Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Sibuk Masing-Masing


__ADS_3

Hari demi hari Hana lewati dengan kesibukan aktivitas di sekolah yang makin padat dengan tambahan materi guna persiapan ujian. Tidak hanya itu, anak-anak juga menjadi rajin bertemu dengan guru BK untuk membahas kelanjutan studi mereka atau membahas rencana setelah lulus.


Waktu ujian pun tak terasa makin dekat. Para siswa menjadi lebih giat belajar, perpustakaan tiap jam istirahat mulai dipenuhi oleh anak-anak yang ambisius. Termasuk Hana terkadang juga menghabiskan waktunya di perpustakaan jika sedang senggang. Entah bersama dengan teman-temannya, kadang bersama Kendrict, atau bahkan sendiri.


Lalu, belum lagi mereka yang menambah belajar dengan les di tempat-tempat les bergengsi di kota ini.


"Kenapa lo, Han? Nggak semangat banget hari ini," kata Adrian duduk di depan Hana.


Tidak hanya Adrian, tetapi ada juga Anggun dan Vio. Sementara temannya yang lain masih dengan kesibukan masing-masing. Anggun menunjukkan raut wajah lelah, dia baru saja bertemu dengan guru bimbingan konseling.


"Lo juga kenapa? Lecek banget tuh muka," tunjuk Adrian pada Anggun.


"Abis ketemu Bu Dian," jawab Anggun menyebut nama salah satu guru bimbingan konseling.


"Bukannyao udah mulai ngurus masuk universitas? Lo ikut beasiswa B itu, 'kan?"


Anggun hanya mengangguk, memang benar dia saat ini sedang mengurus berkas-berkas untuk masuk ke salah satu perguruan tinggi negeri.


Hana tidak mempedulikan teman-temannya itu. Kini ia sibuk dengan ponselnya. Sejak beberapa hari yang lalu, Hana belum bertemu dengan Kendrict.


"Ckck, kemana sih?" gumam Hana tanpa sadar.


"Siapa, Han?" tanya Vio yang duduk di sebelah Hana.


"Hah? Bukan siapa-siapa. Gue balik kelas dulu, ya?" pamit Hana buru-buru, dia bergegas membereskan buku-bukunya.


Hana segera pergi dari sana, tapi tujuannya tidak langsung ke kelas. Gadis itu mencari keberadaan Kendrict terlebih dulu. Hana berkeliling ke tempat-tempat di area sekolah yang biasa dikunjungi cowok itu.


Namun, nihil. Hana tidak menemukan batang hidung Kendrict dimana pun. Ia mengeluarkan ponselnya untuk kembali mengirim chat pada Kendrict.


"Bahkan belum dibaca chat yang tadi pagi," kata Hana yang mulai resah.


Beruntung Hana dapat melupakan keresahannya sejenak karena kembali disibukkan dengan aktivitas selama seharian ini.


Sesampainya di rumah, setelah membersihkan diri Hana merebahkan tubuhnya di atas kasur untuk melepas lelahnya. Kepalanya terasa berasap hari ini.


TING!

__ADS_1


Suara notifikasi chat membuat Hana spontan meraih ponselnya. Sudah sangat berharap jika Kendrict membalas chatnya. Senyum Hana mengembang ketika membaca nama dari si pengirim.


"Maaf, Han. Tadi aku nggak masuk sekolah, aku sakit. Maaf, nggak kabarin kamu," balas Kendrict.


Membaca balasan dari cowok itu membuat Hana bangun dari posisinya. Seketika ia menghubungi Kendrict. Tidak membutuhkan waktu lama, telponnya dijawab oleh cowok itu.


"Halo?" sapa Kendrict dengan suara serak.


"Kamu sakit apa, Ken?"


"Nggak tau aku belum ke dokter. Tapi, tadi udah minum obat dikasih sama Putra."


"Kamu udah makan?"


"Udah kok."


"Bohong. Aku ke sana, ya? Bawain makanan buat kamu."


"Nggak us ...."


"Bun, Ken sakit. Hana mau jenguk dia, mau bawain makan malam juga," kata Hana memotong perkataan Kendrict.


