
Hari sudah sore dan matahari pun sudah bersiap untuk kembali ke peraduannya. Kendrict mengetukkan jarinya di stir mobil dengan kepala manggut-manggut, sementara Putra asyik bernyanyi dengan suara falsnya. Sesekali Kendrict ikut bernyanyi dengan suara yang sama falsnya.
“Persiapan di vila udah kelar semua?” tanya Kendrict.
“Udah semua katanya. Kenapa sih lo mau repot-repot pergi sama mereka?”
“Sekali-kali nggak masalah. Mumpung gue lagi ada mood buat pergi juga.”
“Tapi tetep aja nggak kayak biasanya lo,” kata Putra dan melanjutkan acara menyanyinya.
Kendrict menikmati pemandangan di sekitarnya. Kebetulan di kanan jalan ada sebuah danau yang sangat sepi. Tidak ada satu pun pengunjung. Jaraknya juga tidak begitu jauh dari jalan besar, tidak ada pepohonan yang menghalangi juga. Jadi pengguna jalan dapat melihat dengan jelas tampak danau tersebut.
Pantulan sinar matahari di air danau itu membuat Kendrict terpukau. Tanpa sadar dia memelankan laju mobilnya untuk menikmati pemandangan indah itu. Dalam hati Kendrict hendak berkunjung ke danau ini kapan-kapan.
Namun, tiba-tiba dia melihat sosok gadis yang berdiri di dermaga danau itu. Gadis itu berdiri membelakangi jalanan, jadi Kendrict tidak terlalu bisa melihat dengan jelas sosok itu. Mendadak pikiran aneh muncul di dalam kepalanya. Kendrict berpikir jika sosok itu adalah hantu penunggu danau itu. Bulu kuduk Kendrict seketika meremang memikirkannya. Cowok itu masih belum melepaskan pandangannya pada sosok itu.
“Heh, anjir!” kaget Kendrict spontan menginjak rem.
“Kenapa sih? Kalo mau berhenti jangan mendadak gini dong!” protes Putra.
“Ada yang nyebur ke danau,” kata Kendrict masih terpaku melalui kaca spionnya.
“Siapa?”
“Nggak tau gue. Bentar, gue mau cek dulu.”
Kendrict melepas seatbeltnya dan hendak meraih pintu mobil, tapi Putra segera menahan tangan cowok itu.
“Nggak usah aneh-aneh lo! Nggak usah ikut campur, Ken.”
“Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri, gue nggak bisa diem aja lihat orang ….”
“Yakin yang lo lihat itu orang?” tanya Putra menatap serius pada Kendrict.
“Makanya ini mau gue pastiin. Kalo lo takut, tunggu aja di sini.”
Kendrict benar-benar keluar dari mobil dan berlari menuju danau itu. Putra tidak ada pilihan lain selain mengikuti langkah sahabatnya itu. Dia juga tidak mau jika Kendrict terkena masalah dan terjadi apa-apa pada cowok itu.
__ADS_1
Kendrict telah sampai di dermaga dan menatap sekeliling. Matanya terhenti pada sepasang sepatu dan sling bag yang berada tidak jauh darinya. Tidak lama kemudian ada sesuatu di dalam air. Seperti seseorang sedang berusaha menggapai daratan.
“Bener apa yang gue lihat,” kata Kendrict dan segera melepas sandal yang sedang dipakainya, lalu segera menceburkan diri ke danau itu.
“Woah anjir! Udah gila emang tuh bocah! Bisa-bisanya dia nyebur gitu aja tanpa pikir panjang! Kendrict berengsek! Gila lo!” teriak Putra antara panik dan marah. Dia berjalan mondar-mandir, bingung harus melakukan apa.
Sementara di dalam air, Kendrict mencari-cari keberadaan orang yang tadi dilihatnya. Beruntung matahari belum tenggelam sepenuhnya, masih ada sedikit cahaya untuk Kendrict bisa melihat keadaan danau ini. Cowok itu menemukan seorang gadis yang perlahan tenggelam.
Kendrict berusaha meraih tangan gadis itu. Berhasil, dia berhasil meraih tangan gadis itu. Namun, betapa kagetnya setelah gadis itu berada tepat didepannya.
“Hana,” ucap Kendrict lirih tanpa sadar.
