Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Menghindari Biang Onar


__ADS_3

Hana berusaha menghindar ketika melihat keberadaan Kendrict. Dia sedang berusaha untuk tidak terlihat disekitar cowok itu. Setelah mengungkapkan apa yang berada dalam benaknya, Hana sangat merutuki kebodohannya itu.


Dia yakin jika Kendrict akan mengejeknya jika mereka bertemu. Maka dari itu, sebisa mungkin Hana menyembunyikan dirinya dari cowok biang onar itu.


"Han? Lo nggak pulang?" tanya Adrian pada Hana yang masih anteng duduk dikursinya.


"Nanti, Dri. Lo duluan aja," jawab Hana.


"Lo nunggu Kak Glen?"


Hana menggelengkan kepalanya. "Gue masih mau di sini dulu."


"Tumben?" tanya Adrian mengernyitkan dahinya.


"Nggak papa, gue lagi pengen di sini dulu."


Adrian hanya mengangguk seadanya dan pamit kepada Hana. Sementara gadis itu masih bertahan di kelas. Namun, beberapa saat kemudian Hana memutuskan untuk pulang.


Hari ini memang Glen tidak bisa pulang bersamanya. Cowok itu harus berangkat les, jadwalnya memang sangat padat.


Mengingat Glen, Hana teringat beberapa hari yang lalu mereka sempat mengobrol lama tentang curahan hati cowok itu. Glen memberitahu kegalauan yang dialami.


"Dek, gue bingung," ucap Glen kala itu.


"Kenapa, Kak?"


"Gue masih belum tau setelah lulus mau ngapain."


"Kak Glen belum punya tujuan? Kak Glen suka apa?"


Glen menunduk lesu dan menggelengkan kepalanya. "Gue bingung."


"Coba temuin apa yang Kak Glen sukai dulu, atau hobi kakak apa. Siapa tau nanti Kak Glen punya pandangan."


Glen sempat terdiam sebentar, lalu cowok itu mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada Hana.


"Semangat, Kak. Kalau masih bingung, Kak Glen bisa konsultasi sama bunda atau ke guru BK."


"Iya, Dek."


Hana melangkahkan kakinya menuju tempat parkir. Tadi dia berangkat naik sepeda. Hana sangat merindukan momennya ketika naik sepeda. Sudah lama ia tidak pergi ke sekolah naik sepeda kesayangannya.


"Han," panggil seseorang.

__ADS_1


Spontan Hana menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Mata Hana membulat sempurna melihat sosok yang dia hindari mati-matian berdiri tidak jauh darinya.


Kendrict berjalan mendekat padanya. Hana pun berjalan mundur, bukannya dia takut. Namun, Hana sedang menyelamatkan jantungnya untuk saat ini.


"Lo kenapa lagi, Han?" tanya Kendrict mengernyitkan dahinya.


Hana memaksakan senyumnya dan menggelengkan kepala. Dia meraih stang sepedanya, menaiki dengan perlahan. Lalu, mengayuh dengan cepat meninggalkan Kendrict yang memperhatikan Hana bingung.


Kendrict menoleh ke belakang, dimana Putra berdiri tidak jauh darinya. Cowok itu bertanya pada Putra dengan ekspresi bingung.


"Dia kenapa, Put?" tanya Kendrict.


"Takut sama lo kali," jawab Putra sekenanya, dia segera memakai helmnya. "Gue balik dulu," pamitnya.


Kendrict yang ditinggalkan seorang diri di tempat parkir hanya bisa terdiam. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Ckck, dia kenapa sih? Bikin gemes aja," kata Kendrict memutuskan untuk pergi dari sana.


Baru beberapa meter Kendrict meninggalkan area sekolah, tiba-tiba ada ide yang melintas. Sebuah senyum mengembang dari bibir cowok itu. Kendrict segera menggas motornya lebih cepat.


Namun, Kendrict sedikit memelankan laju motornya ketika melewati minimarket. Dia melihat Hana berada di dalam minimarket itu. Kendrict tidak berniat menyapa gadis itu, dia kembali melajukan motornya pergi dari sana.


Sementara itu, Hana baru saja keluar dari minimarket dengan membawa kantong plastik berisi belanjaannya. Dia kembali melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke rumah.


