
Hari ini upacara berjalan dengan lancar, walaupun masih banyak anak-anak yang melanggar. Anak-anak yang mendapat hukuman skorsing juga sudah kembali ke sekolah.
Setelah upacara selesai, mereka masih tinggal di lapangan untuk menunggu giliran memberikan suaranya. Hana bersama dengan anggota OSIS lainnya mengawasi jalannya pemilihan tersebut.
Ada tiga buah bilik yang disediakan untuk proses pemilihan. Satu persatu anak-anak itu mulai bergantian memasuki bilik. Mereka yang telah memberikan suara diperbolehkan kembali ke kelas masing-masing untuk mengikuti proses pembelajaran selanjutnya.
Sebelum dilakukan pemilihan, tadi para calon kandidat telah mengemukakan visi dan misi masing-masing. Tentunya visi dan misi tersebut dapat membantu mereka dalam pemilihan kali ini.
Setelah semua anak memilih, kini giliran para pengurus OSIS. Begitu juga dengan Hana, dia juga menggunakan haknya untuk memilih.
"Setelah ini langsung kalian hitung hasilnya dan nanti laporkan pada saya serta Pak Budi," kata pembina OSIS.
"Baik, Pak," jawab Hana.
Selesai dengan pemilihan suara, para pengurus OSIS segera membawa kertas pemungutan tersebut ke ruang OSIS untuk menghitung banyaknya suara.
Hana duduk di salah satu kursi bersama dengan pengurus yang lain. Sementara bendahara yang akan membacakan nama dari kandidat terpilih dan sekretaris yang akan mencatatnya.
Cukup lama mereka membacakan nama itu satu persatu. Namun, mereka tetap pada posisi masing-masing. Ada perasaan tegang juga yang dirasakan oleh para kandidat calon ketua OSIS berikutnya.
"Ini yang terakhir."
Hana mengangguk setelah diperlihatkan kertas terakhir. Bendahara mulai membacakan nama di kertas tersebut dengan dramatis agar dapat menambah suasana tegang di ruang ini.
"Yang terakhir adalah ...." Bendahara itu memperhatikan seluruh penghuni ruang ini. Sebenarnya geli juga melihat ekspresi mereka yang sedang menunggunya.
"Ckck, cepet bacain!" ucap Vio tak sabar.
"Tenang ..., tenang. Sengaja biar kalian pada tegang."
"Cepet elah, bentar lagi istirahat. Gue belom sarapan mau sarapan."
"Oke ..., oke gue bacain sekarang. Yang terakhir adalah Arya!"
Anak bernama Arya spontan menggebrak meja setelah mendengar namanya disebut. Hana yang duduk tidak jauh dari sana berjengkit kaget. Suara yang didapat Arya paling banyak dan otomatis dia yang akan menjadi ketua OSIS selanjutnya.
"Selesai, habis ini gue mau laporan ke pak pembina dulu. Kalian boleh bubar. Buat pelantikannya nanti kita tunggu info dari Hana."
Mereka pun meninggalkan ruang OSIS. Begitu juga dengan Hana. Dia keluar bersama dengan Anggun, Ara, Vio, Manda, dan Adrian. Mereka hendak ke kantin saat ini.
__ADS_1
"Kak Hana," panggil Arya membuat Hana menghentikan langkahnya.
"Kita duluan ya, Han? Nanti lo nyusul aja," kata Ara.
Hana mengangguk dan kini dia berhadapan dengan Arya. Dia mengernyit melihat Arya yang sepertinya sungkan hendak mengutarakan sesuatu.
"Kenapa, Ar?" tanya Hana.
"Unm, mohon bantuannya ke depan, Kak. Saya rasa masih belum bisa mengemban tugas sebagai ketua OSIS tanpa bimbingan Kak Hana," jelas Arya dengan pandangan menunduk.
"Iya, tentu aja nanti saya akan bantu kamu. Tenang aja."
"Terima kasih, Kak," ucap Arya menatap Hana dan tersenyum senang.
Hana membalas senyum itu. Hingga tiba-tiba saja ada yang menepuk puncak kepalanya. Tentu hal tersebut membuat Hana terkejut, sementara Arya segera pamit dari sana setelah mendapat tatapan tajam.
"Ngapain, Ken?" tanya Hana berusaha mendongakkan kepala yang terasa berat akibat tangan cowok itu.
