
Mira berlari di sepanjang koridor rumah sakit. Tadi beliau mendapat telpon dari sekolah tentang Hana. Menurut informasi yang didengar Mira, saat ini Hana sedang menjalani operasi di kepalanya. Wanita itu telah sampai di depan ruang operasi, tidak ada siapa pun di sana.
Hanya dirinya seorang. Mira terduduk di kursi tunggu yang ada di sana. Tangannya gemetar ketika mengambil ponsel dari dalam tasnya. Berniat hendak mengabari Samsul. Namun, panggilannya tidak tersambung. Akhirnya Mira hanya mengirimkan pesan pada pria itu.
“Ah ya, Glen,” gumam Mira teringat putranya.
Mira pun menelpon Glen dan menanyakan keadan cowok itu. “Bunda ada di rumah sakit sekarang. Kalau kamu mau nyusul nanti Bunda kirim alamatnya.”
“Iya, hati-hati di jalan,” kata Mira mengakhiri percakapannya dengan putra semata wayangnya.
Kini fokus Mira kembali pada Hana, pandangannya tertuju pada pintu masuk ruang operasi yang masih tertutup rapat.
Wanita itu terus memanjatkan doa agar operasi yang dijalani Hana berjalan dengan lancar dan tidak ada masalah yang serius. Mira menoleh ketika mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Ternyata dia adalah Glen, cowok itu duduk di sebelah sang bunda.
“Sebenarnya apa yang terjadi di sekolah?” tanya Mira.
Akhirnya Glen menceritakan kejadian di sekolah tadi. Sementara Mira benar-benar tidak menyangka jika peristiwa seperti itu bisa terjadi di sekolah. Beliau tidak habis pikir dengan anak-anak zaman sekarang yang sangat menyukai kekerasan. Ada emosi yang siap meledak setelah mendengarkan cerita dari Glen.
“Bunda harus tuntut mereka! Ayah juga pasti nggak akan membiarkan hal ini terjadi. Apalagi banyak yang menjadi korban,” tutur Mira.
Glen hanya diam melihat kemarahan Mira. Kepalanya menunduk, ada rasa iri dalam dirinya. Melihat bagaimana sang bunda sangat mengkhawatirkan Hana yang notabenenya hanya anak tiri. Emosi dalam diri cowok itu kembali membuncah. Namun, untuk saat ini Glen hanya bisa diam menahan semua itu.
Beberapa jam lamanya Mira dan Glen menunggu, akhirnya operasi yang Hana jalani selesai. Dokter dan para perawat keluar untuk menemui keluarga pasien. Melihat hal itu, spontan Mira berdiri dari duduknya, sedangkan Glen yang dari tadi tertidur spontan membuka matanya.
__ADS_1
“Bagaimana operasi anak saya, Dok?” tanya Mira.
“Operasi berjalan lancar, untuk lebih jelasnya ibu bisa ikut ke ruangan saya. Pasien sedang dipindahkan ke ruang rawat.”
Mira mengangguk dan mengajak Glen untuk turut serta. Mereka berjalan mengikuti dokter tersebut hingga masuk ke dalam ruang kerja sang dokter. Mira dan Glen duduk berhadapan dengan sang dokter.
“Terjadi sedikit gumpalan darah pada kepala pasien, kemungkinan gumpalan itu terjadi karena benturan yang sangat keras. Beruntung pasien segera mendapat pertolongan dan segera dilarikan ke rumah sakit. Ibu tidak perlu khawatir, selain hal tersebut tidak ada yang serius. Untuk luka luarnya mungkin beberapa hari ke depan akan sembuh.”
Ada air mata menetes dari kedua mata Mira mendengar penuturan dokter. Sementara Glen masih membisu, sebenarnya dia juga tidak menyangka jika ternyata luka Hana cukup serius.
“Ah ya, bahu kanannya mengalami cedera. Namun, untung bukan cedera yang serius. Saat ini akan terus kami pantau perkembangannya,” jelas dokter tersebut.
Mira dan Glen keluar dari ruangan dokter. Wanita itu terasa lemas saat ini setelah mendengar semua penuturan dari dokter tadi. Kedua orang itu kini berjalan menuju ruang rawat Hana. Mira membuka pintu kamar dengan perlahan.
