
Hari ini adalah hari Senin, anak-anak telah berbondong-bondong menuju lapangan untuk mengikuti upacara. Sementara Hana sedang berkeliling untuk memastikan para siswa tidak ada yang membolos. Tidak hanya Hana, beberapa anggota OSIS juga bertugas untuk mengecek seluruh area sekolah. Sayup-sayup telah terdengar suara dari lapangan, sepertinya upacara bendera sudah dimulai.
Kini Hana sedang berada di area belakang sekolah, di mana sering ada anak yang bersembunyi di tempat ini. Langkah Hana terhenti ketika matanya melihat ada seorang anak yang sedang berusaha memasuki area sekolah dengan cara melompat pagar.
HAP!
Anak itu berhasil turun dengan selamat. Hana segera berjalan mendekat untuk melihat siapa anak yang terlambat. Sementara anak itu sedang memperhatikan sekitarnya, memastikan jika keadaan aman.
“Lo! Terlambat! Ke lapangan sekarang!” perintah Hana tegas.
Anak itu seketika terdiam mematung, ternyata ketahuan. Hana mendekat, setelah tahu siapa anak itu, dia hanya menggelengkan kepalanya.
“Lo lagi, lo lagi. Ke lapangan sekarang!” perintah Hana.
Gadis itu segera menulis nama anak itu di buku catatannya. Hana mendongak karena tidak ada pergerakan dari anak itu.
“Ken! Ke lapangan sekarang!”
“Ogah,” jawab Kendrict dan segera berlalu dari hadapan Hana.
Tentu Hana tidak tinggal diam, dia mengikuti langkah Kendrict. Berencana untuk membawa cowok itu ke lapangan dan selesai upacara nanti, mereka semua yang terlambat atau yang melanggar akan diberi hukuman. Kendrict menoleh ke belakang dan mendapati Hana sedang mengejar dirinya.
“Ah, ****!” umpat Kendrict dan dia segera berlari menghindar.
Hana yang melihat Kendrict makin kencang berlari pun tidak tinggal diam, gadis itu sekuat tenaga tidak melepaskan cowok itu. Dia bertekad jika hari ini harus berhasil menangkap Kendrict dan menyerahkannya pada guru BK.
“Ken! Berhenti lo!” teriak Hana membuat beberapa orang menoleh padanya.
Kebetulan Kendrict berpapasan dengan salah satu anggota OSIS. Hana segera meminta mereka untuk menahan Kendrict. Namun, gagal. Cowok itu malah makin kencang berlari dan sengaja menubruk satu anggota OSIS itu hingga jatuh tersungkur. Hana membulatkan matanya dan segera menghampiri anak OSIS itu.
“Lo nggak papa?” tanya Hana membantu anak itu berdiri.
“Nggak apa-apa, Han. Sorry, gue nggak berhasil nahan dia,” jawab anak itu merasa bersalah.
__ADS_1
Hana menggelengkan kepalanya. “Bukan salah lo kok. Ayo gue anter ke UKS. Obatin siku lo.”
Lagi-lagi Kendrict berhasil lolos. Cowok itu segera menuju tempat persembunyiannya, yaitu di atap sekolah yang memang telah di tutup. Tidak ada seorang pun yang diperbolehkan naik ke sana. Namun, sejak tahun lalu Kendrict bersama dengan gengnya menyatakan jika atap ini adalah markas mereka selain di depan gudang sekolah.
“Selamet gue,” gumam Kendrict jatuh terduduk, dia melempar tasnya ke sembarang tempat.
Keringat cowok itu membasahi seluruh tubuhnya. Kendrict melepas kemejanya dan membiarkan angin berhembus menerpa tubuhnya yang dibalut kaos hitam tipis.
“Si Putra ke mana dah, tadi katanya nunggu di sini,” gumam Kendrict.
Cowok itu mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan beberapa kata, lalu mengirimnya pada Putra. Menunggu balasan dari Putra, Kendrict merebahkan tubuhnya di tempat ini. Beruntung saat ini sedang mendung, jadi dia tidak perlu khawatir tentang terik matahari yang dapat membakar kulit.
TING!
Suara notifikasi dari ponsel Kendrict membuat cowok itu segera mengeceknya. Balasan dari Putra.
“Gue di dalem gudang. Bro, temennya Nita bocorin markas kita. Dia ketangkep tadi,” balas Putra.
Kendrict menggenggam erat ponselnya dan umpatan lolos begitu saja dari mulutnya. Cowok itu benar-benar kesal pada anak yang telah memberitahu anak OSIS di mana markasnya.
