Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Sibuk


__ADS_3

Bel berdering tanda pembelajaran sudah usai. Waktu istirahat telah tiba. Setelah guru yang mengajar keluar, anak-anak segera mengikuti. Mereka berbondong-bondong menuju kantin untuk mengisi perut yang sejak tadi keroncongan. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Adrian dan Hana yang harus rapat OSIS.


“Dri, gue mau kembaliin buku di perpus dulu. Lo ke ruang OSIS dulu aja,” kata Hana.


“Iya, gue mau siapin bahan juga.”


Hana mengangguk dan segera berjalan menuju perpustakaan. Selesai mengembalikan buku, gadis itu melanjutkan langkahnya menuju ruang OSIS. Ternyata para anggota sudah menunggunya, di sini juga ada beberapa perwakilan anak MPK. Tidak lupa juga ada guru pendamping. Rapat kali akan membahas acara ulang tahun sekolah yang harinya makin dekat.


“Baik, kita mulai rapat hari ini …,” ucap Hana.


Hana memaparkan sampai mana progres yang mereka tangani. Semuanya sudah hampir selesai dan tinggal menunggu para perwakilan kelas juga eksrakulikuler di sekolah yang akan menampilkan kebolehannya di acara nanti.


“Bagus, kerja kalian bagus. Silakan nanti kalian bisa saling berkoordinasi lagi antara OSIS dan MPK. Bapak akan selalu memantau dan mendampingi kalian, jadi jika terjadi kesulitan bisa menghubungi Bapak.”


“Baik, Pak. Terima kasih,” ucap mereka serempak.


Guru itu pun pamit untuk kembali ke ruang guru. Bel tanda pembelajaran kembali di mulai sudah berbunyi sejak beberapa waktu yang lalu. Namun, beruntung semua anak yang mengikuti rapat kali ini mendapat waktu dispensasi dan diperbolehkan istirahat terlebih dulu sebelum kembali ke kelas masing-masing. Rapat diakhiri dan kebanyakan anak sudah keluar dari ruang OSIS. Hanya menyisakan Adrian, Hana, dan dua anak perempuan yang merupakan anggota OSIS.


“Kalian mau ikut kita ke kantin?” tanya salah satu di antara mereka pada Hana dan Adrian.


“Iya, gue mau ke kantin nanti. Tapi, kalo kalian mau duluan nggak apa-apa nanti gue nyusul.”


Akhirnya Adrian dan dua anak perempuan itu terlebih dulu keluar dari ruang OSIS. Adrian juga harus ke kamar mandi terlebih dulu. Mereka sepakat untuk bertemu di kantin.


Selesai membereskan semua kertas yang berserakan di meja, Hana keluar dari ruang OSIS. Mengunci pintu dan hendak berjalan ke kantin. Namun, saat Hana berbalik ternyata sudah ada seseorang didepannya. Dia benar-benar terkejut dengan kedatangan tiba-tiba anak itu.


“Maaf, lo kaget ya?” tanya anak itu.


“Iya, nggak apa-apa. Ada perlu apa?”


“Oh, gue mau kasih ini. Ekskul taekwondo daftar buat tampil di acara pensi nanti,” kata anak itu menyerahkan secarik kertas pada Hana.

__ADS_1


Hana melihat kertas di tangannya dan membaca deretan tulisan yang ada di kertas itu. Dia mengangguk-angguk paham.


“Uhm, Han. Anu, gue mau minta tolong sama lo,” kata anak itu mengusap tengkuknya merasa kikuk.


“Minta tolong apa?”


“Besok sore lo ada waktu?” tanya anak itu dengan ekspresi was-was. Namun, begitu melihat anggukan dari Hana ekspresi wajahnya berubah.


“Lo datang ke GOR, ya? Dukung gue, besok ada tanding jam empat sore.”


“Astaga, gue pikir lo mau minta tolong apa. Iya, gue pasti dateng kok. Gue pasti dukung lo dan teman-teman yang lain.”


“Thank’s, Han. Emm, kalo gitu gue duluan.”


Hana menatap kepergian anak itu. Seorang siswa laki-laki yang Hana kenal sejak SMP. Namanya adalah Adam dan dia saat ini merupakan ketua ekskul taekwondo di sekolah. Keduanya pernah terlibat hubungan ketika di SMP dulu.


