
Orang tua Frans dan beberapa guru dari sekolahnya datang ke rumah sakit. Mereka bertemu dengan Kendrict dan Putra yang masih menunggu di depan UGD. Kedua cowok itu serempak berdiri dari duduknya begitu melihat orang tua Frans yang datang dengan ekspresi panik.
“Apa yang terjadi dengan Frans?” tanya mama Frans pada Kendrict. Wanita itu menatap Kendrict dan Putra secara bergantian.
“Ken, sebenarnya apa yang terjadi? Tadi bapak dengan jika kalian terlibat perkelahian, benar begitu?” Kini seorang guru dari sekolahnya yang bertanya.
“Nggak, Pak! Kami nggak berantem. Tadi Frans datang sudah babak belur dan katanya anak Rajawali yang buat dia babak belur,” jawab Kendrict. Dalam hati Kendrict merutuki siapa saja yang telah menyebarkan berita seperti itu.
Mendengar hal itu dari Kendrict, mama Frans menjadi histeris. Beliau langsung masuk ke dalam UGD untuk menemui putranya, sementara sang papa mengikuti dari belakang.
“Kalian kembali ke sekolah, nanti pihak sekolah yang akan mengurus. Ingat! Jangan melakukan hal yang mencoreng nama baik sekolah,” ucap guru itu.
Tadinya Kendrict tidak ingin menurut dan merasa tidak terima. Cowok itu sudah tidak dapat mempercayai pihak sekolah dalam menyelesaikan hal semacam ini. Dari kejadian yang sudah-sudah, pihak sekolah selalu mengubur kejadian seperti ini. Biasanya kedua belah pihak sekolah akan menggunakan jalur damai untuk menyelesaikannya.
Namun, Putra berusaha menenangkan sahabatnya dan mengajak Kendrict untuk pergi dari sana. Akhirnya cowok itu menurut dan mereka kembali ke sekolah. Sesampainya di sekolah, Kendrict langsung memberitahu semua anggota gengnya untuk segera berkumpul.
“Kumpul di mana? Kalo di gudang tempatnya terlalu sempit,” tanya Putra.
“Kantin,” jawab Kendrict pendek.
“Yakin lo?”
Kendrict hanya mengangguk dan mempercepat langkahnya. Suasana koridor masih ramai. Melihat sang pentolan sekolah lewat, serempak perhatian mereka teralihkan. Setelahnya, mereka ribut sendiri. Meributkan kejadian tadi di mana Frans yang babak belur entah siapa yang menghajar. Kendrict memasuki kantin dan mengedaran pandangannya untuk mencari tempat yang strategis. Lalu pandangannya tertuju pada sebuah meja yang telah berpenghuni, Kendrict menghampiri meja itu.
“Minggir lo pada, gue mau pake meja ini!” usir Kendrict pada anak-anak itu.
Anak-anak itu spontan membubarkan diri ketika tahu siapa yang sedang mengusir mereka. Kendrict tersenyum miring melihat bagaimana anak-anak itu langsung patuh padanya.
“Pesen apapun yang lo mau, gue yang bayar,” ucap Kendrict dan langsung duduk di salah satu kursi.
Putra pun langsung memesan berbagai makanan dan minuman untuk konsumsi mereka selama rapat darurat ini. Beberapa anggota geng Kendrict mulai berdatangan dan hal itu membuat kantin makin ramai. Banyak anak yang bertanya-tanya, pasalnya geng Kendrict sangat jarang muncul di kantin sekolah.
__ADS_1
Setelah semua teman-temannya berkumpul termasuk Nita dan Devi yang tidak pernah absen, Kendrict mulai menceritakan kronologis kejadian yang menimpa Frans. Reaksi mereka hampir semua sama, yakni langsung tersulut emosi.
“Gue nggak bisa percaya seratus persen sama guru di sini. Kalian sendiri tau ‘kan gimana mereka ngurus kasus yang dulu-dulu?” tanya Kendrict.
Serempak mereka semua mengangguk, membenarkan apa yang diucapkan oleh bos mereka. Mereka semua telah sepakat untuk mambalas dendam.
“Apa rencana lo, bos?” tanya Angga.
“Kita akan gelar tawuran besar-besaran,” jawab Kendrict.
“Kapan?”
Kendrict memperhatikan sekitarnya, terlalu banyak anak di kantin saat ini. Dia takut jika mereka semua akan mendengar rencananya, Kendrict yakin jika anak-anak di sini diam-diam menguping pembicaraan mereka.