"Kenapa lo senyum-senyum sama anak kencur itu?"
"Emang gue nggak boleh senyum?" tanya Hana mengernyitkan dahi bingung.
Hana memutar bola matanya malas. Dia hendak pergi dari sana untuk menyusul teman-temannya yang lain, tapi Kendrict menarik tangannya membuat Hana kembali ke tempatnya.
"Masih lo pakai ternyata," kata Kendrict tersenyum memperhatikan gelang yang melingkar di pergelangan tangan Hana.
Setelah mengatakan hal itu, Kendrict pergi dari sana tanpa sepatah kata pun. Cowok itu menghilang di balik dinding yang mengarah ke gudang belakang sekolah.
Hana menggelengkan kepalanya dan kembali melanjutnya langkahnya menuju kantin. Namun, dia juga sempat memperhatikan gelang ditangannya. Hana mengakui jika gelang itu lumayan bagus dan nyaman dipakai. Jadi, ia tetap memakai gelang itu.
"Lama banget lo, Han. Si Arya kenapa tadi?" tanya Anggun.
"Dia minta bimbingan gue katanya," jawab Hana.
Mereka serempak mengangguk. Hana pun berjalan menuju penjual di kantin ini untuk membeli minuman. Tadi pagi dirinya sudah sarapan, jadi Hana akan membeli minuman saja.
"Lo nggak makan, Han?"
"Gue udah sarapan tadi."
__ADS_1
Mereka menghabiskan waktu istirahat di kantin dengan sesekali mengobrol. Rumor yang sempat menghebohkan sekolah beberapa waktu belakangan benar-bebar hilang. Tidak ada yang membicarakan tentang Hana lagi.
Walau beberapa anak masih menaruh kebencian pada Hana, tetapi mereka tidak lagi bertindak dengan kekerasan. Jika berpapasan, mereka akan menghindari pandang dengan Hana. Hana pun tidak mempermasalahkan hal tersebut, dia tidak akan memperpanjang masalah.
Namun, beberapa temannya yang terkadang masih merasa kesal jika teringat bagaimana kejamnya anak-anak itu menyerang Hana. Apalagi tidak ada satu pun dari mereka yang meminta maaf pada Hana. Mereka benar-benar bermuka tebal dan seperti tidak memiliki dosa.
"Udah, nggak papa. Gue nggak mau memperpanjang masalah, gue juga udah maafin mereka kok," kata Hana kala itu melihat Anggun yang kembali tersulut emosi.
"Lo jangan terlalu baik jadi orang, Han," balas Anggun.
Namun, Hana hanya tersenyum dan segera mengajak temannya itu pergi dari sini. Hana takut jika tetap di sini mereka akan terlibat pertengkaran lagi. Beruntung Anggun mau menurut.
Sementara di lain tempat, Kendrict sedang berkumpul bersama teman-teman gengnya. Kepulan asap rokok mengudara. Walau tadi Kendrict bertemu dengan Hana, sepertinya gadis itu tidak mengikutinya.
Jika Hana tadi mengikuti Kendrict hingga ke tempat ini, sudah dipastikan jika akan terjadi keributan lagi. Suara gelak tawa memecah gudang yang berisi kursi dan meja bekas ini.
"Ken, gue punya tiket nonton. Lo mau nonton sama gue Sabtu besok?" tanya Nita duduk di sebelah Kendrict. Perempuan itu menunjukkan tiketnya pada Kendrict.
"Film apaan?" tanya Kendrict.
"Nih film horor baru tayang di bioskop kemarin."
"Jam berapa?"
"Malem, jam 9 an."
Kendrict terdiam sejenak untuk berpikir. Sementara teman-teman Kendrict yang lain berusaha mengompori.
"Udah, ambil aja," teriak Angga heboh.
"Oke. Ntar ketemu di sana," kata Kendrict akhirnya.
"Beneran, Ken? Lo nggak bohong 'kan?" tanya Nita memastikan.
Kendrict hanya mengangguk dan kembali menikmati rokoknya. Sedangkan Nita sudah sangat kegirangan. Perempuan itu heboh sendiri bersama Devi. Putra yang melihat hal itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Lo serius, Ken?" tanya Putra memastikan dan mendapat anggukan kepala dari Kendrict.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...
__ADS_1