
Dua orang cowok duduk bersebelahan, tidak ada yang berbicara sejak sepuluh menit mereka tiba di tempat ini. Baik Glen dan Kendrict sama-sama membisu. Menurut Glen, tidak ada yang bisa dia bicarakan pada Kendrict karena ia tidak mengenal cowok di sebelahnya ini. Sementara Kendrict sedang kebingungan ingin bertanya mulai dari mana. Banyak yang ingin dia tanyakan pada cowok di sebelahnya ini. Namun, mereka tidak seakrab itu untuk mengobrol santai.
“Kenapa lo nggak masuk tadi? Lo mau jenguk anak itu ‘kan?” tanya Glen.
Bahkan Glen juga tidak mau menyebut nama Hana. Mendengar pertanyaan Glen, membuat Kendrict tiba-tiba merasa kesal. Dia tidak suka cara Glen membicarakan Hana.
“Gue mau tanya sama lo tentang kejadian kemarin,” kata Kendrict tidak menghiraukan pertanyaan Glen tadi.
“Nggak ada yang perlu gue ceritain sama lo. Lo orang luar bagi gue dan nggak berhak tau masalah keluarga gue.”
‘Ckck, sial,’ umpat Kendrict dalam hati.
“Gue kenal Hana sejak lama,” kata Kendrict akhirnya.
Perkataan Kendrict membuat Glen spontan menoleh, menatap penuh curiga pada cowok itu. Tentu saja Glen tidak langsung percaya begitu saja.
Kendrict mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan menunjukkan sesuatu pada Glen. Sementara cowok itu menatap layar ponsel milik Kendrict. Memeriksa dengan teliti kalau-kalau gambar ini hanya editan saja. Lagipula sebenarnya Glen juga tidak mengenali gambar itu. Sebuah foto lebih tepatnya, di mana ada dua orang anak SD saling rangkul. Wajahnya mereka benar-benar kumal dan Glen sama sekali tidak kenal dengan dua bocah itu.
“Percaya?” tanya Kendrict kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.
“Hana bunuh bundanya dulu,” kata Glen akhirnya menyebut nama itu.
“Nggak mungkin! Lo pasti salah,” sanggah Kendrict langsung.
Glen menggelengkan kepalanya. “Gue nggak salah. Gue denger sendiri ayah dan bunda bicarain itu dulu.”
“Salah denger kali.”
“Ckck, percuma gue kasih tau lo,” ucap Glen kesal.
__ADS_1
“Gue masih belum percaya, Hana bukan anak yang kayak gitu. Lo ceritain detailnya, kalo setengah-setengah gini gue jadi simpulin yang enggak-enggak.”
“Ckck, emang lo siapa? Kenapa gue harus cerita detail ke lo?”
Kendrict memukul kursinya, membuat Glen terkejut. Sudah habis kesabaran Kendrict pada cowok menjengkelkan ini. Sorot mata Kendrict menatap tajam pada Glen yang sedang mengernyitkan dahinya.
“Gue udah kenal Hana sejak dulu. Lama-lama gue tonjok juga lo!” ancam Kendrict.
Glen membulatkan matanya mendengar ancaman itu. Dia lupa siapa Kendrict. Anak yang saat ini sedang menjalani skorsing dari sekolah. Memang kabar tentang Kendrict yang masuk penjara dan berakhir mendapat hukuman skors sudah menyebar di seluruh sekolah.
Sejak kepindahannya di sekolah itu, Glen benar-benar menjaga jarak pada anak-anak nakal seperti Kendrict. Glen sering mendengar jika geng Kendrict tidak hanya dari kelas sebelas saja, tidak banyak anak kelas duabelas juga bergabung.
“Masih nggak mau cerita lo?” tanya Kendrict.
“Gue ceritain …, gue ceritain. Ckck, nggak sabaran banget.”
Kendrict mengangguk dan kembali duduk dengan tenang. Bersiap untuk mendengarkan cerita dari Glen. Sementara Glen bersiap untuk menceritakan semua yang didengarnya beberapa waktu yang lalu. Sebenarnya cowok itu tidak sengaja mendengar pembicaraan kedua orang tuanya.
