Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Bermain Bersama


__ADS_3

Ternyata Kendrict tidak asal bicara, cowok itu benar-benar datang tiap hari ke rumah sakit. Ini sudah hari ketiga sejak Kendrict datang menjenguk Hana. Kondisi Hana juga makin membaik, bahkan kemarin gadis itu keluar kamarnya dan berjalan-jalan di taman rumah sakit. Tentu Kendrict yang dengan telaten mendorong kursi rodanya. Sebenarnya Hana bingung dengan tingkah cowok itu sekarang.


“Di sini, Han?” tanya Mira.


Hana mengangguk. Mira pun mengunci kursi roda Hana dan berdiri di sebelah gadis itu. Kini keduanya sedang berada di taman. Suasana taman ini sudah ramai oleh anak-anak yang juga sedang sakit sepertinya. Hari ini sepertinya Kendrict tidak datang kemari, karena hingga saat ini cowok itu belum terlihat batang hidungnya.


“Han, bunda tinggal sebentar nggak apa-apa? Bunda mau ke toilet sebentar, nanti bunda ke sini lagi.”


“Iya, Bun. Hana di sini nunggu bunda.”


Mira pun pergi dari sana dengan berlari kecil, sedangkan Hana menatap anak-anak itu dengan senyum yang mengembang. Seorang anak berjalan menghampirinya dan memberikan bunga yang sudah sedikit layu.


“Buat aku?” tanya Hana pada anak itu.


Anak itu mengangguk tanpa senyum, bibirnya pecah-pecah dan pucat. Hana tersenyum dan terlihat senang mendapat bunga dari anak di depannya ini.


“Terima kasih,” ucapnya.


Anak itu belum pergi, malah duduk di sebelahnya. Sepertinya ingin menemani Hana sekarang. Sementara Hana sedang berpikir mencari topik pembicaraan agar mereka tidak bosan. Namun belum sempat Hana membuka mulutnya, anak itu sudah bertanya padanya.


“Kakak sakit apa? Sakit kepala, ya?” tanya anak itu melihat kepala Hana yang di balut perban.


“Iya,” jawab Hana seadanya, toh jika dia terlalu menjelaskan juga anak itu tidak akan paham.


“Sama kayak Ana. Ana juga sakit kepala.”


“Jadi nama kamu Ana?”


Ana mengangguk. “Nama kakak siapa?”


“Nama kakak Hana. Kamu sudah lama di rumah sakit?”


“Lama, Kak. Dari Ana kecil.”


Hana terdiam mendengar jawaban dari Ana. Apakah anak ini memiliki penyakit serius? Sakit kepala apa yang di maksud anak ini? Hana berusaha menyunggingkan senyumnya.


“Kamu pasti sembuh sebentar lagi.”

__ADS_1


“Iya, Kak. Kata dokter sebentar lagi Ana sembuh, nggak akan sakit kepala lagi. Nanti Ana bisa main sama teman-teman.”


Akhirnya obrolan keduanya mengalir begitu saja. Bahkan anak-anak lain juga mulai bergabung. Ada dua perawat yang mengawasi mereka. Anak-anak itu memang tiap pagi selalu berjemur bersama dan bermain bersama agar tidak bosan selama berada di rumah sakit.


Hana juga diberitahu oleh para perawat itu jika anak-anak ini mengidap kanker atau tumor. Kini Hana paham apa yang Ana maksud tadi. Hana dan anak-anak bermain bersama.


Gadis itu membacakan buku yang tadi perawat itu bawa. Hari ini memang rencananya perawat itu hendak membacakan buku untuk mereka dan Hana menawarkan diri untuk membacanya.


Tanpa Hana sadari dari jarak yang cukup dekat, ada Mira dan Kendrict berdiri di sana. Keduanya melihat interaksi Hana dan anak-anak itu. Mira tersenyum bangga pada putrinya itu. Sementara Kendrict mematung melihat bagaimana Hana tertawa lepas bersama anak-anak itu.


“Tante, biar nanti Hana sama Ken aja. Tante boleh duluan ke kamar Hana.”


Mira mengangguk. “Tante titip Hana, ya?”


Kendrict mengangguk dan kembali mengalihkan pandangannya pada Hana. Cowok itu berjalan menghampiri Hana dengan senyuman yang terlihat kaku.


