
Glen keluar dari ruang OSIS dengan wajah yang lelah. Di dalam sana dia diberi beberapa pertanyaan oleh para anak OSIS dan MPK. Glen serasa seperti sedang diinterogasi. Beruntung sekarang telah selesai.
Ternyata anak-anak elit sekolah itu sedang menyusun rencana untuk menyelidiki keributan yang terjadi kemarin. Pihak sekolah belum menemukan dalang dibalik keributan tersebut karena anak-anak yang terlibat kemarin masih bungkam.
Hana dan Kendrict juga tidak ke sekolah hari ini, jadi tidak ada yang ditanyai lagi terkait keributan itu. Ada kabar beredar jika Kendrict sedang dirawat karena mengalami kecelakaan. Namun, pihak sekolah tetap mengirimkan surat kepada orang tua cowok itu.
Glen kembali ke kelasnya sementara anak-anak elit itu masih bertahan di ruang OSIS. Masih terjadi percakapan di ruang ini. Mereka masih terus berusaha mencari anak yang pertama kali menyebarkan rumor tentang Hana.
"Jadi, awal mulanya itu beredar kabar kalo Hana temenannya cuma sama anak-anak cowok aja. Intinya dia suka pilih-pilih temen," kata Ara.
"Kapan gosip itu beredar?"
"Pagi, tiba-tiba aja grup kelas gue rame bicarain tentang Hana," jawab Manda.
"Sama, grup kelas gue juga udah pada heboh tuh pagi-pagi," tambah Anggun.
"Hmm, jadi mereka kirim serentak, ya?" gumam Adrian.
Dirinya juga sempat menyimak obrolan grup ketika itu, tapi dia hanya membaca sekilas saja karena memang Adrian harus bersiap berangkat ke sekolah. Sementara Hana sepertinya juga belum mengetahui jika sedang menjadi topik hangat.
Hana memang jarang membuka ponselnya di pagi hari, dia akan sibuk dengan aktivitasnya bersiap ke sekolah. Jadi, Hana tidak punya waktu melihat ponselnya jika memang tidak ada hal yang genting.
"Kalian masih ingat siapa yang kirim berita itu di grup?" tanya salah satu anak MPK.
Serentak mereka mengecek ponsel masing-masing dan kembali mencari chat tersebut. Setelah menemukan nama-nama itu, mereka mencatatnya dan berencana untuk menanyai anak-anak tersebut.
Suara bel menghentikan aktivitas di dalam ruang OSIS ini. Mereka pun mengakhiri perkumpulan dan kembali ke kelas masing-masing karena pembelajaran sebentar lagi akan dimulai.
"Gue baru tau kalo Kak Glen kakaknya Hana," kata Anggun yang berjalan bersama Adrian.
"Gue juga baru tau," balas Adrian.
__ADS_1
"Setau gue bundanya Hana udah meninggal waktu dia masih kecil."
Adrian diam tidak menanggapi, dia memang tidak tahu apapun perihal kehidupan pribadi Hana. Mereka jarang mengobrol atau bercerita tentang hidup masing-masing, mereka belum sedekat itu.
Sebenarnya ia juga bertanya-tanya ketika melihat Hana berangkat ke sekolah bersama dengan Glen beberapa hari yang lalu. Bagaimana bisa Hana mengenal anak baru di sekolah ini? Terlebih anak baru tersebut adalah senior mereka. Namun, hari ini berbagai pertanyaan itu telah terjawab.
Adrian menabrak punggung Anggun yang tiba-tiba berhenti. Cowok itu terkejut dan hendak bertanya apa yang membuat gadis didepannya ini tiba-tiba menghentikan langkahnya, tapi Anggun lebih dulu memperlihatkan ponselnya pada Adrian.
Dia membaca deretan kata di layar ponsel itu, ternyata Anggun mendapat chat dari Hana. Hana meminta Anggun untuk menemuinya di rumah sepulang sekolah nanti.
"Coba tanya gue boleh ikut nggak," pinta Adrian mengembalikan ponsel milik Anggun.
Gadis itu segera menurut dan bertanya pada Hana. Ternyata tidak membutuhkan waktu lama Hana segera membalas chat Anggun.