Namun, cowok itu segera menggelengkan kepalanya. Mencoba untuk menyadarkan pikirannya saat ini juga. Akal sehatnya memberitahunya jika sosok didepannya ini tidak mungkin Hana. Tidak ingin berlama-lama berdebat, Kendrict segera berenang kepermukaan dengan sosok itu dalam dekapannya.
Kendrict berhasil muncul ke permukaan dengan selamat. Cowok itu menghirup udara dengan rakus. Sementara gadis yang diselamatkannya tadi tak sadarkan diri. Putra lari tergopoh-gopoh menghampiri keduanya.
BUGG!
Cowok itu memukul punggung Kendrict cukup kencang untuk melampiaskan rasa kesalnya. Namun, ketika Putra hendak kembali memukul Kendrict, tangannya berhenti di udara saat melihat sosok yang terbaring lemas.
“Ternyata lo juga halusinasi kayak gue,” kata Kendrict yang masih berusaha mengatur napasnya.
“Halusinasi pala kau, dia beneran ketua OSIS. Masa’ lo nggak ngenalin?”
Mendadak Kendrict terdiam dan menatap wajah pucat dengan mata terpejam itu. Tangan Kendrict perlahan menyingkirkan rambut yang sedikit menutupi wajah itu. Mata Kendrict membulat sempurna.
“Beneran Hana,” kata Kendrict dan mengalihkan pandangannya pada Putra.
Mendadak pikiran Kendrict kosong melihat sosok di depannya, lagi-lagi Putra yang berbaik hati menyadarkan. Kendrict yang tersadar pun mencoba menyadarkan Hana dengan cara menepuk-nepuk pipinya pelan.
“Put, nggak mau bangun dia. Terus ini digimanain?” tanya Kendrict yang mulai panik.
“Ya gue mana tau.”
“Serius, Put. Kalo sampai kenapa-napa gimana nih?”
“Bawa ke rumah sakit?”
__ADS_1
“Cepet lo cari rumah sakit terdekat!” perintah Kendrict.
Putra menurut dan segera mengambil ponselnya yang berada di kantong celana. Sementara Putra mencari rumah sakit terdekat, Kendrict masih berusaha membangunkan Hana.
“Masih nggak mau bangun, Put.”
“Lo coba yang kayak di film-film itu, tekan-tekan dadanya terus kasih napas buatan.”
“Gimana caranya?”
“Ckck, sini gue aja. Lo yang cari rumah sakit.”
Putra bersimpuh di sebelah Hana dan bersiap hendak memberikan pertolongan pertama berbekal dari film yang pernah ditontonnya. Sementara Kendrict menonton di sebelahnya. Ketika Putra hendak memberikan napas buatan, spontan Kendrict mendorong tubuh Putra hingga terjungkal.
“Lo mau ngapain?”
“Kasih napas buatan, di film gitu caranya.”
Kendrict menjambak rambutnya, lalu dia memutuskan untuk segera membawa Hana pergi dari danau ini. Melihat sahabatnya yang pergi begitu saja, Putra segera mengikuti dari belakang.
“Ambilin sandal sama barang-barang punya dia!” teriak Kendrict pada Putra.
“Asem, bener-bener jadi babu gue.”
Kendrict membaringkan Hana di kursi belakang dan dia segera mencari jaket yang tadi dibawanya. Jaket itu ia selimutkan pada tubuh Hana yang basah kuyup. Wajah gadis itu sudah sangat pucat dan tubuhnya juga sangat dingin.
“Lo yang nyetir, Put. Sambil gue cari rumah sakit.”
Kedua remaja itu segera pergi dari sana. Jantung Kendrict berdetak sangat cepat melihat keadaan Hana saat ini. Dalam benaknya pun banyak pertanyaan tentang Hana. Namun, dia berusaha untuk tetap tenang. Yang terpenting saat ini adalah menyelamatkan gadis dalam dekapannya ini. Tangan Kendrict sibuk menggulir layar ponselnya untuk mencari rumah sakit atau paling tidak klinik yang buka.
“Ketemu, Put. Tinggal lurus aja, di depan sana ada rumah sakit,” kata Kendrict sedikit lega setelah menemukan rumah sakit terdekat.
“Ngebut, Put!”
‘Lo harus selamat, Han. Gue nggak mau lo sampai kenapa-napa, gue nggak rela. Lo harus terus hidup sampai lo inget siapa gue sebenernya,’ batin Kendrict menatap serius pada Hana.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...
__ADS_1