
Lagi-lagi Hana tidak dapat menyembunyikan perasaannya. Ekspresinya sangat kentara ketika ditatap intens oleh Kendrict. Hana menghembuskan napasnya entah untuk yang ke berapa kali.
"Lo kenapa, Han?" tanya Aldi yang duduk disebelahnya.
Hana menoleh sedikit terkejut, ternyata sejak tadi cowok disampingnya ini memperhatikan. Lalu, dia melihat sekliling. Beruntung teman-teman yang lain tidak mendengar hembusan napasnya.
"Nggak papa, Al," jawab Hana.
Hana lupa jika sekarang dia sedang berkumpul bersama dengan komunitas sosial. Namun, cowok biang onar itu tidak ikut. Entah sudah lupa dengan komunitas ini atau memang tidak berminat lagi. Mengetahui fakta itu membuat Hana lega karena tidak harus bertemu dengan Kendrict.
"Yakin? Kayaknya ada yang ganggu pikiran lo," ucap Aldi.
"Kelihatan, ya?" tanya Hana.
"Gue udah kenal lo lumayan lama kalo lo lupa."
"Oh iya," gumam Hana.
"Cerita aja sama gue, siapa tau nanti gue bisa bantu lo."
Hana hanya mengangguk seadanya sebagai jawaban dan kemudian mereka kembali fokus pada pengarahan di depan sana.
Perkumpulan komunitas akhirnya selesai dan ketua komunitas hendak mengajak semua anggotanya untuk makan bersama. Semuanya diwajibkan untuk ikut.
Hana tidak memiliki pilihan lain selain turut serta. Mereka semua pun berangkat bersama menuju sebuah rumah makan. Hana bersama dengan seorang temannya berboncengan motor untuk menuju ke rumah makan itu.
"Kalian pilih menu apa aja, jangan sungkan," ucap Adi sang ketua.
"Beneran, Mas? Gue pesen yang paling mahal nggak papa?" tanya Bima semangat.
"Tau diri, Bim," peringat temannya menabok punggung cowok itu.
Adi menggelengkan kepalanya. "Silakan, pesen apa aja boleh. Mau bungkus juga boleh buat dibawa pulang. Terutama yang anak kos."
Mereka semua langsung bersorak girang. Mereka segera memesan makanan beserta minuman. Sementara Hana juga akhirnya ikut memesan. Begitu juga dengan Aldi yang duduk disebelahnya.
Meja yang Hana tempati terdiri dari delapan anak. Suasana mejanya sangat ramai karena di isi anak-anak yang memang heboh.
"Kok lo cuma makan dikit, Han?" tanya seorang teman Hana.
"Iya, Kak. Udah kenyang soalnya," jawab Hana.
Anak itu hanya mengangguk paham, lalu dia kembali mengobrol bersama teman-teman yang lain.
"Lo nanti pulangnya dijemput, Han?" tanya seorang teman yang duduk di depan Hana.
__ADS_1
"Belum tau gue, nanti kalo kakak gue udah selesai les gue minta jemput," jawab Hana.
"Bareng gue aja, Han," kata Aldi menawarkan diri.
"Nah iya, dari pada nyuruh abang lo. Lagian rumah kalian searah."
"Oke," jawab Hana mengangguk dan kembali melanjutkan aktivitas makannya.
Sedangkan Aldi tersenyum samar. Kapan lagi dia mendapat momen hanya berdua dengan Hana? Tentunya nanti Aldi tidak akan membuang kesempatan untuk berbicara dengan gadis disebelahnya ini.
Akhirnya acara makan-makan ini berakhir. Satu persatu dari mereka telah pamit untuk pulang. Begitu juga dengan Hana, Aldi, dan beberapa teman satu mejanya.
"Ayo, Han," ajak Aldi.
Hana segera memakai helmnya dan berjalan hendak naik ke motor Aldi. Namun, cowok itu menahannya membuat Hana mengernyitkan dahi.
"Kenapa?"
"Lo nggak bawa jaket?" tanya Aldi.
"Nggak, Al."
"Pake punya gue, udaranya dingin," ucap Aldi memberikan jaket miliknya.
"Gue tau lo anaknya gampang kedinginan. Cepet pake!" pinta Aldi menyampirkan jaket itu di bahu Hana.
Hana pun hanya bisa menurut karena memang apa yang dikatakan Aldi ada benarnya. Setelah memakai jaket kebesaran milik Aldi itu, Hana pun naik ke motor.