"Sorry, Dri. Dia mau bicara empat mata sama gue, nanti gue ceritain aja setelah dari rumahnya."
"Oke, nggak papa. Titip salam buat Hana."
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...
Sepulang sekolah Anggun menuju rumah Hana. Dia pergi seorang diri. Hanya Adrian yang tahu jika hari ini Anggun akan bertemu dengan Hana. Sejak kemarin dia sangat mengkhawatirkan keadaan temannya itu.
Anggun bertekad akan berada dipihak Hana dan akan membantunya untuk menyelesaikan masalah ini. Anggun akan membalas rasa penyesalannya dulu pada Hana. Dahulu Anggun tutup mata melihat Hana diperlakukan dengan kejam oleh senior mereka ketika di SMP. Anggun terlalu takut jika hendak ikut campur.
Dia telah sampai di depan rumah Hana. Gerbang rumah itu tertutup rapat. Anggun menekan bel di dekat gerbang. Cukup lama dia menunggu hingga gerbang tersebut terbuka.
Bukan penghuni rumah yang membukanya, melainkan Glen yang baru pulang. Cowok itu mengernyit melihat Anggun berdiri mematung di depan rumahnya.
"Mau ketemu Hana," kata Anggun menjelaskan sebelum ditanya.
Glen hanya mengangguk dan mempersilakan Anggun masuk. Dia pun mengekor di belakang Glen dengan menuntun sepeda motornya.
__ADS_1
"Tunggu dulu, gue panggilin Hana," kata Glen dan naik ke lantai dua.
"Dek, tuh temennya udah dateng," panggil Glen, suara cowok itu terdengar hingga tempat Anggun berada.
"Masuk langsung ke kamarnya aja," kata Glen dari lantai dua, kepala cowok itu melongok ke bawah.
Anggun pun mengangguk dan naik menuju kamar Hana. Glen menujuk pintu yang tertutup rapat dengan dagunya, lalu cowok itu menghilang dibalik pintu sebelah.
Anggun mengetuk pintu perlahan sebelum dipersilakan masuk. Dia masuk dan menemukan Hana sedang duduk di atas tempat tidur. Anggun menghampiri Hana dan memeluk gadis itu. Keadaan temannya ini sangat berantakan. Raut wajahnya terlihat sangat lelah.
"Maaf, gue baru dateng, Han. Lo pasti bingung, lo boleh cerita semuanya ke gue. Ayo kita cari jalan keluarnya bareng-bareng," ucap Anggun, tangannya mengusap punggung Hana mencoba untuk memberi rasa nyaman.
Tangis Hana kembali pecah. Entah sudah berapa kali hari ini dia menangis, rasanya sudah sangat lelah menangis seharian. Setelah sedikit tenang, Hana melepas pelukannya.
"Lo tenang aja, Han. Jangan tanggung semuanya sendiri, anak-anak lagi usaha cari dalang dibalik kejadian itu. Pihak sekolah juga udah bantu. Jadi, jangan ngerasa kalo semua ini salah lo, ya?" ucap Anggun memaksakan senyuman, tangannya menyeka air mata di pipi Hana.
"Makasih, Nggun. Maaf, gue cuma undang lo."
"Nggak papa, Han. Anak-anak yang lain nggak tau kalo gue di rumah lo. Cuma tadi Adrian yang tau, dia titip salam buat lo."
Hana mengangguk, "Gue nggak tau kapan bisa masuk sekolah lagi. Gue masih takut, Nggun."
"Jangan maksain diri! Lo istirahat di rumah dulu, tenangin diri dulu. Selama ini lo udah capek banyak ngurus anak-anak. Sekarang waktunya lo istirahat sebentar, ya?"
Hana tersenyum dan mengangguk. Dia menyeka sisa air matanya yang tersisa di pipi. Mengatur napasnya sebelum mengatakan tujuan yang sebenarnya dia hendak bertemu Anggun sekarang.
"Nggun, gue siap buat mundur dari jabatan gue sebagai ketua OSIS," kata Hana menatap Anggun serius.
"Han!" kaget Anggun menatap Hana.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...
__ADS_1