
Kendrict menatap tidak suka pada cowok di depannya ini. Dia segera mematikan rokoknya dan membuang asal putung rokok itu. Cowok itu adalah Aldi, dia menatap Kendrict dengan tatapan meremehkan. Namun, tiba-tiba dia teringat kejadian tadi siang. Aldi berdehem sebelum mengutarakan rasa penasarannya.
“Lo beneran pacaran sama Hana?” tanya Aldi.
“Kenapa? Cemburu lo?”
“Bukan urusan lo. Jawab aja pertanyaan gue tadi.”
Kendrict hanya menjawab dengan senyuman yang menurut Aldi sangat menyebalkan. Sepertinya dia salah bertanya pada cowok bengal itu. Harusnya dia bertanya langsung pada Hana. Benar, besok dia akan menemui cewek itu.
Suara mesin motor membuyarkan lamunan Aldi, dia menoleh dan melihat Kendrict sudah pergi dari sana. Akhirnya cowok itu juga memutuskan untuk pulang. Hari sudah gelap dan Aldi sudah merasa lelah dengan kegiatannya seharian ini.
Dari tempat ini menuju rumahnya tidak terlalu jauh, rumah Aldi juga masih satu kompleks dengan Kendrict. Sesampainya di rumah, kesunyian menyapa Aldi. Sebenarnya keadaan cowok itu tidak berbeda jauh dengan Ken. Keduanya sama-sama memiliki orang tua yang super sibuk dengan pekerjaan. Jarang berada di rumah, meninggalkan sang anak sendirian.
Aldi memutuskan untuk segera mandi untuk melepas kepenatannya. Beberapa menit kemudian cowok itu selesai mandi dan berjalan menuju dapur untuk mencari sesuatu yang dapat dimakan. Perutnya sudah keroncongan sejak tadi. Sebenarnya Aldi tadi sudah ditawari makan oleh pamannya, tetapi dirinya menolak dengan alasan ingin makan di rumah saja.
“Nggak ada apa-apa ternyata,” gumam Aldi setelah melihat isi kulkas juga lemarinya.
Akhirnya dia memutuskan untuk membeli makanan di luar. Namun, Aldi masih belum tahu hendak membeli makanan apa untuk makan malamnya hari ini. Sebuah ide terlintas dalam benak cowok itu. Aldi segera bergegas mengambil hodie dan kunci motornya. Lalu, dia keluar dari rumah. Memacu motornya menuju ke suatu tempat.
Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Beberapa menit saja dia sudah sampai di tempat tujuan. Setelah memarkirkan motornya di depan sebuah minimarket, Aldi pun berjalan menghampiri penjual nasi goreng yang selalu mangkal di tempat ini.
“Pak, pesan nasi gorengnya satu. Jangan terlalu pedes,” ucap Aldi.
“Siap, Mas. Mau pakai telur?”
“Tidak usah, Pak. Sayurnya saja yang dibanyakin.”
Penjual nasi goreng itu mengangguk menurut, sembari menunggu Aldi duduk di depan minimarket. Di sana ada beberapa kursi beserta meja yang tersedia, tempat yang cukup nyaman untuk nongkrong. Aldi mengeluarkan ponsel, sepertinya dia tidak akan bisa menunggu hingga besok untuk bertemu dengan Hana.
“Lho? Aldi? Ngapain lo di sini?” tanya sebuah suara.
Aldi yang tadi fokus pada ponselnya pun mendongak, matanya membulat melihat siapa yang saat ini berdiri di depannya. Dia adalah sosok yang sejak tadi singgah dalam benaknya.
“Padahal gue mau chat lo,” ucap Aldi menampilkan senyumnya.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Hana mengernyitkan dahinya.
Akhirnya Hana juga ikut duduk bersama dengan Aldi. Tadi memang gadis itu hendak membeli nasi goreng. Hari ini ARTnya mendadak pamit pulang karena harus merawat sang anak yang sedang opname di rumah sakit. Jadi Hana berencana membeli nasi goreng untuk menu makan malamnya hari ini.
“Han, gue mau tanya sesuatu sama lo.”
“Apa?”
“Mas, Mbak, silakan dimakan. Sekalian sambil ngobrol,” ucap Pak Man meletakkan dua piring berisi nasi goreng yang masih mengepulkan uapnya.
“Terima kasih, Pak,” ucap Hana dan Aldi bebarengan.
Hana mengambil satu kerupuk sebagai pembuka acara makannya. Sementara Aldi masih memperhatikan gerak-gerik gadis didepannya ini.
