Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Pertemuan Rahasia


__ADS_3

Begitu bel tanda pelajaran telah berakhir berbunyi, Nita segera membereskan semua barang-barang miliknya. Setelah guru yang mengisi kelas keluar, dia juga bergegas mengekor dari belakang.


Devi yang melihat keanehan dari sahabatnya itu mengernyitkan dahi. Dia pun juga bergegas mengejar Nita untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi.


"Nit! Nita!" panggil Devi.


Namun, ternyata jarak mereka terlalu jauh sehingga Nita tidak mendengar panggilan Devi. Ia merasa curiga pada Nita, padahal sejak tadi perempuan itu terlihat baik-baik saja. Mereka masih mengobrol dan ke kantin bersama.


"Temen lo ke mana?" tanya sebuah suara membuat Devi spontan menoleh.


"Gue nggak tau, tiba-tiba Nita langsung pergi tadi," jawab Devi.


Devi pun pergi dari sana tanpa mengatakan sepatah kata pun. Sebenarnya dia tidak terlalu dekat dengan geng Kendrict, Devi hanya mengikuti Nita saja dan yang baru saja bertanya adalah Joni salah satu anggota geng.


"Kenapa, Jon?" tanya Angga.


"Nggak papa. Jadi ke warnet?" jawab dan tanya Joni.


"Bentar, gue tanya bos dulu."


"Gue tunggu di warung biasa sama anak-anak."


Joni pun pergi dari sana, sedangkan Angga pergi ke kelas Kendrict. Namun, cowok itu tidak menemukan Kendrict.


"Ke mana si bos?" tanya Angga ketika bertemu Putra.


"Udah balik duluan," jawab Putra berlalu pergi.


Angga diam melihat kepergian Putra. Mendadak dia merasa aneh dengan perubahan Kendrict yang tiba-tiba. Bosnya itu kini jarang ikut berkumpul bersama mereka.


Namun, dia tidak ingin tahu lebih karena memang sebenarnya mereka tidak terlalu dekat. Hubungan mereka hanya sebatas teman tawuran saja dan Angga sangat menghormati Kendrict yang menurutnya sangat keren.


Sementara itu, Nita baru sampai di tempat janjian. Dia memperhatikan sekitar untuk mencari seseorang yang terlah berjanji dengannya.


"Ckck, belum dateng dia," decak Nita kesal.


Dia pun memilih salah satu meja di sana. Nita mengetuk-ngetuk jarinya di meja. Pintu cafe terbuka dan seseorang yang ditunggu Nita akhirnya tiba.


"Lama lo," kata Nita dengan wajah masam.


"Sorry, gue mau cabut ketahuan guru," jawab anak itu mengacak rambutnya yang sedikit basah akibat keringat.


"Pesen minum sana."


"Lo yang bayar?" tanya anak itu mengernyitkan dahi.


"Iya," jawab Nita pendek.


Wajah anak itu berbinar dan dia segera menuju meja pemesanan untuk memesan. Nita kembali dibuat menunggu, tapi dia harus bersabar demi kelancaran rencananya.

__ADS_1


"Lo mau minta tolong apa?" tanya anak itu kembali membawa segelas minuman soda.


"Menurut lo keadaan antara sekolah lo sama 22 gimana?" tanya Nita.


"Akhir-akhir ini tenang, damai."


Nita diam, dugaannya memang tepat. Memang akhir-akhir ini dua sekolah yang sangat terkenal sering tawuran itu mendadak tenang.


"Wa, lo tau hubungan Ken sama Aldi?" tanya Nita serius.


"Setau gue mereka musuh bebuyutan sejak dulu."


"Cuma sebatas itu? Lo tau Aldi pernah jenguk Ken di rumah sakit?"


Dewa nama anak itu terdiam, dia baru tahu hal tersebut. Cowok itu menatap tidak percaya pada Nita.


"Salah liat kali lo."


"Mana mungkin gue salah liat? Gue juga ada di sana sama anak-anak yang lain."


"Aldi nggak pernah bilang apa-apa soal itu. Gue juga heran dia jadi tenang," ucap Dewa berpikir.


"Gue jadi curiga ini ada kaitannya sama anak itu," kata Nita.


"Siapa?"


