
Jika teringat tingkahnya kemarin, Hana masih merasa sangat malu. Bisa-bisanya dia bertingkah ceroboh di depan Kendrict. Wajah Hana kembali memerah ketika teringat kemarin di warung bakso bersama Kendrict.
Kemarin, Hana tersedak kuah bakso yang lumayan pedas akibat dia terkejut melihat Kendrict tersenyum. Bahkan, senyum itu hingga sekarang masih terus terbayang oleh Hana.
Hana menutup wajahnya yang mendadak memerah. Jantungnya pun tidak mau kalah, berdebar dengan kencang. Dia memegang kedua pipinya yang masih merona.
"Lo kenapa, Han?" tanya seseorang.
Hana terdiam mendengar pertanyaan itu. Dia ingat jika sekarang sedang berada di taman sekolah dan tadi Hana sendirian. Hana mendongak untuk melihat siapa yang bertanya padanya itu.
Kendrict menampilkan ekspresi bingung menatap Hana yang wajahnya merah padam. Sementara gadis didepannya ini menatapnya dengan melongo dan ekspresinya terlihat kaget.
"Muka lo merah. Lo demam?" tanya Kendrict lagi, tangannya terulur menyentuh dahi Hana. "Nggak demam kok," gumamnya.
Mendapat perlakuan tersebut dari Kendrict, wajah Hana makin merah. Jantungnya juga sangat berisik saat ini. Hana hanya berharap jika cowok didepannya ini tidak mendengar suara detak jantungnya.
"Han? Lo kenapa?" tanya Kendrict lagi melambaikan tangannya di depan wajah Hana.
"Hah? Gue nggak papa," jawab Hana mengerjapkan matanya.
"Aneh lo," kata Kendrict.
Hana bernapas lega setelah dapat mengontrol dirinya. Dia terdiam memperhatikan Kendrict yang kini sibuk dengan ponsel. Spontan Hana berdiri dari duduknya membuat Kendrict terkejut.
"Gue pergi duluan," pamit Hana langsung.
"Loh? Mau ke mana? Gue baru dateng mau lo tinggal," ucap Kendrict.
"Gue ..., gue ...." Hana berusaha mencari alasan.
Kebetulan Arya sedang lewat bersama temannya. Gadis itu pun menumbalkan Arya sebagai alasannya pergi dari sana.
"Gue ada janji sama Arya," kata Hana menarik lengan Arya.
"Janji ap ...."
Hana segera memberi kode pada Arya agar cowok itu menurutinya. Beruntung Arya segera mengerti kodenya. Hana cukup senang cowok itu peka terhadapnya.
"Katanya kamu tanya sesuatu 'kan? Mumpung kita ketemu, ayo ke ruang OSIS sekarang," ucap Hana menarik Arya agar segera mengikutinya.
Sementara Kendrict dan teman Arya hanya melihat kepergian dua orang itu. Namun, suara gebrakan meja membuat teman Arya kaget dan bergidik ngeri. Ngeri melihat ekspresi memyeramkan Kendrict.
__ADS_1
Tiba-tiba Kendrict tertawa, membuat teman Arya segera pergi dari sana. Namun, dia kalah cepat dengan Kendrict yang menarik kerahnya.
"Bawa pergi temen lo sekarang juga!" perintah Kendrict tajam, menatap serius pada teman Arya itu.
Anak itu hanya bisa mengangguk dan segera menurut pergi dari sana. Sedangkan Kendrict mengekor dari belakang. Aura yang cowok itu ciptakan mampu membuat bulu kuduk berdiri.
BRAKK!
Pintu yang dibuka dengan buru-buru oleh teman Arya membuat penghuni di dalam ruang OSIS serempak menoleh.
"Kak, Arya sama Kak Hana ke mana?" tanya teman Arya dengan wajah yang hampir menangis.
"Mereka nggak di sini," jawab salah satu anak di ruang OSIS.
Teman Arya itu langsung menghadap Kendrict yang berdiri dibelakangnya. Cowok itu melipat tangannya di depan dada.
"Mereka nggak di sini, Kak."
"Cari sampai ketemu!" perintah Kendrict.
Anak itu langsung pergi dari sana untuk mencari keberadaan Hana dan Arya. Nasib sial sedang menimpanya, hari ini kebetulan ada beberapa guru yang sedang diklat. Jadi, di sekolah tidak diadakan pembelajaran.
