
Hawa dingin menusuk tubuh Hana. Gadis itu menggosok kedua tangannya untuk mencari rasa hangat. Ia menatap lurus ke depan, memperhatikan rintikan air yang turun membasahi tanah.
"Dek, hari ternyata gue ada les. Lo gue antar pulang dulu, ya?"
Hana menoleh dan mendapati Glen dengan ekspresi bingungnya berdiri disampingnya. Bel pulang sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu. Namun, karena hujan banyak siswa yang masih bertahan di sekolah.
"Nggak usah, Kak. Nanti Hana bisa pulang sendiri."
"Gue pesenin ojol, ya?" tawar Glen.
"Hana nanti bisa pesen sendiri. Kak Glen kalau mau les berangkat aja, nanti malah telat."
"Beneran nggak papa?" tanya Glen bimbang.
Hana mengangguk mantap sebagai jawaban. Akhirnya Glen pamit dari sana dan segera menuju tempat parkir. Cowok itu memang sedang disibukkan dengan berbagai les.
Kelas tiga sudah mulai fokus pada pelajaran mereka karena ujian sekolah sudah di depan mata. Mereka harus serius agar mendapat nilai yang cukup untuk melanjutkan studi.
Cukup lama Hana menunggu hujan sedikit reda. Namun, masih tetap sama. Hana malah takut jika nanti hujan bertambah lebat. Langit mulai gelap, lebih gelap dari pada tadi.
Anak-anak yang lain pun juga lebih menerobos hujan. Mereka berlari dengan cepat menuju tempat parkir. Namun, ada beberapa yang dijemput atau naik ojol.
Hana memutuskan untuk pulang sekarang. Sebenarnya dia membawa payung, tapi Hana takut pulang karena tadi angin berhembus kencang.
Gadis itu memutuskan untuk berjalan kaki hingga rumah. Hana ingin hujan-hujanan saat ini. Sudah lama dia tidak merasakan pulang dari sekolah sembari menikmati sekitarnya, karena selama ini dia pergi dan pulang bersama dengan Glen.
Namun, ternyata langit sedang tidak bersahabat dengan Hana. Tiba-tiba banyak kilat yang menyambar disertai petir menggelegar. Hana menghentikan langkahnya karena kaget mendengar gelegar petir itu.
Jantungnya berpacu cepat dan tubuhnya gemetar ketakutan. Tidak ada pejalan kaki lain di sekitar Hana. Dia bimbang, ingin kembali ke sekolah atau melanjutkan perjalanannya. Namun, Hana terlalu takut jika sekarang memaksakan pulang ke rumah.
TIN!
Suara klakson membuyarkan kebimbangan Hana. Dia menoleh dan melihat kaca depan mobil itu diturunkan. Seseorang di dalam mobil itu menyuruhnya untuk lekas masuk.
"Kenapa lo hujan-hujanan? Glen ke mana?"
__ADS_1
"Kok lo bisa di sini, Ken?" tanya balik Hana menatap Kendrict.
Cowok itu berdecak sebal. "Kebiasaan, gue duluan yang tanya. Lo jawab, baru boleh tanya."
"Kak Glen les hari ini. Tadinya gue mau jalan kaki, tapi ternyata ...."
CTARR!!
Suara petir yang menggelegar menghentikan perkataan Hana. Dia segera menutup mata dan telinganya. Kendrict yang melihat tubuh Hana gemetar langsung memikirkan ide cemerlang.
Cowok itu membawa Hana ke dalam pelukannya. Kendrict tertawa girang tanpa suara. Hana tersadar dengan posisinya dan berusaha melepas pelukannya. Namun, suara petir kembali terdengar bersautan.
"Sstt, nggak papa. Tenang aja, lo aman. Ada gue," hibur Kendrict menepuk-nepuk punggung Hana.
Kali ini Hana benar-benar tersadar, dia merasa jika Kendrict sedang mencari kesempatan padanya. Dia pun mendorong tubuh besar cowok itu.
"Lo modus, ya?" tanya Hana melotot.
"Kok modus? Gue cuma mau hibur lo, tadi lo takut suara petir," jawab Kendrict tanpa dosa.
"Eh? Maaf, Ken. Mobil lo jadi basah," kata Hana.