"Hana namanya, lo pasti juga pernah tau. Beberapa kali dia ke sekolah lo ngurus OSIS. Katanya Aldi mantan dia."


"Terus?"


"Gue perhatiin dia juga lagi deket sama Ken. Lo tau kabar kemarin tentang ada anak 22 yang punya banyak cowok 'kan?"


Dewa mengangguk sebagai jawaban. Dia masih mendengarkan cerita yang terlontar dari mulut Nita. Awalnya memang dia tidak tertarik, tapi begitu menyangkut Aldi, dia menjadi penasaran.


"Tuh anak nolak Aldi yang minta balikan dan sekarang jadian sama Ken. Semua orang udah tau kalo tuh anak suka nemplok sana-sini."


"Lo berharap apa sekarang?" tanya Dewa.


"Gue mau minta bantuan ke lo. Biar sama-sama nggak ada yang tersakiti. Gue mau kalian kasih pelajaran ke anak itu," jawab Nita.


"Tapi apa bener informasi lo ini akurat?"


"Gue jamin info yang gue dapet ini akurat. Gimana? Lo bisa bantu gue?"


Cukup lama Dewa diam memikirkan perkataan Nita. Sedangkan Nita harap-harap cemas, dia gugup dan sedikit takut jika rencananya akan ditolak oleh Dewa.


"Oke gue bantu, tapi gue punya syarat. Buat bayarannya, lo harus awasin gerak-gerik Ken dan laporin ke gue."


Nita tersenyum ceria, ia bernapas lega karena rencananya akan berjalan mulus.

__ADS_1


"Gue akan laporin semua kegiatan Ken, gue selalu deket sama dia. Lo tenang aja."


"Kapan hari H-nya?"


"Untuk itu nanti gue kabarin lagi."


Dewa mengangguk. "Oke, gue tunggu."


Keduanya berpisah ketika keluar dari cafe itu. Nita memekik girang dan dia segera berjalan pulang. Namun, langkah kakinya terhenti ketika di depan sana Nita melihat ada Hana yang sepertinya sedang menunggu seseorang.


"Ckck, ganggu mood gue aja," gumam Nita kesal.


Mendadak moodnya menjadi hancur. Namun, dia juga penasaran dengan Hana. Jadi, Nita menunggu dari tempatnya dan terus memperhatikan gadis itu. Tidak lama sebuah motor yang sudah sangat Nita hapal berhenti di depan Hana.


"Harusnya gue yang ada di sana. Tapi malah lo hancurin semuanya, yang pantes ada di sana itu gue," kata Nita mengepalkan kedua tangannya.


Melihat senyum dua orang itu membuat emosi Nita makin membuncah. "Senyum Ken cuma buat gue, lihat aja. Sebentar lagi senyum itu bakal gue buat hilang untuk selamanya."


Nita segera pergi dari sana dengan sisa emosi yang belum berhasil dia redakan. Sementara dua orang yang tidak menyadari sedang diperhatikan itu masih berdiri di tempatnya berada.


"Ken, gue mau ke toko buku dulu. Ada buku yang mau gue beli," kata Hana.


"Ayo, gue anter."


Hana menggeleng. "Kalo lo mau kumpul sama temen-temen lo, gue pergi sendiri nggak papa."


"Nggak! Gue yang harus anter lo, nanti kalo lo diculik gimana?" tolak Kendrict tegas.


Hana menghembuskan napas pasrah. Akhirnya dia pun menurut dan segera naik ke motor Kendrict.


"Han, gue ada permintaan," kata Kendrict sebelum menghidupkan mesin motornya.


Cowok itu memainkan jarinya pada tangan Hana yang tertaut di perutnya. Hana mengernyit dan meletakkan kepalanya di bahu cowok itu.


"Permintaan apa?"


"Jangan pake lo-gue lagi. Kita 'kan pacaran, udah nggak musuhan lagi."


"Terus?"


"Coba ngomong pake aku-kamu," pinta Kendrict.


"Oke," jawab Hana.


"Beneran?" tanya Kendrict menoleh.


Hana tersenyum dan mengangguk. Lalu, dia menutup kaca helm Kendrict dan menyuruhnya segera menjalankan motornya.


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...

__ADS_1


__ADS_2