
Kendrict dan Hana segera pulang begitu masalah berhasil terselesaikan. Sebenarnya masih ada satu masalah lagi yang menunggu keduanya. Namun, baik Kendrict maupun Hana masih belum menyadarinya.
Sekarang mereka tengah mampir di sebuah cafe untuk mengisi perut yang hampir seharian ini tidak terisi. Hana makan dengan tenang, karena dia benar-benar lapar. Sementara Kendrict seakan lupa dengan rasa laparnya, dia sibuk memperhatikan gadis didepannya.
"Kamu nggak makan?" tanya Hana mendongakkan kepalanya.
"Iya, ini makan," jawab Kendrict menyendok secuil nasi dan memasukkannya ke mulut.
Cowok itu mesem-mesem melihat kedua pipi Hana yang mengembung penuh dengan makanan. Gadis itu terlihat sangat lucu bagi Kendrict.
Hari sudah beranjak malam dan keduanya masih betah di cafe ini. Kendrict merasa bersyukur karena bisa segera menemukan keberadaan Hana. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana jika hari ini Hana tidak ditemukan. Bisa-bisa Samsul yang baru memberi restu akan menarik kembali restunya.
Mendadak Kendrict membeku ditempatnya, tangannya menggantung di udara. Matanya tidak sengaja menatap pada jam dinding yang ada di cafe.
"Han, kamu nggak cek HP seharian ini?" tanya Kendrict.
"Hm? Setelah HPku dibalikin tadi aku silent," jawab Hana.
Namun, dia berinisiatif untuk mengecek ponselnya seperti yang dikatakan Kendrict. Ternyata benar dugaan Kendrict, begitu Hana mengecek ponselnya banyak sekali chat dan telpon tak terjawab yang masuk. Semuanya berasal dari Samsul.
"Ayah nyariin," kata Hana pada Kendrict.
"Kamu udah selesai makan?" tanya Kendrict yang mulai was-was.
Hana mengangguk pelan. Melihat jawaban dari Hana, Kendrict pun segera bangkit dari kursinya dan menuju ke kasir untuk membayar pesanannya.
Sementara Hana yang tersadar juga segera menghampiri Kendrict. Gadis itu menarik ujung kaos Kendrict membuat cowok itu menoleh.
"Bayarnya kita bagi dua," kata Hana mengeluarkan dompetnya.
"Nggak usah. Aku aja yang bayar."
"Tapi ...."
"Nih, udah aku bayar. Ayo pulang." Kendrict menunjukkan struk pembayaran pada Hana.
Dua orang itu segera keluar dari cafe tersebut. Kendrict memacu kuda besinya membelah jalanan yang dipadati kendaraan lain. Dalam hati Kendrict sudah menyiapkan berbagai jawaban jika nantinya Samsul bertanya padanya.
__ADS_1
Sebelum meninggalkan cafe, Kendrict mendapat sebuah ide yang mungkin saja bisa mengurangi amarah Samsul. Cowok itu menahan Hana yang sedang berkutat dengan helmnya.
"Kenapa, Ken?"
"Ayah kamu suka apa?" tanya Kendrict dengan ekspresi serius.
"Hmm? Kenapa memangnya?"
"Aku mau beliin yang ayah kamu suka biar nanti kita nggak kena marah."
Hana terdiam. Sedikit membenarkan apa yang dikatakan oleh Kendrict. Lalu, gadis itu juga ikut memikirkan apa yang disukai oleh ayahnya.
"Ayah suka martabak telur kayaknya," kata Hana.
Sebenarnya dia juga ragu dengan perkataannya barusan. Setahu Hana memang itu makanan kesukaan Samsul, tapi Samsul juga memiliki jam makan yang ketat. Beliau tidak akan makan apapun di atas jam delapan malam.
"Ya udah ayo kita beli martabak, biasanya beli di mana?"
"Di daerah M," jawab Hana.
Akhirnya sebelum pulang, Kendrict pergi ke daerah yang dimaksud Hana untuk membeli martabak guna sogokan agar tidak kena marah nanti. Selama perjalanan Hana terus memandu Kendrict yang memang belum pernah membeli martabak di daerah ini.
"Iya, tapi apa nggak kelamaan antre?"
"Nggak papa, nanti biar aku yang hadepin ayah kamu," kata Kendrict penuh percaya diri.
