirik pada Kendrict yang masih terdiam menatap lurus ke depan.
"Lo mau sampai kapan rahasiain ini?" tanya Putra.
"Gue nggak tau," jawab Kendrict menundukkan kepala.
"Jangan sampai lo nyesel sama perbuatan lo sekarang."
"Gue tau."
"Bagus kalo lo tau," kata Putra manggut-manggut.
Lalu, Putra bangkit dari duduknya membuat Kendrict menoleh.
"Mau kemana lo?"
"Kantin, laper gue."
__ADS_1
Putra pergi begitu saja meninggalkan Kendrict. Dia merasa sedikit bersalah juga pada sahabatnya itu, saat ini ia belum bisa membantu apapun.
"Ckck, kenapa hidup lo semrawut banget sih?" gumam Putra menendang kaleng bekas minuman.
DUGG!
"Aduh!" pekik seseorang.
Pekikan itu membuat Putra menghentikan langkahnya dan mendongak untuk melihat siapa korban kaleng yang tadi ditendangnya. Ekspresi Putra seketika datar melihat seorang gadis sedang memungut kaleng itu.
Putra melengos begitu saja tanpa ada niatan untuk meminta maaf. Entah mengapa sejak awal bertemu dengan teman Hana itu membuat Putra merasa kesal. Padahal perempuan itu tidak pernah melakukan kesalahan padanya.
"Tunggu!" tahan Anggun menahan lengan Putra.
Mau tidak mau Putra menghantikan langkahnya. Dia menepis tangan Anggun yang bertengger di lengan kanannya.
"Apa?" tanya Putra malas.
"Lo nggak pernah diajarin sopan santun, ya?" tanya Anggun sudah terlihat sangat kesal.
"Nggak pernah," jawab Putra terkekeh ketika matanya tidak sengaja melihat jidat Anggun memerah akibat ulahnya.
Anggun hendak melontarkan protesnya lagi, tapi Putra sudah pergi dari sana tanpa rasa bersalah sedikit pun. Hal tersebut membuat Anggun benar-benar kesal pada cowok itu.
"Ckck, heran gue sama tuh anak. Perasaan gue nggak ada salah apa-apa sama dia, kenapa jahat banget sama gue?" gumam Anggun kesal.
Anggun pun memutuskan pergi dari sana. Namun, sebelumnya dia membuang kaleng bekas itu ke tempat sampah. Niatnya untuk pergi ke koperasi harus batal karena bertemu dengan makhluk menjengkelkan itu.
"Kenapa muka lo jelek banget?" tanya Manda meledek.
"Diem lo, gue lagi sebel sama anak orang," jawab Anggun.
"Siapa?"
"Si Putra, temennya Ken. Emang sebelas duabelas mereka, tingkahnya buat orang emosi terus."
Manda hanya menggelengkan kepalanya melihat Anggun bersungut-sungut kesal. Memang sudah menjadi rahasia umum bagaimana perlakuan Putra terhadap Anggun. Cowok itu sangat judes jika berhadapan dengan Anggun.
"Terus mana pulpen titipan gue?" tanya Manda.
Anggun spontan menoleh pada Manda dengan wajah terkejut, dia pun menepuk dahinya. "Oh iya, gue lupa nggak beli. Mood gue udah keburu hancur gara-gara ketemu makhluk itu."
__ADS_1
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...