
Kendrict dan teman-temannya sedang berkumpul di sebuah tempat kosong yang dijadikan markas untuk mereka. Sudah sejak pagi tadi mereka menghabiskan waktu di sini. Termasuk Nita dan Devi juga ada di sini.
Mereka semua sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Tempat ini merupakan sebuah gudang yang sudah tidak digunakan lagi. Kendrict sengaja membelinya untuk markas mereka.
Kendrict sedang duduk seorang diri di pojokan, bersandar pada dinding. Hari ini harusnya dia bertemu dengan Hana. Namun, ternyata gadis itu sedang ada kesibukan lain. Kendrict hanya bisa menghembuskan napas pasrahnya saja.
"Ckck, padahal gue udah kangen berat," gumam Kendrict.
Sudah dua hari ini mereka tidak bertemu dan kemarin mereka hanya bisa mengobrol sebentar saja. Kendrict terkekeh mengingat kejadian kemarin ketika dia menelpon Hana.
Kala itu Kendrict baru bangun tidur dan ia segera menelpon Hana karena seharian mereka tidak saling mengirim chat. Awalnya Kendrict sedikit bingung karena setelah dia memanggil nama Hana, gadis itu hanya diam.
"Ka ..., kamu habis bangun tidur?" tanya Hana tergagap.
Kendrict hanya menjawab dengan deheman. Hawa di dalam kamarnya memang saat itu terasa dingin. Dia menarik kembali selimutnya untuk menutupi bagian tubuh atasnya yang tidak memakai sehelai benang pun.
Namun, Kendrict tidak mendengar suara dari seberang lagi. Hal itu membuatnya heran. Dan barulah Kendrict tahu jika ternyata gadis itu terkejut dengan suara khasnya ketika bangun tidur.
Sayang sekali Kendrict tidak ada di hadapan gadis itu. Dia sudah bisa membayangkan bagaimana merahnya wajah Hana saat itu.
"Nggak takut kering tuh gigi?" sindir seseorang membuat Kendrict kembali tersadar.
Kendrict hanya tertawa dengan tampang bodohnya mendengar sindiran itu. Sedangkan Putra, hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak habis pikir, efek jatuh cinta sangat mengerikan.
"Makanya cari pacar, biar nggak nyinyir mulu tuh mulut," kata Kendrict.
"Gue nggak butuh," ucap Putra cepat.
Kendrict hanya mengangguk tidak peduli. Putra memang belum pernah berpacaran semasa hidupnya, berbeda dengan Kendrict yang beberapa kali berhasil mempermainkan perempuan.
Sebenarnya dia tidak bermaksud mempermainkan, hanya saja para perempuan itu yang selalu menempel padanya. Salah satunya yang bertahan hingga kini adalah Nita. Kendrict melirik perempuan itu yang ternyata juga sedang menatapnya.
"Lo nggak mau coba pacaran? Enak lho, bisa sayang-sayangan," kata Kendrict.
"Nggak, nggak perlu yang kayak gitu," tolak Putra.
Cowok itu sedang sibuk dengan game diponselnya. Kendrict mendengus melihat sahabatnya itu yang sangat lempeng. Mulut Kendrict yang setengah terbuka hendak melontarkan perkataannya mendadak terhenti.
"Gue lupa mau beli hadiah buat Hana," gumam Kendrict.
"Ada acara apa?" tanya Putra mengernyitkan dahinya.
"Anniversary," jawab Kendrict tersenyum sumringah.
"Perasaan kalian baru pacaran, udah anniversary aja."
__ADS_1
"Iya, ke 100 hari," kata Kendrict nyengir.
Putra geleng-geleng kepala. "Udah kayak orang mati aja."
PLAK!
"Anj*r ringan banget tuh tangan," kata Putra mengusap kelapanya yang kena geplak Kendrict.
"Makanya punya cong*r dijaga. Ayo ikut gue sekarang!"
"Ahelah, nggak bisa apa biarin gue santai bentar?"
Kendrict menggeleng dan memberi kode jika Putra harus menurutinya. Akhirnya tidak ada pilihan cowok itu selain menurut. Mereka berdua pun pamit pada teman-teman yang lain.
Kedua orang itu pun pergi ke pusat perbelanjaan. Putra hanya mengekor Kendrict yang sepertinya sangat bersemangat. Putra membulatkan matanya ketika kaki Kendrict dengan entengnya melangkah masuk ke dalam toko perhiasan.
