
Hana terbangun dengan peluh yang membasahi dahinya. Gadis itu memperhatikan sekitarnya. Mira dan Kendrict menatapnya dengan raut cemas di wajah mereka. Hana meringis ketika merasakan kepalanya terasa sakit, kepalanya terasa mau pecah saat ini. Ada air mata mengalir dari kedua matanya.
“Han, kenapa? Ada yang sakit? Bunda panggilkan dokter, ya?”
Tidak ada jawaban dari Hana, gadis itu masih merasakan kesakitan. Akhirnya Mira memanggil dokter. Tidak membutuhkan waktu lama, seorang dokter datang dan segera memeriksa keadaan Hana.
“Kemungkinan ini efek pasca operasi. Kita akan lakukan pengecakan kembali untuk kondisinya. Saya akan jadwalkan untuk MRI.”
Magnetic resonance imaging atau MRI adalah pemeriksaan organ tubuh yang dilakukan dengan menggunakan teknologi magnet dan gelombang radio.
MRI sering dilakukan dan berkaitan dengan pemeriksaan terhadap otak, saraf tulang belakang, jantung, pembuluh darah, tulang, sendi, jaringan lunak, dan organ-organ tubuh lainnya. Saat ini Hana mmebutuhkan pemeriksaan tersebut untuk mengetahui diagnosis penyakit yang dideritanya.
Sebelum dokter tersebut pergi, Hana diberikan pereda nyeri untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya. Setelah dokter itu pergi, Mira pamit keluar untuk menelpon Samsul. Keadaan Hana saat ini tidak bisa dikatakan dalam kondisi baik-baik saja.
Apalagi tadi gadis itu mendengar hal menyakitkan dari Glen. Mira berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar Hana. Menunggu telponnya dijawab oleh sang suami.
“Halo” sapa Samsul dari seberang sana.
Mendengar suara tersebut, kepala Mira spontan terangkat. Ada perasaan lega panggilannya terjawab.
“Mas, kamu harus pulang sekarang juga,” kata Mira tanpa basa-basi.
“Ada apa?”
“Ini tentang Hana. Kondisinya tiba-tiba memburuk. Bisa ‘kan pulang sekarang?”
Cukup lama Samsul terdiam, seperti menimbangkan permintaan dari sang istri. Mira masih menunggu jawaban dari Samsul.
“Mas ….”
__ADS_1
“Akan aku usahakan,” kata Samsul akhirnya.
Ada senyum terbit dari bibir Mira. Setelahnya panggilan berakhir dan Mira kembali masuk ke kamar rawat Hana. Sebenarnya ada sedikit rasa bersalah Mira pada Samsul. Malam sudah larut dan dia memaksa sang suami untuk pulang sekarang.
Kamar rawat ini terasa hening. Kendrict masih bertahan di kamar ini. Sebentar lagi dia akan pamit pulang setelah melihat keadaan Hana baik-baik saja. Sementara Hana sejak tadi diam, rasa sakitnya telah berkurang. Pandangannya menatap pada jendela, tapi pandangan itu terlihat kosong. Tidak seperti sorot mata Hana yang selalu memberi keceriaan pada orang lain, kali ini benar-benar kosong. Entah apa yang dipikirkan oleh gadis itu sekarang.
“Ken pamit pulang dulu, Tan,” pamit Kendrict akhirnya.
“Maaf, Ken. Kamu jadi harus di sini lebih lama. Terima kasih juga telah menjaga Hana,” kata Mira.
Kendrict mengangguk, dia melangkah menghampiri Hana. Bermaksud untuk pamit pada gadis itu. Namun, Hana tidak menoleh padanya ketika dipanggil namanya. Bahkan saat Kendrict bicara pada Hana, gadis itu mengabaikannya. Cowok itu menghembuskan napas pasrahnya dan berjalan keluar kamar rawat Hana.
“Han, istirahat, ya? Perkataan Glen jangan terlalu dipikirkan. Glen hanya asal bicara. Kamu anak yang sangat baik. Kamu tau itu ‘kan?” tutur Mira.
Hana masih diam, memandang jendela yang sengaja gordennya tidak di tutup. Itu permintaan Hana, dia ingin melihat kerlip lampu di luar sana. Namun hari ini Hana seperti dibutakan, kerlip lampu itu mendadak hilang.
Mata Hana tidak bisa terpejam. Walau malam sudah berganti pagi. Gadis itu masih berada pada posisinya. Sorot semangat dari matanya pudar begitu saja. Pintu kamar rawat Hana terbuka dan menampilkan sosok berseragam TNI. Mira yang sedang tidur spontan terbangun.
