Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Minggu Ujian


__ADS_3

Hari ini sampai lima hari ke depan sekolah Hana libur karena anak-anak kelas tiga sedang ujian. Selama liburan Hana manfaatkan untuk belajar di rumah karena setelah ujian berakhir, ganti dirinya yang akan ujian akhir semester.


Namun, terkadang Kendrict juga datang berkunjung. Entah hanya bermain atau belajar bersama yang tentunya dengan paksaan Hana.


"Han, Bunda buat cemilan," ucap Mira membawa sebuah piring berisi kue.


"Makasih, Bun. Nanti Hana makan."


"Ken nggak main ke sini, ya?" tanya Mira.


"Hana nggak tau, Bun."


Mira hanya mengangguk dan segera keluar dari kamar Hana. Beliau tidak ingin mengganggu Hana yang sedang belajar. Sementara itu, Hana kembali melanjutkan aktivitasnya.


Cukup lama Hana belajar di dalam kamarnya, hingga Glen sudah kembali dari sekolah. Mendengar suara motor dari luar membuat Hana meninggalkan kursinya dan berjalan menuju jendela.


Dia melihat Glen yang berjalan lemas masuk ke dalam rumah. Sepertinya sang kakak terlihat sangat lelah. Hana memutuskan untuk turun dengan membawa piring yang telah kosong.


Glen terlihat tiduran di sofa ruang tengah tanpa berganti baju lebih dulu. Hana hanya menggelengkan kepalanya dan segera ke dapur. Beberapa saat kemudian dia kembali untuk menemui Glen.


"Minum dulu, Kak," kata Hana memberikan segelas minuman dingin.


"Thank's," jawab Glen menerima gelas tersebut.


Hana mengangguk dan ikut duduk di sana. Dia menatap Glen yang sedang meminum minuman itu dalam sekali teguk.


"Ujiannya susah, ya?" tanya Hana.


"Susah banget," jawab Glen meletakkan gelas yang sudah tandas isinya itu.


"Susah karena kamu kurang belajarnya, sana ganti baju dulu!" perintah Mira yang tiba-tiba datang.


"Glen udah belajar, Bun. Tapi nggak ada yang masuk ke kepala."


Mira menggelengkan kepala mendengar jawaban Glen. Cowok itu segera masuk ke kamarnya. Mira dan Hana masih bertahan di ruang keluarga. Keduanya sedang melakukan aktivitas masing-masing. Mira membaca-baca majalah yang baru datang hari ini dan Hana bermain dengan ponselnya.


Hana sedikit heran dengan Kendrict yang seharian ini tidak menelpon atau mengirim chat padanya. Tiba-tiba dia kembali teringat bagaimana semua temannya berusaha memisahkannya dengan Kendrict.


Akibat tingkah teman-temannya itu, Hana kesulitan bertemu Kendrict di sekolah. Namun, cowok itu malah rajin datang ke rumahnya. Hana pun berencana untuk menghubungi Kendrict sekarang.


"Dek, ayo ikut gue," ajak Glen yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat Hana.


Hana mendongak begitu juga dengan Mira yang ikut menoleh. Mereka mengernyit melihat Glen membawa tas dipunggungnya.


"Mau ke mana?" tanya Hana.


"Belajar," jawab Glen pendek.

__ADS_1


"Mau belajar di mana memangnya?" ganti Mira yang bertanya.


"Ke cafe, kayaknya Glen butuh suasana baru biar bisa fokus belajar. Cepet siap-siap dulu."


Hana mengangguk dan segera menurut. Sedangkan, Glen duduk di sebelah sang bunda sembari menunggu Hana.


"Memangnya bisa belajar di cafe? Bukannya di sana malah berisik?"


"Bisa, Bun. Pokoknya Glen mau cari suasana baru."


Mira hanya menghembuskan napasnya. "Terserah kamu aja."


Glen bersorak pelan, lalu cowok itu fokus ke ponselnya sembari menunggu Hana. Namun, tidak lama gadis itu sudah kembali.


Keduanya pun pamit pada Mira dan segera pergi ke sebuah cafe. Sebenarnya Hana belum tahu cafe mana yang dimaksud Glen.