Spontan Putra menarik kerah kaos Kendrict membuat cowok itu tercekik. Putra masih memastikan matanya tidak salah lihat. Mereka berdiri tepat di depan pintu toko tersebut.
"Lo mau bunuh gue, hah?" bentak Kendrict menepis tangan Putra kasar.
Akibat bentakan Kendrict membuat pengunjung lain memperhatikan dua remaja itu. Namun, dengan cuek Kendrict langsung masuk ke sana diikuti Putra yang masih ragu.
"Lo mau ngapain masuk-masuk ke sini?" tanya Putra.
"Ckck, gue udah bilang tadi mau beli hadiah buat Hana."
"Emang kenapa?"
"Punya duit lo?" tanya Putra blak-blakan.
"Lo lupa gue siapa?" tanya balik Kendrict mengeluarkan kartu mautnya.
Putra menelan ludahnya susah payah. "Oh iya, terserah lo aja."
Percakapan antara Kendrict dan Putra menjadi perhatian pegawai di toko ini. Pegawai itu berdehem dan berhasil mengalihkan fokus dua remaja itu.
"Mbak, mau lihat-lihat yang bagus dong," ucap Kendrict pada pegawai itu.
"Ah ya boleh, mau cari perhiasan jenis apa?"
Kendrict menoleh pada Putra. "Bagusnya apa, Put?"
"Mana gue tau, kenapa lo malah tanya?"
"Bingung, Mbak. Biasanya cewek suka dikasih apa?" tanya Kendrict kembali beralih pada pegawai tersebut.
__ADS_1
"Kalau masih bingung, bisa lihat-lihat katalog ini dulu. Kebetulan ini koleksi terbaru toko kami."
Kendrict menerima katalog itu dan melihat-lihat isinya. Putra yang penasaran merapatkan tubuhnya. Matanya sontak membulat sempurna melihat nominal yang tertera di tiap gambar.
"Buset! Harganya sama kayak Eca," ceplos Putra.
Sementara Eca adalah nama mobil milik Putra yang dia dapatkan dari orang tuanya dua tahun yang lalu. Walau hanya mobil bekas, Eca sudah seperti adik bagi Putra.
Pegawai itu hanya diam dan memperhatikan dua remaja yang matanya sedang berbinar melihat koleksi di katalog tersebut. Entah mereka akan mampu membelinya atau tidak. Namun, untuk saat ini pegawai tersebut membiarkannya lebih dulu.
"Ini bagus! Ini juga! Sama yang ini!" tunjuk Kendrict pada beberapa barang. "Apa beli semua, ya?"
"Heh! Jangan boros! Masih pacaran juga," peringat Putra menabok punggung Kendrict.
"Tapi, gue pengen beli semua buat Hana. Pasti dia cantik kalo pake itu semua."
"Nggak, si Hana malah jadi kayak toko emas berjalan kalo pake itu semua," tolak Putra menggelengkan kepala.
Kendrict terdiam, sedikit membenarkan ucapan Putra. Lalu, matanya melihat sebuah kalung yang sangat indah.
"Mbak, beli yang ini," tunjuk Kendrict.
"Astaga! Lo nggak lihat harganya dulu, heh?"
"Nggak perlu! Saya langsung ke kasir, ya?" tanya Kendrict bersemangat.
"Tunggu dulu! Masih ada proses, saya harus buatkan surat-suratnya terlebih dulu dan kalungnya bisa diambil besok."
"Urus aja yang cepet, Mbak. Terus saya bayarnya kapan?"
Pegawai itu mengelus dada melihat tingkah Kendrict yang sangat bersemangat. Akhirnya pegawai tersebut mengantar remaja itu ke kasir.
"Ini, Mbak," kata Kendrict mengeluarkan kartu kreditnya.
"Benar atas nama Kendrict Wyman Aelan?"
"Iya, itu saya. Oh ya, kalo bisa bungkus yang cantik, Mbak."
Pegawai itu tersenyum sumringah dan mengangguk. Bahkan tangannya sampai gemetar ketika mengembalikan kartu ajaib milik Kendrict. Putra segera merebut struk dari tangan Kendrict, hampir saja jantungnya dibuat berhenti oleh cowok sableng disebelahnya.
"Bisa dapet dua Eca," kata Putra menutup mulutnya dengan dramatis.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...
Yang penasaran sama kalung yang dibeli Ken, ini Otor bagi lihat. Kira-kira harganya berapa, ya?
__ADS_1