“Lagi pada main apa?” tanya Kendrict.


Serempak semua menoleh. Hana terlihat paling terkejut, sementara Kendrict hanya nyengir. Cowok itu ikut duduk bersama anak-anak yang lain.


“Gue kira lo nggak datang hari ini,” kata Hana pada Kendrict.


“Dih, jangan kepedean. Cuma tumben aja.”


“Kakak temannya Kak Hana?” tanya seorang anak pada Kendrict.


“Pasti pacalnya, ya?” tanya anak lain yang masih cadel.


“Cie ….”


Hana membulatkan matanya mendengar sorakan itu, sedangkan Kendrict hanya terkekeh setelah mendengar ucapan anak itu. Entah mengapa suara anak itu terdengar lucu di telinganya.


Setelah puas bermain, mereka diminta untuk kembali ke kamar masing-masing. Ada rasa kecewa yang ditunjukkan anak-anak itu, mereka tidak ingin berpisah dengan Hana. Namun, anak-anak itu tetap harus kembali karena harus menjalani pemeriksaan. Akhirnya Hana berjanji pada mereka jika nanti akan berkunjung, juga mereka boleh berkunjung ke kamarnya.


“Dadah.” Hana melambaikan tangan pada mereka.


“Seneng amat, Bu,” ledek Kendrict.

__ADS_1


Senyum Hana pudar disertai dengusan sebal. Kendrict tertawa melihat respon dari gadis itu. Kini mereka juga kembali ke kamar Hana. Hari ini sangat membahagiakan untuk Hana. Dia tidak akan pernah melupakan momen seperti ini.


“Lo nggak belajar? Minggu depan udah ujian lho,” kata Hana.


“Gue nggak suka belajar, lebih suka berantem.”


“Terserah lo deh,” kata Hana menyerah pada Kendrict.


“Apa nih? Lo jadi perhatian sama gue.”


“Ngarang, gue cuma ingetin.”


“Iya deh, terserah bu pacar aja.”


“Ken, jangan ngaco lo!”


Kendrict tertawa melihat wajah kesal Hana, dia juga merasa puas telah mengerjai gadis itu. Kamar rawat Hana sudah makin dekat.


Kini keduanya sudah sampai di depan kamar rawat Hana. Kendrict membukakan pintu untuk Hana. Setelahnya, dia mendorong kursi roda Hana. Namun, langkah cowok itu terhenti ketika mendengar Mira yang sedang berbicang bersama dengan Glen. Keduanya tidak menyadari jika ada Hana dan Kendrict di sana.


Ekspresi Glen terlihat sangat marah saat ini, cowok itu berdiri di hadapan Mira. Sementara Mira telah berurai air mata. Tentu pemandangan itu membuat Hana maupun Kendrict mengernyitkan dahi. Mereka kompak bertanya-tanya, ada apa dengan kedua orang itu? Hana hendak bertanya, tapi urung ketika mendengar ucapan Glen yang membuatnya membeku.


“Bun, jangan lagi terlalu peduli sama si pembunuh itu! Dia membunuh bundanya dan lihat, tanpa ada beban dan dosa bisa tertawa lepas kayak gitu. Bunda nggak pikirin gimana perasaan ayah? Lihat ayah yang selalu ingat kalo lihat wajah pembunuh itu,” kata Glen menggebu-gebu.


PLAK!


“Hana bukan pembunuh! Jangan pernah sebut dia sebagai pembunuh!” bentak Mira setelah menampar pipi Glen.


DEG!


Jantung Hana berdetak kencang. Apa maksud Mira dan Glen? Siapa yang mereka maksud? Apakah dirinya? Apa dia pernah membunuh seseorang? Pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul dalam kepala Hana.


“Kalau saja bundanya nggak selamatin dia, pasti nggak akan meninggal ….”


“Berhenti, Glen! Bunda nggak pernah didik kamu untuk menjadi anak yang seperti ini! Semua sudah takdir! Kita tidak bisa menyalahkan takdir yang telah terjadi.”


“Bela aja terus! Bela terus si pembunuh itu!” teriak Glen dan hendak pergi dari sana. Namun, langkahnya terhenti melihat Hana sedang menatapnya.

__ADS_1


“Hana!” panggil Kendrict dan Mira bersamaan ketika melihat gadis itu jatuh pingsan.


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...


__ADS_2