
Kegiatan Hana di sekolah makin sibuk karena sebentar lagi pesta besar-besaran akan diselenggarakan. Acara ulang tahun sekolah tinggal menghitung hari dan semua anak OSIS maupun MPK disibukkan dengan berbagai persiapan. Hana bersama dengan ketua MPK sedang memeriksa berbagai kesiapan untuk acara.
Sementara mereka para anggota yang telah dibagi tugasnya mengerjakan sesuai bagian mereka. Jika anak-anak OSIS dan MPK sibuk, siswa yang lain sedang santai. Selama satu minggu menuju acara puncak ditiadakan pembelajaran. Jadi mereka semua bebas keluar masuk kantin juga tempat-tempat di area sekolah, selama tidak membolos keluar dari sekolah.
Seperti halnya dengan Kendrict beserta teman-temannya, cowok itu menemukan markas barunya setelah atap sekolah kembali ditutup. Sekarang malah diperketat lagi dengan mengunci pintu yang menuju atap. Jika mengingat hal itu, Kendrict masih kesal dengan Devi.
“Kok lo bisa kepikiran sama tempat ini?” tanya Nita yang saat ini juga ikut berkumpul bersama mereka, sementara Devi hanya diam dari tadi.
“Gue langsung cocok sama nih tempat pas dapet hukuman disuruh nyapu halaman belakang,” jawab Kendrict tersenyum bangga, melihat teman-temannya terlihat sangat nyaman dengan markas baru mereka.
Kepulan asap rokok membumbung tinggi, Kendrict dan teman-temannya asyik menikmati waktu santai mereka. Sebelum tiba-tiba saja seseorang menggebrak pintu gudang. Tentu hal itu membuat semua orang di dalam sana panik, spontan mematikan rokok mereka.
Mereka kira yang datang adalah seorang guru yang memergoki mereka sedang pesta rokok di tempat ini. Namun, ternyata mereka salah. Seorang anak berdiri di ambang pintu dengan wajah babak belur dan seragam berantakan.
“Anjir! Gue kira guru!”
“Bangsat lo! Rokok gue masih panjang. Argh, sayang banget kebuang sia-sia.”
Sumpah serapah terdengar memenuhi gudang ini. Sementara Kendrict memperhatikan anak yang terdiam membisu di ambang pintu, cowok itu menghampiri anak itu.
“Siapa yang hajar lo?” tanya Kendrict tajam.
Pertanyaan Kendrict membuat suasana gudang seketika hening.
“A …, anak Ra …, rajawali,” jawab anak itu dan tiba-tiba terbatuk. Ada darah yang muncrat keluar dari mulut anak itu.
Setelah mengatakan hal itu, anak tersebut ambruk tak sadarkan diri. Melihat hal itu membuat Nita dan Devi spontan memekik kaget. Sementara Kendrict mengepalkan tangannya dan seketika emosinya membuncah. Teman-teman Kendrict segera menolong anak yang tak sadarkan diri itu.
“Bawa dia ke rumah sakit, sekarang!” perintah Kendrict.
Mereka semua menurut dan segera menggendong anak itu dan membawanya menuju tempat parkir. Mendadak suasana koridor menjadi ramai setelah rombongan geng Kendrict lewat membawa anak yang tak sadarkan diri dengan wajah babak belur. Hana yang sedang berjalan di sepanjang koridor hampir saja tertabrak anak-anak dari geng Kendrict jika seseorang tidak menariknya ke pinggir.
“Ken?” tanya Hana mengernyit.
__ADS_1
“Gue izin mau bawa dia ke rumah sakit,” ucap Kendrict dan hendak menyusul teman-temannya. Namun, Hana menahan lengan cowok itu.
“Apa yang terjadi? Kalian berantem? Gue harus lapor guru BK.”
Kendrict melepas tangan Hana dari lengannya. “Nanti gue jelasin. Gue harus pergi sekarang sebelum dia mati.”
“Hah?” Hana mematung mendengar ucapan Kendrict.
Cowok itu segera mengejar teman-temannya, sementara Hana hanya bisa menatap kepergiannya. Selepas kepergian Kendrict, mulai terdengar kasak-kusuk tentang anak tadi.
“Lo lihat Frans tadi? Wajahnya bener-bener hancur, gengnya si Ken emang udah keterlaluan.”
