
Hana turun dari motor milik Kendrict. Jantung gadis itu masih berpacu dengan cepat. Cowok itu benar-benar gila, mengendarai motor sangat kencang. Hana sudah kapok saat ini, tidak akan lagi menerima tawaran Kendrict. Jika tadi tidak terpaksa, Hana akan terus menunggu angkutan umum hingga lewat.
“Thank’s,” ucap Hana sembari melepas helm yang dipakainya, lalu dia memberikannya pada cowok itu.
Kendrict hanya mengangguk, kemudian cowok itu membuka tas selempangnya mengambil sesuatu dari dalam sana. Benda itu adalah buku catatan milik Hana yang kemarin diambil paksa olehnya.
“Nih, gue balikkin,” kata Kendrict melempar buku itu.
Beruntung Hana cukup sigap, jadi buku itu berhasil ditangkapnya dengan mulus. Setelahnya tanpa sepatah kata pun, Kendrict pergi dari sana. Hana masih memperhatikan cowok itu yang makin jauh dari jangkauan mata. Setelah benar-benar menghilang, barulah Hana berbalik.
“Ah itu mobil ayah,” gumam Hana, ada sebuah senyum terbit dari bibirnya.
Beberapa tahun lamanya Hana tidak berjumpa dengan sang ayah. Namun, Hana dapat memaklumi hal itu. Sang ayah sedang sibuk bekerja di luar kota sana, menunaikan tugas negara. Dia sudah terbiasa berjauhan dari sang ayah.
Gadis itu segera masuk ke dalam rumah. Ekspresinya sudah menyiratkan rasa rindu yang amat dalam pada sang ayah. Langkah Hana terhenti di depan pintu, dari dalam dia dapat mendengar suara tawa. Ada sebuah kernyitan di dahi gadis itu.
Apakah ada tamu di dalam? Namun, jika ada tamu mengapa pintu depan tertutup rapat? Tidak mau terlalu lama penasaran, akhirnya Hana masuk ke dalam. Melihat Hana masuk, seketika suara tawa tadi terhenti. Hana memperhatikan orang-orang di sana. Ada sosok asing duduk di sofa.
“Kenapa baru pulang?” tanya Samsul pada Hana.
“Maaf, acaranya baru selesai,” jawab Hana menundukkan kepalanya, ternyata dia masih merasa takut pada ketegasan sang ayah.
“Ah iya, kenalkan. Mereka, Tante Mira dan anaknya, Glen. Mereka adalah bunda dan kakak kamu.”
“Hah?” Kaget Hana, spontan menatap wajah Samsul.
“Maaf, Ayah nggak kasih tau kamu dulu. Mulai sekarang mereka akan tinggal di rumah ini, jadi kamu tidak perlu merasa kesepian lagi. Juga, Glen nantinya akan bersekolah di SMA kamu.”
__ADS_1
Mendadak pikiran Hana kosong, dia masih belum bisa mencerna apa yang baru saja sang ayah ucapkan. Matanya menatap Mira dan Glen bergantian. Ada senyum ramah dari bibir Mira, beliau adalah wanita yang sangat cantik. Namun, berbeda ketika pandangan Hana berhenti pada Glen, cowok itu terlihat tidak bersahabat.
Mendadak Hana menundukkan pandangannya. Setelah perkenalan sepihak itu, Samsul meminta Hana dan Glen segera masuk ke kamat masing-masing untuk segera tidur. Keduanya menurut tanpa ada protes.
Hana menyeret langkahnya menuju kamar, pikirannya masih kosong. Ayahnya benar-benar membuat kejutan untuknya. Namun ketika hendak bertanya pada Glen, cowok itu langsung membanting pintu.
“Tanya besok aja deh,” gumam Hana dan masuk ke dalam kamarnya.
Hana sudah berganti pakaian dan mencuci kaki. Dia sudah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, sebelumnya Hana sudah mempersiapkan buku-buku untuk besok. Matanya menatap langit-langit kamar.
Mendadak ada rasa kecewa dalam dirinya. Perkataan Samsul tadi masih belum dapat Hana terima sepenuhnya. Masih ada rasa kaget juga syok setelah mendengar penuturan sang ayah.