Akhirnya, dia sampai di rumah. Namun, Hana mengernyit ketika melihat ada sepeda motor besar terparkir di depan rumah. Bukan sepeda motor milik Glen. Hana mencoba mengingat milik siapa motor tersebut.


Hana memasukkan sepedanya di dalam garasi dan masuk ke dalam rumah sembari mengingat milik siapa motor itu. Dia merasa tidak asing dengan sepeda motor tersebut.


"Akhirnya sampai juga. Lama nih gue nungguin," ucap sebuah suara.


Hana terkejut melihat Kendrict duduk di sofa ruang tamu rumahnya. Saking kagetnya tanpa sadar Hana menjatuhkan barang bawaannya.


"Lo abis belanja, ya? Beli apa aja?" tanya Kendrict mendekat dan berjongkok untuk melihat isi dari kantong plastik milik Hana yang tergeletak di lantai.


"Nggak belanja apa-apa," jawab Hana cepat ketika tersadar dari keterkejutannya dan segera meraih kantong plastik itu. "Nih buat lo," lanjutnya memberikan satu bungkus es krim pada Kendrict.


Lalu, dengan cepat Hana masuk ke dalam tanpa mempedulikan Kendrict. Wajah Hana memanas, dia menyentuh wajahnya.


"Kenapa ke sini sih tuh anak?" gumam Hana.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Hana kembali turun. Dia hendak membereskan barang-barang yang baru dibelinya tadi.


"Han, nanti Ken mau ikut makan malam di sini," kata Mira yang berada di meja makan.

__ADS_1


"Iya, Bun," jawab Hana seadanya.


"Kalian mau dimasakin apa?" tanya Mira.


"Apa aja, Bun. Masakan Bunda enak-enak kok." Bukan Hana yang menjawab, melainkan Kendrict yang entah sejak kapan sudah duduk di belakang Hana.


Mira hanya tersenyum dan meminta Kendrict untuk menunggunya. Hana tidak mempedulikan keduanya, dia kembali melanjutkan aktivitasnya.


"Makasih es krimnya," ucap Kendrict menunjukkan es krim pemberian Hana yang masih rapi terbungkus.


Hana hanya mengangguk dan dia mengambil sebungkus es krim, lalu membawanya ke halaman belakang. Kendrict mengekori langkah Hana dari belakang.


Ternyata Hana sedang menikmati es krim di sini. Kendrict duduk di sebelah gadis itu tanpa aba-aba membuat Hana sedikit terkejut. Sebenarnya Hana hendak menghindar lagi, tapi Kendrict lebih dulu menahannya.


"Jangan lari-lari lagi, gue capek ngejarnya," kata Kendrict.


Akhirnya Hana diam ditempatnya dan dia mulai menikmati es krim. Kendrict mengikuti apa yang Hana lakukan. Suasana mendadak hening, tidak ada percakapan di antara keduanya.


"Lo kenapa ngehindar dari gue?" tanya Kendrict memecah keheningan.


"Gue nggak ngehindar," jawab Hana beralibi.


"Dari kemarin susah banget mau ketemu sama lo. Katanya lo suka sama gue, tapi kok ngehindar mulu?"


"Gue salah ngomong kemarin, jadi lupain aja."


Kendrict menatap Hana tidak percaya setelah mendengar ucapan gadis itu. Sementara Hana masih menatap lurus ke depan dan sibuk dengan es krimnya.


"Jangan bohong lo!" tunjuk Kendrict menggunakan stik es krim.


Hana menggeleng. "Gue nggak bohong."


"Padahal lo sendiri kemarin yang bilang kalo lo suka gue."


"Udah gue bilang, kemarin gue salah ngomong."


"Kalo emang salah ngomong, kenapa lo nggak berani tatap gue?" tanya Kendrict menantang.


"Suka-suka gue dong," jawab Hana tidak peduli.


Kendrict meremas bungkus es krimnya karena gemas mendengar jawaban Hana. Cowok itu meraih dagu Hana dan memaksanya agar menatap ke arahnya. Sementara Hana sudah panas dingin melihat tatapan tajam cowok itu.


"Nah 'kan, lo bohong!" tunjuk Kendrict tersenyum puas.

__ADS_1


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...


__ADS_2