Hubungan antar anak SMP yang masih belum paham apa artinya cinta. Hana menggelengkan kepala ketika teringat masa SMPnya yang tiba-tiba kembali mampir ke dalam kepalanya. Dia pun bergegas menuju kantin.


Hana menoleh dan mendapati Kendrict yang sedang berdiri tidak jauh dari dirinya. Hana mengernyitkan dahinya melihat keberadaan cowok itu. Dengusan keluar dari hidung Hana. Ternyata Kendrict lagi-lagi membolos. Gadis itu mengeluarkan catatan di kantong seragamnya dan sebuah pena.


“Mau nulis nama gue lagi?”


“Iya, karena lo melanggar lagi,” jawab Hana.


SRET!


Hana membulatkan matanya saat tiba-tiba Kendrict merebut buku catatannya. Gadis itu berusaha merebutnya kembali, tetapi karena tinggi badan mereka tidak seimbang jadi Hana terlihat kesulitan mengambil kembali bukunya.


“Balikkin, Ken!” perintah Hana masih berusaha merebut bukunya.


“Sementara gue yang pegang dulu,” kata Kendrict seenaknya dan berlalu dari sana.

__ADS_1


“Ish, ngeselin tuh orang,” kesal Hana, tetapi dia tidak mengejar cowok itu. Hana lebih memilih untuk mengampiri teman-temannya yang sudah menunggu di kantin.


Sementara itu, tidak jauh dari tempat Hana tadi, ada dua orang yang sejak tadi mengawasi. Dua anak perempuan yang sedari tadi memantau gerak-gerik antara Hana dan Kendrict.


“Lo mau apain tuh cewek, Nit?” tanya temannya.


“Gue mau kasih pelajaran ke dia. Dasar, jadi cewek kegatelan banget. Sok jadi cewek baik, padahal cowoknya ada di sana-sini,” geram Nita, matanya masih tidak lepas dari punggung Hana yang makin menjauh.


“Lo udah ada rencana?”


“Nanti gue pikirin apa yang cocok buat tuh cewek gatel.”


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...


Hari sudah sore dan suasana sekolah juga sudah sepi. Hanya ada segelintir anak saja yang masih bertahan di sekolah. Biasanya anak-anak yang masih bertahan adalah anak yang mengikuti ekstrakulikuler. Hana masih menyelesaikan pekerjaannya di ruang OSIS. Dia merekap beberapa berkas, termasuk milik Adam tadi.


“Udah sore ternyata,” gumam Hana melihat jam di pergelangan tangannya.


Hana memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia segera membereskan barang-barangnya dan keluar dari ruang OSIS, mengunci pintu dan menitipkan kunci itu pada guru yang bertanggungjawab. Namun, saat melewati lapangan basket tidak sengaja mata Hana melihat ada sosok Kendrict yang sedang duduk di pinggir lapangan.


“Oh iya, buku catatan gue,” gumam Hana.


Dia hendak menghampiri cowok itu, tetapi urung karena saat ini Hana sedang tidak ingin mencari keributan. Di lapangan itu tidak hanya ada Kendrict, tetapi juga ada banyak anak lainnya yang tergabung dalam geng milik cowok itu.


Akhirnya Hana menuju tempat parkir untuk mengambil sepedanya. Mengayuhnya menjauh dari area sekolah. Hari ini benar-benar terasa melelahkan baginya. Keseharian Hana memang selalu disibukkan oleh beberapa kegiatan. Sebenarnya tidak hanya di sekolah saja, Hana juga aktif di luar sekolah.


Dia mengikuti sebuah komunitas sosial di luar sekolah untuk menambah kesibukannya. Dia tidak ingin hanya berdiam diri saja di rumah. Hana tidak ingin kesepian di rumahnya. Walau ada Mbak Jum, tetap saja ada kalanya Hana merasa kesepian.


Tanpa ada sosok yang dapat diajaknya berkeluh-kesah. Hana masih bersemangat mengayuh sepedanya, kepalanya mendongak menatap langit berwarna oranye. Warna yang sangat indah baginya.


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...

__ADS_1


__ADS_2