
Pagi ini udara terasa segar. Hari Minggu yang cerah dengan langit bersih tanpa awan. Hana bersama Mira sedang menyiram tanaman di depan rumah. Sementara Glen masih tidur.
Ternyata Mira juga cukup menyukai tanaman hias. Beberapa hari yang lalu beliau menambah lagi koleksinya. Tidak hanya mengkoleksinya, terkadang ada beberapa orang yang merasa tertarik dan membelinya.
"Han, bantu Bunda angkat pot ini yuk. Mau Bunda pindah ke sana," ucap Mira.
"Iya, Bun."
Hana menghampiri Mira. Kedua orang itu mengangkat pot yang lumayan besar ukurannya. Cukup melelahkan setelah memindahkan pot tersebut. Peluh mengucur dari dahi keduanya.
"Istirahat dulu, yuk? Tinggal sedikit besok Bunda selesaiin."
"Kalau gitu Hana mau mandi dulu," pamit Hana.
"Oh ya, tolong sekalian bangunkan kakakmu, ya?"
"Iya, Bun," jawab Hana disertai anggukan kepala.
Dia pun segera masuk ke dalam dan naik ke lantai dua. Melangkahkan kakinya menuju kamar milik Glen yang pintunya masih tertutup rapat. Hana mengetuk pintu itu dan memanggil-manggil nama Glen.
"Kak Glen," panggil Hana.
Hening, tidak ada jawaban dari sang empunya kamar. Namun, Hana masih bersabar untuk membangunkan cowok itu.
"Kak, disuruh bunda bangun."
"Masih belum bangun, Han?" tanya Mira yang ternyata menyusul Hana.
"Belum," jawab Hana menggelengkan kepalanya.
"Ya udah biar Bunda yang bangunkan. Kamu mandi dulu, setelah itu kita sarapan."
Hana segera melaksanakan perintah Mira. Sementara wanita tersebut sudah berkacak pinggang dan meraih gagang pintu kamar Glen.
"Astaga Glen! Bangun, sudah siang!" gelegar suara Mira membuat Glen terkejut dan langsung terduduk di atas tempat tidurnya.
"Cepat mandi dan turun. Kita sarapan bersama!" perintah Mira.
Glen mengangguk dengan ekspresi linglung. Mira berjalan keluar dari kamar Glen.
"Langsung bangun! Jangan tidur lagi!" peringat Mira ketika melihat Glen hendak menjatuhkan kepala ke bantal.
Sementara itu, Hana baru saja selesai mandi. Dia turun ke bawah dengan membawa ponselnya. Hana duduk di salah satu kursi yang ada di meja makan. Di atas meja sudah tersedia masakan yang telah dimasak oleh Mbak Jum.
"Kamu mau susu cokelat?" tanya Mira pada Hana.
"Mau," jawab Hana antusias dan spontan meletakkan ponselnya di meja.
__ADS_1
Mira tersenyum dan segera ke dapur untuk membuat susu yang Hana minta tadi. Tidak lama kemudian Glen datang dengan wajah yang segar karena baru mandi.
"Bunda mana?" tanya Glen mengambil piring di meja.
"Di dapur lagi buat susu," jawab Hana.
"Bunda! Glen juga mau susunya!" teriak Glen dari tempatnya.
"Nggak sopan, Kak," peringat Hana.
Glen meringis merasa bersalah, cowok itu segera bangkit dari kursinya dan menghampiri Mira. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan dua gelas susu ditangannya.
"Ini," ucap Glen memberikan segelas susu pada Hana.
"Makasih, Kak."
Hana segera meminum susu hangat itu. Rasa manis dan hangat membuat mulut serta perut Hana nyaman. Tiba-tiba ponsel Hana berdering membuat gadis itu melirik pada ponselnya.
"Halo?" sapa Hana. "Maaf, ini siapa?" tanyanya karena panggilan tersebut dari nomor tak dikenal.
"Gue Putra. Gue boleh minta tolong?" jawab suara dari seberang sana.
"Minta tolong apa?" tanya Hana mengernyitkan dahi.
Sementara Glen memperhatikan Hana yang sedang menerima telepon. Mira yang baru datang juga memperhatikan Hana. Beliau memberi kode pada Glen untuk menanyakan siapa yang sedang Hana telepon. Namun, cowok itu hanya mengangkat bahunya.