“Buat waktunya nanti gue bagi tau di grup, untuk sekarang kalian tetap waspada. Jangan tersulut emosi kalo ketemu anak Rajawali di jalan. Kalo kalian semua emosi, kita sendiri yang akan rugi.”
Lagi-lagi mereka langsung patuh terhadap apa yang diucapkan oleh Kendrict. Selanjutnya mereka menikmati makanan yang disajikan oleh ibu kantin. Sementara Kendrict hanya memperhatikan mereka, cowok itu sama sekali tidak menyentuh makanan atau minuman di sana. Pikiran cowok itu sedang berkelana, memikirkan strategi-strategi untuk perang nanti.
“Matikan rokoknya!” perintah Hana, “Dan ikut gue ke ruang BK,” lanjutnya.
“Nggak usah sok lo!” bentak seorang anak yang tergabung dalam geng Kendrict.
Namun, Hana sama sekali tidak takut oleh gertakan semacam itu. Dia tetap harus membasmi siapa saja yang melanggar aturan sekolah. Tadi ia melihat kepulan asap rokok dan ketika memeriksanya, benar saja. Ada seorang anak yang sedang merokok dengan terang-terangan di tempat ini.
“Lo melanggar aturan sekolah, jadi harus ditindak. Kalian tau kalo sekolah melarang siswanya merokok, kenapa masih dilanggar?” tanya Hana tegas.
“Nggak usah sok ikut campur, Nyet!” Anak itu merangsek maju hendak menyerang Hana.
Melihat hal itu Kendrict turun tangan. Cowok itu menahan tangan temannya yang hendak menyerang Hana. Sementara, teman-teman Hana sudah memekik histeris.
“Biar gue yang urus, kalian bubar!” perintah Kendrict.
__ADS_1
Mereka semua membubarkan diri dengan ekspresi mengejek pada anak-anak OSIS. Melihat hal itu, tentu saja Hana tidak terima.
“Lo ….”
“Ikut gue!”
“Nggak!” tolak Hana, “Heh! Kalian mau ke mana? Kembali ke sini!”
Kendrict mendengus dan dia menahan Hana yang hendak mengejar teman-temannya. Lalu, Kendrict meminta para anak OSIS itu juga membubarkan diri. Tentu mereka tidak langsung menurut, tapi mereka takut dengan ancaman yang dilayangkan oleh Kendrict. Dengan permintaan maaf, akhirnya mereka meninggalkan Hana.
“Ikut gue! Lo sendiri yang bakal rugi, temen-temen gue lagi pada emosi. Mereka nggak akan segan hajar lo.”
“Tapi ….”
Kendrict menarik tangan Hana agar gadis itu mengikutinya. Langkah Hana terseret, dia mencoba untuk melepaskan tangannya dari genggaman Kendrict. Walau genggaman tangan Kendrict tidak menyakitinya, tapi Hana kesusahan dengan langkah cowok itu. Ternyata cowok itu membawa Hana ke belakang gedung sebuah kelas. Di tempat ini tidak ada siapapun.
“Gue ada permintaan,” kata Kendrict melepas genggaman tangannya.
“Apa?” tanya Hana mengernyitkan dahinya.
“Jangan ikut campur masalah teman-teman gue untuk beberapa hari ke depan.”
“Gue nggak bisa,” tolak Hana tegas.
Kendrict mengacak rambutnya frustasi, mengapa gadis di depannya ini sangat keras kepala? Lagi-lagi cowok itu meninju dinding di belakang Hana. Membuat gadis itu terdiam dengan ekspresi terkejut.
“Sekali ini aja lo jangan ikut campur! Urus aja acara pesta sekolah. Kerjaan lo udah banyak, nggak perlu urusin hal di luar itu. Paham lo?” tanya Kendrict untuk terakhir kalinya, matanya mengunci mata Hana. Berharap gadis itu akan menurut kali ini.
Namun, gadis itu mengelengkan kepalanya. Tanda jika dia tidak setuju. Kendrict memejamkan matanya dan mengumpat dalam hati. Suara deheman membuat keduanya serempak menoleh. Memang jarak keduanya sangat dekat saat ini. Namun, Hana tidak mempedulikan hal itu. Dia membeku di tempatnya saat tahu siapa orang yang tadi berdehem. Hana menatap ekspresi anak itu.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...
__ADS_1