
Hana yang baru saja mengambil piring dari dalam bersama dengan seorang temannya mengernyitkan dahi karena tiba-tiba saja suasana menjadi hening. Didepannya berdiri tiga anak yang entah siapa. Salah satu di antara mereka sedang berangkulan.
"Ada apa nih? Kenapa mendadak sepi?" tanya teman yang berdiri di sebelah Hana. Membuat semua yang ada di halaman belakang ini menoleh.
Hana membulatkan matanya melihat salah satu dari tiga anak itu. Lalu tatapannya mengarah pada Torik untuk meminta penjelasan pada cowok itu. Namun, Torik hanya menggelengkan kepalanya dengan ekspresi memelas.
"Ckck, kalian pesta nggak ajak-ajak gue. Nggak asik banget," kata Kendrict, anak yang tadi tiba-tiba muncul. "Lo lanjut masak lagi sana!" perintah Kendrict dan mendorong Torik.
Kendrict beralih pada Hana yang masih diam mematung dengan tumpukan piring ditangannya. Cowok itu berjalan menghampiri gadis itu dengan senyum lebar. Teman Hana spontan menyingkir dari sana, dia bergabung bersama dengan teman-temannya yang lain.
Kendrict menghentikan langkahnya dan berbalik, menatap satu persatu wajah anak-anak di sana. Melihat Kendrict yang tiba-tiba menatap mereka, mereka segera memalingkan wajahnya.
"Kalian jangan peduliin gue, santai aja. Oh ya, tentu gue nggak datang ke sini dengan tangan kosong. Tenang, gue juga bawa semua yang diperluin," kata Kendrict.
Lalu, Putra mengangkat dua kantong plastik berukuran besar dengan isi penuh. Spontan anak laki-laki menghampiri Putra untuk melihat apa yang dibawa cowok itu. Melihat hal tersebut membuat Kendrict tertawa puas.
"Lo ngapain di sini? Emang Torik undang lo juga?" tanya Hana mengernyitkan dahi.
"Gue juga diundang kok," jawab Kendrict menggaruk ujung hidungnya.
"Lo kenal Torik?"
"Dia sahabat gue juga. Lo baru tau 'kan?" tanya Kendrict cengengesan.
'Gue juga baru tau punya temen namanya Torik,' lanjut Kendrict dalam hati.
Hana masih curiga dengan cowok didepannya ini. Perasaannya tidak enak ketika melihat Kendrict ada di tempat ini. Namun, kecurigaan Hana terhenti ketika tiba-tiba piring yang ia bawa sudah berpindah tangan.
"Biar gue yang bawa," kata Kendrict.
"Lo di sini mau buat onar, ya?" tanya Hana dengan pandangan menyelidik
"Kok lo gitu sih? Gue bantuin nih," jawab Kendrict dengan ekspresi yang dimelaskan.
Hana hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan mendahului Kendrict. Sementara cowok itu mengekor dari belakang. Interaksi kedua orang itu tak lepas dari pengamatan Adrian.
Lagi-lagi cowok malang itu harus menelan pil kekecewaan. Adrian melihat kedekataan antara Hana dan si biang onar itu.
"Gue lagi patah hati, nggak ada yang mau hibur apa?" gumam Adrian lirih.
Kembali pada Hana dan Kendrict yang selalu menempelinya. Kemana pun gadis itu pergi, Kendrict akan selalu mengikutinya. Seperti saat ini, dia dan teman-teman perempuannya sedang menata makanan yang telah matang di atas piring.
Namun karena Kendrict juga ada di sini, membuat teman-teman Hana merasa tidak nyaman. Apalagi tatapan mengintimidasi dari cowok itu membuat teman-teman Hana takut.
"Kenapa lo ngikutin gue mulu sih?" tanya Hana jengkel.
__ADS_1
"Gue nggak punya temen di sini, cuma lo yang gue kenal," jawab Kendrict.
Hana bergidik mendengar jawaban Kendrict, ia merasa geli. Sementara teman-temannya berusaha keras menahan tawa mereka. Fakta baru dari seorang pentolan sekolah yang dikenal sangar, ternyata bisa berbicara imut seperti itu.
"Lo bisa kumpul sama anak-anak cowok di sana," kata Hana menunjuk gerombolan anak laki-laki yang sedang membakar daging.
