
BRUK!
Kendrict jatuh berlutut, tangannya berusaha menopang tubuhnya. Suara pekikan Zakia tidak membuat Malik berhenti menghajar putranya. Kendrict masih diam menerima segala pukulan.
Darah segar menetes dari hidung Kendrict, menodai lantai berlapis marmer putih. Melihat hal tersebut membuat Zakia makin panik. Walau wanita tersebut jarang memperhatikan putra satu-satunya ini, tapi ibu mana yang tega melihat sang anak dihajar habis-habisan oleh ayah kandungnya sendiri.
"Malik! Sudah cukup!" teriak Zakia, berusaha menahan sang suami agar berhenti.
Malik yang sudah diliputi emosi menepis kasar tangan Zakia yang berusaha menghentikannya. Pagi tadi Malik kembali mendapat laporan tentang Kendrict yang lagi-lagi membuat ulah.
Selama ini dia sudah cukup bersabar menghadapi anak yang selalu saja mencoreng nama baiknya. Namun, kali ini Malik tidak bisa membiarkannya begitu saja.
BUGG!
Kembali Malik memukul Kendrict. Tubuh anak itu terpental mundur, wajah tampan Kendrict berlumuran darah. Zakia memandang ngeri Kendrict, tangisnya pecah seketika.
"Apa kalian hanya mau menonton, Hah?" bentak Zakia kalut pada orang-orang dengan setelan jas yang berdiri di depan pintu.
"Cepat pisahkan mereka!" perintah Zakia pada orang-orang itu.
Mendapat perintah, mereka langsung melaksanakan perintah tersebut. Zakia berlari mendekati Kendrict yang sudah terkapar lemas. Selama menghajarnya, Malik tidak mengucapkan sepatah kata pun. Tidak seperti biasanya.
Zakia memeluk putranya dengan tangis yang menjadi. Namun, Kendrict menepis pelukan tersebut.
"Nanti baju Mama kotor, habis ini Mama 'kan mau pergi kerja," ucap Kendrict susah payah menahan rasa sakit diwajahnya.
"Obatin luka kamu. Ayo ke rumah sakit sekarang," kata Zakia tidak mempedulikan ucapan Kendrict tadi.
"Nggak perlu, Ken bisa obatin sendiri. Papa dan Mama pasti sibuk, nanti kalian terlambat."
Kendrict berusaha berdiri dengan susah payah. Mendengar perkataan Kendrict membuat Malik kembali meradang, tapi berbeda dengan Zakia yang terdiam membeku ditempatnya. Wanita tersebut merasa tertampar mendengar perkataan putranya.
Kendrict berjalan keluar dari rumah megah itu seorang diri. Ia merogoh sakunya dan segera menghubungi seseorang. Kendrict berjalan sempoyongan menyusuri jalanan yang sudah sepi ini.
BRUKK!
__ADS_1
Kendrict jatuh terduduk karena sudah tak kuat menopang tubuhnya. Tidak lama ada sorot lampu yang menyilaukan mata. Kendrict berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat. Seseorang keluar dari mobil dan berlari menghampiri Kendrict.
"Astaga gue kira lo lagi mabuk. Kenapa muka lo bonyok gini?"
"Nggak usah banyak tanya lo, cepet bawa gue ke rumah sakit sebelum pingsan di sini. Nanti lo sendiri yang repot."
Putra segera membantu Kendrict berjalan menuju mobilnya. Setelah masuk ke dalam mobil, Putra segera mengendarai mobil tersebut menuju rumah sakit terdekat.
Beberapa saat kemudian mereka sampai. Melihat ada pasien, seorang satpam segera menghampiri mereka. Satpam tersebut membawa kursi roda untuk Kendrict.
"Ckck, padahal gue pengen rebahan," gumam Kendrict disertai ringisan.
Mendengar hal tersebut membuat Putra tanpa sadar memukul belakang kepala sahabatnya. "Udah bagus lo nggak diseret masuk."
Kendrict dibawa masuk ke UGD, sementara Putra mengekor dari belakang. Namun, cowok itu diminta untuk mengurus administrasi terlebih dulu. Jadi, terpaksa Putra meninggalkan Kendrict.
Selesai mengurus semuanya Putra kembali lagi, tapi cowok itu tidak menemukan keberadaan Kendrict. Kata dokter Kendrict sedang dibersihkan lukanya, jadi Putra memilih menunggu di luar.