“Lo mau tanya apa?” tanya Hana.
“Lo beneran pacaran sama Ken?”
Kernyitan di dahi Hana kembali muncul. “Nggak, gue nggak pacaran sama Ken. Tadi siang Ken cuma ngomong asal aja.”
Ada hembusan napas lega yang tak kentara keluar dari mulut Aldi. Senyum cowok itu makin lebar dan dia mulai menikmati nasi gorengnya dengan lahap. Dia merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi saat ini.
Awal bertemu kembali memang keduanya terlihat masih canggung, tapi sepertinya saat ini mereka terlihat seperti teman lama yang baru bertemu kembali. Piring milik Aldi sudah kosong, sementara Hana masih menikmati tiap suapan nasi gorengnya.
Gadis itu juga sesekali bercerita tentang kegiatan OSIS disekolahnya. Maklum keduanya sama-sama anak OSIS jadi obrolan keduanya nyambung.
“Hm, kenyang,” ucap Hana setelah berhasil menghabiskan nasi gorengnya.
“Lo mau langsung pulang?” tanya Aldi.
“Hm? Iya, masih ada tugas yang belum gue kerjain.”
“Masih rajin ternyata dan nggak suka menunda tugas,” kata Aldi.
Mendengar perkataan Aldi barusan, mendadak Hana menjadi malu. Ternyata kebiasaannya itu masih diingat dengan baik oleh cowok didepannya ini.
__ADS_1
“Ayo, gue anter lo pulang. Lo tadi jalan kaki ‘kan?”
“Emm, iya. Tapi lo nggak perlu repot anter gue, rumah gue deket dari sini.”
“Gue masih inget rumah lo, kok,” ucap Aldi tersenyum.
Hana sudah menolak Aldi yang berniat mengantarnya. Namun, cowok itu tetap bersikeras mengantar Hana, bahkan tadi ketika membayar nasi goreng keduanya terlibat pertengkaran kecil.
Jika Pak Man tidak melerai, mungkin pertengkaran mereka makin besar. Kini keduanya sedang berjalan kaki menuju rumah Hana. Aldi meninggalkan motornya di minimarket dan memutuskan untuk mengantar Hana dengan berjalan kaki.
Sebenarnya Hana memang menolak Aldi dengan alasan ingin menurunkan makanan yang tadi dimakannya dengan berjalan kaki. Malah tak disangka jika cowok itu tetap keras kepala dan menemaninya.
“Kenapa lo keras kepala banget sih? Udah gue bilang nggak perlu repot antar gue segala.”
“Gue juga mau turunin makanan, jadi sekalian aja,” jawab Aldi.
Hana menghembuskan napas pasrahnya, dia tidak akan menang jika berdebat dengan Aldi. Akhirnya dia membiarkan cowok itu mengantarnya hingga sampai di depan rumah.
“Lho? Lo di rumah sendiri?” tanya Aldi.
“Iya, hari ini Mbak Jum harus pulang. Anaknya sakit,” jawab Hana.
Aldi mengangguk paham, dia pun berpesan pada Hana agar berhati-hati di rumah seorang diri. Cowok itu pergi setelah memastikan Hana masuk ke dalam rumah. Setelah melihat hal itu, dia pun berjalan menjauh dari rumah Hana.
Kembali lagi ke minimarket, tempat di mana motornya berada. Aldi pun juga memutuskan untuk segera pulang ke rumah, perut yang kenyang membuatnya mengantuk. Ada perasaan senang dalam dirinya hari ini, Aldi banyak mengobrol dengan sang mantan itu.
Sudah cukup lama mereka tidak mengobrol seperti ini. Aldi kira setelah berpisah mereka akan merasa canggung satu sama lain, tetapi nyatanya tidak seperti itu. Sepertinya mereka bisa berteman mulai sekarang atau mungkin tidak.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...
Assalamualaikum, yorobun 🤗
Otor mau meminta maaf karena hiatus tanpa pamit. Insyaallah Otor akan kembali melanjutkan novel-novel yang Otor tulis, tapi secara bertahap. Jadi, tunggu aja, ya 😉
Otor juga mau mengucapkan terima kasih kepada para pembaca yang mungkin masih menunggu kelanjutan novel ini. Otor sangat mengapresiasi kalian 😘 karena dukungan dari pembaca adalah pemacu semangat bagi Otor.
__ADS_1
Sekian. Salam hangat dari Otor 😘
Wassalamualaikum.