
Hari ini adaah hari Sabtu dan pukul sembilan nanti Hana akan mengikuti kegiatan amal di sebuah panti asuhan. Kini Hana sedang bersiap-siap, akhirnya dia akan berangkat bersama dengan Kendrict. Sebenarnya Hana telah menolak dengan berbagai cara, tetapi cowok itu punya seribu cara licik dalam kepalanya.
Bahkan, kemarin sepulang sekolah Kendrict melakukan hal ekstrem dengan membuntutinya hingga sampai rumah dan kebetulan bertemu dengan Samsul.
“Om, besok saya mau jemput Hana. Kita ada acara amal besok,” ucap Kendrict tanpa basa-basi.
Samsul mengernyitkan dahi mendengar apa yang diucapkan oleh cowok itu. Lalu tatapan beliau beralih pada Hana yang berdiri mematung tidak jauh darinya, masih dengan sepeda kesayangannya.
“Wah, siapa ini? Temannya Hana, ya?” tanya Mira yang baru keluar rumah membawa secangkir kopi yang diyakini milik Samsul.
Kendrict mengernyit menatap Mira. Namun tidak membutuhkan waktu lama, cowok itu memasang wajah cerianya.
“Iya, Tante. Saya mau minta izin jemput Hana besok.”
“Besok ada acara apa? Bukan kencan ‘kan?”
Hampir saja Hana tersedak mendengar pertanyaan Mira, sementara Samsul menaikkan kedua alisnya tinggi-tinggi. Sepertinya bapak satu ini belum rela jika putri semata wayangnya memiliki sosok pria lain selain dirinya. Namun, rupanya Samsul pandai menguasai ekspresi wajahnya.
Dari obrolan tersebut, akhirnya kedua orang tua Hana mengizinkan Kendrict menjemputnya. Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Hana yang sedang menatap cermin. Gadis itu menoleh pada pintu yang memang sudah terbuka. Di ambang pintu sudah berdiri Mira dengan senyum lembutnya.
“Ken udah dateng tuh,” ucap Mira.
“Iya, Bun,” jawab Hana yang kini mulai berusaha membiasakan diri untuk memanggil Mira dengan sebutan ‘Bunda’.
Mira mengangguk dan keluar dari kamar Hana, entah mau menemui Kendrict atau kembali melakukan aktivitas lainnya. Hana segera meraih tas selempangnya, sebelumnya dia kembali memastikan penampilannya kembali. Setelah dirasa sudah tidak ada yang kurang atau barang tertinggal, Hana segera menemui cowok nakal itu.
Hana berpamitan pada semua orang di sana, kecuali Glen yang sejak tadi tidak tampak batang hidungnya. Kata Mira tadi, Glen memang belum bangun. Hana dan Kendrict pun segera berangkat menuju tempat berkumpul komunitas. Sebenarnya gadis itu dibuat heran pada Kendrict, ternyata cowok nakal itu bisa juga bersikap manis dan sopan.
“Kemarin kenapa lo berantem sama Aldi?” tanya Hana penasaran.
Sebenarnya dia juga agak tidak nyaman dengan keheningan yang terjadi sejak keluar dari pekarangan rumahnya.
__ADS_1
“Lo nggak perlu tau, urusan para cowok,” jawab Kendrict dengan sedikit berteriak.
Hana hanya mendengus mendengar jawaban dari Kendrict. Padahal di sekolah gosip tentang dirinya belum mereda, bahkan bertambah panas dengan bumbu di sana-sini. Han ahanya ingin memastikan apakah gosip tentangnya yang menjadi rebutan antara Kendrict dan Aldi itu benar atau hanya omong kosong belaka.
“Nggak usah lo pikirin gosip itu, nanti juga hilang sendiri,” kata Kendrict.
“Hah?” tanya Hana yang tidak mendengar perkataan cowok didepannya ini.
Ganti Kendrict yang mendengus, ternyata perkataannya tidak terdengar oleh penumpang dibelakangnya. Cowok itu menambah lagi kecepatan laju motornya hingga membuat jeritan Hana lolos dari mulut.
Keduanya sudah sampai di tempat berkumpul, sudah banyak yang datang dan barang-barang yang akan disumbangkan juga sudah siap. Kedatangan Hana bersama dengan Kendrict menjadi pusat perhatian. Aldi juga ikut memperhatikan keduanya. Hana turun dari motor Kendrict dengan jantung yang berdetak tak beraturan.