Sebenarnya Putra sudah terbiasa melihat wajah babak belur Kendrict. Dia sudah tahu bagaimana watak Malik. Putra pernah bertemu dengan orang tua Kendrict sekali ketika dia sedang bermain di rumah mereka.
Kesan pertama Putra terhadap kedua orang tua Kendrict adalah menyeramkan. Dia mengkeret ketika itu saat berhadapan dengan Malik. Tatapan tajam Malik mampu membuat bulu kuduk Putra meremang.
Putra akan memberi keterangan jika Kendrict baru mengalami kecelakaan. Sebenarnya Kendrict yang memintanya mengatakan hal tereebut jika ditanya oleh pihak rumah sakit. Ternyata Kendrict tidak ingin jika sang ayah berurusan dengan hukum akibat dirinya.
"Kamu temannya Ken?" tanya seseorang membuyarkan lamunan Putra tentang Kendrict.
Spontan Putra berdiri dari duduknya setelah tahu siapa yang bertanya padanya. Cowok itu mengkeret melihat orang-orang yang berdiri didepannya. Putra hanya mengangguk kaku sebagai jawabannya.
"Di mana dia?" tanyanya lagi.
"Di..., di dalam," jawab Putra terbata dengan jarinya menunjuk pintu masuk UGD.
Tidak ada jawaban lagi, mereka langsung masuk ke dalam tanpa mempedulikan Putra. Melihat kepergian mereka, membuat Putra bernapas lega. Dia kembali duduk. Namun, ada perasaan tidak tenang karena kedatangan orang tua Kendrict tadi.
"Semoga si gila aman-aman aja," gumam Putra.
__ADS_1
Cukup lama Putra menunggu hingga akhirnya rombongan orang tua Kendrict kembali keluar. Jantung Putra berdebar ketika Malik berjalan mendekat kearahnya. Rasanya Putra ingin langsung kabur dari sini daripada harus berhadapan dengan Malik.
"Ini buat kamu," kata Malik mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku celananya. "Kamu bisa pulang sekarang," lanjutnya.
Putra melihat uang yang Malik sodorkan didepannya. Harga diri Putra sedikit tersentil dengan perilaku Malik.
"Nggak perlu, Om," kata Putra setelah menemukan keberaniannya.
"Kurang uangnya? Anggap ini sebagai imbalan karena sudah mengantar Ken ke rumah sakit," kata Malik kembali merogoh sakunya.
"Bukan itu. Saya tidak memerlukan uang ini, saya mengantar Ken karena hanya saya yang diminta untuk mengantar dia. Bukan karena saya menginginkan imbalan seperti ini," ucap Putra menatap wajah Malik.
"Orang tua saya masih mampu memberikan uang untuk saya," lanjutnya.
Suasana mendadak hening, dalam hati Putra merutuki dirinya sendiri. Bertanya-tanya dalam hati apakah dia telah salah berkata?
"Kalau begitu saya pamit. Semoga Ken lekas sembuh...."
'Sembuh fisik dan mentalnya,' lanjut Putra dalam hati.
Cowok itu segera pergi dari sana tanpa mempedulikan orang tua Kendrict. Putra sangat paham bagaimana rasanya memiliki orang tua seperti Kendrict. Hari ini dia berhadapan langsung dengan mereka.
"Ckck, emang orang kaya gitu, ya? Apa-apa diselesaiin dengan uang," gumam Putra masuk ke dalam mobilnya.
"Bapak gue juga kaya, tapi tingkahnya nggak kayak gitu," katanya heran.
Ponsel Putra berdering membuat cowok itu kaget. Lagi-lagi jantung cowok itu berdegub kencang, baru saja dia memikirkan ayahnya. Kini beliau langsung menelponnya.
"Halo?" sapa Putra.
"Ke mana aja jam segini masih keluyuran? Nggak usah pulang sekalian! Anak bapak masih banyak, nggak cuma kamu!" teriak suara dari seberang sana hingga membuat Putra harus menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Iya, Pak. Ini mau pulang," ucap Putra membenarkan letak kacamatanya.
"Setengah jam belum sampai, tidur di luar kamu!"
__ADS_1
Telpon tersebut diputus secara sepihak, membuat Putra mengelus dadanya.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...