Mira berjalan mendekat pada bed Hana, gadis itu masih belum sadarkan diri. Kemungkinan efek dari anestesi belum habis. Sedangkan Glen juga terpaku menatap sosok itu, langkahnya ikut mendekat agar dapat melihat lebih jelas keadaan Hana.
“Di saat seperti ini, ayah nggak bisa dihubungi,” gumam Mira.
Tangannya menggenggam tangan Hana. Ada rasa hangat yang tersalur dari genggaman itu. Benar apa yang dikatakan Mira, hingga sekarang Samsul belum menghubunginya kembali atau bahkan membaca pesannya.
Tengah malam sudah lewat, kini sudah masuk dini hari. Namun, belum ada tanda-tanda Hana sadar setelah operasinya. Tentu ada rasa cemas dalam diri Mira yang sejak tadi tidak dapat memejamkan matanya barang sebentar. Padahal selang selesai operasi hingga saat ini sudah cukup lama.
“Kenapa kamu belum bangun, Han? Jangan membuat Bunda khawatir seperti ini,” gumam Mira yang tidak melepas genggaman tangannya.
__ADS_1
Bahkan hingga matahari terbit juga Hana masih setia memejamkan matanya. Perasaan cemas Mira semakin bertambah. Akhirnya dia memanggil dokter untuk memeriksa keadaan gadis itu. Tidak lama seorang dokter masuk ke kamar rawat Hana untuk memeriksanya.
“Bagaimana, Dok? Kenapa sampai sekarang Hana belum bangun?”
“Tidak perlu khawatir, saat ini kondisi pasien mulai membaik. Kemungkinan pasien akan sadar hari ini. Saat ini pasien seperti sedang tidur pulas.”
Mira menghembuskan napas leganya. Dokter tersebut pamit dan Mira kembali mendekati Hana. Beliau sangat berharap jika Hana segera bangun. Lalu Mira beralih pada Glen yang ternyata sudah bangun.
“Kamu mau pulang dulu?” tanya Mira.
Dengan mata masih setengah terbuka, Glen mengangguk. Tangannya mengucek mata dan mulutnya menguap lebar. Tubuhnya terasa sakit semua karena posisi tidurnya yang kurang tepat.
Glen pun pulang dan siang nanti dia diminta untuk kembali bersama dengan Mbak Jum. Mira meminta Glen untuk membawakan baju ganti serta perlengkapan lain untuk tinggal di rumah sakit selama beberapa waktu. Setelah kepergian Glen, Mira memutuskan untuk keluar membeli sarapan serta beberapa keperluannya. Tadi Mira telah menitipkan Hana pada perawat yang sedang berjaga.
Sementara itu dalam tidur lelapnya, Hana bermimpi. Gadis itu memimpikan sang bunda yang telah tiada. Hana bertemu dengan sang bunda dalam mimpinya. Namun, ada yang membuatnya heran. Saat ini Hana bukan seperti yang sekarang ini. Dalam mimpinya, Hana masih berusia kurang lebih sembilan atau sepuluh tahun dan mereka berada di sebuah danau.
Tidak hanya sang bunda, dalam mimpi Hana juga ada Samsul. Mereka bertiga terlihat sangat bahagia saat ini. Tertawa bersama di pinggiran danau. Hana mengira jika mereka sedang berpiknik di danau ini.
Namun, dalam sekejap suara tawa itu lenyap. Secara tiba-tiba Hana terjatuh ke air. Gadis itu kebingungan, tangannya menggapai-gapai permukaan air. Sementara kakinya terasa tidak bisa bergerak, seperti ada sesuatu yang menahannya. Sedikit demi sedikit napasnya mulai berkurang, menyebabkannya tersengal-sengal.
Bahkan, saat ini Hana merasa jika ini bukanlah sebuah mimpi. Dia seperti pernah mengalami hal semacam ini. Di tengah rasa paniknya, Hana melihat ada seseorang yang berenang menghampirinya. Dahi gadis itu mengernyit karena tidak dapat melihat jelas wajah orang itu. Ada tangan yang terulur berusaha menggapai Hana.
“Kamu harus bertahan,” bisik sebuah suara.
__ADS_1
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...