“Kenapa muka lo, Han?” tanya seorang teman Hana.
Hana menggelengkan kepalanya, tanda jika dia baik-baik saja. Dia susah payah mengatur detak jantungnya yang berpacu cepat. Mereka diminta untuk berkumpul dan melakukan briefing sebelum kegiatan dilaksanakan. Setelah briefing mereka mulai memasuki bus yang akan membawa ke tempat kegiatan. Sempat terjadi keributan kecil ketika Hana memilih tempat duduk di dalam bus.
“Hana duduk di sini,” ucap Kendrict menatap tajam pada Aldi yang tadi berniat hendak duduk bersama dengan gadis itu.
“Heh, udah. Duduk tinggal duduk. Kalian bisa duduk bertiga di sebelah. Kursi sebelah deret tiga tuh,” lerai Bima yang mulai jengah dengan mereka.
Akhirnya ide dari Bima disetujui oleh Kendrict maupun Aldi. Hana duduk di dekat jendela karena tadi dia didorong oleh Kendrict agar segera duduk di sana. Selanjutnya Kendrict yang duduk di tengah, sengaja memisahkan Aldi dan Hana. Tentu gadis itu sangat merasa tidak nyaman dengan keadaan ini.
Tidak enak juga dengan teman-temannya yang lain karena telah membuat kehebohan. Selama perjalanan tidak ada yang mengobrol di bangku Hana. Suasana sangat hening, mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing. Hana sibuk memperhatikan jalanan yang dilalui, Kendrict sibuk menjelajah alam bawah sadarnya, dan Aldi sibuk dengan ponselnya.
“Oke, sebentar lagi kita sampai. Inget kata gue tadi, jaga nama baik komunitas,” kata Adi.
Semua yang berada di dalam bus menjawab dengan serempak, membuat spontan Kendrict terbangun. Hal itu membuat Hana sedikit terkejut.
“Udah sampe?” tanya Kendrict linglung.
“Sebentar lagi sampai,” jawab Hana.
__ADS_1
Kendrict hanya mengangguk dan membenarkan letak topi yang tadi dikenakannya. Hana kembali mengalihkan pandangannya ke jalanan.
“Ken, lap tuh iler lo,” kata Aldi menunjuk mulut Kendrict.
Kendrict refleks mengelap mulutnya. Namun, seketika dia menyadari jika Aldi sedang menjahilinya. Sebuah geplakan maut Kendrict hadiahkan untuk Aldi saat itu juga.
Rombongan sudah sampai di panti asuhan dan mereka disambut dengan meriah oleh pengurus panti serta anak-anak di sana. Wajah mereka terlihat sangat gembira dengan kedatangan rombongan komunitas ini. Para rombongan saling membantu menurunkan barang-barang yang mereka bawa.
“Bawa ini aja, Han,” kata Aldi memberikan kardus yang tidak terlalu besar pada Hana.
“Thank’s, Al,” jawab Hana tersenyum.
Sementara Kendrict mencibir interaksi keduanya. Hana bersama Aldi berjalan bersama masuk ke dalam panti bersama dengan yang lain.
“Yey, Kak Hana datang!” teriak anak-anak yang memang telah mengenal Hana.
Panti asuhan ini memang sering Hana kunjungi, dia yang mengusulkan untuk mengadakan acara amal di panti asuhan ini.
“Lo terkenal ternyata di sini,” ucap Aldi.
“Karena gue sering main ke sini, Al.”
Setelah memberikan barang-barang yang akan disumbangkan, rombongan itu tidak langsung pulang. Mereka mengadakan berbagai kegiatan di panti asuhan ini bersama dengan anak-anak. Acara sangat meriah dan penuh dengan canda tawa. Mereka mengadakan berbagai acara seperti lomba mewarnai, menggambar, dan acara bakat dengan hadiah yang sangat menarik bagi anak-anak itu.
“Kak Han, lihat gambarku!” pinta seorang anak menunjukkan kertas gambarnya.
“Wah, bagus gambarnya. Ayo diwarnai, sebentar lagi waktunya habis.”
Hana tertawa melihat tingkah lucu anak itu yang terlihat panik karena waktu sebentar lagi habis. Sementara dari kejauhan Kendrict memperhatikan mereka yang sibuk dengan anak-anak. Ada keceriaan di sekitar cowok itu, tetapi dia tidak merasakan hal yang sama.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...
__ADS_1