Kendrict berada di kamar kosnya. Mendengar suara pintu yang diketuk membuat cowok itu berjengkit kaget. Spontan Kendrict mengambil posisi berdiri dan segera membuka pintu itu. Diambang pintu terlihat Hana yang membawa paperbag.


"Kamu sakit apa?" tanya Hana, tangannya terulur untuk menyentuh dahi Kendrict.


"Cuma flu biasa kok," jawab Kendrict menurunkan tangan Hana perlahan.


Hana menghembuskan napas lega mengetahui jika ternyata sakit Kendrict tidak parah. Cowok itu pun menuntun Hana untuk duduk. Selanjutnya, Hana mengeluarkan isi paperbag yang dibawanya.


"Kamu makan dulu, ini bunda yang bawain," kata Hana.


"Harusnya kamu nggak perlu repot ke sini. Aku tau kamu lagi belajar, sebentar lagi ujian, 'kan?"


"Nggak papa, aku nggak bisa pura-pura nggak tau kalo tau kamu sakit."


Kendrict berdehem merasakan hatinya menghangat mendengar ucapan Hana yang perhatian padanya. Cowok itu segera menyantap makanan yang dibawa Hana. Sementara, gadis itu duduk memperhatikan dari samping.

__ADS_1


"Aku antar kamu pulang, ya?"


Hana menggelengkan kepala. "Aku bisa pulang sendiri. Kamu istirahat aja biar cepet sembuh."


Hana segera memesan ojek online sebelum Kendrict benar-benar memaksanya mengantar pulang. Setelah Kendrict selesai makan, Hana memutuskan untuk segera pulang.


"Aku pulang dulu, kamu istirahat," kata Hana pamit pada Kendrict.


"Harusnya aku antar kamu pulang," gumam Kendrict.


Hana hanya menggelengkan kepalanya mendengar gumaman cowok itu. Ia pun benar-benar pergi dari sana. Selama perjalanan pulang, Hana banyak berpikir.


Tadi begitu melihat Kendrict, Hana sudah mengetahui ada yang tidak beres dengan cowok itu. Ada beberapa luka baru di lengan Kendrict. Hana tahu itu, walaupun Kendrict berusaha menutupinya.


Ingin rasanya Hana bertanya dan memberi bantuan sebisanya. Namun, kesempatan itu tidak pernah sekalipun datang padanya. Hana dan Kendrict menjadi lebih jarang bertemu.


Ujian sudah benar-benar di depan mata. Para siswa sudah sangat fokus pada ujian yang sedang berlangsung, mereka mengejar nilai agar dapat diterima ke perguruan tinggi.


Ujian berlangsung selama beberapa hari dan selama itu Hana sama sekali tidak mendengar kabar dari Kendrict. Terakhir cowok itu mengatakan jika sudah sembuh.


"Ken, sekarang jarang main ke sini, ya?" tanya Mira pada Hana ketika mereka makan malam.


Hana mengangguk membenarkan. "Mungkin karena kita fokus ujian, Bun."


"Iya bener juga. Nanti setelah ujian, kamu ajakin Ken ke rumah, ya? Bunda mau masakin Ken."


"Iya, Bun."


Selesai makan malam, Hana kembali ke kamarnya. Gadis itu duduk di depan meja belajar dengan berbagai buku di atas meja itu. Ia meraih ponselnya dan mengirim chat untuk Kendrict. Walau cowok itu aktif, tapi tak satu pun chatnya dibaca.


"Bener, 'kan. Ken, aneh," gumam Hana.


Hana tidak merasa jika hubungan mereka ada masalah. Mereka juga tidak pernah bertengkar. Selama hubungan mereka, Kendrict selalu baik padanya.


Namun, Hana masih bersabar hingga ujian usai. Dia bertekad akan bertanya pada cowok itu tentang sikap tidak biasanya. Gadis itu pun kembali fokus pada buku-bukunya. Selama beberapa hari ke depan dibutuhkan fokus agar ujian berjalan lancar.


Semua itu Hana lakukan demi kelanjutan studinya. Dia sudah merencanakan hendak melanjutkan studi ke sebuah perguruan tinggi. Rencana sudah Hana susun dengan matang. Entah apa yang terjadi jika rencana yang disusun dengan matang itu gagal ketika ujian nanti.

__ADS_1


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...


__ADS_2