Cowok itu melajukan motornya perlahan menyusuri jalanan yang cukup ramai oleh kendaraan lain. Hari sudah gelap dan lampu di jalan menyala dengan indah. Hana menikmati pemandangan disekelilingnya.
"Lo nggak kedinginan, Al?" tanya Hana.
"Nggak, Han. Santai aja," jawab Aldi sedikit berteriak.
"Lo anter gue sampai minimarket aja. Gue mau mampir dulu," kata Hana.
"Gue tunggu kalo lo mau mampir."
"Nggak usah, Al. Lagian dari minimarket sampe rumah juga deket."
Aldi tidak menjawab lagi. Cowok itu sedikit menambah kecepatan laju motornya ketika melihat jalanan yang sedikit lengang. Sisa perjalanan mereka terasa hening hingga sampai di area perumahan.
TINNN!
Suara klakson mengagetkan Hana maupun Aldi. Hana menoleh ke belakang, matanya menyipit untuk melihat siapa yang mengklakson dengan keras seperti itu. Padahal Aldi sudah berjalan di pinggir.
__ADS_1
TINN!
Lagi, suara klakson terdengar. Kini kendaraan yang tadi mengklakson sudah berjalan di sebelah motor Aldi. Cowok itu menoleh begitu juga dengan Hana.
"Ken?" gumam Hana mengernyit.
Jantung Hana berdegub kencang ketika tiba-tiba pengendara yang ternyata Kendrict menendang motor yang sedang dikendarai Aldi. Motor Aldi sempat hilang kendali, tapi beruntung cowok itu berhasil mengendalikannya sehingga tidak sampai jatuh.
Aldi menghentikan laju motornya begitu juga dengan Kendrict yang menghentikan motornya melintang di depan motor milik Aldi. Hana segera turun dari motor begitu motor itu berhenti. Kakinya terasa lemas ketika teringat dia hampir saja jatuh ke aspal.
"Lo gila, hah?" bentak Aldi membuka helmnya dan mendorong Kendrict.
Hana masih berdiri, tangannya bertumpu pada motor Aldi. Gadis itu membuka kaca helmnya dan berusaha untuk menenangkan diri.
"Gue nggak ada urusan sama lo!" kata Kendrict menyingkirkan tubuh Aldi. Menyebabkan Aldi mundur beberapa langkah.
Kendrict membuka helmnya dan berjalan mendekati Hana. Gadis itu belum sadar sepenuhnya hingga kedua bahunya dipegang erat oleh Kendrict.
Hana terkejut karena cengkeraman Kendrict. Dia mendongak dan terkejut melihat Kendrict sedang menatapnya tajam. Hana meringis merasakan cengkeraman dibahunya makin kuat.
"Ken! Apa sebenernya tujuan lo?" tanya Aldi menarik bahu Kendrict hingga cengkeraman cowok itu terlepas.
BUGGH!
Sebuah bogem mentah melayang tepat mengenai ulu hati Aldi, membuat cowok itu jatuh tersungkur. Melihat hal itu membuat Hana membulatkan matanya. Dia hendak maju menolong, tapi Kendrict sudah menahannya.
Kendrict memojokkan Hana ke pohon yang berada di belakang. Punggung gadis itu menempel di pohon tersebut.
"Lo kenapa lagi?" tanya Hana takut-takut.
"Gue yang tanya lo itu kenapa?" bentak Kendrict.
Rahang cowok itu mengetat. Jelas terlihat jika Kendrict sedang sangat emosi. Hana terkejut ketika Kendrict tiba-tiba meninju pohon dibelakangnya.
Hana gemetar ketakutan dengan amarah Kendrict. Dia masih belum tahu apa yang menyebabkan cowok biang onar ini sangat emosi. Terlihat di belakang sana Aldi masih berusaha bangkit dengan menahan rasa sakitnya.
"Han!" panggil Kendrict.
"Please, jangan menghindar lagi!" lanjutnya.
Hana terdiam, berusaha mencerna ucapan yang baru keluar dari mulut Kendrict. Tiba-tiba cowok itu terlihat melunak, emosinya entah luntur kemana.
"Lo suka gue, gue suka lo. Kenapa lo bingung? Kenapa lo malah menghindar? Kalo memang kita saling suka, ya kita pacaran aja!" kata Kendrict menatap manik mata Hana.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...
__ADS_1