“Bubar lo pada! Jangan sebarin gosip omong kosong kalo lo nggak tau faktanya!” teriak Nita yang tiba-tiba muncul bersama dengan Devi.
Hana yang melihat Nita hendak menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, tetapi cewek itu mengabaikan Hana dan pergi dari sana.
Sementara itu, Putra panik melihat keadaan Frans. Mereka membawa Frans ke rumah sakit dengan motor milih Doni, karena tidak memungkinkan naik motornya atau milik Kendrict. Dengan motor matic itu, mereka berbonceng tiga. Frans ditengah, diapit oleh Putra dan Kendrict.
“Pak, pasien darurat! Cepet buka gerbangnya!” perintah Kendrict berteriak pada satpam sekolah.
“Pak! Cepet! Nggak lihat nih temen kita sekarat?” teriak Kendrict dan menunjukkan wajah Frans pada satpam itu.
“Heh? Itu kenapa bonyok gitu mukanya? Kalian apain?” tanya satpam itu melotot kaget.
“Ckck, bukan kita elah. Anak Rajawali yang buat jadi kayak gini. Cepet bukain, Pak!”
Putra kembali mengklakson dengan tidak sabar, bahkan dia juga menggas motor itu hingga benar-benar mepet pada pintu gerbang sekolah.
“Ehhh! Iya saya bukain, jangan dirusak gerbangnya!”
Akhirnya satpam itu membuka gerbang dan membiarkan mereka keluar. Putra dan Kendrict kompak mengucapkan terima kasih ditambah dengan melayangkan kiss bye. Tidak lama kemudian, para guru datang setelah mendapat laporan dari Hana. Namun, mereka terlambat. Sementara para satpam menggaruk kepalanya melihat kedatangan para guru itu.
Di lain tempat Putra mengebut membawa motor menuju rumah sakit terdekat. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja hingga mereka sampai di rumah sakit itu. Putra memarkir sepeda motornya tepat di depan pintu UGD. Tentu hal itu membuat mereka diteriaki satpam rumah sakit.
__ADS_1
“Darurat! Ada pasien darurat!” teriak Kendrict heboh dan berusaha menurunkan Frans dari motor.
Satpam yang tadinya ingin memarahi dua cowok itu menjadi urung setelah melihat keadaan Frans. Mereka membawa brangkar dan segera membawa masuk ke dalam UGD. Sementara Putra dan Kendrict menunggu di luar. Tidak lama satpam itu keluar setelah menyerahkan Frans pada dokter UGD.
“Dek! Motorya jangan diparkir di sini!” perintah satpam itu dengan wajah tak bersahabat.
“Eh iya, lupa, Pak. Lo tunggu di sini, Ken.”
Putra segera membawa motor itu keluar dari depan pintu masuk UGD dan memarkirnya dengan benar. Setelahnya dia kembali lagi ke tempat Kendrict.
“Lo udah telpon orang tua Frans?” tanya Putra.
“Barusan udah gue telpon mereka, sebentar lagi paling sampai,” jawab Kendrict.
Putra mengangguk dan duduk di sebelah Kendrict. Cowok itu memperhatikan sahabatnya yang sepertinya sedang menahan emosi.
“Lo ada rencana apa, Ken?” tanya Putra.
“Gue nggak bisa biarin anak Rajawali bebas kayak gini, gue mau buat perhitungan sama mereka!”
“Lo udah ada rencana?”
BUGG!
Kendrict meninju pilar di sebelahnya membuat orang-orang di sana seketika menatap cowok itu ngeri.
“Argh! Sial! Gue harus susun rencana secepatnya. Lo bantu gue, Put!”
Putra mengangguk patuh. Dia juga tidak terima jika salah satu temannya terkapar tak berdaya seperti itu. Apalagi Frans adalah anak yang banyak membantu selama ini, dia selalu dapat diandalkan ketika Kendrict membutuhkan informasi mengenai musuh mereka.
“Put, sekarang lo bisa bantu gue?” tanya Kendrict setelah mereka cukup lama terdiam.
Putra menoleh. “Apa?”
__ADS_1
“Tolong lo minta perban sama obat merah, tangan gue luka,” ucap Kendrict memperlihatkan buku jarinya yang terdapat luka akibat bergesekan dengan pilar tadi.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...