"Ken katanya lagi sakit. Dia sendiri nggak ada yang urus. Kebetulan gue lagi ada urusan keluarga ke luar kota. Gue bisa minta tolong lo jenguk dia? Cuma buat pastiin si Ken masih hidup," jelas Putra.
"Han? Gue cuma bisa percaya lo sekarang, gue nggak mau serahin Ken ke Nita. Gue takut dia dimakan nanti," ucap Putra menyadarkan Hana.
"Iya, nanti gue jenguk dia," ujar Hana akhirnya.
Terdengar helaan napas lega dari seberang sana. "Thank's, nanti gue share lokasi dia."
Percakapan mereka berakhir, Hana kembali meletakkan ponselnya di meja. Gadis itu mendongak dan terkejut melihat Mira serta Glen kompak memperhatikannya.
"Siapa pagi-pagi telepon?" tanya Glen penasaran.
"Putra temannya Ken," jawab Hana.
"Ngapain tuh bocah telepon pagi-pagi? Mau modus, ya?" tanya Glen ngegas.
Hana menggelengkan kepalanya. "Nggak, Kak. Putra minta tolong ke Hana buat jenguk Ken. Dia lagi sakit katanya."
"Halah, modus itu. Jangan percaya."
"Hah? Ken sakit? Terus gimana keadaan dia sekarang?" tanya Mira, terlihat jelas ekspresi beliau sangat khawatir.
__ADS_1
"Hana juga belum tau. Nanti Hana mau jenguk Ken."
Mira mengangguk. "Kalau gitu bawain sarapan buat dia, ya? Glen nanti kamu antar Hana ke rumah Ken. Sebentar Bunda siapin dulu, kalian sarapan sekarang."
Mira segera ke dapur untuk membungkuskan makanan. Glen menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang bunda. Namun, cowok itu cuek saja. Dia segera mengambil nasi beserta lauk, perutnya sudah sangat lapar sekarang.
Setelah sarapan, Hana dan Glen menuju rumah Kendrict. Tadi Putra telah mengirim sebuah alamat.
"Emang dia tinggal sendiri? Orang tuanya nggak ada?" tanya Glen yang sepanjang jalan selalu mengomel.
"Hana juga nggak tau, Kak," jawab Hana.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di sebuah rumah. Rumah tersebut ternyata sebuah tempat kos. Ada beberapa kamar berjejer di bangunan ini. Glen memperhatikan sekitarnya.
"Bener ini?"
"Iya, udah sesuai sama yang dikirim Putra."
"Gaya elit, tapi hidupnya sulit."
"Kak, nggak boleh gitu," peringat Hana.
"Yang mana kamarnya?" tanya Glen memperhatikan sekitar.
"Kayaknya yang ini, itu motor Ken."
Hana mengetuk pintu dan memanggil nama Kendrict. Namun, tidak ada jawaban dari dalam sana. Glen yang tidak sabaran pun langsung mencoba membuka pintu kamar tersebut.
"Lah? Nggak dikunci," kaget Glen.
Cowok itu pun masuk terlebih dulu, diikuti Hana dari belakang. Kamar ini tidak terlalu luas dan hanya ada sebuah kasur, meja, dan lemari plastik.
"Beneran sakit kayaknya, Dek," ucap Glen menunjuk sosok di atas kasur itu.
Hana melongokkan kepalanya untuk melihat keadaan Kendrict. Dia pun mendekat dan menggoyangkan lengan cowok itu, mencoba membangunkannya.
"Ken," panggil Hana.
Tidak ada sahutan dari Kendrict. Hana pun segera mengecek suhu badan cowok itu. Sedangkan, Glen menonton dari belakang.
"Dia demam, Kak," kata Hana menatap Glen.
Glen menghembuskan napas kesalnya, dia pun berkeliling kamar ini untuk mencari barang yang dapat membantu saat ini.
"Nggak ada apa-apa di sini," kata Glen.
"Kalau gitu, Hana beli kompres dulu di minimarket depan. Kak Glen tunggu di sini."
__ADS_1
"Gue aja yang beli. Lo jaga dia, kayaknya aman. Dia nggak ada tenaga gitu," ujar Glen dan keluar dari kamar itu.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...