Walau tadi Kendrict berkata akan menghadapi Samsul dengan penuh percaya diri. Namun, hampir saja motor Kendrict oleng ketika terkejut tiba-tiba Samsul muncul dari balik pintu gerbang.
"Masuk dulu, Ken," kata Samsul tenang. Beliau berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumah.
Kendrict menelan ludahnya susah payah. Saat ini memang mereka pulang sangat terlambat, melebihi jam yang sudah ditentukan oleh Samsul pagi tadi. Apalagi mereka tadi antre cukup lama untuk membeli martabak, walau Hana sudah sempat membalas chat Samsul.
"Kamu aja yang kasih, biar nanti kamu nggak terlalu dimarahi," bisik Kendrict memberikan kantong plastik berisi martabak itu.
Hana menurut dan menerima pemberian Kendrict. Kedua anak itu mengekori Samsul dari belakang. Tiba-tiba Samsul berhenti, membuat Kendrict dan Hana spontan menghentikan langkahnya.
"Duduk kalian!" pinta Samsul.
__ADS_1
"Yah, maaf kita pulang telat. Tadi kita mampir makan dulu, terus Ken beli ini buat Ayah," kata Hana memberikan martabak ditangannya.
Mencium wangi semerbak dari uap martabak membuat Samsul berdehem. Beliau menerima bungkusan tersebut dan menyuruh Mira untuk memindahkannya ke piring, juga tidak lupa meminta Mira membuat minuman untuk disajikan.
"Walau begitu, tetap kalian tidak boleh mengulangi lagi. Ayah akan kasih peringatan! Kalau masih melanggar, lebih baik kamu tinggalkan Hana," kata Samsul menunjuk Kendrict membuat cowok itu berjengkit kaget.
"Iya, Om. Saya janji tidak akan mengulangi lagi," jawab Kendrict dengan posisi duduk tegap.
"Ini, Ken. Diminum dulu," kata Mira meletakkan cangkir di atas meja.
Kendrict menurut dan segera meraih cangkir tersebut, menyeruput sedikit untuk membasahi tenggorokannya.
Setelah berbincang, Kendrict memutuskan untuk pamit pulang karena hari sudah larut. Sebenarnya cowok itu masih ingin menghabiskan waktu bersama dengan Hana. Namun, dia tidak tega melihat wajah lelah gadis itu. Apalagi pastinya Hana masih merasa syok setelah mengalami peristiwa tadi siang.
"Hati-hati di jalan, Ken. Nanti kabarin kalo udah sampe rumah," kata Hana yang mengantar Kendrict hingga depan rumah.
"Iya, kalo gitu aku pulang dulu. Maaf, buat yang tadi. Pasti kamu kaget banget."
Hana menggelengkan kepalanya. "Yang penting aku nggak papa, nggak ada luka apa pun."
Kendrict mengangguk dan memakai helmnya, tapi masih belum beranjak dari tempatnya berada membuat Hana mengernyit. Gadis itu menatap penuh tanya pada cowok didepannya.
"Kenapa?"
"Kenapa hari ini cepet banget, sih? Aku masih pengen main sama kamu."
"Ckck, besok masih ada hari lagi. Kita masih bisa ketemu."
Kendrict mengangguk lesu dan akhirnya benar-benar pergi dari sana. Hana masuk ke dalam setelah memastikan Kendrict benar-benar menghilang dari pandangannya. Gadis itu menghentikan langkahnya ketika mendapati ternyata Samsul masih berada ditempatnya bersama Mira.
"Hana ke kamar dulu, Yah, Bun," pamit Hana.
Gadis itu segera membersihkan dirinya dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tubuhnya sangat lelah, tapi ada perasaan senang juga. Mata Hana melirik pada jam di dinding kamarnya. Lalu, tangannya meraih ponsel yang beeada di meja kecil sebelah tempat tidur.
"Harusnya udah sampai rumah. Kenapa belum ada kabar?" gumam Hana memperhatikan ponselnya yang tidak ada chat dari Kendrict.
"Apa dia mampir dulu?"
__ADS_1
Hana pun berinisiatif mengirim chat pada Kendrict terlebih dulu. Cukup lama gadis itu menunggu balasan hingga tanpa sadar Hana ketiduran karena lelah menunggu.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...