Mereka terlihat sangat bahagia, apalagi tadi Kendrict membawakan mereka tambahan daging dan bahan-bahan lainnya. Seolah mereka semua menjadi tunduk setelah mendapat sogokan.
"Nggak, nanti gue bau asap. Gue di sini aja nggak apa-apa 'kan?" tanya Kendrict pada teman-teman Hana meminta persetujuan.
Tentu tidak ada pilihan lain selain mengangguk setuju. Lagi-lagi Kendrict tertawa, dia cukup senang berada di sini sekarang. Ternyata anak-anak di kelas Hana cukup menyenangkan.
Sudah cukup banyak daging yang telah matang. Beberapa di antara mereka sudah mulai memakan daging dan juga makanan lain yang telah tertata rapi di atas meja. Tiba-tiba saja Hana teringat Adrian yang duduk seorang diri.
"Mau ke mana lo?" tanya Kendrict.
Hana tidak menjawab pertanyaan cowok itu. Jika dijawab pun akan membuatnya lelah. Akhirnya dia tidak menggubris sama sekali dan melangkahkan kaki ke tempat Adrian berada.
"Ini punya lo," kata Hana menyodorkan piring berisi beberapa tusuk sate.
"Lo nggak perlu repot bawain gue. Gue masih bisa jalan ke sana. Tapi makasih, Han."
Hana hanya mengangguk, lalu dia duduk di sebelah Adrian. Malam sudah makin larut dan sebentar lagi tahun akan berganti.
"Lo bisa makan? Tangan lo nggak sakit?" tanya Hana.
"Gue nanti aja," jawab Hana.
"Mau gue sua ...."
Ucapan Adrian terhenti ketika tiba-tiba Kendrict datang dan memaksanya untuk bergeser tempat duduk. Hana yang terkejut hampir saja terjungkal dari kursinya. Beruntung Kendrict berhasil menahan gadis itu.
"Lo sehari aja nggak rusuh nggak bisa, ya?" omel Hana.
"Sorry, gue nggak sengaja," ucap Kendrict meringis.
"Mau apa lagi lo?"
"Gue cuma mau duduk di sini. Oh ya, ini buat lo."
"Ngga ...."
Belum sempat Hana menyelesaikan ucapannya, sepotong daging masuk ke dalam mulutnya. Tentu membuat gadis itu terkejut, spontan matanya membulat sempurna. Namun, hal itu malah terlihat menggemaskan di mata Kendrict. Cowok itu menepuk kepala Hana.
"Makan yang banyak biar tambah tinggi," kata Kendrict menaruh piring di atas pangkuan Hana.
__ADS_1
"Nggak usah, ini buat lo aja. Gue bisa ambil sendiri."
"Itu buat kita berdua kok. Lo suapin gue. Aaaa," kata Kendrict membuka mulutnya lebar dengan mata terpejam
Adrian yang tidak dianggap mendengus kesal. Tangannya pun menjulur dan menyuapkan sepotong nanas ke dalam mulut Kendrict yang terbuka lebar.
"Kok cuma suapin nanas?" protes Kendrict.
Hana dan Adrian tertawa melihat reaksi cowok itu. Sementara Kendrict mengernyitkan dahinya bingung.
"Minta Adrian suapin lagi tuh," kata Hana berusaha meredam tawanya.
"Sini gue suapin yang banyak," ucap Adrian menyodorkan sate untuk Kendrict.
"Ckck, nggak usah ikut-ikut lo," kata Kendrict sewot.
"Ahelah, nggak bisa diajak bercanda nih manusia," balas Adrian.
Adrian pun pamit untuk mengembalikan piringnya. Kini hanya ada Hana dan Kendrict di sini. Hana kembali melanjutkan makannya tanpa mempedulikan cowok disampingnya, lagipula saat ini Kendrict sudah tidak mengganggunya.
"Ayo, pada kumpul! Kita hitung mundur bareng-bareng," teriak Torik.
Hana berdiri hendak berkumpul bersama teman-temannya yang lain. Namun, Kendrict menahan lengan Hana.
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
Suara petasan terdengar riuh di tempat ini disertai tepuk tangan. Namun, Hana terdiam mematung ditempatnya. Sebuah benda kenyal dan hangat mendarat di pipi kanannya. Dia benar-benar membeku saat ini.
__ADS_1
"Gue mau bantu lo ingat semuanya," bisik Kendrict menjauhkan wajahnya.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...