Beberapa saat kemudian mereka sampai di sebuah cafe yang belum pernah Hana datangi. Glen segera mengajak Hana masuk ke dalam cafe yang tidak terlalu ramai ini. Mereka memilih salah satu meja di dekat jendela juga yang jaraknya cukup jauh dari keramaian.


"Lo mau pesen apa?" tanya Glen.


"Yang ini aja, Kak," jawab Hana menujuk sebuah menu di buku.


Glen mengangguk dan segera menuju meja pemesanan, tidak lama dia kembali ke mejanya. Sembari menunggu pesanan mereka tiba, Glen mulai mengeluarkan semua buku-bukunya.


"Besok mapel apa?" tanya Hana.


"Semangat, Kak," ucap Hana.


Glen hanya mengangguk seadanya. Tadi Hana juga membawa salah satu bukunya. Jadi sembari menunggu Glen belajar, dia bisa menghabiskan waktunya untuk membaca.


Cowok itu juga sudah larut dengan aktivitasnya. Glen benar-benar fokus belajar, hingga tiba-tiba ada seseorang menyapa Hana.


"Han," panggilnya.


Baik Hana maupun Glen sontak menoleh. Hana sedikit terkejut bisa bertemu dengan Anggun di sini.


"Oh? Hai, Kak," sapa Anggun pada Glen dan ditanggapi anggukan kepala oleh cowok itu.


"Kalian ngapain di sini?" tanya Anggun yang melihat buku berserakan di atas meja.


"Nganter Kak Glen, mau belajar di sini katanya," jawab Hana. Anggun membulatkan mulutnya sebagai jawaban.


"Oke, kalau gitu gue ke sana dulu. Selamat belajar, Kak."


"Lo ke sini sama siapa?"


"Hmm? Gue sendiri."

__ADS_1


"Kalian duduk bareng nggak papa," kata Glen.


Akhirnya Anggun dan Hana duduk di satu meja, sementara Glen duduk seorang diri. Anggun merasa tidak enak telah mengganggu mereka.


"Gue nggak enak nih, Han. Beneran nggak papa?"


"Nggak papa, Nggun. Lagian Kak Glen emang mau belajar di sini."


"Oke," kata Anggun menganggukkan kepala.


"Tumben lo sendiri."


"Lagi pengen aja, Han. Pengen me time," ucap Anggun tertawa kecil.


Hana mendadak terdiam ketika teringat sesuatu. Dia menatap Anggun yang sedang mengaduk-aduk minuman.


"Nggun, gue mau tanya sama lo," kata Hana serius.


"Tanya apa?"


"Lo bener suka sama Adrian 'kan?"


Mendengar pertanyaan Hana membuat Anggun mendadak tersedak. Dia berdehem untuk menetralisir rasa kagetnya.


"Hmm, iya. Tapi gue tau kalo Adrian suka sama lo," kata Anggun menunduk.


Kini ganti Hana yang terkejut. "Tapi gue udah pastiin kalo dia nggak suka gue lagi. Gue mau jadi mak comblang buat kalian."


Anggun menggelengkan kepalanya. "Nggak papa, Han. Gue nggak bisa paksa perasaan Adrian. Gue udah lama perhatiin dia dan gue udah lama tau kalo dia ada perasaan sama lo. Jadi, nggak mungkin perasaan ke lo hilang secepat ini."


Perkataan Anggun membuat Hana terdiam. Anggun menggenggam tangan Hana dan tersenyum.


"Gue bener-bener nggak papa. Lo nggak usah merasa terbebani. Gue cukup gini aja, perhatiin dia dari jauh."


Walau Anggun mengatakan hal tersebut, tapi Hana bertekad untuk membantu Anggun. Fokus keduanya tiba-tiba teralihkan ketika ponsel Hana berdering.


Gadis itu segera mengambil ponsel yang berada di dalam tasnya. Mata Hana membulat ketika membaca layar ponselnya tertera nama si penelpon. Lalu, Hana melirik pada Anggun yang ternyata juga sedang memperhatikannya.


"Gue jawab telpon dulu, Nggun," pamit Hana segera keluar dari cafe dan mencari tempat yang tidak berisik.


"Halo?" sapa Hana begitu panggilan terhubung.


"Han," panggil suara dari seberang sana.


DEG!


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...

__ADS_1


__ADS_2