Kendrict mengangguk paham. “Terus?”
“Ternyata perahu yang dinaikin bocor. Tentu aja mereka tenggelam. Anak itu nggak bisa renang, bundanya coba selamatin. Anak itu berhasil selamat, malah bundanya yang nggak selamat. Bundanya meninggal pas perjalanan ke rumah sakit. Ckck, coba aja tuh anak nggak ngeyel minta naik perahu nggak bakal kejadian kayak gini.”
Kendrict terdiam berusaha mencerna cerita Glen. Cowok itu tahu bagaimana posisi Hana saat ini. Pasti gadis itu jika tahu juga akan menyalahkan diri. Namun, Kendrict kesal dengan sikap Glen yang menyudutkan dan menyalahkan Hana. Di sampingnya, Glen masih terus berbicara ngalor-ngidul dan sama sekali tidak didengar oleh Kendrict.
“Kenapa lo nyalahin Hana?” tanya Kendrict.
“Karena tuh anak kayak nggak ada rasa bersalah, kayaknya juga udah lupa sama kejadian pas bundanya meninggal. Itu yang buat gue benci sama dia.”
Kendrict diam, tidak membenarkan atau pun menyalahkan. Ada yang mengganjal dalam diri Kendrict setelah mendengar semua penuturan Glen. Cowok itu bangkit dari duduknya, membuat Glen spontan menghentikan cerocosannya.
__ADS_1
“Gue pergi dulu,” pamit Kendrict dan pergi dari sana begitu saja.
Sementara Glen hanya bisa melihat kepergian Kendrict, sebenarnya dia juga sebal dengan cowok itu. Namun, Glen tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak ingin wajahnya penuh luka akibat bogeman dari Kendrict. Akhirnya Glen juga memutuskan untuk pergi dari sana.
Kendrict berjalan menuju tempat parkir. Sebelum pergi dari tempat ini, cowok itu menelpon Putra terlebih dahulu. Ia ingin bertemu dengan sahabatnya itu. Beruntung saat ini Putra juga sedang membolos. Akhirnya Kendrict menyebutkan sebuah tempat untuk mereka bertemu. Cowok itu menggas motornya keluar dari area parkir dan segera menuju tempat pertemuan mereka.
Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit. Kendrict yang lebih dulu sampai. Sembari menunggu, cowok itu menyalakan rokoknya. Menghisap nikotin itu dalam-dalam, llau dihembuskan melalui mulut.
“Ken,” panggil Putra.
Kendrict mengangguk, dia menyodorkan bungkus rokoknya pada Putra dan cowok itu mengambil satu putung rokok. Keduanya berjongkok menghadap tanah kosong di depan mereka.
“Kenapa nyuruh gue ke sini? Tadi si Nita ngebet pengen ikut.”
“Lo nggak lupa ‘kan gue pernah cerita tentang temen SD gue dulu?”
Putra hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia memang tahu karena Kendrict pernah menceritakannya dulu, bahkan cowok itu sering bercerita padanya. Tentang anak perempuan yang berhasil menarik perhatian Kendrict ketika masih SD.
“Gue ketemu dia. Ternyata selama ini kita udah deket,” kata Kendrict.
“Siapa?” tanya Putra mengernyitkan dahinya.
Putra bertanya-tanya dalam hati, siapakah orang yang di maksud sahabatnya ini. Sudah dekat katanya? Perempuan yang paling dekat dengan Kendrict hanya Nita dan Devi. Apakah salah satu di antara mereka?
Putra yang menunggu jawaban dari pertanyaannya tadi dibuat kecewa, karena Kendrict memilih untuk tidak memberitahunya sekarang. Cowok itu medengus malas. Padahal Putra sudah sangat penasaran siapa orang itu.
“Oh ya, lo tiap hari jenguk ketua OSIS?” tanya Putra.
“Iya,” jawab Kendrict disertai anggukan kepala.
__ADS_1
“Gabut lo?” tanya Putra tak habis pikir dengan tingkah cowok di sebelahnya ini. Namun, Kendrict hanya menampilkan cengiran bodohnya.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...