Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Makan Malam Bersama


__ADS_3

Setelah seharian melakukan kegiatan di panti asuhan tadi, anak-anak komunitas kembali ke rumah masing-masing. Sebenarnya rencana awal tadi, mereka hendak makan bersama, tetapi ternyata tadi perjalanan pulang mereka terjebak macet. Alhasil mereka baru sampai setelah matahari terbenam.


“Lo laper nggak?” tanya Kendrict sedikit menoleh ke belakang.


“Ya? Gue nggak baper kok,” jawab Hana dengan alis bertaut juga ekspresi yang tidak terlalu senang.


Memang dirinya terlihat seperti orang yang mudah terbawa perasaan? Baper kata, Ken? Tiba-tiba Hana kembali teringat sikap cowok itu ketika di bus tadi. Di mana Hana tertidur selama perjalanan pulang akibat kelelahan bermain seharian. Gadis itu tidak sadar jika kepalanya jatuh ke bahu Kendrict yang memang duduk bersebelahan.


“Bahu gue nyaman ternyata,” ucap Kendrict tersenyum menatap wajah baru bangun tidur Hana.


Sementara gadis itu masih linglung, dia menatap Kendrict dengan kernyitan dahinya. Namun, beberapa saat kemudian dia segera tersadar.


“Maaf, gue nggak sengaja,” ucap Hana.


Kendrict masih menampilkan senyum menawannya. Tiba-tiba wajah cowok itu mendekat, tentu hal itu membuat Hana terkejut. Spontan gadis itu memundurkan kepalanya dan berakhir terpojok. Hana masih terpaku pada wajah Kendrict yang terus mendekat itu. Tanpa sadar menahan napasnya.


“Bulu mata lo jatuh,” kata Kendrict setelah berhasil mengambil bulu mata yang jatuh di pipi kanan Hana.


SRET!


Aldi menarik kerah kaos yang dikenakan Kendrict. Membuat spontan wajah Kendrict menjauh dari hadapan Hana. Sementara gadis itu masih diam mematung. Perlakuan Kendrict tadi sangat tak terduga.


“Gue bilang laper, bukan baper!” teriak Kendrict membuyarkan lamunan Hana sejak tadi.


“O, oh, maaf gue nggak denger jelas tadi.”


“Ckck, gue mau makan dulu,” ucap Kendrict yang terdengar kesal.


Hana hanya menghembuskan napas pasrahnya. Dia hanya menurut kali ini tanpa protes, Hana sudah kapok ditinggalkan oleh cowok ini di jalanan yang jaraknya jauh dari rumah.


Kendrict menghentikan sepeda motornya di depan sebuah café. Hana turun dari motor cowok itu dan memperhatikan sekitarnya. Café ini sangat ramai oleh pengunjung, karena memang hari ini adalah akhir pekan. Kebanyakan pengujung di sini adalah pasangan muda-mudi yang hendak menghabiskan malam bersama.

__ADS_1


“Lo mau berdiri di sini sampai gue selesai makan?”


“Eh? Nggak.”


Hana berjalan mengekori Kendrict yang sudah berjalan lebih dulu masuk ke dalam café itu. Baru pertama kali ini Hana datang ke tempat seperti ini. Dia memang bukan anak yang senang keluar rumah. Hana anak rumahan yang pergi keluar jika ada urusan penting saja.


DUKK!


“Maaf,” ucap Hana menundukkan wajahnya.


Dia tidak sengaja menabrak bahu seseorang karena sibuk memperhatikan sekitarnya. Hana sedikit bingung dengan suasana ramai ini. Kendrict yang mendengar suara Hana, menoleh ke belakang. Ternyata gadis itu tertinggal cukup jauh dengannya. Akhirnya cowok itu kembali ke tempat Hana.


“Nggak apa-apa, Mbak. Lagian nggak ada yang luka,” ucap orang itu.


“Ckck, harus banget kayak gini?” tanya Kendrict yang tiba-tiba muncul, tangannya menggandeng tangan Hana dan membawanya pergi dari sana.


Hana yang terkejut pun terseret oleh langkah kaki lebar milik Kendrict. Sebelum pergi dari sana, gadis itu kembali meminta maaf pada orang itu. Akhirnya mereka sampai pada kursi yang kosong. Kendrict menyuruh Hana untuk duduk di kursi ini, melepas genggamannya.