"Ketemu, itu mereka," ucap anak itu menunjuk Hana dan Arya yang sedang duduk berdua di bangku yang ada di belakang gedung.
"Kenapa? Gue kira lo udah balik ke kelas."
"Itu ...," tunjuk teman Arya.
Arya menelan ludahnya seketika. Cepat-cepat cowok itu pamit pada Hana yang kebingungan dengan tingkah laku Arya. Cowok itu menunjuk arah belakang Hana, membuatnya segera menoleh.
"Aaaa!" pekik Hana spontan karena benar-benar kaget.
Sementara Arya dan temannya sudah pergi dari sana. "Maaf, Kak!"
Hana juga hendak kabur dari sana. Namun, dia kalah cepat. Kendrict sudah menahan lengannya dan menahan Hana agar tidak kabur darinya.
"Kenapa lo kabur dari gue?" tanya Kendrict.
"Gue nggak kabur kok. Gue emang ada perlu sama Arya tadi," jawab Hana berusaha tidak menatap cowok didepannya.
"Tatap gue, Han. Kenapa lo jadi aneh gini?"
__ADS_1
"A ..., aneh gimana?"
Kendrict menyentuh dagu Hana, agar gadis itu mau menatap matanya. Bukannya cowok itu tidak tahu perubahan Hana sejak kemarin dia mengantar Hana pulang.
Akhirnya Hana terpaksa menatap wajah Kendrict. Lagi-lagi jantungnya berdegub kencang. Bahkan, kini Hana merasa terpesona dengan wajah Kendrict.
"Muka lo merah lagi," tunjuk Kendrict pada Hana.
"Gue tau," kata Hana ketus membuang wajahnya.
Kendrict menahan tawanya melihat sikap Hana yang terlihat menggemaskan dimatanya. Cowok itu sadar apa yang terjadi pada gadis didepannya ini.
"Lo sadar nggak sih kalo lo itu naksir gue?" tanya Kendrict terkekeh.
Hana salah paham dengan pertanyaan Kendrict yang seakan mengejeknya, juga melihat ekspresi cowok itu membuatnya kesal.
"Iya! Gue juga sadar kalo suka sama lo!" jawab Hana kesal.
Lalu, gadis itu pergi meninggalkan Kendrict. Sedangkan Kendrict menahan tawanya yang hampir meledak. Cowok itu terdiam dan menutup wajahnya dengan satu tangan.
"Akhirnya, gue berhasil," ucap Kendrict tersenyun senang.
Cowok itu berteriak girang. Ekspresinya benar-benar tidak bisa disembunyikan. Kendrict memegang dadanya, jantungnya berdegub kencang serta perutnya terasa geli seperti ada kupu-kupu yang beterbangan.
Namun, tidak jauh dari tempat Kendrict dan Hana berada ada dua orang yang dari tadi memperhatikan. Mereka tentu mendengar semua pembicaraan antara Kendrict dan Hana. Salah satu di antara mereka terlihat sangat emosi, bahkan air matanya mengalir keluar.
"Gue harus pisahin mereka. Jangan sampai mereka jadian! Harusnya gue yang jadi pacar Ken! Bukan cewek sial*n itu!" ucapnya menggigiti kuku jarinya.
"Lo mau buat rencana apa lagi, Nit?"
"Gue ada rencana bagus, buat hancurin cewek itu. Biar dia tau posisinya, Dev. Gimana pun, harus gue yang jadi pacarnya Ken!"
"Nit! Jangan aneh-aneh lo! Yang kemarin hampir aja lo ketahuan, kalo nanti lo beneran ketahuan gimana?"
"Asal lo nggak bocorin rencana gue, semuanya aman!" kata Nita menatap Devi tajam.
Devi yang belum pernah melihat wajah serius Nita mendadak merasakan firasat buruk. Namun, dia sudah terlanjur ikut serta dalam rencana Nita. Devi tidak bisa berbuat apa-apa. Jika dia gegabah, ia juga yang akan kerepotan nanti.
Nita berusaha menelpon seseorang, wajahnya terlihat panik. Dia masih menggigiti kukunya. Ekspresinya menjadi senang ketika mendengar suara dari seberang sana.
"Gue mau buat kesepakatan sama lo!" ungkap Nita tersenyum miring.
__ADS_1
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...