
Hana benar-benar dibuat tidak bisa tidur setelah tindakan yang dilakukan Kendrict secara tiba-tiba itu. Padahal besok dia harus berangkat ke sekolah pagi karena akan ada upacara. Namun, hingga lewat tengah malam Hana masih belum bisa memejamkan matanya.
Kemarin kejadian itu malah Hana bisa terlihat biasa, tapi mengapa overthinkingnya muncul setelahnya? Namun, yang membuat dia lebih kepikiran adalah Kendrict berkata jika cowok itu akan membantunya mencari ingatan yang hilang.
"Jangan-jangan gue kena lagi dijahilin anak nakal itu?" gumam Hana.
Gadis itu mengangguk mantap, tentu kemarin Kendrict hanya mencoba membodohinya. Kini Hana terus berpegang pada pemikiran tersebut dan kembali mencoba untuk tidur. Dia tidak mau besok pagi mengantuk ketika bertugas.
Akhirnya ia dapat tertidur walau hanya sebentar. Rasanya baru saja masuk ke dalam alam mimpi, tiba-tiba sebuah ketukan di pintu membangunkan Hana. Sayup-sayup terdengar suara lembut dari luar sana.
"Han, sudah bangun? Ayo, kita sarapan. Glen udah nunggu di bawah," panggil Mira.
Hana menguap beberapa kali, ternyata dia benar-benar tidur hanya kurang lebih dua jam saja. Akhirnya gadis itu bangkit dari posisinya dan berjalan menuju kamar mandi.
Beberapa menit kemudian Hana sudah rapi dengan seragamnya, dia menenteng tasnya dan segera turun ke bawah. Hana tidak mau membuat Glen terlalu lama menunggunya.
"Tumben, Dek. Lo kesiangan, ya?" tanya Glen yang sudah memulai sarapannya.
"Iya, Kak," jawab Hana seadanya dan tangannya meraih segelas susu hangat yang telah dibuat oleh Mira.
Sementara Mbak Jum meletakkan nasi milik Hana di depan gadis itu. Setelah mengucapkan terima kasih, Hana segera menikmati masakan kolaborasi antara Mbak Jum dan Mira.
"Nggak usah buru-buru. Waktu kita masih banyak," kata Glen.
Hana hanya mengangguk dan kembali menyuap nasi beserta lauk tersebut ke dalam mulutnya. Semenjak kesadatangan Mira di rumah ini, masakan tiap sarapan cukup bervariatif. Tidak hanya sekedar nasi goreng.
Glen telah menuntaskan sarapannya, tapi dia masih sabar menunggu Hana hingga selesai dengan makanannya. Sembari menunggu cowok itu memainkan ponselnya. Suara kursi yang berderit membuat cowok itu mendongakkan kepalanya.
"Udah? Gue tunggu di depan, ya?"
__ADS_1
"Iya, Kak."
Mulai hari ini Hana dan Glen akan berangkat ke sekolah bersama tanpa sang ayah yang mengantar. Gadis itu hanya menurut saja, tapi untuk sementara ia akan berpisah dengan sepeda kesayangannya.
Hana segera menyusul Glen yang sedang duduk di teras sibuk dengan tali sepatunya. Dia juga ikut duduk di sebelah cowok itu untuk memakai sepatunya.
"Udah? Ayo, berangkat," ajak Glen.
"Bun, Hana berangkat dulu," pamit Hana ke Mira dan diikuti oleh Glen.
Hana naik ke atas motor baru Glen. Samsul memberikan motor kepada Glen ketika libur kemarin. Tentu mendapat motor baru membuat Glen sangat bahagia.
Glen menstater motornya dan motor itu segera melaju menjauh dari rumah. Hana menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya, dia sengaja tidak menutup kaca helm untuk merasakan udara di pagi hari ini.
"Lewat jalan tikus aja, ya? Jam segini udah macet biasanya," tanya Glen dengan berteriak agar Hana dapat mendengar ucapannya.
"Iya, Kak."