Samsul tidak menjawab, pandangannya fokus pada Hana. Mira yang paham mempersilakan sang suami untuk menemui Hana terlebih dulu. Samsul berjalan mendekat pada putrinya. Ada sesuatu yang menghantam dadanya begitu melihat keadaan putri satu-satunya ini.
“Kalau sudah, kita bicara di luar, Mas,” kata Mira dan berjalan terlebih dulu keluar dari kamar rawat.
Tidak lama kemudian, Samsul keluar dan mendapati Mira telah berlinang air mata. Samsul duduk di sebelah sang istri dan mendengarkan semua cerita darinya. Tentang bagaimana Glen yang sangat marah padanya dan berakhir mengatakan semua hal. Sialnya semua itu didengar langsung oleh telinga Hana.
“Maafkan Glen, Mas. Anak itu benar-benar nakal, aku merasa gagal dalam mendidiknya,” kata Mira dengan tangis tersedu-sedu.
“Tidak ada yang salah di sini. Memang sudah waktunya bagi Hana untuk mengetahui semuanya,” ujar Samsul dengan pandangan menerawang.
Mira dan Samsul kembali masuk setelah pembicaraan mereka. Beberapa saat kemudian juga seorang perawat datang. Perawat itu hendak membawa Hana untuk melakukan pemeriksaan. Selagi Hana menjalani pemeriksaan MRI, Mira dan Samsul menunggu. Kurang lebih keduanya menunggu selama 45 menit. Kini Mira dan Samsul menghadap dokter untuk pembacaan hasil diagnosis dari dokter.
__ADS_1
“Bagaimana, dok?” tanya Mira.
“Apakah dulu pasien pernah menjalani operasi kepala?”
Mira mengernyitkan dahi, pasalnya dia belum pernah mengetahui hal tersebut. Namun, jawaban dari Samsul membuatnya terdiam.
“Pernah, dok. Dulu dia juga pernah mengalami kecelakaan dan harus menjalani operasi. Setelahnya, dokter berkata jika Hana mengalami amnesia.”
Dokter tersebut menganggukkan kepalanya, kini dia telah mengetahui penyebab mengapa Hana kesakitan di kepalanya.
“Sakit kepalanya beberapa waktu yang lalu kemungkinan dapat disebabkan oleh lukanya dulu. Apakah sekarang amnesianya sudah sembuh?”
Samsul menunduk. “Belum, dok. Saya sengaja tidak berniat memulihkan ingatan Hana.”
Dokter tersebut mengernyitkan dahinya mendengar pernyataan dari Samsul, sementara Mira tetap diam. Bingung harus berbuat apa saat ini, karena dia juga tahu fakta bahwa memang Samsul tidak berniat mengembalikan ingatan Hana.
Setelah berkonsultasi dengan dokter, Mira dan Samsul kembali ke kamar rawat Hana. Ternyata gadis itu sedang tidur, wajahnya terlihat sangat lelah. Mira yakin jika semalaman Hana tidak tidur. Wanita itu kembali teringat apa kata dokter tadi jika kemungkinan ingatan Hana yang hilang beberapa tahun silam akan kembali.
“Apa yang akan kamu lakukan sekarang, Mas?” tanya Mira pada Samsul yang sejak keluar dari ruang dokter tadi hanya diam membisu.
Samsul mengacak rambutnya. Beliau tidak ingin kembali menggores luka dan tergores luka. Namun, jika dibiarkan juga Hana akan lebih tersakiti. Pria itu kini sedang dilanda dilema. Menyesali semua perbuatan yang telah dilakukan, itu yang kini Samsul rasakan.
“Ternyata aku sangat jahat pada satu-satunya putriku,” gumam Samsul.
Mira menepuk bahu Samsul untuk memberi sang suami kekuatan juga ketenangan. Wanita itu juga tidak tega melihat bagaimana terpuruknya sang suami saat ini.
“Masih belum terlambat untuk memperbaiki semuanya,” ujar Mira.
Samsul menoleh dan tersenyum samar, membenarkan apa yang dikatakan sang istri. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki apa yang telah rusak ini.
__ADS_1
Tanpa keduanya sadari, di depan pintu kamar rawat berdiri seseorang yang urung untuk masuk. Kendrict berbalik, mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar rawat Hana. Namun, langkahnya terhenti ketika tidak jauh darinya berdiri Glen yang sedang menatapnya.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...