Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Geng Kendrict


__ADS_3

Bel pulang sudah berbunyi sejak setengah jam yang lalu. Suasana sekolah juga sudah sedikit sepi. Hana bersama Glen serta beberapa teman-temannya berjalan bersama menuju tempat parkir.


"Duluan, Glen," pamit salah seorang teman Glen.


Glen hanya mengacungkan jempolnya. Lalu, dia memberikan helm pada Hana. Sebenarnya hari ini Hana berencana hendak menjenguk Kendrict. Sudah dua hari dia tidak tahu bagaimana kabar cowok itu.


Tadinya Hana hendak mengirim chat pada Kendrict, tapi dia takut jika ternyata nanti memgganggu. Ditambah kemarin Hana disibukkan dengan komunitas sosial.


"Langsung pulang 'kan?" tanya Glen.


Hana mengiyakan pertanyaan Glen. Dia takut jika mengajak cowok itu tidak akan mendapat izin. Hana berencana akan mengajak Mira. Beliau pasti akan mengizinkan dengan antusias.


Motor yang dikendarai Glen tiba-tiba berhenti, membuat helm Hana dan cowok itu beradu. Hana menanyakan apa yang membuat Glen tiba-tiba menghentikan laju motornya.


"Kita dibegal, Dek," kata Glen.


"Hah?"


"Han, gue mau tanya sama lo," ucap seseorang yang tiba-tiba sudah ada di samping Hana.


Hana menoleh dan mendapati Putra menatapnya dengan serius. Tidak hanya ada Putra, ada beberapa anak-anak yang tergabung di dalam geng Kendrict juga. Hana membuka kaca helmnya.


"Tanya apa?" tanya Hana mengernyitkan dahi.


Sekilas Hana melihat ada Nita berdiri di belakang Putra, wajah perempuan itu terlihat sangat tidak bersahabat. Namun, Hana berusaha mengabaikannya.


"Kemarin lo bawa Ken ke rumah sakit? Rumah sakit mana? Kamar apa?" tanya Putra bertubi-tubi.


"Lo belum hubungin Ken?" tanya balik Hana.


"Nggak usah tanya balik, nj*r. Tinggal jawab pertanyaan Putra!" kata Nita sengit.


"Lo kok nyolot?" tanya Glen yang tidak terima mendengar perkataan Nita yang ditujukan untuk Hana.


Teman-teman Kendrict menampakkan raut wajah tak bersahabat. Namun, beruntung Putra segera dapat mengendalikan situasi.


"Gue nggak bisa hubungin dia. HPnya nggak aktif dari kemarin," jelas Putra.


"Dia di rumah sakit C, ruang Anggrek 3."


"Oke, thank's."


Putra dan teman-temannya itu segera pergi dari sana. Mereka naik ke kendaraan masing-masing, kemudian meninggalkan area sekolah. Putra merasa bersalah pada Kendrict yang tidak bisa ada di saat sahabatnya itu membutuhkannya.


Sebenarnya tadi Nita protes pada Putra perihal peristiwa hari Minggu lalu. Perempuan itu protes karena Putra tidak menghubunginya lebih dulu untuk membantu Kendrict. Namun, Putra tidak menanggapi protes Nita.

__ADS_1


"Kalian jangan berisik! Jangan buat ulah!" peringat Putra begitu mereka sampai di rumah sakit yang tadi Hana maksud.


Rombongan itu mengangguk serempak. Mereka segera masuk area rumah sakit dan mencari keberadaan kamar rawat Kendrict.


"Mbak, mau tanya ruang Anggrek 3 di mana?" tanya Angga pada seorang perawat cantik yang lewat didepannya.


"Ada di lantai 5, Dek," jawab perawat itu.


"Bisa anterin nggak, Mbak? Saya takut kesasar," tanya Angga yang melancarkan aksi modusnya.


Putra yang melihat hal tersebut segera meraih kerah kemeja Angga dan membawanya pergi dari sana. Tidak lupa dia mengucapkan maaf dan terima kasih pada perawat itu sebelum pergi.


Setelah dicari, mereka sampai di bangsal anggrek. Mereka mulai mencari kamar milik Kendrict. Nita mengintip tiap pintu untuk mencari keberadaan Kendrict. Sementara Putra merutuki tingkah bodoh teman-temannya.


"Heh, kalian ngapain? Kamarnya di sini," kata Putra menunjuk pintu didepannya.