Hubungan Hana dan Glen sempat buruk di awal kedatangan cowok itu. Glen juga meminta agar hubungan mereka dirahasiakan. Melihat anak-anak disekitarnya berbisik-bisik dan terang-terangan memperhatikan dua orang itu, membuat Glen merasa bersalah. Gara-gara dirinya, keadaan di sekolah menjadi seperti ini.
"Nanti tinggal jawab aja kalau ada yang tanya 'kan? Kak Glen nggak usah merasa bersalah," kata Hana.
Glen tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Adiknya ini memang sangat baik. Keduanya pun berpisah di tempat parkir. Hana menuju kelasnya sebelum melakukan tugasnya berpatroli seperti sebelumnya.
Suara bel terdengar dan anak-anak mulai berhamburan keluar menuju lapangan. Mereka berbaris sesuai kelas mereka, sementara Hana berkumpul bersama teman-teman OSISnya.
"Seperti biasa, kita akan patroli mengelilingi sekolah setelah upacara dimulai untuk mencari anak-anak yang terlambat atau membolos," kata Hana.
Mereka serempak mengangguk dan dengan mandiri membubarkan diri. Hana juga ikut berkeliling di seluruh area sekolah. Namun, sepertinya hari ini tidak banyak anak yang melanggar peraturan sekolah. Hanya ada beberapa anak yang terlambat masuk.
__ADS_1
Setelah melakukan patroli, Hana dan anak-anak OSIS yang lain kembali ke lapangan. Mmebuat barisan di belakang salah satu kelas. Sedangkan, anak-anak PMR berdiri menyebar.
"Tumben, nggak ada anak yang bolos upacara hari ini," bisik Anggun yang berdiri di sebelah Hana.
"Iya, baguslah berarti mereka udah mau sadar. Cuma tadi masih ada yang telat masuk," jawab Hana yang juga berbisik.
"Tapi gue nggak ketemu Ken tadi, biasanya dia 'kan langganan telas sama bolos," tambah Amanda.
"Eh iya, ya. Apa dia nggak masuk hari ini? Kalo beneran nggak masuk hari ini, pasti tenang banget suasana sekolah," ucap Anggun tersenyum bahagia.
Hana hanya diam mendengarkan obrolan teman-temannya itu. Namun, dalam hati Hana membenarkan perkataan Amanda tadi. Dirinya pun belum bertemu dengan Kendrict pagi ini. Biasanya mereka akan bertemu di halaman belakang dan cowok itu sedang berusaha menelusup masuk dengan melompat pagar.
Hana menggelengkan kepalanya, hari ini dia sesang tidak ingin memikirkan Kendrict. Cowok nakal itu sudah membuatnya begadang semalaman. Hana kembali fokus pada upacara bendera yang baru dimulai beberapa saat yang lalu.
Bahkan, pembina upacara belum memasuki lapangan. Namun, anak-anak nakal perkumpulan Kendrict terlihat tenang. Biasanya mereka akan membuat gaduh di saat seperti ini. Tadi Hana sempat melihat mereka telah rapi dalam barisan kelas masing-masing.
Tentu hari ini terlalu aneh bagi Hana dan teman-teman OSIS yang lain. Hari Senin pertama setelah libur kemarin terlalu tenang. Namun, tenangnya hari ini terjawab ketika sebuah suara lantang terdengar masuk ke indera pendengaran para anak OSIS.
"Kepada pembina upacara! Hormat gerak!" ucap suara lantang tersebut.
"Eh? Suaranya kok beda? Nggak kayak si Doni," kata seorang anak yang berdiri di belakang Hana.
Doni adalah anak yang biasa menjadi pemimpin upacara dan juga ketua ekskul paskibraka. Namun, sepertinya hari ini anak itu sedang tidak bertugas. Suara gagah dan lantang tersebut membuat anak-anak OSIS menjadi penasaran.
Mereka berusaha melihat siapa pemimpin upacara pada hari ini. Sayang mereka berada di barisan paling belakang sehingga tidak dapat melihat dengan jelas. Namun, beruntung ada sebuah celah di depan sana sehingga Hana bisa melihat siapa pemimpin upacara pada hari ini.
"Hah?" kaget Hana membulatkan mata.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...
__ADS_1