Kendrict menoleh ketika terdengar suara langkah kaki mendekat. Tidak lama pintu yang menghubungkan atap ini terbuka lebar. Kendrict mendengus kesal melihat orang-orang itu. Mereka adalah Hana, beberapa anak OSIS, dan guru bagian kesiswaan. Padahal yang ada di sini hanya Kendrict. Kenapa untuk menangkap satu orang membutuhkan pasukan yang luar biasa seperti ini?
“Ken! Ikut saya sekarang!” perintah guru itu setelah melihat keberadaan cowok itu.
Kendrict mendengus dan akhirnya menyerahkan diri pada mereka. Pasti setelahnya atap akan kembali di tutup yang artinya Kendrict beserta teman-temannya harus mencari markas baru. Cowok itu digiring menuju lapangan, berkumpul dengan pelanggar yang lain.
“Nggak ada diskon buat gue?” tanya Kendrict yang berjalan berdampingan dengan Hana.
“Nggak ada!” jawab Hana tegas.
“Tega bener lihat pacarnya dihukum,” gumam Kendrict dengan ekspresi dibuat semelas mungkin.
Hana hanya memutar bola matanya malas, sementara anak-anak yang mendengar gumaman Kendrict berdehem dengan tujuan menggoda Hana.
__ADS_1
Mereka telah sampai di lapangan. Hana segera menyuruh Kendrict untuk bergabung dengan anak-anak yang lain. Sementara Hana bergabung dengan barisan anak-anak OSIS. Upacara hampir selesai dan beruntung berjalan dengan lancar tanpa ada kendala. Namun sayang, cukup banyak anak yang melanggar tata tertib.
Setelah upacara berakhir, anak-anak yang melanggar diberi hukuman. Guru BK, bagian kesiswaan, dan guru piket yang menentukan hukuman untuk anak-anak nakal itu. Sedangkan para anak OSIS hanya bertugas mengawasi. Hukuman itu bermacam-macam, mulai dari lari mengelilingi lapangan, hingga membersihkan area sekolah.
“Mana Devi?” tanya Kendrict ngegas.
Sementara anak yang bernama Devi mencoba untuk menyembunyikan diri dari Kendrict. Devi adalah teman Nita yang tadi memberitahukan markas geng Kendrict. Devi terpaksa melakukannya karena dia terus disudutkan oleh anak-anak OSIS.
“Keluar lo!” bentak Kendrict.
“Sorry, Ken. Gue terpaksa beritahu mereka,” ucap Devi takut-takut.
“Sini lo!” perintah Kendrict meminta Devi untuk mendekat.
Namun, Devi menggeleng. Gadis itu ngeri melihat kemarahan Kendrict, apalagi cowok itu memegang sapu saat ini. Melihat Devi yang tidak mau menurut, Kendrict merangsek maju hendak menyerang gadis itu.
“Heh! Ken, lo mau apa? Devi cewek, heh!”
Anak-anak cowok yang ada di sana segera menahan Kendrict agar tidak mendekat pada Devi. Sementara Devi sudah menangis ketakutan. Melihat adanya keributan, anak-anak OSIS segera melaporkannya pada guru BK.
“Argh, ****!” umpat Kendrict.
Kendrict berakhir di ruang BK. Duduk berhadapan dengan guru BK dan sedang mendengarkan petuah dari guru itu. Tidak jauh dari tempat duduk cowok itu, Hana berdiri menunggu hingga guru itu telah selesai memberikan nasehat untuk cowok nakal itu.
“Hukuman kamu akan saya tambah. Sepulang sekolah, kamu membantu Pak Udin menyapu taman belakang sekolah. Hana! Kamu awasi Ken. Laporkan pada saya jika dia kabur atau berbuat curang.”
“Baik, Pak,” jawab Hana patuh.
Kendrict langsung melayangkan tatapan tajam pada Hana, tapi gadis itu sama sekali tidak peduli. Mereka berdua diperbolehkan untuk kembali ke kelas masing-masing.
“Inget hukuman lo pulang sekolah nanti, jangan coba-coba ….”
Belum sempat Hana menyelesaikan perkataannya, Kendrict sudah berlalu dari sana. Hal itu membuat Hana mengelus dada dan menggelengkan kepalanya. Dia pun segera masuk ke dalam kelas, karena pembelajaran sudah dimulai sejak satu jam yang lalu.
__ADS_1
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...