Nita segera berlari menghampiri Putra dan mengintip ke dalam. Mata perempuan itu berbinar melihat keadaan di dalam sana. Dia segera menjeblak pintu itu membuat sosok di dalam sana terkejut.


"Ken!" panggil Nita riang.


"Anj*r! Ngagetin lo!" pekik Kendrict terkejut. "Tutup mata lo kalo nggak mau gue colok!"


Spontan Nita dan Devi menutup matanya. Namun, Nita sedikit mengintip Kendrict yang berusaha memakai baju. Kendrict tadi memang sedang berganti pakaian. Beruntung celananya sudah ia kenakan.


"Udah, Ken?" tanya Nita mesem-mesem.


"HP lo ke mana?" tanya Putra.


"Nggak tau, ketinggalan kali. Kalian ngapain ke sini?" jawab dan tanya Kendrict.


"Kita mau jenguk lo. Dua hari nggak ada kabar, buat orang khawatir tau," sewot Putra.


"Lo sendiri, Ken?" tanya Nita memperhatikan kamar rawat Kendrict.


Cowok itu hanya mengangguk sebagai jawaban. Sementara Nita, lagi-lagi matanya berbinar. Melihat hal tersebut membuat perasaan Kendrict menjadi tidak enak.


"Gue temenin, ya?"


"Nggak perlu!" tegas Kendrict.


Teman-teman geng Kendrict mengerubungi tempat tidur cowok itu. Mereka menatap luka serta bekas luka di wajah dan tubuh Kendrict.


"Bos, siapa yang hajar lo? Gengnya Aldi, ya?" tanya Angga dengan rahang mengetat.


Mendengar pertanyaan Angga, Kendrict dan Putra spontan saling pandang. Putra hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Buk ...."


"Lo tenang aja, Bos. Kita siap tempur sama gengnya Aldi kepar*t itu," potong Angga.


Kendrict menghembuskan napas lelah. "Terserah lo pada."


Angga pun mengangguk mendengar perkataan Kendrict. Dia segera berkumpul dengan teman-teman Kendrict untuk merencanakan tawuran.


"Nggak ada makanan di sini?" tanya salah seorang di antara mereka.


"Nggak punya gue," jawab Kendrict.


"Tenang, kita udah bawa ini," ucap seorang anak memperlihatkan isi tasnya yang penuh dengan makanan dan minuman ringan.


"Emang lo terbaik," kata Angga mengacungkan jempolnya.


Kendrict tidak mempedulikan mereka yang kini sibuk dengan aktivitas masing-masing. Cowok itu hanya merasa jengah dengan Nita yang duduk di sebelahnya.


"Lo haus, Ken?" tanya Nita.


"Nggak," jawab Kendrict singkat.


"Lo laper? Udah makan?" tanya Nita yang masih belum menyerah.


"Gue nggak laper."


"Lo pasti belum makan. Mau gue suapin? Tangan lo lagi sakit 'kan?" tanya Nita menunjuk tangan kanan Kendrict yang terpasang infus.


Sementara tangan kiri Kendrict masih terpasang plester luka bekas infus kemarin. Mendengar pertanyaan Nita yang terus memaksanya membuat Kendrict tambah jengah.


"Gue bilang nggak ya nggak. Nggak usah maksa lo. Kalo lo di sini cuma mau ngebac*t mending pulang sana!" bentak Kendrict.


Bentakan cowok itu membuat suasana mendadak hening sebentar. Namun, tidak lama mereka kembali melanjutkan aktivitas masing-masing.


"Iya, iya gue diem. Gue masih mau di sini temenin lo," kata Nita mengalah.


"Nah, bagus."


Cukup lama teman-teman Kendrict berada di sini. Beberapa di antara mereka sedang tidur di sofa atau di lantai, lalu ada juga yang sedang menonton televisi. Sementara Angga sedang berada di kamar mandi, perutnya terasa mulas karena terlalu banyak makan sambal tadi di kantin.


Tiba-tiba pintu kamar rawat Kendrict terbuka. Membuat penghuni di dalam serempak menoleh. Melihat sosok yang berdiri di ambang pintu membuat suasana ruangan menjadi panas. Sementara sosok itu juga terkejut melihat betapa ramainya kamar Kendrict.


"Mamp*s, gue masuk kandang macan," gumam sosok itu meringis.


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...

__ADS_1


Otor yang kyut ini mau bagi visualnya Putra. Kalau kalian ngerasa nggak cocok, bisa bayangkan visual lain ygy 😉



__ADS_2