Kendrict melirik ke samping melihat apa yang dimaksud gadis itu. "Jangan dipangku. Di dashboard ada kantong plastik, lo ambil buat payung lo."
Hana menurut dan segera membuka dashboard itu. Benar apa yang dikatakan Kendrict, ada beberapa kantong plastik di dalam sana. Hana mengambil satu untuk payungnya.
"Ini bukan jalan ke rumah gue," ucap Hana ketika menyadari mobil yang Kendrict kendarai tidak melewati jalan pulang ke rumahnya.
"Hujan-hujan gini makan bakso enak, Han. Kebetulan gue juga laper, kita makan dulu," jawab Kendrict tersenyum memamerkan deretan giginya.
Hana hanya menghembuskan napasnya dan menuruti kemauan Kendrict. Dia mengalihkan pandangannya keluar jendela. Beruntung petir dan kilat sudah tidak terdengar. Namun, hujan masih belum menunjukkan tanda untuk berhenti.
Mobil Kendrict berhenti di depan sebuah warung bakso yang cukup ramai. Hana pernah ke warung ini bersama Kendrict. Dia menatap datar warung tersebut, dulu Hana pernah ditinggal Kendrict ketika di warung ini.
"Ayo, turun," ajak Kendrict. "Gue ada payung, punya lo tinggal di sini aja."
__ADS_1
Kendrict sudah keluar dan segera membukakan pintu sebelah. Hana pun keluar dari mobil Kendrict. Mereka berjalan bersama masuk ke dalam warung itu.
"Lo nggak bakal ninggalin gue kayak dulu 'kan?" tanya Hana mengantisipasi.
"Ckck, nggaklah. Lo duduk di situ aja, gue pesen dulu," jawab Kendrict.
Hana menurut dan duduk di salan satu kursi yang masih kosong. Tidak lama Kendrict menyusul dengan membawa dua gelas minuman. Satu gelas berisi es jeruk, sedangkan yang satunya berisi teh hangat. Teh hangat itu Kendrict berikan pada Hana.
"Diminum, Han. Biar nggak kedinginan," ucap Kendrict.
Hana hanya mengangguk. Entah mengapa perhatian yang Kendrict berikan membuat jantungnya kembali berdegub. Teh hangat itu masuk ke dalam perut Hana, membuat oerutnya terasa hangat. Namun tidak hanya perutnya, hatinya juga ikut merasa hangat.
"Sini, Pak!" panggil Kendrict kepada penjual bakso yang sedang kebingungan mencari meja.
"Makasih, Pak," kata Kendrict. "Dimakan, Han. Lo nggak alergi bakso 'kan?"
"Nggaklah, ada-ada aja lo," jawab Hana berusaha tetap tenang.
Hana mulai menikmati baksonya. Rasanya sangat enak, apalagi dimakan ketika hawa dingin seperti ini. Suasana ramai warung ini tidak terlalu mengganggu.
"Enak 'kan? Sayang waktu itu lo nggak sempet cobain," tanya Kendrict.
Hana hanya mengangguk seadanya, dia tidak ingin berlama-lama menatap wajah cowok didepannya. Tentu hal itu Hana lakukan untuk mengamankan rasa gelisahnya. Dia kembali berusaha fokus pada makanannya.
Berusaha sekuat tenaga untuk tidak mendongakkan kepalanya menatap wajah Kendrict. Walau terkadang Kendrict mengajaknya mengobrol, Hana hanya menanggapi seadanya. Tentu hal tersebut membuat Kendrict heran. Dia heran karena mendadak gadis didepannya ini menjadi pendiam.
Namun, Kendrict merasa senang melihat Hana makan dengan lahap. Setelah keluar dari rumah sakit, mereka baru bisa bertemu sekarang. Dan Kendrict dapat mencuri waktu menghabiskan momen bersama Hana.
Kendrict tersenyum senang menatap wajah Hana. Mengabaikan bakso dimangkoknya. Sementara Hana yang mulai jengah diperhatikan oleh Kendrict pun memberanikan diri untuk balas menatap cowok itu. Namun, ternyata sebuah kesalahan hal yang Hana perbuat itu.
UHUK!!
Spontan Hana tersedak kuah bakso ketika melihat senyum manis Kendrict. Wajah Hana seketika merah padam.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...
__ADS_1