“Tunggu di sini, gue mau pesen. Jangan ke mana-aman, lo pendek jadi susah ketemunya nanti,” kata Kendrict seenaknya.


“Bahkan chat kemarin belum dibaca,” gumam Hana sendu.


Walau begitu, Hana tetap mengirim chat pada Samsul. Setelah mengirim chat pada sang ayah, Hana menggulir layar ponselnya untuk melihat chat lain. ada chat dari Aldi yang menanyakan apakah dirinya sudah sampai rumah. Hana yang hendak membalas, mengurungkan niatnya ketika tiba-tiba ada beberapa piring diletakkan di atas meja. Hana mendongak, ternyata Kendrict telah selesai memesan dan kembali bersama seorang pelayan.


Makanan beserta minuman telah tersaji di atas meja. Hana tidak habis pikir dengan semua makanan dan minuman ini. Makanan itu terlalu banyak untuk dihabiskan satu orang. Benar, seperti kejadian kala itu di warung bakso. Kendrict tidak menawarinya sama sekali, jadi Hana berasumsi jika semua makanan ini adalah milik cowok itu.


“Kenapa bengong? Lo nggak mau makan? Atau nggak sesuai sama selera lo?” tanya Kendrict yang sudah asyik menikmati makanannya.


“Ya? Tapi gue nggak bilang mau makan.”


“Nih, makan,” paksa Kendrict mendekatkan piring ke arah Hana.

__ADS_1


Hana masih ingin menolak, tetapi tatapan mengintimidasi Kendrict membuatnya menciut. Alhasil gadis itu menurut, menyendok perlahan makanan itu. Hampir saja sendok itu masuk ke mulutnya, tetapi mendadak tertahan. Mata Hana tidak sengaja melihat daftar menu yang ada di meja.


“Ken,” panggil Hana.


“Apa?” tanya Kendrict mengernyitkan dahinya.


“Gue nggak bawa uang sebanyak itu buat bayar makanan ini.”


“Gue yang bayar.”


“Hah? Kenapa?”


“Nggak usah cerewet lo, cepet makan!”


Hana masih ragu dengan ucapan cowok di depannya ini. Sementara Kendrict sudah masa bodoh, dia menikmati makanannya. Perutnya benar-benar lapar setelah tadi terjebak macet selama berjam-jam lamanya. Beberapa menit kemudian, cowok itu telah selesai menghabiskan semua makanan di meja. Lalu menatap pada Hana yang ternyata hanya makan sedikit. Cowok itu hanya menggelengkan kepalanya melihat hal itu.


“Gue mau ke toilet,” ucap Kendrict dan pergi dari sana. Meninggalkan Hana yang tidak diberi kesempatan untuk menjawab.


Beberapa saat Kendrict berada di toilet, cowok itu kembali keluar dan menuju kasir untuk membayar semua pesanannya. Setelahnya, dia kembali ke mejanya. Namun, ternyata Hana tidak di sana. Kendrict mengernyit, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru café ini.


“Ckck, ke mana tuh anak,” gumam Kendrict.


Cowok itu memutuskan untuk mencari keluar café. Namun, dia juga tidak menemukan keberadaan Hana. Kendrict berpikir jika gadis itu telah meninggalkannya. Akhirnya dia memutuskan untuk menuju tempat parkir.


“Helmnya masih ada,” ucap Kendrict mengambil helm milik Hana yang masih berada di motornya.


BRUKK!


Suara nyaring itu membuat Kendrict mengalihkan pandangannya. Cowok itu mencari sumber suara. Penasaran dengan apa yang terjadi, dia hanya ingin melihat saja dan setelahnya tidak ingin terlibat. Namun, keinginannya itu dia tarik kembali setelah melihat apa yang terjadi tepat di depan matanya.


Kendrict membulatkan matanya melihat pemandangan itu dan menatap pada dua orang perempuan yang dikenalnya sedang tertawa sambil bertos ria. Sementara seseorang jatuh tersungkur di tanah.

__ADS_1


“Kalian ngapain, hah?” bentak Kendrict.


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...


__ADS_2