Bagaimana bisa? Setelah sekian tahun tidak bertemu, bahkan tidak pernah saling menelpon dan kini tiba-tiba pulang tanpa memberi kabar. Lalu mengejutkannya dengan berkata bahwa sekarang Hana memiliki bunda baru. Ada secuil pemikiran yang tiba-tiba terlintas dalam benak Hana saat ini.
‘Apa Ayah sudah tidak menganggapnya lagi?’
Pertanyaan itu yang muncul dalam benak Hana saat ini. Selama ini Hana menjalani hidupnya tanpa figur seorang ayah walaupun dia masih memiliki sosok itu. Entah apa yang menyebabkan Samsul berubah seperti itu. Semenjak kepergian sang bunda, sikap Samsul benar-benar berbeda.
Hana memotret selembar foto itu untuk disimpan dalam galeri ponselnya. Tidak hanya disimpan, tetapi Hana menjadikan foto itu sebagai wallpaper ponselnya. Tangannya mengusap layar ponselnya, memandangi foto itu. Ada perasaan rindu yang mendadak menyeruak.
Kenangannya bersama dengan bunda hanya sebentar. Tidak banyak kenangan dalam memori Hana yang bisa diingat. Ketika itu Hana masih kecil dan belum terlalu mengerti apa yang terjadi saat itu.
Beruntung masih ada beberapa lembar foto sang bunda yang dapat membantunya terus mengingat wajah cantik itu. Hana masih menatap layar ponselnya. Malam sudah semakin larut, tetapi gadis itu masih belum bisa memejamkan matanya.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...
Entah pukul berapa semalam Hana tertidur. Namun, kini dia sudah terbangun dari tidurnya. Hana menatap sekelilingnya dan pandangannya jatuh pada jam di dinding. Ternyata masih pukul lima pagi. Gadis itu memutuskan untuk bangun dan keluar dari kamarmya. Berjalan menuju daput untuk mengambil segelas air.
__ADS_1
Suasana rumah masih sepi, beberapa lampu juga masih padam. Langkah Hana terhenti ketika melihat ada seseorang yang sedang duduk di meja makan. Sosok itu menoleh ketika menyadari kehadirannya.
“Hana? Kamu sudah bangun?” tanya Mira.
“Iya, Hana baru bangun. Tan …, maaf.”
Ada sebuah senyum tersungging dari bibir Mira. Sementara Hana menundukkan pandangannya, dia belum terbiasa memanggil sosok didepannya ini dengan sebutan ‘Bunda’.
“Nggak apa-apa, Han. Pelan-pelan saja. Maaf, pasti kamu sangat terkejut. Saya tidak menyangka jika ternyata ayah kamu tidak memberitahu terlebih dulu.”
“Hana memang terkejut, tapi nggak apa-apa. Hana bahagia kalau ayah juga bahagia,” ucap Hana memaksakan seulas senyum.
“Terima kasih, benar kata ayah kamu. Kamu anak yang baik, ayah kamu sering bercerita tentang kamu lho.”
Hana mengangguk dan masih menyunggingkan senyumnya. Lalu dia pamit untuk mengambil segelas air di dapur.
Selepas melepas dahaga, Hana hendak kembali ke kamarnya untuk bersiap ke sekolah. Namun, langkahnya dihentikan oleh Mira. Beliau tadi menawarkan sarapan pada Hana. Gadis itu masih terlihat canggung, jadi Hana hanya menjawab seadanya saja.
Mira mengangguk paham dan beliau segera ke dapur, di sana sudah ada Mbak Jum. Sementara Hana masuk ke dalam kamarnya. Segera mandi dan mengenakan seragamnya. Beberapa saat kemudian dia kembali turun untuk sarapan. Di meja makan sudah ada Samsul, sedangkan Mira masih berkutat di dapur.
“Itu susu buat Hana. Diminum, ya,” kata Mira menunjuk segelas susu di atas meja.
“Terima kasih,” jawab Hana.
“Biasakan panggil ‘Bunda’,” ucap Samsul mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
“Tidak perlu buru-buru, Mas. Nggak apa-apa, Han. Pelan-pelan saja, tidak perlu terlalu dipaksakan,” kata Mira tersenyum lembut.
__ADS_1
Hana hanya bisa menunduk, memandangi susu di dalam gelasnya. Sebuah tepukan lembut membuat Hana kembali mendongak dan sebuah senyum hangat menyambutnya.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...